HIJAIYAH CINTA

HIJAIYAH CINTA
Hari Pernikahan Azzam dan Annisa


__ADS_3

Acara akad nikah Azzam dan Annisa pagi itu akan digelar di sebuah Masjid Raya, yang terletak di kota M. Dan Kyai Waffiq sendirilah yang maju sebagai penghulu, yang akan menikahkan langsung sang putra sulung dengan putri semata wayang pasangan Amir Syah Alam dan Devi Kurnia Sari.


Iringan rombongan pengantin dari pihak mempelai pria tampak baru saja memasuki pelataran Masjid Raya Roudhotul Muchlisin yang terletak di kota M. Beberapa mobil mewah berjejer rapi, berbaris di halaman Masjid.


Bahkan saudara dari Kyai Waffiq, seorang ulama tersohor yang ada di kota S, juga tampak menghadiri acara akad nikah sang keponakan. Beserta seluruh keluarga besar mereka.


Tak kalah serunya, rombongan dan pihak mempelai wanita juga telah hadir, baru saja menempati barisan mobil yang tertata rapi di halaman.


Meski tak sebanyak dari rombongan keluarga mempelai pria, pihak mempelai wanita juga tak kalah seru turut meramaikan acara prosesi akad nikah.


Azzam Muwaffiqi Al Ghifari, kini telah duduk di sebelah Amir Syah Alam dan didampingi sang Kyai selaku, penghulu sekaligus orang tua pengantin pria.


Annisa duduk di belakang, disamping sang mama dan umi Fatimah. Karena dalam kaidah islami yang sebenarnya, hanya mempelai pria yang duduk didepan wali mempelai wanita dan penghulu. Dan Kyai Waffiq tampak memulai acara akad nikah sang putra.


" Aku nikahkan engkau, dan aku kawinkan engkau dengan pinangan mu, putriku Annisa Ramadhania dengan mahar seperangkat alat sholat dan perhiasan emas seratus gram serta uang tunai sebesar seratus dua puluh lima juta dua ratus ribu dua puluh dua rupiah dibayar tunai." ucap Amir Syah Alam, selaku wali dari mempelai wanita.


" Qabiltu nikahaha wa tazwijaha alal mahril madzkur wa radhiitu bihi, wallahu waliyu taufiq."


ucap Azzam saat mengucap kata Qabul.


Serah terima serta do'a dipanjatkan oleh Kyai Waffiq, setelah terucap kata sah, maka Annisa pun menggeser duduknya menuju samping Azzam. Azzam pun mengulurkan tangannya dihadapan Annisa, dan Nisa pun menyambut baik uluran tangan pria dihadapannya yang kini telah sah menjadi sepasang suami istri.


Do'a do'a tulus pun datang bergantian dari para kedua belah pihak. Kyai Waffiq langsung memimpin do'a serta menghampiri Azzam menepuk punggungnya.


" Selamat menempuh hidup baru, semoga kamu mampu menjadi imam bagi keluarga barumu, semoga menjadi keluarga yang Sakinah mawadah warahmah, dilimpahi berkah selalu oleh Allah SWT." ujar Kyai Waffiq mendo'akan sang putra.


Umi Fatimah dan Safa menghampiri kedua pasangan yang baru saja resmi menjadi suami istri. Safa memeluk Nisa, " Selamat ya kak Nisa, semoga hari hari baru kakak bersama kakak ku bahagia selalu, Aamiin." ucap Safa.

__ADS_1


" Selamat ya nak Nisa sayang, akhirnya do'a umi terkabul, Allah benar benar mengirim nak Nisa, untuk melengkapi dan menyempurnakan hidup putra sulung satu satunya umi. Semoga bahagia selalu, jangan lupa sering sering lah main ke rumah umi dan abi." seru umi Fatimah.


Suara Isak tangis dari beberapa pihak keluarga mulai terdengar, begitu pun dengan Annisa, matanya mulai basah, tak dapat membendung rasa haru dan bahagia. Di usia mudanya dia telah menjadi seorang istri dari seorang dosen sekaligus ustadz.


Devi tak hentinya menciumi wajah sang putri, menghujaninya dengan ciuman haru serta tangis bahagia. Dia beserta suami yang tak mampu mengubah Annisa menjadi seorang muslimah hingga seperti saat ini, dan hanya Azzam sekeluarga yang mampu merubah jati diri Annisa, menjadi seorang muslimah sejati.


