HIJAIYAH CINTA

HIJAIYAH CINTA
Suasana Haru Biru di Kamar Annisa


__ADS_3

" Salam buat bang Waffiq ya Zam, juga kak Fatimah. Insya Allah jika senggang akhir pekan ini kami sekeluarga akan berkunjung ke pesantren. Sudah lama kami merindukan suasana rumah bang Waffiq. Oh ya om ucapkan semoga perjalanan ibadah Umroh kamu beserta Nisa dilancarkan. Titip salam buat mertua kamu juga. Sampaikan pesan om, nggak perlu panik jika memang tidak bersalah. Kebenaran pasti akan terungkap." ujar Dirgantara kepada Azzam sebelum pergi.


Hari mulai beranjak siang, Azzam kembali melanjutkan perjalanan menuju rumah pengacara Farid, tunangan dari sepupunya Delisa.


Seperti perintah dari om Dirga, Azzam pun mulai bercerita kepada Farid.


" Maaf sebelumnya Fa, kalau kedatangan saya kesini mengganggu istirahat libur kamu. Om Dirga yang menyuruhku datang kemari." ucap Azzam saat bertemu dan berbicara dengan Farid.


" Nggak papa santai saja bang. Toh kita kan keluarga, pasti aku akan bantu keluarga abang semampuku. Papi Dirga sudah menceritakan semua masalahnya lewat telefon, sepulang abang dari sana." ujar Farid menceritakan.


" Iya Ga, aku kasihan dengan keluarga papa mertuaku. Harus menanggung kesalahan yang tidak pernah beliau lakukan." ujar Azzam kembali.


" Kalau begitu bisa kah bang Azzam kasih alamat kampus, tempat abang ngajar. Nanti aku akan menyamar menjadi mahasiswa baru disana. Sesuai instruksi dariku nanti, tolong abang buat wanita itu stay di kantor. Agar lebih mempersingkat waktu, untuk menjalankan rencana kita." ujar Farid


Azzam menuliskan alamat kampus ia mengajar, di secarik kertas yang Farid berikan.


" Baiklah bang, setelah urusan dengan klien ku nanti selesai, aku akan kabari bang Zam."


Setelah berbicara panjang lebar dengan Farid, Azzam pun segera berpamit pulang. Setengah hari tidak melihat wajah Annisa, sang istri yang sedang gemas gemasnya. Jati Azzam mulai terasa kangen.


******


" Suami kamu belum pulang kah Nis?" tanya Amir.


" Belum pa, mungkin acara seminarnya baru selesai. Memang ada perlu apa sama mas Azzam?". tanya Nisa berpura pura tidak menahu.


Putri semata wayang Amir itu mendekati sang papa, bergelayut manja memeluk tubuh Amir dari belakang.


" Papa Nisa kangen banget, sudah lama Nisa nggak bermanja sama papa. Mama kesini dong ." teriak Nisa sambil memeluk Amir dari belakang.


Devi yang melihat tingkah manja sang putri pun menggeleng. " Astaga Nisa, mama kira kamu kenapa napa. Kasihan papa kamu sayang. Harusnya papa itu dipijitin bukan malah bergelayut seperti itu." protes Devi menghampiri sang putri.

__ADS_1


" Mama kesini juga ikutan berpelukan. Nisa kangen momen seperti ini. Oh ya bentar Nisa panggil si mbok biar di fotokan.." ujar Annisa seraya berteriak memanggil pelayan keluarga.


" Mbok tolong ambil foto kami ya !!" seru Annisa memberikan ponselnya kepada sang pelayan.


Ponsel yang sudah siap kameranya itu di tekan oleh si mbok,.beberapa gambar pun berhasil diabadikan dan direkam.


Meski dalam hati sebenarnya ingin menangis, namun Nisa berusaha tegar sekuat hati. Bahkan demi menutupi kesedihannya. Gadis ini berpura-pura tertawa bahagia, dan tertawa sekencangnya.


" Anak papa bahagia banget hari ini. Ada kabar gembira kah sayang?" tanya Amir kepada sang putri.


