
Hari demi hari ujian Annisa telah berlangsung. Dengan segenap kesabaran, Azzam terus membimbing sang istri selama masa ujian.
Bahkan tugas memasak pun kerap kali Azzam ambil alih, tak jarang juga memesan atau makan diluar untuk membuat sang istri sedikit rileks dan terhibur. Agar tidak merasa jenuh.
Sesuai janjinya kepada sang putri tercinta, Amir dan Devi malam itu mengundang Nisa dan Azzam makan malam bersama di kediaman Amir.
Malam itu Annisa terlihat cantik sekali, mengenakan busana Syar'i warna dusty. Dan Azzam mengenakan setelan kemeja.
" Assalamu'alaikum." ucap Azzam dan Annisa bersamaan seraya menekan bel di depan pintu rumah Amir.
Mendengar suara bel berbunyi, Devi bergegas membuka pintu, disusul Amir juga ke depan menyambut kedatangan putri tersayang, yang sudah lama di rindukan.
" Wa'alaikumussalam. Hai malam sayang, selamat malam nak Azzam." ucap Devi saat membuka pintu.
Wanita paruh baya itu memeluk putri tercintanya dan Nisa pun bersalaman disusul Azzam, bergantian memeluk sang papa.
" Wah anak gadis ku akhirnya singgah ke sini. Terimakasih nak Azzam sudah mau main kesini." ujar Amir memeluk sang menantu.
Semuanya masuk ke dalam, duduk di ruang keluarga dan berbincang. Sementara Amir asyik mengobrol dengan menantunya. Nisa menyusul Devi ke dapur.
Perbincangan sesama wanita pun tercipta saat Devi menginterogasi tentang bagaimana reaksi mertuanya selama ini, karena ia belum bisa memberikan keturunan.
" Oh ya sayang, bagaimana dengan umi? apa masih sama menanyakan tentang kehamilan kamu?" tanya Devi menyelidik.
Nisa tersenyum sambil tangannya menuang air panas ke dalam cangkir yang ada diatas meja dapur.
" Umi Alhamdulillah baik baik saja kok ma. Kalau masalah bertanya tentang kehamilan Nisa sih itu wajar ma, sama halnya mama juga sebelum sebelumnya kan sering nanyain apa sudah telat datang bulan." jawab Nisa.
" Oh ya ujian kamu kan sudah berakhir, besok juga papa libur. Malam ini nginap saja disini. Ada banyak yang ingin papa kamu sampaikan kepada anak mantunya katanya." timpal Devi kembali.
Wanita paruh baya itu mengaduk kopi serta teh yang baru saja disiram air panas.
" Nisa sih terserah mas Azzam ma. Kalau dia mau, Nisa sih iyes he he he." balas Nisa sembari cengengesan.
__ADS_1
" Ini anak dulu manjanya minta ampun, sekarang giliran sudah punya suami, mama papa di lupakan." celetuk Devi memasang wajah cemberut.
Nisa memeluk tubuh sang mama dan bergelayut manja serta merengek bak anak kecil.
" Ih mama mana ada begitu. Sampai kapan pun Nisa itu sayang banget sama mama juga papa. Kan kata papa Nisa harus jadi istri yang shaliha. Harus nurut suami, masa mama ngambek gitu." celetuk Annisa dengan logat manjanya.
" Iya iya mama ngerti kok, mama cuma bercanda. Ini bawa keluar, kasihkan suami kamu juga papa !!" seru Devi memberikan nampan berisi dua cangkir kepada sang putri.
" Ma ini kopi apa ya? kok baunya aneh banget." tanya Annisa mengendus-endus cangkir yang ada ditangannya.
" Ya kopi seperti biasanya lah Nis, kopi kesukaan papa kamu. Emang kenapa sayang?" tanya Devi penasaran, juga turut mengendus, mencium aroma kopi buatannya.
" Enak kok nggak ada yang aneh Nis. Hidung kamu tuh sepertinya bermasalah." tukas Devi menjawab.
" Ma beneran bau kopi ini tuh nggak enak banget mama. Mama yang bawa ke depan ya, Nisa ke toilet sebentar." pamit Nisa terburu-buru dan menaruh nampan berisi dua cangkir yang ada ditangannya ke meja.
Devi menggelengkan kepala dan membawa minuman buatannya ke ruang keluarga.
