
Detik berganti detik dan menit pun berganti jam. Waktu yang ditunggu-tunggu Azzam pun telah tiba. Seusai menyelesaikan kelasnya, Azzam bergegas mencari sang istri ke kelasnya namun sayang tidak ditemukan Nisa disana.
Sedangkan Nisa siang itu tiba tiba merasa sedikit pusing, dan ia pun hendak pergi ke apotik yang terdekat dari kampus, untuk membeli obat sakit kepala.
Di depan Nisa berdiri seorang wanita yang kebetulan juga tengah membeli obat, entah apa., seraya melakukan panggilan suara.
" Eh Rain kamu tahu enggak? aku tadi berhasil membuat si Azzam dan istri nya cekcok berselisih paham loh. Aku bilang saja kemarin dia anterin aku pulang. Dan reaksi istrinya itu wouwww marah besar gaess. Seru banget sepertinya rencana aku bikin mereka bertengkar telah berhasil. Kapan kapan kamu bantuin aku ya buat menjebak dia atau istrinya."
ucap Linda masih tetap fokus menghadap ke kasir apotik.
Sementara Annisa yang mendengar semua percakapan Linda tanpa sengaja membuat ia seketika segera pergi dari apotik tersebut, sebelum Linda mengetahui bahwa dirinya telah tahu semua sandiwara dia.
Annisa berlari mencari taksi, perasaannya saat itu benar benar kacau, sekaligus merasa bersalah. Dan tujuan Nisa satu satunya saat itu adalah pulang ke rumah sang papa, mengadukan semua kepada mama tersayang.
" Assalamu'alaikum, mama huuuuuaaaaa....."
ujar Annisa sesampainya dirumah Amir, dan kebetulan Devi tengah duduk di teras depan menikmati teh dan membaca tabloid. Sedang Nisa pun seketika memeluk tubuh Devi, menumpahkan tangisnya yang sedari tadi tertahan.
" Wa'alaikumussalam, loh Nisa kenapa sayang? datang datang kok langsung nangis. Mana suami kamu, kalian bertengkar kah?" tanya Devi membelai punggung sang putri.
" Maafin Nisa ma huuuuuu, Nisa belum bisa jadi istri yang baik buat mas Azzam. Izinkan Nisa disini ma, aku malu pada mas Azzam, hikssss....." ujar Annisa seraya menangis tersedu.
" Iya sayang, sekarang Nisa tenang, tarik nafas panjang baca istighfar, lalu cerita ka mama apa yang sebenarnya terjadi." balas Devi meregangkan pelukan putrinya, dan mengusap sisa air mata diwajah sang putri.
Setelah melakukan apa yang diperintah sang mama, Nisa pun mulai bercerita kepada Devi, tentang apa yang terjadi tadi di kampus.
" Nisa dengar ya sayang, dalam rumah tangga pasti akan ada yang namanya pertengkaran kecil, bahkan ada juga pertengkaran hebat. Tapi itu semua bergantung pada diri kalian kembali, bagaimana menyikapi setiap masalah yang datang. Nisa nggak salah kok, karena cemburu itu wajar dan menandakan bahwa kamu sangat sayang nak Azzam, tapi kesalahan Nisa tidak mempercayai suami, lebih memilih mengedepankan emosi. Jadi saran mama, pulanglah sayang, suami kamu pasti khawatir. Kalian selesaikan dengan baik baik ya."
__ADS_1
Tukas wanita paruh baya yang tengah mengusap lembut wajah sang putri yang dipenuhi derai air mata.
Annisa mengangguk pelan dan kembali memeluk sang mama, " terimakasih ma, mungkin benar kata mama, Nisa harus segera pulang, pasti mas Azzam khawatir." balas Nisa.
Dan sore itu selepas sholat ashar, Nisa pulang dengan diantar sopir keluarga Amir, yaitu pak Kasim.
Sementara itu, setelah tak mendapati sang istri dikampus, Azzam segera bergegas pulang namun tak jua melihat batang hidung Annisa. Bahkan berkali kali pria ini mencoba menghubungi ponsel Annisa, namun sayang ponsel Nisa tidak dapat dihubungi dalam mode silent.