Nisa tersenyum menggelengkan kepala. " Nisa seneng banget pa, bahagia sekali. Sudah lama nggak berpelukan manja seperti ini. Semoga kebahagiaan kita selalu seperti ini ya ma, pa." ucap Nisa mulai terlihat sendu.


" Loh katanya bahagia, kok sedih gitu. Nak Azzam pulang jam berapa sayang?" tanya Devi.


" Nisa nggak sedih kok ma, hanya berharap, semoga kebahagiaan kita akan terus seperti ini selamanya."


Tak lama berselang, suara mobil yang sedang membunyikan klakson, sedang memasuki halaman rumah Amir. Mobil itu tak lain adalah mobil Azzam.


Nisa segera berlari membuka pintu, menyambut kedatangan suami tercinta. Dengan wajah bahagia dan jurus manjanya Nisa memasang wajah imutnya saat berdiri di depan pintu.


" Huuuuu ayang kok lama banget, angennn." ucap Nisa bermanja.


Azzam yang baru keluar dari mobil pun berlari kecil, merentangkan kedua tangannya menyambut pelukan spesial dari istri tercinta.


" Uuuuuhh, mas juga kangen banget sayang. Tahu nggak? daritadi yang terlihat itu wajah imut dan menggemaskan ini. " ucap Azzam menoel hidung sang istri. Dan keduanya bak gayung bersambut, saling berpelukan.


" Sayangnya mas sudah sholat kan?" tanya Azzam berjalan beriringan seraya merangkul Annisa masuk kedalam. Nisa mengangguk membalas pertanyaan suami tercinta.


" Assalamu'alaikum." ucap Azzam.


" Wa'alaikumussalam, sudah selesai kah acara seminarnya nak Zam?" tanya Amir.

__ADS_1


" Hemmmm.... yang lagi kangen, baru ditinggal setengah hari juga. Duhhh sudah seperti ditinggal tugas berbulan-bulan saja." ledek Devi.


" Ihh mama mah seperti nggak pernah muda saja. Iya kan pa ?" balas Nisa.


" Iya iya, suami kamu pasti capek sana ajak ke kamar biar istirahat !!" seru Devi.


" Iya sayang pasti nak Zam capek sekali, perjalanannya kan lumayan jauh. Buatkan teh hangat untuk suami kamu, biar lebih rileks." sahut Amir.


Kedua pasangan ini pun berjalan menuju kamar. Azzam langsung menuju kamar mandi, membersihkan tubuhnya. Setelah selesai mandi, secangkir teh hangat pun tersaji diatas laci, disamping ranjang.


" Diminum mas !!"


Azzam menyesap teh hangat buatan Annisa dengan penuh kenikmatan. Nisa memijit pundak Azzam.


" Nggak usah sayang, mas nggak capek kok." ucap Azzam sembari menahan tangan Nisa yang sedang memijitnya.


Azzam menarik tangan Nisa dan membuatnya duduk dipangkuan Azzam.


" Diam lah sejenak, biarkan mas mengumpulkan kekuatan kembali." ucap Azzam melingkarkan kedua tangannya ke leher Annisa. Dan kepala keduanya pun saling menempel. Nisa faham sangat kebiasaan suaminya itu. Jika sedang lelah, atau depresi, maka Azzam akan memintanya untuk dipeluk erat sesaat. Dan setelah dirasa pulih maka ia akan kembali segar dan rileks kembali.


Nisa menepuk dan mengusap punggung suaminya penuh kehangatan. Berharap pria yang dicintainya itu, dalam keadaan baik-baik saja.


Setelah dirasa puas untuk merileks kan tenaga dari kepenatan. Azzam pun mulai bercerita mulai dari obrolannya dengan sang om dan juga si tante. Bahkan obrolannya dengan Farid sekalipun, semua diceritakan oleh Azzam, tanpa terlewat sedikitpun.


" Alhamdulillah, syukurlah mas. Setidaknya Allah telah turun tangan langsung membantu kita, melalui orang terpilihnya."


Keduanya sejenak terisak, hanyut dalam suasana bahagia bercampur keharuan.


******


BERSAMBUNG.....

__ADS_1


__ADS_2