Di dalam toilet Nisa merasa sedikit aneh pada perutnya.
Mulutnya masih berkomat kamit berbicara sendiri, merasa heran dengan bau kopi yang terasa sangat menyengat dari biasanya.
" Kenapa sayang? kok berkeringat gini tangan kamu?" tanya Azzam saat Nisa baru kembali dari toilet.
" Nggak papa mas, cuma Nisa merasa aneh saja dengan aroma kopi buatan mama tadi, makanya Nisa pergi ke toilet ." timpal Nisa
Azzam menempelkan telapak tangannya ke dahi Nisa. Meraba apakah sang istri demam.
" Aromanya aneh gimana yang? biasa saja kok, iya kan pa?" Azzam bertanya pada Amir.
Amir yang baru saja menyesap kopi buatan sang istri pun tertawa kecil, " Hidung putri papa sepertinya sedang bermasalah. Orang kopi buatan mama harum dan enak banget kok di bilang aneh. Besok bawa istri kamu ke THT Zam ha ha ha." ledek Amir, menyesap kembali kopi panas di hadapannya.
" Ihhh kenapa kalian nggak ada yang percaya sama Nisa sih. Beneran aneh mas kopinya." ucap Annisa mulai merajuk.
__ADS_1
" Mungkin sayang kecapekan, kan selama beberapa hari ini belajar terus. Ma, pa, malam ini kita boleh kan menginap disini?" tanya Azzam menatap silih berganti wajah sang mertua.
" Boleh boleh banget nak Zam, barusan mama suruh Nisa bilang ke nak Azzam, tapi keburu dia ke toilet. Dengan senang hati mama sama papa, kalau kalian mau menginap disini. Iya kan pa?" tanya Devi.
" Iya benar nak Zam. Papa sangat senang sekali kalau kalian Sudi bermalam disini. Kami sangat rindu kalian dan juga papa ingin mengobrol lebih banyak kepada nak Azzam." jawab Amir.
" Nisa istirahat sana, benar kata suami kamu, sepertinya kamu kecapekan karena ujian. Sana istirahat dikamar gih, ntar lagi saat makan malam biar mama bangunin." seru Amir kembali.
Azzam pun mengantar Nisa pergi ke kamar. Sampai di kamar, Azzam menyelimuti tubuh Nisa dan mengoles minyak kayu putih ke perut dan telapak tangan serta kaki Nisa.
" Sayang istirahat dulu ya, mas mau berbincang dengan papa." Azzam mencium kening Nisa dan pergi kembali ke ruang keluarga.
Pelayan rumah Devi mulai memasak makan malam, menyambut sang menantu dan sang putri yang sudah beberapa bulan sibuk dan tidak sempat bermalam di kediaman Amir.
Malam itu Devi sengaja menyiapkan makan malam spesial untuk sang putri tersayang dan sang mantu.
" Non Nisa kenapa nyonya?" tanya pelayan Devi.
" Sepertinya dia kecapekan mbok, kan beberapa hari terakhir dia sibuk ujian akhir semester. Pasti sangat menyita waktu, tenaga dan pikirannya." jawab Devi.
" Oh begitu nyonya, mbok pikir non Nisa sedang hamil, sebab tidak mau bau menyengat dari kopi yang nyonya buat tadi." ujar pelayan tersebut.
" Tidak mbok, Nisa belum hamil kok. Semoga sepulangnya dari Umroh nanti bisa segera diberi momongan." timpal Devi.
Keduanya melanjutkan memasak, dan Nisa terlelap karena tubuhnya entah mengapa tiba tiba terasa aneh malam itu.
Azzam dan Amir pindah ke ruang kerja, melanjutkan obrolan para lelaki. Disana keduanya berbincang empat mata, seolah ada sesuatu yang ingin Amir sampaikan.
******
BERSAMBUNG.....
***ASSALAMU'ALAIKUM KAKA READERS SEMUA, PENASARAN KAN KELANJUTAN NYA. APAKAH ANNISA SEDANG HAMIL???
__ADS_1
LALU APA PERBINCANGAN ANTARA TUAN AMIR DAN SANG MENANTU AZZAM.
TERUS IKUTI KELANJUTAN KISAHNYA KAKA, JANGAN LUPA DUKUNGANNYA🙏🥰🥰🥰***