
Malam kian beranjak ke peraduannya, sinar rembulan malam itu, seolah menjadi saksi indahnya kisah cinta Azzam Muwaffiqi dan Annisa Ramadhania. Sinar bintang yang berkelap-kelip diatas langit nan cerah. Menambah kesyahduan malam panjang tersebut. Kedua insan yang hendak berpisah karena tugas, malam itu menghabiskan malam panjangnya, memadu cinta kasih yang penuh keromantisan.
" Teeet.... teeet...." bunyi bel rumah Azzam.
Seorang wanita paruh baya yang berpenampilan sederhana dan bersahaja, tengah berdiri di depan pintu, bersama seorang pria muda yang tak lain adalah Hanafi, putranya.
" Ceklek." Annisa membuka pintu.
" Kak Han, ini pasti bulek Rohimah ya?" sapa Annisa saat baru pertama bertemu dengan ibu kandung ustadz Hanafi.
" Assalamu'alaikum, iya Nis. Perkenalkan ini ibuku yang akan menemani kamu." jawab Han.
" Wa'alaikumussalam, saya Annisa bulek. Istrinya mas Azzam." timpal Nisa mencium punggung tangan wanita paruh baya dihadapannya.
Annisa mempersilahkan bulek Rohimah dan ustadz Hanafi masuk kedalam.
" Mas bulek sudah datang." teriak Annisa memanggil suaminya.
Azzam yang baru saja dari dapur, bergegas menemui bulek Rohimah.
" Pagi bulek, pagi Han." sapa Azzam bersalaman kepada sang bibi dan sepupunya.
" Wah pagi pagi sudah sibuk sekali ya pak dosen." ledek Hanafi.
" Iya Han, mumpung lagi libur. Sekali kali manjain istri kan boleh." timpal Azzam.
" Sayang, ajaklah bulek ke kamarnya. Biar bulek beristirahat, kasihan kan habis perjalanan jauh." celetuk Azzam menyuruh sang istri membawa sang bibi ke kamar.
__ADS_1
Tinggallah Hanafi dan Azzam di ruang tamu.
" Han besok aku ada tugas seminar diluar kota, mungkin tiga hari disana. Tolong ajak umi atau si Nur kesini ya. Pokoknya temani dan hibur Nisa, jangan sampai dia merasa kesepian atau bersedih. Jika perlu menginap lah disini selama aku tidak ada. Aku titip jaga istri dan calon anakku ya Han." tutur Azzam berpesan.
" Siap bro titah paduka siap laksanakan ha ha ha." balas Han terkekeh.
Bulek Rohimah meletakkan tas yang dibawanya ke lemari, menata beberapa pakaian yang ia bawa. Nisa membuat minuman untuk Hanafi dan ibunya.
" Diminum kak Han !!" ucap Nisa, dan Han pun menyeruput kopi panas buatan istri sepupunya.
Bulek Rohimah keluar dari kamar, menghampiri sang putra dan keponakannya. Wanita paruh baya ini pun menikmati kopi buatan istri keponakannya.
" Oh ya bulek, Han, aku permisi ke dapur sebentar ya. Kalian mengobrol lah,.bawa bulek melihat lihat rumah Han !!" seru Azzam berlalu menuju dapur.
Azzam kembali melanjutkan memasak untuk sarapan, dengan ditemani Annisa. Keduanya terlihat sibuk, membuat sarapan menyambut kedatangan sang bulek.
Bau aroma masakan Azzam dan Annisa tercium sampai halaman belakang. Bulek Rohimah yang sedang berkeliling pun menuju dapur.
" Wah baunya harum sekali. Kalian masak apa nih." tiba - tiba suara bulek Rohimah mengagetkan pasangan yang tengah asyik memasak ini.
" Eh bulek, maaf masakan kami ala kadarnya. Kebetulan tadi menyuruh pak Mansyur belanja, dapatnya juga menu seadanya." jawab Azzam.
" Nggak papa Zam nggak perlu repot-repot, sini biar bulek bantu nduk." imbuh Rohimah mengambil alih alat masak dari tangan Annisa.
" Nggak usah bulek nggak papa. Bulek istirahat saja sama kak Han." sahut Nisa berusaha menolak halus.
Namun sayang bulek Rohimah bersikukuh melanjutkan Nisa memasak, dan menyuruhnya duduk. Begitupun dengan Azzam.
__ADS_1
" Tadi diperjalanan bulek sudah bosan duduk dan tidur terus. Bulek itu lebih senang beraktifitas daripada berdiam diri." tukas Rohimah ibunya Han.
Beberapa menit kemudian, masakan yang dilanjutkan oleh Rohimah pun telah selesai, dan siap disantap.
Pagi itu Hanafi, Azzam, Annisa dan bulek Rohimah sedang sarapan bersama. Sementara pak Mansyur dan Toni sarapan di pos.
Di sebelah pojok taman depan rumah Azzam terdapat dua kamar berukuran kecil, yang bisa digunakan oleh pak Mansyur dan Toni untuk beristirahat, lengkap dengan kamar mandinya juga.
Setelah sarapan bersama, Hanafi berpamit untuk segera kembali ke pesantren. Karena sudah hampir saatnya dia untuk mengajar para santriwan.
" Ibu, Han pergi dulu ya !" pamit Hanafi bersalaman dengan sang ibu.
" Iya hati hati nak, sampaikan salam ibu kepada pak dhe mu, juga budhe ya." pungkas Rohimah.
Setelah kepergian Hanafi, Rohimah kembali ke dapur, mencuci piring.
Sementara Azzam dan Annisa pergi ke teras belakang. Menikmati pemandangan sederhana yang ada disana.. Azzam mengayun Nisa yang sedang duduk diatas ayunan warna putih tersebut. Keduanya bercanda ria. Bahkan sesekali Nisa mengerjai Azzam, membuat sang suami menggelitik tubuhnya. Dan mereka tertawa bahagia bersama sama.
Tak lupa Azzam juga mengabadikan kebersamaan mereka saat itu. Annisa berpose dengan gaya manjanya. Bahkan dalam foto yang berhasil mereka ambil, ada adegan Azzam menggendong Annisa dari belakang. Sebuah tawa indah terukir dari bibir keduanya.
Menjadikan momen pagi itu bersejarah dan penuh kenangan bagi mereka berdua.
Setelah dirasa puas bercanda ria, rasa kantuk pun menyerang bumil ini. Mode manja pun kembali on, dan seperti biasa tanpa aba aba Azzam menggendong tubuh Annisa menuju kamarnya. Bulek Rohimah yang melihatnya pun menggelengkan kepala sambil tersenyum.
*****
BERSAMBUNG......
__ADS_1