
Didalam perpustakaan, fokus Annisa terpecah. Walau dia berpura pura cuek namun dalam hati ingin bertegur sapa dengan pria yang tengah duduk ditemani laptop serta tumpukan buku.
" Pergi enggak, pergi enggak. Emmmm.... gue samperin gak ya ustadz kutub itu." gumam Annisa bingung.
" Nis, ngapain kita kemari ?? " bisik Sinta.
Bukannya menjawab pertanyaan sahabatnya, Nisa malah bengong menatap punggung Azzam.
" Woiii... Nis...woiii Annisaaa." panggil Sinta suaranya sedikit mengeras kembali.
" Iya iya bawel amat sih lu, kita ini didalam perpus, jaga suara cempreng lu." gerutu Nisa menutup mulut Sinta.
" Abisnya tubuh lu disini, tapi mata lu kesana, mana orang udah manggil manggil, lu nya diem aja." protes Sinta membela diri.
" Iya iya maaf, eh bentar ya Sin lu tunggu sini bentar." timpal Annisa lalu pergi menuju meja Azzam.
" Assalamu'alaikum." sapa Annisa dengan suara lembut.
" Wa'alaikumussalam." jawab Azzam tanpa menoleh siapa yang sedang berdiri disampingnya.
" Sepulang ngajar silahkan mampir ke rumah mas, jika tidak sibuk." seru Annisa masih dengan nada lembut.
Pria yang tengah asyik dengan laptopnya itu pun mendongak kan wajahnya, menatap lawan bicaranya.
" Oh kamu, nggak usah makasih. Kamu baru mulai kuliah hari ini?" jawab Azzam menatap Annisa.
Gadis yang sedang berdiri itu pun mengangguk. Mengiyakan pertanyaan calon suaminya.
" Kalau begitu saya permisi dulu mas, Assalamu'alaikum." ujar Annisa dan membalikkan badannya hendak pergi.
Tiba tiba Azzam baru saja teringat, kalau mobilnya sedang ada di bengkel, saat perjalanan menuju kampus, tiba tiba mati. Dan ia pun ke kampus menggunakan taksi.
" Oh ya boleh minta tolong nggak?" suara Azzam menghentikan langkah Annisa.
Nisa kembali berbalik menatap Azzam, " Iya minta tolong apa mas?"
" Boleh nebeng nggak?? mobil aku sedang di bengkel, katanya sih siang selesai, kalau tidak keberatan bisa kan antar ke bengkel?" tanya Azzam datar tanpa ekspresi diwajahnya.
Annisa kembali mengangguk, lalu berpamit pergi. Sedang Sinta dari kursi ia duduk, menatap sahabatnya yang tengah berbicara dengan dosen yang dijuluki dosen kutub.
" Ngapain tuh anak samperin dosen kutub itu, nggak ada kerjaan aja. Pasti dicuekin kan, makanya pergi." celetuk Sinta.
__ADS_1
" Eh ngapain lu Nis ngobrol sama dosen kutub itu?" Sinta bertanya saat Nisa kembali duduk disampingnya.
" Enggak, nggak ada yang penting kok." balas Nisa berbohong.
Dan kedua gadis ini pun keluar meninggalkan perpustakaan. Mereka berjalan menuju kelas Annisa.
" Sinta temenin gue ya di kelas?? gue gak mau Rangga mengikuti ku." pinta Annisa.
" Iya beres, oh ya daripada boring nunggu kelas selanjutnya, cerita dong gimana kisah lu selama tinggal di pesantren, hingga lu berubah drastis seperti ini, ya kali aja sih gue berminat nyantri kesana setelah denger cerita lu." tanya Sinta kembali mengorek cerita sahabat nya.
Dan Annisa pun bercerita kisah lucu, kesal dan bahagianya selama tinggal di pesantren milik Kyai Waffiq, yang sebentar lagi akan menjadi ayah mertua.
" Wah wah, penasaran gue seperti apa sosok ustadz yang lu bilang barusan, cakepan mana sama tuh dosen ujung sana?" tanya Sinta sembari wajahnya dimajukan ke arah Azzam.
Annisa terdiam membisu, merasa salah tingkah dan hatinya menggumam, " Dari mana nih anak tahu kalau ustadz yang gue ceritain itu dosen kutub?"
" Ya sebelas dua belas sih." sahut Annisa singkat, mengalihkan pembicaraan.
******
Kelas jam terakhir telah usai, Annisa bersiap menunggu Azzam diparkiran. Segera gadis berhijab itu membereskan buku buku dan pergi.
Rupanya Rangga masih bersikeras meminta permohonan maaf untuknya dari Annisa. Dan ia pun mencegat Nisa di jalan.
" Nggak ada lagi yang perlu gue maafkan, semua sudah impas. Jadi jangan bodoh mempermalukan dirimu sendiri." jawab Annisa tetap berlalu pergi, meninggalkan Rangga yang sedang berlutut.
