HIJAIYAH CINTA

HIJAIYAH CINTA
Ending Kisah Azzam dan Annisa


__ADS_3

Satu bulan kemudian.....


Pagi yang indah nan cerah di kota M, di hiasi dengan hangatnya kemilau sinar mentari pagi, suara kicauan burung yang bersahutan seolah menjadi saksi akan lahirnya sebuah malaikat kecil ke dunia.


" Aduh mas, kenapa dengan perutku, sakit sekali." lenguh Annisa, memegangi perut buncitnya, dengan ekspresi meringis menahan rasa sakit, yang kerap kali datang secara berkala.


" Iya sayang kita segera ke rumah sakit ya, jangan di tunda lagi, aku enggak mau dengar alasan sayang nanti nanti terus. Aku enggak mau terjadi apa-apa dengan kamu dan anak kita." pungkas Azzam seraya menyiapkan perlengkapan sang istri.


Wajah Annisa mulai di banjiri keringat, bahkan terlihat pucat tidak seperti biasanya. Setelah selesai menyiapkan perlengkapan, Azzam segera membopong tubuh sang istri masuk ke dalam mobil, sementara satpam yang sedang berjaga, di perintah oleh Azzam untuk mengantar mereka ke rumah sakit.


" Pak cepat sedikit ya ! kasihan istri saya sudah kesakitan." tukas Azzam tangannya terus mengelap keringat yang membanjiri wajah sang istri.


" Baik pak." sahut satpam tersebut.


Setibanya di rumah sakit, mobil Azzam berhenti tepat di depan pintu ruang IGD. Para perawat dan seorang dokter datang menghampiri, saat Azzam keluar dari mobil dengan membopong tubuh sang istri.


" Tolong letakkan istri bapak disini !" salah satu dokter yang bertugas menunjuk arah bed yang dimaksud, Azzam pun meletakkan tubuh Nisa di atas bed.


" Tolong selamatkan istri dan anak saya dok !" ujar Azzam memohon dengan wajah cemas.


" Baiklah pak, biarkan kami memeriksa istri anda secepatnya, mohon anda selesaikan administrasi terlebih dahulu, untuk melakukan tindakan operasi terhadap pasien. Sebab sepertinya istri anda sudah lemas, kehilangan tenaga." pungkas sang dokter sembari memeriksa kondisi Annisa saat itu.


Tanpa banyak kata, Azzam bergegas menuju ruang administrasi, dan segera menandatangani berkas persetujuan tindakan operasi Cesar.


Dengan langkah gontai dan perasaan yang diselimuti kekhawatiran, Azzam kembali menuju ruang IGD, dimana para perawat tampak telah bersiap membawa Annisa ke ruang operasi. Azzam pun segera mendekat dan berdiri disamping sang istri, memberinya semangat.


" Sayang harus kuat ya, demi aku dan anak kita. Berdoalah dalam hati, agar bayi kita terlahir selamat, aku sangat menyayangimu sayang." bisik Azzam sembari mengecup kening sang istri, dan butiran kristal bening mulai menggenang di sudut pelupuk mata Azzam.


" Sakit sekali mas hiksss, Nisa enggak kuat lagi. Allah auuu sakit mas." lenguh Nisa wajahnya kian pucat. Tangannya meremas tangan sang suami.


" Dokter, izinkan saya untuk ikut masuk kedalam , mendampingi istri saya. Saya ingin menyaksikan langsung proses kelahiran anak saya." pinta Azzam memohon kepada dokter.


" Baiklah pak Azzam, mengingat riwayat kondisi kandungan ibu Annisa pernah mengalami luka sebelumnya, mungkin operasi kali ini akan memakan waktu yang tidak sebentar, mohon anda juga banyak berdo'a. Oh ya barusan pihak bank darah menginfokan bahwasannya stok golongan darah seperti yang dimiliki pasien, saat ini sedang kosong. Kami masih berupaya semaksimal mungkin mencari pendonor, untuk antisipasi jiak terjadi pendarahan pada pasien. Mohon anda juga membantu kami untuk mencari pendonor yang sesuai dengan golongan istri anda darahnya." tukas sang dokter, kemudian segera menuju ruang operasi, diikuti oleh perawat yang mendorong brankar Annisa.


