
Saat kecelakaan yang menimpa Annisa terjadi, beberapa hari setelah nya, Linda sengaja datang untuk menjenguk Nisa, sekaligus berusaha mengambil hati dan empati Azzam.
Dan diwaktu yang bersamaan, dari kejauhan Linda melihat Azzam yang tengah berjalan beriringan dengan dokter, masuk ke ruangan dokter yang merawat Annisa.
Dari sinilah Linda mengetahui semua kondisi Nisa. Yang di nyatakan kecil kemungkinan untuk bisa hamil kembali.
Setelah Azzam keluar dari ruangan dokter, tiba tiba ia melihat Linda yang sedang berdiri di luar, menguping pembicaraan dirinya dengan sang dokter.
Azzam berpura-pura tidak melihat keberadaan Linda, namun wanita ini berusaha mengambil kesempatan dengan berpura-pura perduli dan turut prihatin atas keadaan yang menimpa Annisa. Namun rupanya itu semua hanyalah tipu daya Linda semata.
Wanita ini menggunakan rahasia itu sebagai senjata untuk menghancurkan rumah tangga Azzam dan Annisa.
******
" Assalamu'alaikum, sayang aku pulang." ucap Azzam saat masuk ke rumah.
Wanita yang baru usai melaksanakan sholat ashar itu pun membuka mukenah yang dikenakan seraya menjawab,
" wa'alaikumussalam warahmatullaahi wabarakaatuh, baru pulang mas."
Azzam menghampiri Nisa, lalu memeluk tubuh Nisa erat erat. Tanpa bersuara atau berucap sepatah kata, pria muda yang dijuluki kutub itu, merebahkan kepalanya dalam pelukan Nisa.
" Mas Azzam kenapa? mas sakit?" tanya Nisa menempelkan tangannya ke jidat suaminya.
Azzam hanya menggeleng, "izinkan mas bersandar dan memeluk kamu sejenak."
Bak kucing yang merindukan belaian induknya, Nisa membelai dan mengusap kepala sang suami penuh kehangatan.
Tak lama setelah dirasa puas menumpahkan penatnya, Azzam mengalungkan kedua tangannya ke leher Nisa.
" Terimakasih sudah menjadi wanita terhebat ku hari ini, mas minta maaf tidak bisa membelamu atau melindungi mu, tapi mas sangat yakin seorang Annisa akan mampu menghadapi seorang Linda yang murahan."
ucap Azzam seraya melayangkan sebuah kecupan di kening Nisa.
Annisa tersenyum, ia faham akan maksud dari obrolan sang suami. Di tatapnya lekat netra indah milik Azzam, tersungging sebuah senyum indah yang membuat aura kecantikan seorang Annisa semakin terpancar.
" Ana uhibbuka fillah." sebuah kata romantis yang keluar dari bibir Nisa, membuat Azzam semakin jatuh hati terhadap wanita pujaannya.
__ADS_1
" Nisa sangat bersyukur dan merasa beruntung, dipertemukan dengan seorang imam yang sungguh luar biasa cintanya, kesabaran serta ketaatan nya. Terimakasih sudah menjadikan Nisa sebagai satu satunya wanita dalam hidup mas Azzam, walau mas tahu wanita dihadapan mas ini, tidak lagi sempurna."
butiran kristal bening mulai beranak dari sudut pelupuk mata Nisa, saat mengucap kalimat tersebut.
Sungguh kaget Azzam mendengarnya, merasa tertampar. " Apa Nisa tahu percakapan aku dengan Linda." gumam Azzam tersirat tanda tanya dalam hatinya.
Nisa masih mengembangkan senyumnya, menatap pria dihadapannya yang terlihat kebingungan.
" Mas nggak perlu bersandiwara menutupi semua dari Nisa lagi, Aku sudah mengetahui kebenaran tentang kondisi ku pasca kecelakaan itu mas." timpal Nisa kembali.
Nisa melepas pelukan Azzam, berjalan menuju laci yang ada di kamar. Ditarik laci tersebut dan ia keluarkan sebuah amplop yang berisi hasil rekam medisnya.
Azzam tergagap saat melihat amplop warna biru muda itu di tangan sang istri.
" Yaa Allah kenapa aku bisa se ceroboh ini. Harusnya aku sembunyikan lebih rapat lagi atau aku bakar saja." gumam Azzam merutuki kebodohannya.
" Se rapat rapat nya mas Azzam menutupinya dari Nisa. Pada Akhirnya Allah akan menuntun Nisa untuk mengetahui kebenaran ini mas. Awalnya Nisa kecewa sama mas Azzam, namun setelah lama aku berfikir, Nisa sadar pasti mas melakukannya karena besar rasa cinta dan sayang mas terhadap Nisa." timpal Annisa yang derai air matanya tak mampu di bendung lagi.
