HIJAIYAH CINTA

HIJAIYAH CINTA
Acara Akad Nikah Ustadz Hanafi


__ADS_3

" Sudah jangan menangis lagi non, nanti make-up nya luntur. Kasihan mbaknya yang sudah capek-capek dandani sejak tadi, iya kan." ucap istri mang Udin, Marhamah namanya.


" Hikssss.... Karen takut bi, nanti Karen akan duduk sendirian lagi di depan penghulu seperti kemarin hiksss." ucap Karen terisak, kala mengingat hari memilukan.


" Optimis saja non, yang sudah terjadi kemarin jangan diingat lagi. Bibi yakin ustadz Hanafi adalah pemuda yang baik, dia pasti tepati janjinya sama non Karen." timpal bi Marhamah, mengusap air mata diwajah Karen dengan tissue.


Penata rias yang mendengarnya pun turut bersedih, tak bisa untuk tidak turut menitikan air mata. Pasalnya kemarin ia juga yang mendadani Karen, namun naas sang mempelai tidak hadir.


" Iya mbak benar kata ibu ini, jangan terus bersedih, Insya Allah kali ini pernikahan mbak Karen pasti terlaksana. Husnudzon saja mbak." tukas penata rias tersebut.


Karen pergi ke tempat dilangsungkannya acara akad nikah dirinya dan ustadz Hanafi di pesantren milik Kyai Waffiq, dengan didampingi oleh mang Udin dan bi Marhamah.


Sedangkan ibunda Karen sendiri tidak tahu menahu tentang kabar pernikahan putrinya. Semenjak perceraian dengan papa Karen, ibunda Karen menikah dengan pria lain dan tinggal di luar negeri, meninggalkan Karen seorang diri bersama sang papa.


Gadis malang yang sedang menuju acara ijab qobul itu, duduk di jok belakang, menatap keluar menikmati pemandangan pedesaan disekitar kawasan pesantren.


Ada sebuah senyum yang tersungging dari sudut bibir Karen, memejamkan mata menghirup udara segar menikmati keindahan desa nan asri dan berseri tersebut.


" Wah daerahnya sejuk sekali ya non, pasti non Karen bakalan betah tinggal disini." ujar bi Marhamah.


" Iya bi, sejuk dan asri." sahut Karen.


Hanafi dan seluruh keluarga besar Kyai Waffiq tampak berdiri menyambut kedatangan Karen. Jika biasanya mempelai diiringi oleh beberapa mobil iringan para kerabat, berbeda dengan gadis malang ini. Gadis malang ini datang seorang diri untuk melaksanakan pernikahan nya.

__ADS_1


" Masya Allah, cantiknya Han calon istri kamu." ucap umi Fatimah berdecak kagum, sembari menitikan air mata, pilu hati terasa saat Karen turun dari mobil seorang diri, hanya sopir dan pelayan yang mengiringnya.


" Semoga Allah limpahkan berkahNYA dalam pernikahan kalian." gumam umi Fatimah dalam hati.


Annisa yang berdiri disamping sang suami, segera menjemput Karen, mendampinginya dan bersalaman satu persatu dengan keluarga besar calon suaminya.


" Selamat datang, nak Karen." ucap bulek Rohimah mulai terisak memeluk tubuh calon menantunya, hingga tubuhnya bergetar menahan tangis.


Karen yang semula baik-baik saja, berubah menangis lagi, saat Rohimah memperlakukannya begitu hangat, membuatnya teringat akan sang ibunda yang entah kemana.


Suasana hari biru menyelimuti penyambutan kedatangan mempelai wanita. Beberapa kerabat dekat yang hadir juga turut minitikan air mata.


Karen duduk disebelah Hanafi, dan yang menikahkan keduanya adalah Kyai Waffiq, dengan di wakilkan wali nikahnya kepada wali hakim , karena sang papa sedang tidak sadar dan terbaring di rumah sakit.


Kyai Waffiq mengucap lafadz ijab qobul kepada Hanafi dalam bahasa arab, dengan tegas dan lantang Hanafi menjawab nya. Dan semua saksi pun menyaksikan dengan seruan kata sah.


Dicium punggung tangan Hanafi, pria yang duduk disampingnya, dan kini telah menjadi suaminya. Hanafi pun merasa bersyukur kepada Allah, dalam hati tak henti mengucap kalimat Hamdallah, sebagai ungkapan rasa syukurnya.


Fotografer yang disewa Azzam mengabadikan momen sakral tersebut dalam jepretan kamera. Semua kerabat yang hadir di jepret tanpa tertinggal satupun. Seperti permintaan Azzam. Dia ingin pernikahan saudara laki-lakinya benar-benar sempurna, tanpa kekurangan suatu apapun. Apa yang ia pernah ia rasakan maka Hanafi pun juga harus merasakan kebahagian yang sama.


Semua kerabat memberi ucapan selamat, begitu juga dengan Azzam. Ia memeluk erat saudara sepupunya yang sejak kecil tumbuh bersama, bahkan ke Kairo pun juga bersamaan. Layaknya saudara sendiri.


" Selamat ya paman, buruan buat Han junior he he he he." ucap Azzam berbisik menggoda Hanafi. Membuat pipi pengantin pria berubah memerah bak kepiting rebus.

__ADS_1


" Selamat ya nak, semoga pernikahan kalian sampai ke Jannah." ujar sang Kyai, berganti memeluk sang keponakan yang sudah layaknya putra sendiri.


Kini giliran kedua pengantin bersimpuh dihadapan bulek Rohimah. Mencium tangannya dan bersamaan menangis, meminta do'a restu.


" Do'a ibu selalu menyertai kalian, semoga bahagia dan langgeng sampai ke Jannah." tukas bulek Rohimah dengan derai air mata yang menghias wajah tuanya.


Setelah acara akad nikah selesai, iringan Hadrah dari para santriwan mulai di bawakan. Turut memeriahkan dan merayakan acara akad nikah Hanafi dan Karen.


Annisa menghampiri Karen, memeluknya layak saudara sendiri.


" Selamat ya Karen, semoga bahagia selalu buat kalian berdua." ujar Annisa memeluk Karen. Karen pun membalas pelukan Annisa dan keduanya mencium pipi masing-masing.


Setelah selesai bersalaman dan meminta do'a restu, kini Karen dan Hanafi bersalaman kepada mang Udin dan bi Marhamah.


" Selamat ya non hiksss, semoga pernikahan kalian langgeng hikss hiksss. Ustadz Han, saya titipkan non Karen kepada ustadz, tolong bimbing dan bahagiakan, jangan sakiti nona kami huuuuu." ujar bi Marhamah memeluk Karen dan Hanafi bergantian.


Saat bersalaman kepada mang Udin, sopir yang sudah puluhan tahun mengabdikan diri bekerja dengan sang istri, juga berpesan kepada Hanafi agar menjaga putri tunggal sang majikan.


" Iya pak, Insya Allah saya akan menjaga dan merawat Karen dengan baik. Terimakasih do'anya pak." ucap Hanafi membalas pelukan mang Udin.


Pasangan pengantin baru ini pun berpamit menuju rumah sakit, untuk segera mengunjungi sang papa. Meminta do'a restu dan do'a keberkahan.


Mereka ke rumah sakit, pergi dalam satu mobil, masih mengenakan pakaian pengantin.

__ADS_1


*****


BERSAMBUNG......


__ADS_2