Disepanjang koridor menuju ruang operasi, Azzam terus membisikkan lafadz Allah di telinga sang istri, tangannya juga tak henti mengusap keringat, serta air mata Nisa.


Meja operasi telah siap, tubuh Nisa telah dipindahkan ke bed. Semua penghuni ruangan, termasuk Azzam, tampak mengenakan pakaian warna serba biru.


Azzam segera menghubungi seluruh keluarga dan meminta do'a, serta mencari donor yang sesuai untuk darah Nisa. Seluruh keluarga pun bergegas mencari donor, bahkan memasang pengumuman di perbagai sosial media saat itu, karena memang golongan darah yang dibutuhkan sedang kosong.


" Zam yang sabar ya nak, jangan pernah kamu lepas tasbih dari tangan kamu, memohonlah kepada Allah, agar proses persalinan dilancarkan. Safa sedang menuju ke bank darah, semoga saja masih ada rezeki buat Nisa dan cucuku." ujar Kyai Waffiq dari balik benda pipih yang menempel di pipi Azzam.


" Iya abi, terimakasih do'anya." sambungan telepon pun berakhir.


Di dekat sang istri mulut Azzam terus saja basah dengan kalimat dzikir. Tangannya juga tak henti memutar tiap butir untaian tasbih yang ia pegang. Sesekali pria yang terkenal dengan julukan ustadz atau dosen kutub itu, menitikan air mata.


Dua bulan sebelum kelahiran, dokter pernah berpesan kepada Azzam, saat sedang mengantar Nisa chek up rutin bulanan.


" Sebenarnya kandungan ibu Annisa sangat beresiko pak Azzam, karena antusiasme dan keinginan beliau untuk bisa hamil begitu besar, maka saya sebagai seorang dokter hanya bisa menyemangati. Namun sebagai manusia yang memiliki keimanan, saya percaya akan keajaiban Tuhan, terbukti istri anda bisa hamil, padahal menurut ilmu kedokteran, kemungkinan bisa hamil sangat kecil sekali. Tapi kepercayaan kalian terhadap Tuhan yang begitu kuat, membuktikan bahwa keajaiban itu memang ada. Karenanya, jika terjadi sesuatu saat proses lahiran nanti, anda harus mempersiapkan diri untuk kemungkinan terburuk yang bisa saja terjadi. Semoga keajaiban kembali terjadi lagi saat itu tiba." pesan dokter kandungan kepada Azzam saat itu.


Waktu terus berjalan, wanita yang tergolek lemas tak berdaya itu, kini mulai tidak sadarkan diri karena pengaruh obat bius yang dokter berikan.

__ADS_1


Dokter memulai persalinan Annisa dengan beberapa dokter muda dan perawat, satu persatu alat medis di gunakan, perut Nisa pun telah robek oleh sayatan pisau operasi, seluruh isi ruangan terlihat harap-harap cemas, mengingat kondisi Nisa yang makin menurun, proses persalinan yang ditunggu oleh banyak keluarga akhirnya berjalan lancar setelah beberapa menit melalui situasi yang menegangkan.


Suara tangis bayi mungil yang berhasil diselamatkan oleh dokter, terdengar membahana memenuhi ruang operasi.


" Oek oek oek oek oek ...." suara tangis bayi Azzam dan Annisa.


