HIJAIYAH CINTA

HIJAIYAH CINTA
Berubahnya Sikap Umi Fatimah


__ADS_3

Hari berganti hari dan waktu terus bergulir, rumah tangga Azzam dan Annisa kian mengahadapi berbagai cobaan, dan salah satu ujian dalam rumah tangga mereka adalah kehadiran Linda yang selalu berusaha menghancurkan kebahagiaan keduanya. Belum lagi Annisa harus menghadapi sang ibu mertua yang selalu bercerita tentang kelucuan cucu dari teman pengajiannya.


Malam itu umi Fatimah dengan diantar Hanafi, sedang berkunjung ke kediaman Azzam.


" Zam, alangkah baiknya kalau kamu ambil pembantu, biar Nisa nggak terlalu capek. Mungkin dengan begitu dia bisa cepat hamil."


ujar wanita paruh baya yang tengah duduk di sofa menyesap minuman buatan sang menantu.


" Nggak usah umi, Nisa masih sanggup kok mengerjakan tugas rumah. Lagi pula mas Azzam juga nggak tinggal diam, kami mengerjakan nya bersamaan umi." tukas Annisa yang duduk disamping Azzam.


" Umi, masalah hamil itu kehendak Allah, mungkin Allah masih menyuruh kita untuk menyiapkan diri lebih matang lagi, agar Allah yakin dan percaya memberi kita amanah." sahut Azzam sembari memasang senyuman seraya menggenggam tangan istrinya.


Nisa terlihat tertunduk lesu, aura kesedihan terpancar saat Fatimah membahas tentang hamil.


" Yang diucapkan Zam ada benarnya umi, ya anggap saja Allah masih memberi mereka bonus, yaitu kesempatan untuk berbulan madu terus. Kan kalau sudah ada momongan putra kutub umi itu bakal sibuk dan jarang pulang ke pesantren ha ha ha." celetuk Hanafi.


Obrolan yang tadinya sedikit tegang, berubah mencair seketika, saat Hanafi berseloroh mencairkan suasana.


" Eh Nisa kenalin dong dengan harim yang sering anter Nisa pulang itu. Manis orangnya."


tukas Han kembali.


" Jangan sayang pasti si Sinta nanti di gombalin. Santriwati di pesantren kan banyak Han, coba saja kamu dekati Nur, ajak dia ta'arufan, iya kan umi?? Nur itu gadis baik." ujar Azzam meledek sepupunya itu.


" Nur terlalu sempurna Zam, aku mana berani mengajaknya ta'arufan. Siapa tadi namanya Zam? Sinta ya?" timpal Hanafi masih berusaha mengorek tentang sahabat Nisa.


" Sudah sudah, kalian ini kalau bertemu pasti saling ejek. Ayo Han kita pulang, mungkin abi sebentar lagi juga selesai tausiyah nya." ajak umi Fatimah beranjak berpamit.


" Mau kemana umi kok tergesa-gesa, mas Azzam sedang memesan makanan untuk makan malam loh." tanya Nisa menatap ibu mertuanya.


" Silahkan kalian saja yang nikmati makan malam nya, oh ya Nisa kuliah kamu berapa lama lagi akan selesai?? jika sudah selesai nggak usah bekerja fokus agar segera bisa hamil." celetuk umi Fatimah yang seolah ucapannya menampar Annisa saat itu.

__ADS_1


" Ada apa sebenarnya dengan umi hari ini?? nggak biasanya umi judes seperti ini." gumam Nisa masih kebingungan melihat sikap ibu mertuanya.


Tanpa menunggu makan malam, umi Fatimah dan Hanafi berpamit pulang.


flashback on.....


" Masya Allah cantiknya cucu bu Ika, gemas sekali pingin gendong. Kalau boleh tahu umur berapa bu?" tanya umi Fatimah mencubit gemas pipi dari bayi berusia tujuh bulan tersebut, yang kebetulan sedang digendong oleh Bu Ika, karena sang menantu sedang di dapur membuat minuman.


" Terimakasih umi pujiannya. Oh ya apa menantu umi belum juga hamil?? kan usia pernikahan mereka lebih dulu ketimbang putra saya." sahut bu Ika bertanya.


" Iya bu Ika menantu saya masih belum dikaruniai seorang anak. Mohon do'anya agar bisa segera menyusul seperti menantu bu Ika."


timpal umi Fatimah sedikit malu menjawab pertanyaan teman pengajiannya itu.