" Duh Nisa kamu kemana? harusnya maki aku marahi aku, bukannya pergi menghilang begini sayang. Lagi pula aku sudah mengatakan yang sejujurnya, tapi kamu lebih memilih percaya omongan wanita sinting itu." gerutu Azzam menatap jendela luar.
Merasa sangat jengkel maka Azzam pun menghabiskan waktunya diruang fitness yang ada dilantai atas, sembari memutar musik sekencang mungkin. Tubuh kekar yang bagian dada dan perutnya membentuk lipatan bak roti sobek itu terlihat jelas.
Setelah beberapa waktu mengitari jalanan kota M bersama pak Kasim, kini mobil milik Amir itu berhenti tepat dihalaman rumah Azzam.
" Terimakasih pak Kasim." Nisa menutup pintu mobil mengucap terimakasih.
Dengan langkah gontai Nisa memasuki rumah, hatinya merasa lega karena mobil sang suami terparkir diluar, dan itu artinya si empu nya mobil tengah di rumah.
" Assalamu'alaikum mas Azzam, aku pulang."
Nisa membuka pintu seraya mengolok salam, namun sepertinya suara Nisa tak terdengar ke lantai atas, karena jedag jedug musik yang Azzam putar.
" Mas Azzam kemana kok nggak jawab salam Nisa." gumam Nisa saat melihat kamar yang kosong, hanya baju tergeletak.
Diruang makan, ruang baca dan musholla juga tidak ada, merasa penasaran dan lelah setelah berputar tak jua menemukan Azzam. Maka Nisa pun memberanikan diri menaiki lantai atas, yang selama ini belum pernah ia masuki.
Dari kejauhan suara kencang musik tersebut, tidak terdengar, dan hanya kedengaran saat Nisa berdiri tepat didepan pintu ruang fitness, tersebut.
__ADS_1
" Ini ruangan apa, kenapa musiknya tidak bisa terdengar di bawah." gumam Annisa, seraya perlahan membuka pintu tersebut.
Rupanya Azzam tengah melakukan olahraga pembentukan perut, yang beberapa hari tidak ia lakukan, karena sibuk. Mata Nisa sungguh terkejut dan terpana, dengan suguhan pemandangan dihadapannya saat itu.
Meski yang terlihat hanya punggung Azzam, karena posisi nya yang membelakangi pintu.
Nisa berjalan masuk mengendap, memelankan langkahnya sepelan mungkin, agar suaminya tidak mendengar, alih alih ingin memberikan kejutan.
Dan dengan memberanikan diri, Nisa tiba tiba memeluk tubuh Azzam dari belakang.
" Assalamu'alaikum, maafin Nisa mas. Harusnya Nisa percaya semua yang mas katakan, bukannya malah kabur dalam keadaan marah begitu hikssss...." ucap Annisa dengan suara tangis yang kembali pecah.
Betapa kaget Azzam saat dipeluk oleh Annisa dengan erat bahkan seolah menumpahkan semua yang dia rasakan. Ingin Azzam segera membalas ucapan istrinya dan bilang telah memaafkan. Namun ia berubah fikiran, mencoba melihat seberapa jauh usaha Nisa untuk mendapatkan maafnya.
" Hikss....mas jangan diam saja maafin Nisa mas." suara tangis dan sesenggukan dari bibir Nisa.
" Nisa janji akan percaya kepada mas Azzam mulai sekarang dan seterusnya huuuuuuu. Tolong bicaralah mas, maki Nisa bentak Nisa. Aku pantas mendapatkannya huuuuu." suara tangis Nisa makin menjadi.
" Ehmmm.... enak juga ya dipeluk istri erat seperti ini. Biarkan dulu Zam, biar istri kamu mengungkapkan isi hatinya." gumam Azzam menahan tawa.
Lama tak bergeming atau menjawab yang diperintahkan oleh Annisa, Azzam masih berpura pura marah dan ngambek, walau dalam hati sebenarnya ingin membalas pelukan tersebut dan menghujani wajah sang istri dengan kecupan.
Azzam masih menunggu nunggu kata ungkapan hati dari sang istri, makanya pria ini pura pura tak bergeming, memasang wajah datar ala kutub nya.
*******
BWRSAMBUNG......
__ADS_1