" Allahhuakbar, Allahuakbar, Subhanallah, Walhamdulillah." ucap Azzam seketika saat mendengar tangisan bayinya, seorang bayi laki-laki, telah terlahir dengan selamat. Azzam segera melakukan sujud syukur di ruang operasi kala itu. Tangis bahagia pria kutub ini pun pecah, antara rasa haru, cemas bercampur bahagia. Tidak bisa lagi mengungkapkan kata-kata selain kalimat dzikir yang mewakili ungkapan perasaan nya.


Seluruh keluarga yang ada di luar ruang operasi merasa bahagia dan haru, saat suara tangisan bayi terdengar hingga keluar.


" Alhamdulillah, Allahhuakbar." ucap seluruh keluarga yang ada disana bersamaan. Semua menangis bahagia.


" Alhamdulillah akhirnya cucu kita terlahir dengan selamat." ujar Kyai Waffiq dan umi Fatimah, keduanya berpelukan. Begitupun dengan pasangan Amir dan Devi tampak bahagia dalam tangisannya.


Setelah bayi berhasil diselamatkan, perawat segera membersihkan tubuh mungil sang bayi yang tampak putih bersih tanpa noda darah sedikitpun di tubuhnya. Seusai dibersihkan dan tali pusarnya berhasil di potong, malaikat kecil itu kini mengenakan pakaian untuk pertama kalinya di dunia ini. Sayup-sayup bola mata indah sang bayi terlihat menatap setitik cahaya lampu yang menyinarinya. Mulutnya terlihat lucu dan menggemaskan. Sebuah perpaduan wajah kearaban dan Indonesia. Mata bulat nan bulu mata yang lentik, hidung mancung dan rambut hitam pekat serta kulit yang putih bersih. Sungguh sebuah keindahan dan anugerah yang begitu sempurna.


Azzam segera mengumandangkan adzan ditelinga kanan sang putra, dan diakhiri dengan iqomah dari telinga kiri. Dalam dekapan Azzam, bayi lucu itu tampak menikmati setiap sentuhan dan ciuman yang Azzam berikan.


Di meja operasi, suara monitor yang ada disamping Annisa berbunyi, menandakan ritme jantung Nisa tidak stabil, tekanan darah juga makin menurun, sementara pendarahan seusia melahirkan terus saja mengalir. Dokter terlihat panik saat itu.


Azzam yang menoleh ke arah sang istri, segera meletakkan kembali sang putra kedalam inkubator. Menghampiri bed Nisa. Air matanya kembali mengalir saat wajah sang istri kian pasi, tanpa aura sedikitpun.


" Bangun sayang, ayo lihatlah anak kita. Dia tampan seperti kamu wajahnya, hikssss... ayo bangun sayang, demi aku dan anak kita, hiksss." suara lirih Azzam disela Isak tangisannya. Menciumi wajah sang istri.


Jiwa Azzam seolah hilang separuh saat itu, kekuatan dirinya seolah sirna. Saat tubuh yang tergolek lemah itu makin tak berdaya. Bahkan dokter pun begitu cemas, sebab darah yang mereka butuhkan belum juga ada.


Saat hal menyedihkan itu terjadi, suara adzan Dzuhur pun terdengar. Azzam kembali mengecup kening sang istri, seraya membisikkan semangat untuk wanita yang sangat dicintainya. Dan sejurus kemudian, pria kutub itu berlari ke arah Adzan berkumandang, tepatnya di belakang area rumah sakit.


Setelah berlari cukup jauh sambil sesekali bertanya kepada orang yang ada disekitar dimana letak masjid, maka akhirnya Azzam sampai di depan Masjid yang tidak begitu besar.


Pria ini segera bergegas mengambil wudhu, menunaikan sholat Dzuhur, disana Azzam tumpahkan tangisnya, mengadu kepada sang pemilik seluruh kehidupan yang ada dimuka bumi ini.


