HIJAIYAH CINTA

HIJAIYAH CINTA
Sarapan Telur Gosong


__ADS_3

Setiba di rumah barunya, Azzam membawa tas kecil berisikan pakaian, berjalan masuk ke rumah. Sementara Annisa yang masih di liputi oleh perasaan bersalah, mengekor dibelakang Azzam. Tanpa berani berkata sepatah kata pun.


Masih sepi tanpa siapa pun yang menghuni kecuali Azzam dan Annisa.


Jam menunjukkan pukul delapan pagi lewat, cacing cacing mungil dalam perut Annisa sudah mulai berontak meminta haknya.


Sementara Azzam yang masih kesal, melempar tasnya di meja, lalu berbaring diatas tempat tidur. Tak menghiraukan Annisa yang berdiri mematung di belakangnya.


" Apa aku minta maaf duluan ya, agar mas Azzam tidak marah lagi. Tapi kalau sudah baikan nanti dia bakalan berbuat hal yang konyol konyol lagi, sedangkan aku kan masih belum siap." gumam Annisa, masih mematung.


Meski tak menatap istrinya, Azzam dapat mengetahui, bahwa wanita yang telah membuatnya kesal sedang berdiri mematung dibelakangnya, dari bayangan Annisa.


" Kalau capek istirahat lah, ngapain mematung disitu, atau mau tidur di sofa silahkan." celetuk Azzam datar.


Masih tak berani bersuara, namun tiba tiba perut Annisa bersuara "kruuuukkkk",. seolah mewakili kata hati Annisa.


" Astaga, kenapa aku lupa kalau dia kan belum sarapan. Pasti sudah lapar sekali dia." gumam Azzam


Beberapa saat keduanya masih saling terdiam, berkecamuk dengan gumaman hatinya sendiri.


Sampai akhirnya, Nisa memberanikan diri menghampiri Azzam.


" Mas aku tahu Nisa salah , sudah membuat mas Azzam kecewa. Maafin Nisa ya mas, aku janji nggak akan mengulang lagi." ujar Annisa dengan suara lirih, yang kini telah berdiri di depan Azzam.


" Lupakan lah, mungkin memang semua salah aku juga. Harusnya aku tahu kalau sebenarnya kamu belum siap menikah dengan ku. Aku minta maaf telah memaksakan keinginanku." timpal Azzam.


" Bukan bukan seperti itu mas, aku siap nikah sama mas Azzam, hanya saja aku belum siap untuk hal itu. Tolong mas ngertiin maksud Nisa ya. Kasih Nisa waktu, sampai benar benar siap melaksanakan tugas dan kewajiban sebagai seorang istri. Mas Azzam mau kan maafin Nisa." ujar Annisa kali ini dengan nada sedikit bermanja.


Seperti janjinya kepada sang abi dan uminya, untuk memperlakukan istri dengan baik, walau dalam keadaan marah sekalipun. Maka Azzam pun memaafkan Nisa.


" Iya dimaafkan." jawab Azzam singkat, seraya mengubah posisi yang tadinya berbaring, menjadi duduk bersendar di ranjang.

__ADS_1


Dan wajah Azzam kini sudah tak lagi masam karena kesal, merasa lega telah dimaafkan, sontak Annisa pun meraih tangan kanan Azzam, dan mencium punggung tangan tersebut kegirangan, " Terimakasih mas, terimakasih." bahkan Nisa mengecup tangan tersebut.


Azzam sangat kaget dengan tingkah Nisa barusan, " apa benar daritadi dia menyesal dan sekarang girang sekali karena sudah dimaafkan. DUhhh kenapa kamu makin imut kalau lagi seperti ini, jadi makin dag digig dug."


gumam Azzam menahan senyum.


Mereka kini duduk berdua saling tatap, masih dengan tangan Azzam yang digenggam Nisa.


" Kamu lapar ?" tanya Azzam.


Nisa langsung mengangguk pelan, tersipu malu, karena lagi lagi suara dari dalam perutnya, terus berbunyi.


Azzam tersenyum serta segera beranjak berdiri, menggandeng tangan Annisa menuju dapur.


