
" Assalamu'alaikum umi ." sapa Azzam dan Annisa bersamaan. Keduanya pun mencium punggung tangan umi Fatimah.
" Eh kak Zam ama kak Nisa, Assalamu'alaikum kak." sapa Safa saat melihat kedatangan sang kakak dan kakak ipar nya.
Semua saling bersalaman, dan Annisa pun menyodorkan boneka yang ada ditangannya kepada Safa.
" Masya Allah bagus nya, lucu pula. Suka deh, terimakasih kak ipar cantik." celetuk Safa saat menerima kado dari Nisa. Dan keduanya pun berpelukan.
" Wah bagusnya, sudah lama Sa pingin koleksi boneka ini kak, kok kak Nisa tahu, kak Zam kah yang bilang." timpal Safa.
" Enggak kok, Nisa sendiri yang pilihin buat kamu, iya kan sayang?" jawab Azzam sembari melingkarkan tangan kanannya ke pundak Nisa.
" Duduk lah, ayo kita makan malam. Oh ya kenapa repot repot membeli makanan dari luar Zam, umi kan sudah masak." ujar umi Fatimah seraya menata masakan yang baru saja diangkat dari kompor.
Sa ga dan Nisa pun turut membantu umi Fatimah menata makan malam di meja.
" Kan itu kesukaan abi, mi." sahut Azzam, kemudian duduk dikursi bersebelahan dengan Kyai Waffiq.
Tak lama setelah semua duduk bersama di meja makan, Hanafi pun datang.
" Assalamu'alaikum semuanya, maaf baru selesai. Pasti lama ya nungguin Han ganteng ini ha ha ha." celetuk Hanafi mengambil duduk di sebelah Safa.
" Wa'alaikumussalam warahmatullaahi wabarakaatuh." jawab semuanya bersamaan. Perlahan semua menikmati makan malam tersebut dengan lahap.
Canda tawa dan celoteh Hanafi sesekali mewarnai suasana hangat malam itu. Setelah makan malam semuanya kembali keruang keluarga, menikmati malam bersama. Sementara umi Fatimah mengemas baju yang akan dibawa Safa balik ke Kairo. Sedangkan Azzam, Annisa, Han dan Safa sedang di ruangan Azzam di teras depan, Hanafi memetik gitar dan Safa yang menyanyikan lagu.
Malam terakhir Safa sebelum kembali ke Kairo, begitu mengesankan. Hanafi dan Safa sesekali mengerjai Azzam untuk menyanyikan sebuah lagu buat Nisa.
" Kalian bisa bisanya suruh aku bernyanyi, suara aku nggak ada yang pas dengan lagu apa pun ngerti, yang ada Nisa kabur bukannya terpesona." kilah Azzam beralasan menolak menyanyi.
" Dihhh mas Azzam mah gitu, sekali aja Sa pingin denger. Besok Sa udah mau balik loh masa kakak nggak mau nyanyi bentar doang. Iya kan kak Nisa." ujar Nisa mencari pembelaan.
Tak banyak bicara, Nisa tiba tiba mengambil alih gitar yang ada di tangan Hanafi. Dan menyanyikan sebuah lagu, semua yang ada disitu terpana saat melihat Annisa menyanyikan sebuah lagu, dan memetik gitar dengan lihainya.
__ADS_1
Merasa lagu yang dinyanyikan sang istri tak asing lagi ditelinga nya, Azzam pun ambil suara turut bernyanyi bersama dengan Annisa.
Hanafi dan Safa bertepuk tangan setelah pasangan romantis ini selesai bernyanyi. Dan mereka menghabiskan waktu bercanda ria bersama. Sesekali Safa pun mengabadikan kebersamaan tersebut.
" Sayang suaranya ternyata bagus sekali ya. Sejak kapan sayang pandai bermain gitar?" tanya Azzam saat merebahkan tubuhnya disamping Annisa.
" Sejak SMA aku mulai suka nyanyi mas, dan belajar main gitar itu dari papa." timpal.Annosa menoleh ke arah Azzam.
" Wah ternyata papa jago main gitar ya sayang, pantesan anaknya mahir juga." balas Azzam sembari mencubit pipi Nisa gemas.
" Ihhh sakit tahu mas, udah sana bobok sudah malem loh, besok pagi anter Safa ke bandara kan?" tanya Nisa memegangi pipinya yang kemerahan bekas dicubit Azzam.