Nisa memeluk wanita yang tubuhnya tengah bergetar menangis dihadapannya. Tak kuasa melihat air mata Nisa tumpah, Azzam berlutut dihadapan sang istri.
Suasana haru biru terjadi di kamar Azzam, pasangan muda ini sama sama terisak, dan Azzam menangis berlutut dalam pelukan Nisa.
******
Pagi yang cerah, suasana yang baru, hari itu hari pertama Rangga menginjakkan kaki di kampus Al Azhar.
Ada perasaan bangga dalam dirinya bisa menimba ilmu disini. Semua pemuda pemudi yang bersekolah disana terlihat sopan dan ramah.
Dalam waktu singkat Rangga telah mendapat teman yang juga sama-sama berasal dari Indonesia, dan pemuda ini bernama Ihsanudin.
Ihsanudin adalah mahasiswa yang kamarnya bersebelahan dengan Rangga.
" Gimana hari pertama masuk kuliah disini akhwan?" tanya Ihsan saat berjalan beriringan dengan Rangga.
" Alhamdulillah senang sekali kak, disini semua kawan kawan ramah dan bersahabat." jawab Rangga.
" Panggil saja aku Ihsan, tidak usah terlalu formalitas begitu." timpal Ihsan menepuk pundak Rangga.
__ADS_1
" Tapi kak Ihsan kan lebih senior disini, ketimbang aku." balas Rangga tersenyum membalas Ihsan.
" Santai saja, oh ya apa kamu saudara dari ukhty Safa?" tanya Ihsan
" Maaf tidak kak Ihsan, kebetulan kami saling kenal, dan pernah beberapa kali bertemu." sahut Rangga.
Ihsan sedikit merasa khawatir mendengar ucapan Rangga. Andai jawaban Rangga adalah saudara Safa, maka Ihsan akan bisa bernafas lega. Setidaknya kesempatan ia untuk lebih mengenal Safa akan lebih terbuka lebar.
" Oh kirain dia saudara akhwan." tukas Ihsan tersenyum hambar.
Rangga memasuki ruang kelasnya dan mulai mengikuti kelas pertama kali. Walau awalnya sedikit kurang faham, namun sifat Rangga yang tak malu untuk bertanya membuatnya lebih mudah mencerna materi yang disampaikan dosen. Setelah sang dosen dengan penuh kesabaran menjabarkan apa yang tidak difahami oleh Rangga waktu itu.
*****
Di kediaman Azzam, pasangan ini sedang memasak untuk makan malam.
" Sayang makin hari makin pintar saja ya memasak." puji Azzam yang sedang mencicipi masakan buatan Annisa.
" Kan sayang juga yang ngajari Nisa memasak tiap hari." tukas Annisa memasang senyum manisnya.
Azzam terkekeh sambil mencubit pipi Nisa,
" bisa saja sayang. " timpal Azzam menggelitik pinggang sang istri.
" Auw stop stop, stop mas geli tahu. Nanti kita nggak jadi makan malam gara gara Nisa nggak bisa menahan geli. Ini mas tata di meja, tinggal Nisa goreng ikannya sebentar." ujar Annisa menyodorkan hidangan yang baru selesai dibuatnya.
Sesaat Azzam menata masakan buatan Nisa di atas meja, dan mengambil peralatan makan. Malam itu walau dengan sebuah kesederhanaan, Azzam menyiapkan makan malam romantis dengan sang istri.
Beberapa lilin kecil dinyalakan , dan tertata di meja. Bahkan Azzam juga menyiapkan musik pengiring untuk makan malamnya bersama Annisa.
Azzam sengaja mengganti baju hariannya dengan pakaian yang sedikit formal malam itu. Setelah Annisa selesai memasak, Azzam pun menutup mata sang istri, menuntun nya ke kamar, memberi sebuah kejutan yaitu sebuah gaun muslimah syar'i model terbaru. Yang mendadak ia beli sepulang dari kampus.
Malam itu Azzam dan Annisa terlihat sangat serasi sekali, bak raja dan ratu malam itu keduanya. Walau hanya dengan masakan menu sederhana, namun Azzam berhasil menyulapnya menjadi sebuah makan malam romantis yang berkesan. Keduanya sama sama menikmati alunan musik yang diputar Azzam sebagai pelengkap Candle light dinner malam itu. Romantis penuh kesan dalam sebuah kesederhanaan.
*******
BERSAMBUNG......
__ADS_1