" Ayo kita masak dulu, tapi seadanya ya karena persediaan bahan makanan belum ada. Setelah makan kita keluar berbelanja, mau kan?" ucap Azzam melangkah bergandengan menuju dapur, dibalas sebuah senyuman dan anggukan kepala oleh Annisa.


Azzam mendudukkan Nisa duduk di kursi yang ada di dapur, " duduk lah tunggu disini, aku masak sebentar."


" Telurnya aku campur bawang sama sosis mau kan?" tanya Azzam.


Annisa mengangguk kembali, mengiyakan pertanyaan suaminya yang sedang berbunga saat itu.


Sambil bersiul, Azzam mengocok telur yang sudah dicampur dengan irisan bawang dan sosis. Sementara Nisa berjalan mendekat, mengambil wajan penggorengan dan meletakkannya diatas kompor.


" Hei duduk saja, biar aku yang siapin." seru Azzam.


" Nggak papa kok mas, biar aku saja yang menggoreng, mas sudah capek kan menyiapkan bahan bahannya." balas Nisa menyalakan kompor dan memberi sedikit minyak kedalam wajan penggorengan.


Beberapa saat wajan terlihat panas mengepul, Nisa memasukkan kocokan telur tersebut, karena kurang hati hati maka jarinya menyentuh pinggiran wajan, dan membuatnya menjerit, " auww..." .


" Tuh kan aku bilang juga apa, harusnya kamu duduk saja." Azzam meraih jari Annisa yang memerah, membawanya ke wastafel, mengguyur jari tersebut dibawah kran wastafel.

__ADS_1


Setelah di guyur air mengalir dari kran wastafel, tiba tiba aroma gosong tercium. Seketika Azzam berlari dan mengangkat telur, rupanya sudah gosong separuh.


" Yaaahhh gosong, mana ini persediaan terakhir pula." keluh Azzam membalik telurnya.


Setelah selesai menggoreng telur, Azzam melihat jari Annisa dan meniupnya. " Apa masih sakit?" . Annisa tersenyum dan menggeleng.


" Sudah nggak sakit kok mas, nanti juga baikan. Maaf ya mas gara gara kecerobohan ku, telurnya jadi gosong." ucap Nisa merasa bersalah.


Suara rice cooker yang sudah masak pun berbunyi, " nggak papa, tapi apa kamu masih mau makan telur itu?? kalau nggak mau kita makan diluar saja." timpal Azzam.


" Jangan mas, Nisa mau kok. Sayang kan kalau dibuang percuma. Ayo kita makan mas itu nasinya sudah matang." ucap Nisa jemarinya menuding ke arah rice cooker.


Nisa memilih kembali duduk di kursi meja makan, menunggu Azzam yang tengah menyiapkan makanan.


Seperti biasa Azzam mengambil satu piring dan mengisi nasi sekiranya cukup untuk dua orang, serta membawa potongan telur gosong yang dimasukkan kedalam mangkuk. Tak lupa juga mengambil saus sambal dilaci dekat meja makan.


" Taraaaa..... makan pagi telur gosong sudah siap. ha ha ha." ujar Azzam tertawa dan dibalas tawa juga oleh Annisa.


Keduanya pun menikmati makan pagi yang telat jamnya, dengan menu telur gosong ala chef Azzam.


" Nikmat juga ya mas walau pun gosong separuh." ucap Nisa disela makan.


" Pastilah akan menjadi nikmat, kan kita makannya berdua, terus kita sama sama ikhlas untuk memakan telur gosong ini. maka Allah berikan kenikmatan didalam makanan ini, selagi kita banyak bersyukur." ujar Azzam mengusap pucuk hijab Annisa.


Mereka tertawa kecil sambil menikmati makan pagi seadanya, dan akhirnya hubungan Azzam dan Annisa kembali membaik.


Setelah makan pagi, mereka melakukan sholat dhuha sebentar, lalu pergi berbelanja. Untuk memenuhi persediaan dapur.


******


**BERSAMBUNG.....

__ADS_1


TERIMAKASIH KAMI UCAPKAN BUAT KAKAK READERS SEMUA YANG TELAH MEMBANTU MENDUKUNG KARYA BARU INI, SEMOGA KAMI MAMPU MENYUGUHKAN CERITA CERITA YANG MENARIK DI SETIAP CHAPTER NYA**.


__ADS_2