" Kan usia pernikahan mereka sudah hampir dua tahun umi, kenapa tidak umi coba membawa menantunya ke spesialis untuk tes kesuburan, jangan jangan nanti dia mandul."


ejek bu Ika.


Umi Fatimah terdiam sesaat, dan mulai terpancing oleh omongan bu Ika, sehingga sepulang dari sana ia segera mengajak Hanafi ke rumah Azzam.


" Apa benar nak Nisa mandul?? ah tidak mungkin pasti hanya masalah waktu saja." gumam umi Fatimah yang terdiam memikirkan kata-kata temannya itu.


flashback off.....


" Maafkan ucapan umi barusan ya sayang. Pasti menyakitkan buat sayang di posisi seperti ini." tukas Azzam menggandeng tangan Annisa masuk kedalam, selepas mengantar kepulangan sang ibunda sampai halaman rumah.


Wanita yang tengah berjalan bersama Azzam itu hanya mampu membalas dengan anggukan dan senyuman hambar.


" Nggak papa kok mas, Nisa baik baik saja. Ucapan umi ada benarnya juga. Setiap orang tua pasti mengharapkan agar segera menimang cucu, dan itu bukan hanya umi saja. Bahkan mama juga sering bertanya pada Nisa, tapi aku jawab, belum dikasih Allah."


Ada perasaan sakit dalam hati Azzam saat mendengar jawaban sang istri. Hatinya seolah tercabik, sebagai suami ia tidak mampu melakukan apa pun. Seakan tak berguna.

__ADS_1


Setelah makan malam usai, dan jam tidur pun tiba, Azzam tak dapat memejamkan mata. Hatinya diliputi kegelisahan. Ia meraih ponsel yang tergeletak di nakas, lalu mencari tahu tentang pengobatan yang bisa menyembuhkan kondisi yang dialami sang istri.


Layar ponsel menampilkan beberapa metode pengobatan, baik ala tradisional bahkan hingga berbagai macam terapi.


Sementara Azzam sibuk mencari-cari tentang pengobatan sang istri, Nisa terlihat lelap dalam tidurnya malam itu.


Walau dalam hati terasa sakit dan ingin menangis, namun Nisa berusaha ikhlas dan pasrah. Ia yakin akan kebesaran Allah yang akan segera menjawab keinginannya.


Lama berkutat dengan layar ponsel, hingga tanpa sadar Azzam terlelap dan ponsel yang ada ditangannya pun jatuh tergeletak di lantai.


Tengah malam di sepertiga terakhir Nisa terjaga lebih dulu. Ia bergegas mengambil wudhu untuk menunaikan sholat malam.


Dalam untaian do'anya selepas sholat, Nisa memanjatkan semua do'a dan pintanya pada Allah.


" Ya Allah jika takdir hamba adalah tidak diberi kesempatan untuk bisa hamil, maka hamba ikhlas menerimanya. Namun dengan segenap kesungguhan dan kerendahan hati, aku mohon izinkan aku menjadi wanita yang sempurna dengan Engkau karuniai kepadaku seorang anak dalam rumah tanggaku bersama suami ku." begitulah sepenggal bunyi dari untaian do'a Annisa.


Suara Isak tangis Annisa saat berdo'a rupanya membangunkan Azzam dari tidurnya.


" Sayang sudah bangun." sapa Azzam saat membuka mata.


Nisa menoleh dan tersenyum kepada Azzam. Mengusap sisa air mata yang menempel di pipinya.


" Mas sudah bangun, maaf Nisa sengaja nggak bangunin mas karena mas terlihat lelap sekali tidurnya, Nisa nggak tega." tukas Annisa menatap sang suami yang sedang mengucek kedua netra nya.


" Sayang nangis? " Azzam seketika bangun dan menghampiri Nisa. Diambilnya tissue diatas laci, dan diusapkannya ke pipi sang istri.


Ditatap wajah yang biasanya ceria, kini berubah sendu. Di peluk tubuh Nisa erat oleh Azzam. Dan keduanya sama-sama menangis. Sungguh terasa sakit bagi Azzam saat melihat air mata sang istri tumpah.


Andai ia bisa melakukan apapun yang membuat sang istri agar bisa hamil. Maka hal itu sudah pasti Azzam lakukan.


Bagi pria berpredikat kutub ini, kebahagiaan wanita yang dicintainya adalah hal utama yang selalu ingin ia lakukan. Tak ingin melihat sang istri terusan bersedih karena memikirkan ucapan sang umi.

__ADS_1


******


BERSBUNG.....


__ADS_2