" Nggak mau, mau itu." timpal Azzam kembali pura pura merajuk, sementara kedua tangannya mulai mendekap erat tubuh Nisa, bahkan menggelitik hingga Annisa merasa geli.
" Stop, stop mas Azzam. Geli tahu sudah bobo mas sayang, emmmuach." ujar Nisa mendaratkan sebuah kecupan di kening Azzam.
" Nggak mau, mas mau itu." baru saja usai mengucap kalimat tersebut, Azzam segera melancarkan aksinya. Dan keduanya pun melakukan ritual malam bersama di kediaman Kyai Waffiq.
Hanya suara katak, jangkrik yang terdengar malam itu. Karena kediaman Kyai Waffiq memang terletak disamping persawahan. Lebih tepatnya mewah alias mepet sawah.
******
Seluruh keluarga besar Kyai Waffiq telah bersiap mengantar keberangkatan Nisa menuju bandara.
Karena kali ini Hanafi sedang bertugas menggantikan Kyai Waffiq tausiyah di luar kota, maka Azzam yang mengendarai mobil dan mengantar mereka ke bandara.
Keberangkatan kali ini terasa berat bagi Safa karena banyak kenangan indah bersama kakak ipar tercintanya.
" Saat Sa kembali nanti, Sa mau ada kabar baik kak Azzam dan kak Nisa bawain keponakan embul buat Safa, janji ya." ucap Safa memeluk Azzam dan Nisa bersamaan.
Ada perasaan sakit bagi Azzam saat mendengar permohonan Safa sang adik tercinta, jikalau Nisa tahu kenyataan bahwa kecil kemungkinan bagi dirinya untuk bisa hamil. Pasti Annisa akan sangat bersedih.
" Insya Allah jika Allah sudah mengamanahkan kepada kami, pasti akan hadir Nisa junior iya kan sayang?" ujar Azzam berpura-pura bahagia saat itu. Sembari merangkul pundak Nisa dan Safa.
__ADS_1
" Iya Sa do'ain saja semoga Allah segera kasih keponakan yang lucu buat kamu." balas Nisa tersenyum menatap wajah Safa.
Dan Safa pun berpamitan kepada Kyai Waffiq dan umi Fatimah sebelum panggilan dari petugas terdengar. Suara Isak tangis dari umi Fatimah pun mengiringi kepergian Safa kembali ke Kairo.
" Jaga diri baik baik disana. Ingat harus lulus tepat waktu, masa kalah sama mas mu." ujar umi Fatimah saat memeluk tubuh Safa putri bungsunya.
" Siap umi, do'ain Safa juga ya bi, semoga pulang bawa calon mantu buat abi dan umi he he he he." sahut Safa menyeringai.
" Dasar,.kuliah saja yang benar dua semester lagi kan sudah lulus. Baru mikirin jodoh, lagian Han sudah nungguin tuh." ledek Azzam pada Safa.
" Enggak mau sama kak Han. Safa kan anggap kak Han kakak sama seperti kak Azzam." jawab Safa memanyunkan bibirnya.
" Iya iya sudah sana berangkat itu toa udah koar koar manggil." timpal Azzam mendorong pelan tubuh sang adik yang seakan enggan berjalan.
Safa pun akhirnya dengan berat hati melangkahkan kakinya meninggalkan keluarga tercinta. Setelah bergilir bersalaman. Dan lambaian tangan pun mengiringi kepergian Safa saat itu.
*****
" Brukkkk...." tiba tiba sebuah sosok tinggi tegap menabrak Nisa yang tengah mencari bangku tempat duduk,
" Kalau jalan lihat lihat dong ." celetuk Safa mengomel, namun ternyata saat ia menoleh ke belakang lagi lagi bertemu dengan sosok yang sudah dua kali ia temui.
" Kak Rangga." sapa Safa kaget.
" Eh maaf lagi lagi kita bertemu dalam suasana yang tidak menyenangkan, maaf mbak saya tidak sengaja." timpal Rangga menangkupkan tangannya.
" Kak Rangga mau kemana? ini kan pesawat ke." belum selesai meneruskan ucapannya, Rangga memotong kalimat Safa.
" Iya aku memutuskan berhenti kuliah disini, dan melanjutkan kuliah di Kairo. Ingin memperdalam ilmu agama ku sekaligus meneruskan S2 disana." jawab Rangga.
Setelah berbasa basi keduanya pun duduk bersebelahan. Dan saling mengobrol tentang pengalaman Safa selama kuliah disana.
******
__ADS_1
BERSAMBUNG.....