HIJAIYAH CINTA

HIJAIYAH CINTA
Sikap Aneh Annisa


__ADS_3

Seusai berbincang, kedua pria ini kembali menuju ruang keluarga sebelum Devi memanggil nya untuk makan malam. Dan keduanya terlihat seolah tidak terjadi sesuatu.


" Pa, nak Azzam makan malam sudah siap. Bentar mama bangunin Nisa dulu." ujar Devi yang baru keluar dari dapur.


" Biar Zam saja ma, mama sama papa duluan." jawab Azzam.


Azzam lalu pergi ke kamar sang istri dan membangunkannya.


Sebelum membangunkan Nisa, Azzam menutup pintu kamar, pria ini duduk disamping ranjang, menatap lekat wajah tidak berdosa sang istri. Batinnya terasa sakit, harus melibatkan sang ayah mertua dan keluarganya dalam obsesi wanita sinting yang terobsesi terhadap dirinya.


" Aku janji akan membantu papa, dan tidak akan membuat kamu menangis sayang. Apapun ujian dan sebesar apapun, aku akan tetap disamping kamu. Kita akan lalui nya bersama-sama." ucap Azzam lirih, seraya tangannya membelai kepala Annisa.


Merasa ada yang hangat di keningnya, Nisa terjaga. Wanita ini mengerjapkan matanya perlahan.


" Mas Azzam, maaf Nisa ketiduran. Capek banget. Jam berapa ini mas?" tanya Nisa menatap Azzam dan membenahi hijabnya.


" Jam setengah sembilan sayang, ayo mama sudah manggil kita untuk makan malam. Cuci muka dulu gih !" seru Azzam membantu sang istri bangun.


Nisa berjalan menuju kamar mandi dan mencuci mukanya, agar lebih segar. Lalu keduanya menuju ruang makan.


" Ma bau masakan apa lagi ini. Mama masak apa sih? kok baunya menyengat banget gak enak ma." tukas Annisa menutup hidungnya dengan jari telunjuk dan jempolnya, saat berada di ruang makan.


" Bau apa sih Nisa, nggak ada yang bau menyengat kok. Iya kan pa? iya kan nak Zam?" tanya Devi pada sang suami dan sang menantu.


" Bau apa sih yang, nggak ada bau apa pun loh. Ini tuh makanan kesukaan sayang, yang sengaja mama masak. Nggak boleh bilang begitu lagi ya yang !!" ucap Azzam menasehati Nisa.


Amir tersenyum melihat tingkah sang putri. " Benar kata suami kamu Nisa, ini semua makanan kesukaan kamu. Papa yang sengaja menyuruh mama masak semua ini, ayo duduk !! papa sudah lapar." tukas Amir, membuka piringnya.


Masih dengan menutup hidungnya Nisa duduk, seolah terpaksa dia untuk makan malam saat itu. Benar benar bukan seperti seorang Annisa biasanya yang selalu semangat ketika menyantap hidangan.

__ADS_1


" Nisa nggak mau ini mas, Nisa mau nasi putih saja sama tempe. Tapi mas Azzam yang goreng." ujar Annisa dengan tingkah manjanya.


" Iya iya, sekarang sayang duduk dulu ya, tunggu sebentar mas goreng tempenya." seru Azzam berjalan menuju dapur.


" Biar si mbok saja nak Azzam yang goreng kan." tukas Devi.


" Nggak boleh, Nisa maunya gorengan tangan mas Azzam sendiri." timpal Nisa berteriak dan cemberut.


" Siap ibu negara laksanakan." jawab Azzam dari dapur.


Tak lama kemudian tempe goreng buatan Azzam pun jadi.


" Tara, tempe goreng pesanan ibu negara sudah siap. Yuk mas suapin." ujar Azzam menaruh semangkuk kecil tempe goreng dan mengambil nasi.


" Mas Azzam, Nisa mau kita makan sepiring berdua, dan itu hanya dengan tempe nggak boleh sama lauk lainnya." rengek Annisa merajuk manja pada sang suami


" Nis, kamu hamil kah? kok tingkah kamu aneh banget hari ini?" tanya Devi sambil mengamati tingkah sang putri.


" Sudah sudah ayo kita makan, mungkin anak kita mau kedatangan tamu bulanan ma, jadinya manja nggak jelas begitu." tukas Amir.


Semuanya pun lanjut makan malam dengan lahap. Sementara Azzam dengan sabarnya menyuapi Nisa dan berganti menyuapi dirinya sendiri. Demi kebahagiaan wanita yang sangat dicintainya, Azzam rela menjadi budak cinta Annisa. Meski dihadapan sang mertua. Ia sama sekali tidak merasa malu. Baginya yang paling penting adalah kebahagiaan Annisa.


******


Seusai makan malam, Amir pergi ke ruang kerjanya. Ia mengambil tiga amplop yang ada di brankas.


" Seperti janji papa sama mama waktu itu, setelah ujian Nisa selesai, maka papa sama mama menghadiahkan umroh kepada kalian berdua." ujar Amir menyodorkan tiga amplop dan menaruhnya diatas meja makan.


" Kok tiga pa." celetuk Nisa .

__ADS_1


" Papa ingin mama mendampingi kalian disana, jadi papa sengaja mengurus keberangkatan mama juga. Hitung hitung hadiah buat mama kamu. Maaf papa tidak bisa ikut serta, karena perusahaan sedang tidak bisa ditinggal, semoga sepulang dari tanah suci nanti semua do'a do'a kita di ijabah Allah. Aamiin." jawab Amir.


" Aamiin." ketiga orang ini pun ikut mengaminkan ucapan Amir.


" Wah rupanya mama juga dapat hadiah ini, terimakasih papa, semoga bisnis papa lancar dan berkah selalu." ujar Devi bahagia.


" Aamiin." jawab semuanya kembali mengaminkan.


Dan malam itu Nisa beserta Azzam menginap di kediaman Amir. Sementara Nisa masih menunjukkan perubahan sikapnya yang aneh, tidak seperti biasanya.


******


" Yang peyuk." ucap Nisa merengek manja, mendekatkan tubuhnya bergeser ke Azzam.


" Boleh banget, sini mas peluk. Uluh uluh manja banget sih istriku hari ini." ucap Azzam, merentangkan tangan kirinya dan tangan satunya mendekap tubuh Annisa. Azzam mengecup kening Nisa.


Sementara Azzam melantunkan senandung sholawat untuk Nisa agar terlelap. Namun pikiran Azzam menerawang jauh entah kemana.


Bayangannya terus tertuju kepada sosok Linda. Dalam hati merasa sangat kesal dengan sikap culas keluarga Linda. Ingin sekali hari berganti pagi, agar ia bisa segera menyelesaikan masalah dirinya dengan si Linda.


Di dalam kamar, begitu pun dengan Amir. Meski raganya ada disamping Devi, namun pikirannya juga menerawang jauh, memikirkan bagaimana masa depan keluarganya nanti.


Detik berganti menit, bergulir menjadi jam. Malam pun kian beranjak, hampir seluruh penghuni kota M terlelap merenda mimpi dibalik selimut, merehatkan seluruh tubuh dan pikiran dari semua beratnya beban kehidupan yang mereka pikul.


Begitu juga dengan pasangan Azzam dan Annisa, malam itu keduanya tertidur lelap sekali, saling berpelukan merenda mimpi indah malam itu.


*******


**BERSAMBUNG.....

__ADS_1


JANGAN LUPA TERUS IKUTI KELANJUTAN KISAHNYA ANNISA DAN AZZAM YA KAKA READERS**.


__ADS_2