" Nisa plis berhenti sekali saja ucapkan kalau kamu maafin gue, Annisaaa." teriak Rangga keras, menghina pada gadis yang pernah diculiknya.
Azzam yang baru selesai keluar dari kelas, tempat ia mengajar, tanpa sengaja melihat dan mendengar semua adegan yang dilakukan Rangga.
Azzam mendekat ke arah Rangga yang tengah berlutut, " Annisa tunggu, kembali !!" perintah Azzam menghentikan langkah Annisa.
Gadis yang merasa namanya dipanggil itu pun berhenti dan menoleh, rupanya calon suaminya yang memanggil.
Annisa berjalan kembali mendekati Azzam yang berdiri dibelakang Rangga. Dan gadis berhijab itu, kini berdiri didepan Rangga dan Azzam.
Merasa memiliki peluang, Rangga pun meraih tangan Annisa seraya mulutnya mengucap maaf.
" Plis Nisa maafin gue, kalau kamu tidak ingin aku berlutut seperti ini, setidaknya katakan lah kamu telah memaafkan aku." ujar Rangga memelas dengan kesungguhan, meminta maaf pada Annisa.
" Lepaskan tangan Annisa." seru Azzam pada Rangga.
__ADS_1
Sementara Annisa berusaha menarik tangannya dari genggaman Rangga, namun sayangnya tidak bisa, karena genggaman Rangga terlalu kuat.
Rangga tidak menggubris teriakan Azzam, walau ia tidak tahu siapa yang melarangnya menyentuh tangan Annisa saat itu.
" Diam, saya tidak akan melepas tangannya, sebelum Nisa memaafkan ku." teriak Rangga.
Merasa tak dihargai, dan melihat perlawanan Annisa yang berusaha menarik tangannya dari Rangga, Azzam terlihat sangat kesal.
" Jika tidak kamu lepaskan tangan calon istriku, maka saat ini juga saya keluarkan kamu dari kampus ini !!" ancam Azzam dengan suara lantang.
Seketika Rangga memalingkan wajahnya menengok siapa pria yang baru saja mengklaim bahwa wanita yang pernah diculiknya itu adalah calon istrinya.
Rangga kaget seketika, bibirnya auto terkunci. Ternyata yang baru saja bersuara tak lain adalah dosen kutub yang sangat dikenal disiplin serta dingin.
Rangga auto melepas tangan Annisa, walau masih tidak percaya dengan ucapan sang dosen barusan.
" Maksud pak A.. pak Azzam apa?? apa benar Annisa calon istri bapak?" tanya Rangga terbata dan memastikan pertanyaannya.
" Iya dia adalah calon istriku, beberapa hari kedepan, kami akan melangsungkan pernikahan. Jadi tolong hormati Nisa, jangan pernah mengganggunya lagi. " sahut Azzam tanpa ekspresi, mendekati Annisa.
" Satu hal lagi, rupanya kamu pria brengsek yang telah berniat buruk terhadapnya beberapa waktu lalu. Nisa katakan lah kamu telah memaafkan dia. Dan kamu Rangga jauhi Nisa dari sekarang, jika saya melihat kamu mengganggu calon istri saya, maka saya pastikan, kamu akan dikeluarkan dari kampus ini." ancam Azzam kembali lalu menggandeng tangan Annisa berjalan menuju parkiran.
Beberapa pasang mata mahasiswa dan mahasiswi yang masih ada disana, terdiam dan tertunduk manakala Azzam dan Annisa berjalan melintas didepan mereka.
Rangga bersimpuh terkulai seketika, setelah mendengar semua ucapan dosen yang paling disegani dikampus tersebut.
Bagai disambar petir, seorang Rangga yang dikenal macho dikampus tersebut, berlutut dihadapan seorang gadis, demi meminta sebuah maaf. Walau sebenarnya mereka semua penasaran, mengapa Rangga merendahkan dirinya sampai seperti itu.
" Gila ya Rangga, secara dia kurang apa coba. Memalukan dirinya sendiri demi maaf seorang cewe. Hah ada ada saja." celetuk salah satu mahasiswa bersama gerombolan teman teman nya.
" Iya tahu tuh, Rangga masa cowo keren dan macho yang terkenal, berlutut ha ha ha gila ." sahut mahasiswa lainnya.
Sementara Annisa memberikan kunci mobilnya kepada Azzam, dan ia pun duduk di bangku jok belakang. Dan Azzam melajukan mobil sport warna merah menyala itu menuju bengkel tempat mobilnya diperbaiki.
*****
**BERSAMBUNG....
JANGAN LUPA KLIK VOTE RATE LIKE DAN GIFT YA KAKA READERS SEMUA AGAR AUTHOR SEMAKIN SEMANGAT BERKARYA
JANGAN LUPA PULA TINGGAL KAN JEJAK KOMENTAR KAKA READERS SEMUA DI KOLOM KOMENTAR YANG ADA
__ADS_1
JAZZAQUMULLAAH KHAIRAN KATSIR 🙏😘😘**