" Yaa Allah, tiada daya dan upaya yang bisa hamba lakukan selain berpasrah kepada - MU. Tunjukkan lah kebesaran dan kuasa - MU, selamatkan istri hamba, kami sangat membutuhkan dia, terlebih malaikat kecil yang baru Engkau kirim ke duni ini. Dia membutuhkan belaian dan kasih sayang ibunya. Jangan Engkau pisahkan ibu dan anak Yaa Allah, berilah kesempatan sekali lagi kepada kami untuk menjadi sebuah keluarga yang Engkau ridhoi. Berikanlah Mukjizat kepada istri hamba Annisa Rahmadania, Aamiin Yaa Robbal'aalamiin." kalimat untaian do'a yang Azzam panjatkan.


Setelah puas bersimpuh sujud dan bermunajat kepada sang Khalik. Azzam kembali menyegerakan langkahnya menuju ruang operasi. Dan ternyata telah terbaring seorang wanita di sebelah sang istri, tangannya terpasang selang untuk tranfusi darah.


Lagi-lagi pria ini melakukan sujud syukur kembali, meski wajah wanita tersebut tidak terlihat siapa dirinya. Yang jelas Azzam sangat bersyukur, akhirnya Allah kembali mengabulkan do'anya.


" Tit tit tit tit tit..." suara layar monitor yang ad disamping Annisa.


Flashback on....


Safa telah putus harapan saat tiba di tempat bank darah. Karena setelah ia sampai ternyata pendonor mengurungkan untuk mendonorkan darahnya.


Safa pun kembali dengan tangan kosong, harapan untuk menyelamatkan sang Kaka ipar pupus. Dari sekian kantor PMI yang ia datangi semua stok darahnya kosong.


Seorang wanita yang mendengar kabar bahwa Annisa sedang kritis dan membutuhkan donor sampai juga ditelinga wanita tersebut. Hatinya merasa terpanggil untuk menolong Nisa, mengingat kebaikan yang pasangan ini pernah mereka lakukan terhadap dirinya dan sang putra.


" Hallo Assalamu'alaikum, mbak saya bersedia menjadi pendonor untuk ibu Annisa. Kebetulan golongan darah saya sama dengan beliau, jika mbak mengizinkan, izinkan saya menyumbangkan apa yang saya miliki, untuk membalas kebaikan beliau." ujar seorang wanita dari balik telepon yang tak lain adalah Aulia.


" Wa'alaikumussalam ba baik kak, Alhamdulillah sekali kakak bersedia membantu kami, baiklah saya akan segera menjemput kakak, kirimkan alamat kakak, saya akan kesana secepatnya." pungkas Safa mengakhiri panggilan telepon yang masuk barusan. Dan putri bungsu pasangan Kyai Waffiq dan umi Fatimah ini melajukan mobilnya secepat kilat, menuju tempat Aulia berada.

__ADS_1


Betapa kaget Safa kala bertemu langsung dengan wanita tersebut yang tak lain adalah mantan tunangan sang kakak.


Namun karena mengingat kondisi yang sangat darurat, maka Aulia meminta Safa untuk segera membawanya ke rumah sakit sambil bercerita disepanjang jalan, bagaimana ia bisa kembali ke kota M, dan bertemu serta mengenal Annisa dan Azzam.


flashback off....


Dokter kembali mengucap syukur saat draft yang ada dilayar monitor samping Annisa, perlahan mulai menunjukkan kemajuan. Dan mulai naik serta stabil lagi.


Azzam mendekati bed sang istri dan betapa ia kaget bahwasannya wanita yang berhati mulia dan telah menyelamatkan sang istri tak lain adalah Aulia, mantan tunangannya.


" Aulia ... , Subhanallah, sungguh begitu besar jiwamu, mulia sekali hatimu Lia." ujar Azzam terkaget.


Aulia yang terbaring namun masih tersadar itu menoleh dan tersenyum ke arah Azzam, yang berdiri disamping bed Nisa.


