
Hari mulai beranjak menuju siang, jam di kota M menunjukkan pukul sepuluh lewat tiga puluh menit. Setelah makan bersama dan memgganti pakaian, mereka segera meluncur menuju supermaket, belanja kebutuhan pokok.
" Oh ya aku belum sempat ke ATM, ambillah kartu debbit warna hitam dalam dompetku. Pakailah untuk keperluan sehari hari kamu !!"
seru Azzam menyodorkan sebuah dompet kepada Annisa yang tengah duduk di samping Azzam.
" Nisa ada kok mas nggak usah." balas Nisa seraya menoleh menatap sang suami yang tengah fokus mengemudi.
" Ambil lah, dan uang mu simpan saja !!" seru Azzam kembali fokus melihat jalanan yang mulai padat.
Tak banyak bicara gadis yang tengah duduk disamping Azzam itu, mengambil kartu debbit warna hitam milik sang suami.
Sesampainya di parkiran sebuah swalayan, Azzam memarkirkan mobil, dan membuka pintu sang istri.
Keduanya memasuki swalayan, dan Azzam menggandeng tangan Annisa, berjalan beriringan. Memilih dan mengambil kebutuhan pokok yang mereka butuhkan.
Pria yang terkenal dingin itu berdiri disamping Annisa dengan setia membawa troli belanjaan.
Satu persatu kebutuhan yang dibutuhkan, di masukkan kedalam keranjang, dari buah, sayur dan beberapa ikan serta sabun dan kebutuhan lainnya.
" Oh ya sebelum lusa kita mulai aktifitas masing-masing, bagaimana kalau kita undang mama, papa, Abi,umi dan Safa untuk makan malam bersama dirumah." ujar Azzam saat tangannya mengambil barang dari tangan istrinya.
" Wah ide bagus itu mas, boleh banget. Tapiiii...." Nisa terlihat murung, menggantung kalimatnya dan tertunduk lesu.
" Tapi apa?" tanya Azzam.
" Nisa belum bisa masak banyak menu." sahut Nisa.
Azzam terkekeh sembari membantu Annisa memilih belanjaan lainnya. " Kan kita bisa masak bersama, nggak perlu menu mewah, walau sederhana yang penting ketulusan kita menghormati kedua orang tua, itu sudah jauh lebih cukup." timpal Azzam menyunggingkan sebuah senyuman, dan memasukkan belanjaan ke troli.
Tanpa terasa troli belanjaan itu sudah penuh. Azzam termenung mengamati belanjaan yang di pilih sang istri, sepertinya ada yang kurang menurutnya.
" Oh ya pasti dia lupa atau malu untuk mengambilnya." gumam Azzam.
" Nisa aku kesana sebentar ya, biar trolinya aku yang bawa." pamit Azzam mendorong troli belanjaan, menuju gerai kebutuhan wanita.
__ADS_1
Bingung begitu banyak pilihan, dan tidak tahu mana yang akan di sukai oleh Annisa, Azzam mematung sembari mengedarkan pandangannya menatap rak jejeran pembalut.
" Emmm.... mbak permisi numpang nanya." sapa Azzam pada salah satu pelayan swalayan.
" Iya pak ada yang bisa saya bantu?" ujar sang pelayan.
" Emmm.... diantara semua ini, mana kah yang paling bagus buat istri saya, maksud saya yang pasti akan cocok buat dia." ujar Azzam menunjuk salah satu pembalut merk lain.
" Semua bagus pak, tergantung kulit istri bapak cocok yang mana, kalau saran saya sih yang ini pak, selain lebih panjang, bisa lebih cepat menyerap, lembut dan tidak bikin iritasi." sahut pelayan.
Tanpa pikir panjang lagi Azzam pun mengambil yang disarankan oleh pelayan tersebut, dan memasukkan beberapa merk lain kedalam troli, sebagai pilihan ketimbang salah.
Merasa sang suami sangat lama, maka Annisa menyusul dan mencari Azzam, " mas ngapain disini?? dan ini apa?? Yaa Allah mas Azzam, ini kan kebutuhan pribadi aku, kenapa mas repot repot milih buat aku. Uuuuhhh pasti mas malu sekali ya, sini biar Nisa yang pilih." celetuk Annisa mengembalikan beberapa merk yang baru saja dipilih Azzam, serta mengambil satu merk yang biasa ia pakai.
