
Satu bulan kemudian.....
" Sayang, yang, Nisa." panggil Azzam saat meraba kasur sampingnya yang kosong, tidak ada tubuh sang istri.
Azzam bergegas bangun dari tempat tidur mencari keberadaan Annisa.
Karena hari sudah tengah malam, maka Azzam mengurungkan untuk berteriak memanggil sang istri, agar bulek Rohimah tidak terbangun.
Kamar mandi di kamar di buka, namun tidak ada. Azzam pun melangkah ke ruang tengah, masih juga kosong, sampai langkah kaki Azzam yang hendak menuju ruang depan, terhenti saat mendengar suara dentingan sesuatu.
Dihampiri asal sumber suara disana, rupanya tampak Nisa sedang memasak sesuatu, karena makanan di meja tidak ada sama sekali.
" Sayang." panggil Azzam.
" Sayang ngapain di dapur malam-malam begini?" tanya Azzam mendekati Annisa yang sedang berdiri di depan kompor.
" Eh mas kebangun ya, maaf Nisa lapar banget mas, lihat meja sama kulkas kosong, jadi ya goreng nasi." sahut Nisa mengorek nasi dalam wajan.
" Kenapa nggak bangunin mas sayang, sini biar mas yang lanjutin, sudah tunggu sana di dalam !" seru Azzam mengambil alih penggorengan.
Tak lama kemudian nasi goreng pun jadi beserta telor ceplok. Azzam segera menghampiri Nisa yang tengah menyalakan televisi.
" Sayang ini !" Azzam duduk disamping Annisa dan menyuapkan nasi goreng buatannya.
Sesendok demi sesendok, nasi goreng pun masuk ke dalam mulut Annisa.
Tak berapa lama nasi goreng ludes, dan Azzam merasa puas melihat sang istri yang terlihat kenyang.
" Sudah kenyang kan yang, yuk kita bobo lagi!" ajak Azzam.
Namun sang istri menggeleng kan kepala,
" masih belum kenyang mas, masih mau mamam." sahut Nisa memasang wajah manyun.
" Hah, masih lapar? serius sayang masih lapar? kan barusan sudah mamam yang?" tanya Azzam heran.
" Masih pingin Pizza." rengek Annisa manja, dengan menggigit sendok ditangannya. Membuat sang suami kaget.
" Ini sudah tengah malam sayang, mana ada resto yang buka, besok saja ya ?" bujuk Azzam mendekati Nisa, mengusap rambutnya, namun yang diusap tetap pada pendiriannya, tak mau negoisasi. Membuat pria itu memutar otak, untuk membujuknya, agar mau tidur kembali.
__ADS_1
" Kalau mas bikinin masakan lain mau nggak? atau beli yang ada saja yang?" tanya Azzam, jawaban masih tetap sama gelengan kepala dari wanita disampingnya, yang kini semakin memanyunkan bibirnya. Melihat ekspresi bumil yang sudah tidak bisa dirayu lagi, maka Azzam pun beranjak berdiri dan berganti pakaian.
" Tunggu sebentar mas mau keluar cari Pizza, siapa tahu masih ada yang buka, semoga ada." gerutu Azzam berlalu menuju garasi.
Annisa mengangguk dan mengulas senyuman selebar daun pintu, wajahnya seketika berubah ceria. Sementara Azzam yang di dalam mobil merasa kesal namun, karena besarnya rasa sayang terhadap Annisa, maka ia pun rela mengarungi malam mencari keinginan sang kekasih halalnya.
Mobil Alphard warna hitam, menyusuri jalanan kota M, mencari resto atau apapun yang menjual pizza. Hampir setengah jam mengitari pusat kota, semua tampak tutup, tinggal satu gerobak pinggiran yang kebetulan juga menjual pizza, hotdog dan semacamnya yang sedang berkemas pulang, Azzam segera menepikan mobilnya.
" Mbak pizza nya masih ada? saya pesan dua." ucap Azzam kepada penjual pizza yang sedang berkemas menghadap ke belakang.
Penjual yang disebut mbak oleh Azzam menoleh, tatapannya terpaku pada sosok pria di hadapannya, merasa tidak asing lagi baginya. Keduanya sama-sama ambigu seketika.
" Aulia !" sebut Azzam tertegun, menatap penjual pizza tersebut.
" Mas A Az Zam." balas Aulia penjual pizza yang usianya dua tahun lebih muda dari Azzam tersebut.
Sesaat masing-masing masih tampak canggung dan terdiam, tanpa saling berucap kata lagi, berkutat dengan kilatan kenangan yang pernah terjadi antara keduanya.
" Kamu Aulia kan?" tanya Azzam kembali, meyakinkan dirinya.
" I Iya mas, saya Aulia." sahut Aulia, tertunduk.
