HIJAIYAH CINTA

HIJAIYAH CINTA
Annisa Kecelakaan


__ADS_3

Seperti biasanya Pagi itu Annisa mengikuti kelas dengan seksama, ia berharap agar S2 nya kali ini bisa lulus tepat waktu. Berbagai tugas yang dosen berikan, ia berusaha menyelesaikannya tepat waktu. Walau untuk saat ini, ia harus pintar pintar membagi waktu.


Mengingat statusnya saat ini adalah seorang istri. Mau tidak mau mempunyai kewajiban yang lebih utama.


Setelah kelas selesai, Annisa segera pergi ke kantin menemui Sinta sahabatnya.


" Hai Bu dosen, apa kabarnya?" celetuk Sinta menyapa Annisa sahabatnya yang baru masuk ke kantin.


" Assalamu'alaikum Sin, maaf kelas ku baru selesai." ujar Nisa mendudukkan bokongnya di kursi samping Sinta.


Gadis ini pun memesan minuman, melepas rasa haus yang sedari tadi menggerogoti kerongkongannya.


" Ini mbak minumannya, eh selamat ya mbak Nisa atas pernikahannya dengan pak ustadz. Kalian memang sangat serasi, bapak do'a kan semoga bahagia dan langgeng." ucap bapak pemilik kantin.


" Iya terimakasih pak, bapak tahu darimana suami saya ustadz?" tanya Nisa menatap bapak pemilik kantin.


" Kebetulan anak saya nyantri di ponpes Abi beliau yaitu pak Kyai Waffiq mbak. Dan sewaktu saya berkunjung ke anak saya, saya dengar kabar bahwa ustadz Azzam menikah sama mbak Nisa. Kami sempat melihat foto mbak Nisa dan ustadz yang dipajang." ujar pemilik kantin.


" Subhanallah, maaf pak Nisa nggak tahu kalau putri bapak mondok di sana, Insya Allah nanti Nisa kunjungi, siapa nama putri bapak?" tanya Nisa dengan sopan.


" Namanya Nur Aini mbak." jawab pemilik kantin.


" Bentar maksud bapak mbak Nur yang tinggi putih, pakai kacamata kan pak?" tanya Annisa menebak.


" Iya mbak benar itu adalah putri sulung kami." timpal bapak pemilik kantin.


Dan pemilik kantin pun kembali ke gerobaknya yang ada di depan.


Sementara Nisa buru buru menyesap minuman yang ada dihadapannya dengan begitu cepat, sesaat minuman dingin itu amblas hanya tersisa es batu kecil dan sedotan.


" Astaga Nisa habis lari maraton darimana lu, bocor kah itu gelas?" tanya Sinta keheranan, melihat sang sahabat yang kehausan.


" Haus tau Sin, mana tugas kuliah banyak banget pula." sahut Nisa.


" Iya iya yang penganten baru mah pasti haus mulu, secara kan kepanasan terus ha ha ha." ledek Sinta.


" Sin gue boleh lihat foto kamu yang sama Abang kamu enggak, emmm btw siapa namanya lupa gue." celetuk Annisa mencoba memancing Sinta.


" Boleh, bentar ya." sahut Sinta, merogoh ponsel yang ada dalam tas.

__ADS_1


Sinta memberikan ponsel tersebut kepada Annisa, dimana layarnya telah dibuka galeri foto Sinta bersama Harry.


" Benar yang aku lihat kemarin, sepertinya aku enggak salah lihat, pria brengsek ini ternyata benar kakak Sinta. Sialan, masa iya gue harus ngejauhi Sinta yang sama sekali nggak bersalah dan nggak tahu apa apa." gumam Nisa mengeratkan kedua rahangnya.


Terlihat kekesalan dan kemarahan dalam diri Nisa saat mengetahui kebenaran tersebut. Bayangan menyakitkan itu pun terlintas kembali. Nisa menggeletak kan ponsel Sinta begitu saja di atas meja.


Dengan mata berkaca kaca gadis bercadar ini pun beranjak bangkit dari duduknya, membayar ke kasir dan pergi begitu saja meninggalkan Sinta.


" Eh lu mau kemana Nisa, kenapa lu marah setelah melihat foto abang ku?? kalian ada hubungan apa?" teriak Sinta seraya berlari mengejar Annisa.


Sementara Annisa terus berlari sambil berderai air mata, yang membasahi wajahnya. Dan cadar warna coklat susu itu pun ikut basah.


Dan Sinta juga tak berhenti begitu saja mengejar sahabatnya yang terlihat kalut.


" Nisa plis jangan pergi, tolong jelaskan ke gue, ada hubungan apa sama bang Harry?" teriak Sinta di belakang Nisa.


Sementara Nisa menutup kedua telinga seraya berlari menuju jalan raya, untuk mencegat taksi.


"Bruuuuuuk...."


" Nisaaaaaaaaaaaaa." teriak Sinta saat sebuah motor berkecepatan kencang menabrak tubuh Annisa. Dan membuatnya terpental beberapa meter.


" Toloooooooong, toloooooooong....." teriak Sinta meminta tolong.


Beberapa pengguna jalan yang lewat pun bergegas menghampiri tubuh korban kecelakaan yang tergolek tersebut.


