
Sepulang dari kantor polisi, pak Ahmad segera menemui istrinya bu Minten, yang kebetulan sedang beberes seluruh ruangan, yang terlihat sedikit berantakan akibat acara semalam.
" Bu Bu, sini bapak mau cerita." panggil pak Ahmad, saat masuk kerumah Amir.
" Ada apa sih pak, kok heboh begitu. Aku kan harus beres beres semuanya." jawab Bu Minten setengah kaget.
Pak Ahmad lalu duduk dikursi yang tak jauh, dari tempat bu Minten berbenah. Dan ia menunjukkan amplop pemberian dari Amir kepada sang istri. Serta menceritakan semua yang diceritakan oleh sang majikan.
Sungguh kaget bu Minten mendengar penuturan dari suaminya. Bagaimana tidak, orang sebaik majikannya yang sering menolong banyak orang, kini ia mendengar sedang mempunyai masalah dan itupun disabotase.
" Kasihan tuan Amir ya pak. Pantas saja aku sering melihat beliau berlama lama di ruang kerja akhir akhir ini. Rupanya beliau menghadapi masalah besar." ucap Bu Minten bersedih.
Pasangan pelayan dan sopir ini menangis untuk sang majikan. Mereka benar-benar tidak habis pikir, kenapa orang baik masih saja dijahati.
Bu Minten akhirnya mempercepat beberesnya, dengan dibantu pak Ahmad. Bahkan mereka juga menyimpan semua pakaian Devi dalam koper besar, sekaligus milik Amir. Barang - barang majikannya dikirim ke rumah mereka, rumah pemberian Amir.
Jadi jika mendadak dari pihak bank atau pengadilan menyita dan mengosongkan rumah majikannya, semua sudah dilakukan dengan persiapan matang. Barang berharga milik majikannya akan tersimpan aman.
*******
Pihak penyelidik, mencecar Amir dengan berbagai pertanyaan yang terkadang menyudutkannya. Dan membuat Amir, kesulitan untuk menjawab dan menjelaskan. Namun kehadiran Farid sungguh membuat Amir bersyukur, pasalnya pemuda yang berprofesi sebagai pengacara itu, dengan tegas membantah atau menolak pertanyaan yang menyudutkan kliennya.
Hampir seharian, bahkan hingga kini jarum jam telah menunjukkan pukul enam petang, Amir masih berada dalam ruang penyelidik.
Farid meminta kepada pihak kepolisian, agar tidak menahan kliennya terlebih dulu dan memasukkannya ke dalam sel tahanan. Mengingat saat ini masih proses penyelidikan.
Namun sepertinya, malam itu Amir harus bermalam di kantor polisi. Masih seputar penyelidikan dari kasus yang menimpanya.
__ADS_1
Sedangkan Farid berpamit pulang, dan esok kembali lagi.
" Pak Amir, maaf saya pamit dulu, besok pagi saya akan kembali lagi. Bapak tenang saja, tidak usah khawatir, saya akan senantiasa mendampingi dan berusaha memenangkan kasus bapak." ujar Farid sebelum pergi.
Pria muda ini meninggalkan kantor polisi sekitar jam sepuluh malam, waktu setempat.
*****
Setelah menempuh perjalanan ber jam jam, Pesawat jurusan Indonesia Madinah, telah tiba di bandar udara kota Madinah. Dan ketiganya segera menuju hotel yang menjadi tempat peristirahatan mereka selama tinggal di Madinah.
Ketiga orang ini tinggal di hotel bintang lima, dimana kualitas dan fasilitas pelayanan nya terbilang sangat bagus dan memuaskan.
Saat itu mereka tiba di kota Madinah pada tengah malam. Karena merasa sangat capek, maka Nisa merasa sedikit pusing.
" Sayang, kamu baik-baik saja kan?? kenapa wajah kamu pucat sekali?" tanya Azzam panik, saat melihat sang istri terlihat pucat.
" Nisa baik baik saja kok ma, mas. Mungkin karena perjalanannya yang sangat jauh, jadi tubuh Nisa kaget. Nisa hanya pusing saja, mungkin istirahat sebentar besok juga sudah baikan ma." jawab Annisa.