Saat Azzam bertanya tentang sang suami, maka wanita dihadapan Azzam tersebut, terlihat rona kesedihan dari raut wajahnya.
" Maaf jika keberatan nggak usah diceritakan, oh ya aku pesen pizza nya dua, masih ada?" ucap pria berwajah Arab tersebut.
" Maaf hanya tinggal satu saja mas, sekali lagi maafkan kepergian saya yang tanpa berpamit waktu itu ya mas, saya menyesal sekali." timpal Aulia masih terlihat bersedih.
" Iya nggak papa kok, aku sudah melupakannya, itu kan masa lalu, dan Alhamdulillah sekarang saya sudah menikah dan hidup bahagia, kebetulan yang menginginkan pizza itu adalah istri saya, dia sedang mengandung anak pertama kami." tukas dosen kutub mengulas senyum datar.
Aulia pun menyiapkan pizza pesanan Azzam, mantan tunangannya, beberapa tahun lalu.
" Bukan kah waktu itu dia pergi meninggalkan aku demi kekasih barunya yang kaya raya. Kenapa sekarang keadaan Lia seperti ini." gumam Azzam membatin, masih menatap wanita dihadapannya, yang membuatnya tidak habis pikir.
Tak lama kemudian pizza pesanan Azzam pun jadi, " ini mas pizza nya, oh ya kebetulan ini ada sisa hotdog dan donuts, bawa sekalian mas untuk istri kamu, wanita hamil pasti sering lapar tengah malam."
tukas Aulia menyodorkan bungkusan kresek warna putih kepada Azzam.
Azzam membuka dompetnya, " nggak usah Li, biar aku bayar semua, berapa semuanya?"
__ADS_1
" Nggak usah mas, lagian aku sudah mau tutup, anggap itu hadiah pertemuan kita kembali." balas Aulia tersenyum.
Merasa tidak enak, maka Azzam pun menyodorkan beberapa obat uang ratusan ribu kepada wanita dihadapannya.
" Kebanyakan mas, ini !" Aulia menyodorkan uang dari Azzam kembali, namun ditolak.
" Nggak usah Li, aku ikhlas kok. Mungkin kamu lebih membutuhkan nya. Terimakasih ya akhirnya kemauan istriku terpenuhi. Sudah malam, pulang lah !" ucap Azzam lalu beranjak masuk kedalam mobil.
Aulia menatap punggung Azzam hingga mobil yang terparkir di depan gerobaknya menghilang.
Azzam merasa lega dan senang sekali, karena wanita kesayangannya pasti akan sangat suka ia kembali tidak dengan tangan kosong.
Tanpa menekan tombol bel, Azzam segera masuk, dicarinya sang istri yang rupanya sudah terlelap memeluk guling, di atas sofa, dengan ditemani layar televisi yang masih menyala.
Azzam pun menggelengkan kepala, tersenyum melihat tidur pulas dari bumil itu.
" Yang, bangun ini pizza nya sudah datang !" bisik Azzam mendaratkan sebuah kecupan di pipi kanan sang istri.
" Ehmmm." sahut Annisa masih terpejam.
Dipanggil berkali-kali tidak juga bangun maka Azzam membuka kotak pizza yang ada ditangannya, dan mendekatkan ke arah hidung Annisa yang masih terlelap.
" Yang, sayaaaang pizza nya gosooooong." Azzam sedikit berteriak agar Annisa terbangun.
Dan benar saja setelah mengendus aroma pizza, Nisa pun kaget dan terjaga.
"Mana, mana gosong mas?" seketika Nisa terbangun dan duduk, karena kaget dengan teriakan sang suami yang mengatakan gosong, hampir saja pizza yang ada ditangan Azzam, terjatuh karena tersenggol Annisa.
" Astaga mas, mas itu ngagetin aku tahu nggak, uhh." desah bumil kesal, dan berekspresi cemberut memalingkan wajah membelakangi sang suami.
" Yakin sayang marah, nggak mau pizza, ada donuts dan hotdog juga loh, pasti lezat." goda Azzam mengitarkan kotak ditangannya ke hidung Annisa.
Melihat pizza dihadapannya, maka secepat kilat Nisa menyambar kotak tersebut dan mulai menyantapnya. Bibirnya dipenuhi makanan dan sedikit noda Saos yang membekas, dengan sigap Azzam mengambil tissu dan mengusap noda Saos di sudut bibir sang istri.
Seketika wajah bumil yang tadinya kesal karena ulah keisengan sang suami, mendadak berubah ceria kembali, dan menebar kekehan tawa kecil. Terlihat kebahagiaan tersendiri bagi Azzam, saat melihat ekspresi bahagia kekasih halalnya tersebut.
******
BERSAMBUNG.....
__ADS_1