" Iya ini aku mas, orang yang Allah utus untuk menolong kalian, sebagaimana Allah pernah menuntun kalian menjadi penolong serta penyelamatku saat itu. Aku sungguh bersyukur bisa bertemu kembali dengan kamu mas. Setidaknya semua rasa bersalah aku beberapa tahun lalu bisa aku tebus dengan membantu Nisa. Kalian orang baik, tidak pantas jika aku membiarkan bersedih dan kesusahan." ujar Aulia menatap kearah Azzam dan Nisa yang terbaring, air matanya juga turut menetes melihat kondisi Annisa saat itu.


" Terimakasih ya Li, semoga Allah membalas kebaikan kamu dan Hamzah." balas Azzam sembari mengulas senyuman tulus sebagai rasa terimakasih.


Waktu terus berjalan, kondisi Annisa kian membaik seusai donor yang Aulia lakukan. Seluruh keluarga besar mengucapkan rasa terimakasih yang mendalam kepada Aulia.


Bahkan saat itu juga Amir menelfon asistennya, dan mengutus untuk mengirimkan sebuah mobil keluaran terbaru ke alamat Aulia, sebagai ungkapan terima kasih atas pertolongan wanita itu kepada sang putri tercinta.


Beberapa hari kemudian Annisa diizinkan pulang oleh dokter. Wanita yang beberapa hari lalu tergolek lemas tak berdaya, kini terlihat ceria dan bahagia menggendong sang buah hati dalam dekapannya.


" Alhamdulillah ya sayang akhirnya Allah memberikan kesempatan kita bertiga, untuk menjadi sebuah keluarga yang seutuhnya, semoga keluarga kecil kita senantiasa di ridhoi Allah." ucap Azzam mengecup kening sang istri dan putranya. Menikmati pemandangan sore hari dari balik jendela kamar.


Kebahagiaan keluarga kecil Azzam dan Annisa akhirnya lengkap sudah dengan hadirnya malaikat kecil yang Allah kirimkan kepada mereka.


Mereka memberinya nama JARIS AKBAR MUWAFFIQ.


Aulia telah hidup berbahagia dengan Hamzah, mengelola sebuah toko kue yang mempunyai banyak pekerja, dimana Azzam dan Annisa yang memberikannya tempat untuk memulai bisnis barunya.


Sedangkan Safa dan Rangga akhirnya mendapat restu dan ridha dari kedua pihak keluarga mereka pun menikah dan berbahagia.


Pasangan Ustadz Hanafi dan Karen pun akhirnya Allah anugerahkan mereka dengan kehadiran calon bayi mungil dalam perut Karen.


Sementara Sinta dan Leo juga menyusul sang sahabat Rangga ke pelaminan. Keduanya juga akhirnya menjadi pasangan yang romantis, setelah berbulan-bulan Leo terus mengejar dan menunjukkan kesungguhan cintanya kepada Sinta.


**TAMAT......


Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakaatuh....


JAZZAQUMULLAH KHAIRAN KATSIR 🙏🙏 Saya ucapkan kepada seluruh readers, admin serta pendukung novel saya selama ini, tanpa support dan dukungan besar dari Kaka sekalian, apalah karya saya ini.


Semoga kedepannya terus bisa berkarya memberikan cerita yang bisa memberi inspirasi bagi kita semua, serta memetik hikmah dari setiap kejadian.


Sebuah kesabaran, kebaikan dan ketulusan hati itu sangat lah penting untuk selalu kita terapkan dalam kehidupan, dimanapun kita berada. Jangan pernah memandang nilai seseorang dari covernya saja. Boleh jadi jika Allah berkenan merubah, maka yang bejat pun akan menjadi mulia begitupun sebaliknya.


Teruslah berbuat kebajikan dan ketulusan kepada orang disekitar kita, boleh jadi itulah yang akan menjadi penolong kita dikala kesusahan menimpa kita.


Akhirul Kalam, Wabillahi Taufiq walhidayah, wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakaatuh 🙏😘🥰🥰

__ADS_1


By. VicaChu 😘😘**


__ADS_2