Merasa malu dengan sikapnya, Azzam menggaruk tengkuk kepalanya, tersenyum malu.
" Sudah mas, ayo ke kasir, sudah hampir waktu Dzuhur tiba." seru Annisa berjalan disamping Azzam yang mendorong troli belanjaan.
Dan tak lama berselang kasir pun menghitung belanjaan mereka. Namun tiba tiba kasir tersebut menyapa Azzam yang berdiri dibelakang Annisa.
Azzam menatap kasir tersebut, sembari mencoba mengingat siapa gadis yang menyapanya. Lama berfikir, " Oh ya aku ingat, kamu Elisa Fitriani bukan? teman sekelas waktu di MAN dulu." ujar Azzam menebak.
" Iya benar Zam, apa dia istri kamu? kapan nikahnya kok nggak ngundang sih." timpal Elisa.
" Baru lusa kemarin Lis, oh ya kenalkan istriku, namanya Annisa." sahut Azzam.
Annisa pun mengulurkan tangan menjabat tangan Elisa, teman SMA sang suami.
" Cantik sekali istri kamu Zam, rupanya kalian pengantin baru ya." timpal Elisa memberi selamat.
Annisa dan Azzam sama sama mengangguk dan tersenyum. Lalu berpamit setelah belanjaan mereka selesai di total.
" Maaf Lisa, kami pamit dulu. Assalamu'alaikum." ucap Azzam berpamit seraya menangkupkan kedua tangannya.
******
__ADS_1
Setelah tiba diparkiran, Azzam menata barang belanjaannya di bagasi belakang. Lalu melajukan mobil menuju kediamannya.
Sementara di kediaman kyai Waffiq, Safa merasa bosan berdiam di rumah hanya bertan para santriwati dan Hanafi sepupunya.
" Kak Han, temani Sa jalan jalan yuk. Mau kasih kejutan buat kak Azzam, pasti mereka masih ada di hotel. Kita nonton saja yuk, kali aja ada film bagus." ucap Safa pada Hanafi yang baru selesai mengajar.
" Pamit dulu lah ke umi sama abi, diizinkan tidak." timpal Hanafi yang tengah duduk memainkan ponselnya.
" Oke bentar Sa pamit abi umi dulu." ujar Safa berjalan menuju teras belakang, dimana sang abi dan umi sedang menikmati camilan siang.
" Assalamu'alaikum Abi, umi." sapa Safa saat menghampiri kedua orangtuanya.
" Wa'alaikumussalam warahmatullaahi wabarakaatuh, iya Sa ada apa nak?" tanya umi Fatimah.
" Abi, umi, Safa boleh nggak keluar nonton film sama kak Han. Safa bosen bi, boleh ya Abi umi?" rengek Safa bergelayut manja dilengan sang abi.
" Untuk apa sih Sa nonton film diluar, dirumah juga bisa kan. Lagian Han itu bukan mahram kamu loh, jadi yang ada bisa menimbulkan fitnah. Ajak lah itu si Nur sama temannya, buat barengin kamu, tapi awas harus hati hati dan juga jangan sampai kemalaman dan ninggalin sholat." celetuk sang kyai.
" Han biar jadi sopir kalian saja dan mengawasi kalian dari kejauhan." timpal sang kyai kembali.
" Horeeee... makasih ya abi, umi." sahut Annisa mencium pipi kyai Waffiq beserta pipi umi Fatimah.
Kedua orang ini pun tersenyum menggeleng kepala, melihat tingkah putri bungsu mereka yang sangat manja.
Safa pun segera mengganti pakaian dan pergi ke asrama putri, memanggil Nur dan temannya.
Sedangkan Hanafi sudah terlebih dulu siap dan menunggu di dalam mobil.
Ketiga gadis itu pun memasuki mobil dan di antar Hanafi ke kawasan cinema yang ada di kota M.
Saat menyusuri jalanan, tiba tiba mata Hanafi di kejutkan oleh mobil Alphard warna hitam yang terparkir di rumah baru Azzam.
" Bukannya si kutub masih tinggal di hotel, kok mobilnya sudah terparkir, apa jangan jangan." gumam Hanafi curiga, tanpa memberitahu Safa, tentang apa yang baru saja dilihatnya.
*******
__ADS_1
BERSAMBUNG....