Betapa panik Sinta saat itu, tubuhnya seakan turut terkulai lemas. Ditambah saat ia melihat dengan jelas, wajah ayu sahabatnya bersimbah darah.


" Nisaaaa bangun Nisa, Nisaaaaa." teriak Sinta menangis kencang.


Sementara di dalam kelas saat memberikan materi kepada muridnya, tiba tiba tanpa sengaja Azzam menyenggol ponselnya yang ada di pinggir meja, hingga terjatuh.


Layar ponsel yang bergambar foto pernikahan mereka, kini retak tak terlihat gambarnya.


" Astaghfirullah, ada apa ini. Kenapa tiba tiba hatiku mendadak cemas dan khawatir. Apa Nisa baik baik saja?". Gumam Azzam memungut ponselnya yang retak layar LCD nya.


" Anak anak, jika tidak ada lagi yang ditanyakan, kelas saya akhiri. Sisanya kalian kerjakan di rumah kumpulkan Minggu depan. Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakaatuh." ucap Azzam, bergegas mengemas buku dan alat tulis lainnya.


Pria ini berjalan menyusuri lorong kampus menuju kantor. Sesaat ia mendengar sekilas desas desus tentang kecelakaan yang terjadi di depan kampus.

__ADS_1


" Kalian tahu nggak kecelakaan yang baru saja terjadi, kabarnya sih korbannya parah dan di larikan ke rumah sakit. Konon setiap kali terjadi kecelakaan disitu, jarang yang selamat." tukas salah satu Mahasiswa.


Azzam berusaha tak mendengar obrolan mahasiswa barusan, membesarkan hatinya. "Tidak itu orang lain bukan Nisa. Aku harus cari Nisa ke kelasnya." gumam laki laki yang terkenal dingin ini.


Azzam meletakkan tas di mejanya lalu pergi mencari Annisa ke kelasnya. Namun kelas Nisa sepi bahkan Azzam juga mencari ke kelas Sinta tidak ada, Azzam juga mengunjungi kantin.


" Assalamu'alaikum pak Kurdi, lihat istri saya ke sini tidak, Annisa namanya." tanya Azzam dengan raut wajah khawatir.


" Wa'alaikumussalam, eh pak dosen, MMM maksud saya ustadz Azzam. Iya beberapa waktu barusan mbak Nisa bersama temannya memang kemari ustadz, beliau hanya memesan segelas es, tak lama kemudian mbak Nisa berlari sambil menangis, mbak Sinta juga ikut mengejar mbak Nisa." jawab Pak Kurdi.


" Terimakasih pak." balas Azzam mengangguk sopan dan berlari mengambil tas nya ke kantor, berusaha mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada istrinya.


Sementara Linda yang kebetulan sedang duduk di depan mejanya tersenyum sinis, saat melihat reaksi wajah khawatir Azzam. " Pasti kalian masih belum baikan hah.... semoga segera berkahir pernikahan kalian." gumam Linda sinis.


Tak perduli tatapan Linda, Azzam bergegas ke parkiran menghidupkan mobilnya hendak mencari Annisa ke kediaman mertuanya.


Namun tiba tiba ponsel Azzam berbunyi, berhubung layarnya retak tak dapat melihat siapa yang menelfon, namun Azzam tetap mengangkatnya.


" Assalamu'alaikum iya saya sendiri, ini siapa? Sinta bukan? kenama Nisa? kenapa ponselnya ada di kamu?" tanya Azzam pada Sinta mencecar pertanyaan.


" Hikssss.... Ni Nisa pak hikssss. Nisa kecelakaan pak, sekarang sedang diruang operasi. Huuuuu...... tolong pak Azzam segera kemari, tolong temani Nisa pak huuuuuu.... dia sangat takut pada jarum suntik." suara tangis Sinta pecah tak tertahan.


" Jlekkkk.... " ponsel yang ada dalam genggaman Azzam pun terjatuh begitu saja.


" Astaghfirullah, ternyata ini pertanda firasat ku sejak tadi." ucap Azzam lesu


Pria ini pun segera menghidupkan mesin mobilnya menuju alamat rumah sakit yang di berikan Sinta.


" Yaa Allah, tolong selamatkan istri saya. Berikan kekuatan untuknya." gumam Azzam dalam hati tak berhenti mengucap istighfar dan berdo'a memohon keajaiban untuk Nisa.


Sementara itu, di rumah sakit, Sinta juga telah mengabari Devi, ibu kandung Annisa. Sinta terus saja menangis meraung merasa bersalah dan terus saja merutuki dirinya.


" Sungguh tolol gue ya Allah, harusnya gue nggak kejar Nisa hikssss.... maafin gue Nisa. Bangun lah huuuuuuuu." suara tangis Sinta terus saja terdengar diruang tunggu.


Mobil Alphard warna hitam milik Azzam melaju dengan kecepatan tinggi, berharap segera sampai ke rumah sakit. Dan untung saja siang itu jalanan tidak terjadi kemacetan.


Tak sampai setengah jam, mobil Alphard warna hitam itu telah tiba dihalaman parkir rumah sakit. Azzam bergegas mencari Sinta. Dan disana terlihat Sinta sedang menangis tersedu-sedu, terus saja menyalahkan dirinya.


******

__ADS_1


BERSAMBUNG......


__ADS_2