Azzam dan Annisa memasuki kamar yang bersebelahan dengan kamar Devi. Azzam membantu Nisa membaringkan tubuhnya ke kasur. Namun belum juga sampai ke kasur. Untung saja dengan sigap, Azzam berhasil menangkap tubuh Annisa yang hendak terjatuh, karena pingsan.
Betapa panik Azzam saat itu, melihat kondisi sang istri yang lemah. " Sayang pasti kefikiran papa kan." gumam Azzam, mengangkat tubuh Annisa ke kasur.
Setelah tertidur diatas kasur, Azzam membuka semua hijab dan niqab sang istri. Digosoknya perlahan tangan Annisa. Azzam pun menelfon CS kamar hotel, meminta teh manis panas.
Sementara Devi sudah menata barangnya di lemari hotel dan beristirahat, seusai melaksanakan sholat Isya'.
Azzam sengaja tidak mengabari sang ibu mertua, agar tidak semakin menambah kepanikan. Jadi ia sendiri yang merawat Annisa didalam kamar.
__ADS_1
Azzam memeriksa denyut nadi sang istri, merasa ragu dengan dugaannya. Azzam pun menelfon kembali CS, agar didatangkan dokter kandungan, dan Azzam meminta dokter perempuan.
" Apa benar sayang hamil? ah mudah mudahan saja dugaan ku benar Yaa Allah. Semoga ini menjadi berita bahagia buat kami." gumam Azzam, mengusap perut rata sang istri.
Azzam adalah lulusan kedokteran, namun dirinya tidak memilih terjun dan dinas ke rumah sakit, tetapi lebih memilih menjadi dosen serta pengajar di pesantren milik Abi nya.
Tak lama kemudian seorang dokter perempuan, seperti permintaan Azzam, datang ke kamar. Dokter itu memeriksa tubuh Annisa secara keseluruhan. Bahkan dari dalam rahim Annisa, terdengar detak jantung bayi. Dan dokter itu bisa mendengarnya.
" Sejak kapan istri anda hamil?? Kenapa di kehamilan trimester pertama ini, anda malah membawanya untuk Umroh. Itu sangat rentan keguguran, apalagi jika kandungannya lemah." ujar sang dokter yang memeriksa Annisa.
Antara kaget bercampur bahagia, bagi Azzam kala itu. " A apa?? istri saya beneran hamil dok? dokter tidak salah menduga kan ?? kebetulan saya juga lulusan kedokteran dok, tadi saya sempat memeriksa kondisi istri saya, namun saya ragu dan takut kecewa, mengingat akan kondisi rahim istri saya." ucap Azzam.
" Ada apa dengan rahim istri anda?" Iya benar istri anda sedang mengandung, namun sepertinya masih kisaran delapan atau sembilan Minggu." jawab sang dokter.
Azzam seketika bersujud dilantai, mengucap syukur. " Terimakasih Yaa Allah Alhamdulillah, akhirnya istri saya mengandung. Sungguh besar kuasa Mu." ucap Azzam dalam sujud syukurnya. Bahkan pria berwajah kearaban ini menangis dalam sujud syukur yang dilakukannya. Di depan dokter dan istrinya yang tergolek lemas dikasur.
Dokter lalu mencatat resep untuk Annisa. Dan menyarankan agar selama menjalankan ibadah Umroh, Annisa harus mengkonsumsi obat penguat kandungan, agar kondisinya tetap Vit.
Selepas kepergian dokter perempuan tersebut, Azzam menciumi wajah dan perut Annisa terus terusan. Dan tak hentinya mengucap syukur.
Orang pertama yang terlintas, saat Azzam mendengar istrinya hamil, adalah Amir, sang ayah mertua. Azzam pun menelfon Amir, mengabarkan tentang berita baik tersebut, berharap semoga dengan mendengar kabar bahagia ini, Amir menjadi lebih baik dan bersemangat dalam menjalani proses hukum yang tengah ia jalani saat ini.
Tak lupa juga, Azzam mengabari sang abi tercinta dan sang umi. Seketika Kyai Waffiq dan umi Fatimah mengucap syukur Alhamdulillah yang tiada henti. Dan kabar baik tentang kehamilan Annisa itu terdengar di pesantren.
*******
BERSAMBUNG.....
__ADS_1