Dari kejauhan seorang pria muda hanya bisa berdiri menatap rona kebahagiaan yang terpancar dalam diri Annisa dan Azzam. Hatinya di selimuti kesedihan sekaligus rasa kehilangan untuk selamanya.


Sang sahabat yang tengah berdiri disamping Rangga, memberi semangat kepada sahabatnya untuk bangkit dan menerima semua.


" Semangat bro, gue yakin lu pasti bisa. Nisa telah bahagia bersama pak Azzam, do'akan saja mereka bahagia. Dan gue yakin Tuhan pasti juga telah menyiapkan jodoh terbaiknya buat lu." tukas Leo menepuk pundak sahabatnya.


" Kenapa setelah lu dimiliki orang lain, gue baru menyadari perasaan ini Nisa. Andai waktu bisa diputar kembali, aku tidak akan berniat jahat terhadapmu, aku pasti akan lebih dulu meminta maaf perselisihan kita." gumam Rangga dalam hati, seraya menitikan dua butir kristal bening dari sudut pelupuk matanya.


Waktu terus berjalan, seusai semua tamu yang hadir memberi ucapan selamat, mata Azzam dikejutkan akan kehadiran sesosok mahasiswa yang pernah berusaha meluluhkan hati istrinya. Yaitu Annisa Ramadhania.


" Mari kita kembali ke rumah baru kita." ucap Azzam mengulurkan tangannya pada Annisa yang tengah duduk.


" Rumah baru ki ta??" tanya Nisa kaget, sekaligus penasaran.


"' Iya biasa saja kali, bukan kah sejam lalu kita sudah sah menjadi suami istri. Wajar dong aku mengajak kamu pulang ke rumah baru kita." timpal Azzam mulai sedikit kesal dengan ekspresi Annisa.


Melihat sepasang pengantin baru yang sedikit berselisih paham, Devi beserta Amir pun menghampiri keduanya.


" Ada apa ini, kok muka kalian pada manyun seperti itu?" tanya Amir menggoda.


Nisa terdiam, tak berani menjawab. Sedang Azzam yang menjawab pertanyaan sang mertua.

__ADS_1


" Begini pa, sambil menunggu acara resepsi nanti malam, Azzam berniat mengajak Nisa ke rumah baru kita. Tapi sepertinya Nisa nggak mau dan keberatan pa, ma."


" Loh loh, mana boleh seorang istri begitu. Nisa dengarkan papa baik baik !! mulai saat ini Nisa adalah resmi menjadi tanggung jawab nak Azzam baik dunia ataupun akhirat. Nisa faham kan??" tanya Amir menimpali, dan Annisa pun mengangguk sambil tetap cemberut.


" Dasar tukang adu, ya sudah ayo buruan !!" seru Annisa berjalan duluan meninggalkan Azzam yang masih mematung.


Sementara Amir dan Devi menggelengkan kepala melihat sikap sang putri yang masih tetap seperti anak kecil, walaupun statusnya kini telah menjadi seorang istri.


Azzam menyusul langkah Annisa yang sangat cepat ke parkiran mobil, beberapa pasang mata para kerabat, terlihat sedang menyaksikan Annisa yang cemberut masuk kedalam mobil Azzam.


" Jalan nya cepat sekali sih Yem, lebih anggun dikit napa, cewe kok persis cowo jalan nya." celetuk Azzam membuka pintu mobil depan.


Tak ada sahutan dari wanita yang tengah duduk di bangku jok belakang, hanya wajah datar dan muka masam yang terpampang.


" Nggak usah lirik, cepat buruan nyalain mobil, katanya mau pulang." tukas Annisa masih posisi manyun. Dan hal itu membuat Azzam merasa canggung.


" Kenapa aku seperti memaksa dia ya. Duh Zam Zam sabar, mungkin istri kamu lagi PMS." gumam hati Azzam, melajukan mobil Alphard warna hitam, menuju rumah barunya.


******


**BERSAMBUNG.....


JANGAN LUPA KLIK VOTE RATE LIKE DAN GIFT YA KAKA READERS SEMUA AGAR AUTHOR SEMAKIN SEMANGAT BERKARYA


JANGAN LUPA PULA TINGGAL KAN JEJAK KOMENTAR KAKA READERS SEMUA DI KOLOM KOMENTAR YANG ADA


JAZZAQUMULLAAH KHAIRAN KATSIR 🙏😘**

__ADS_1


__ADS_2