HIJAIYAH CINTA

HIJAIYAH CINTA
Kepulangan Safa dan Rangga


__ADS_3

Hari terus bergulir seiring berjalannya waktu, tanpa terasa usia kehamilan Annisa kini memasuki bulan ke delapan atau tepatnya tiga puluh dua Minggu.


Kondisi bumil itu pun juga semakin sehat, begitu pun dengan calon bayi yang ada di dalam perut, menurut hasil pemeriksaan bayi Annisa dan Azzam sehat, tinggal menunggu proses kelahiran saja.


Sepasang insan yang baru saja selesai menyelesaikan studi di kota Kairo, akhirnya bisa kembali pulang ke kampung halaman.


Dengan raut wajah bahagia yang di penuhi rasa kerinduan terhadap sang abi dan umi tercinta, Safa terlihat begitu senang di atas pesawat.


" Gembiranya yang mau bertemu abi umi." goda Rangga yang kebetulan juga pulang dan duduk di bangku sebelah Safa.


" He he he, iya nih kak udah enggak sabar mau ketemu abi sama umi, juga bang Zam, tentunya kangen banget sama kakak ipar yang bawel yang kebetulan sebentar lagi mau lahiran kak." ujar Safa bercerita kepada Rangga.


" Wah banyak banget yang dikangenin, kira-kira yang kangen sama aku ada enggak ya?" goda Rangga kembali, dan ucapannya membuat gadis yang duduk di bangku sebelahnya tertunduk tersipu malu.


Lama setelah keduanya mengobrol, pesawat pun mendarat. Dan keduanya pulang menggunakan taksi yang terpisah.


" Sayang mau makan apa?" tanya Azzam kepada sang istri yang tengah rebahan di sofa, dengan perut yang semakin besar.


" Mas Azzam masak apa?" jawab Nisa balik bertanya.


" Sop buntut." balas Azzam.


" Ya sudah mau, tapi mas suapin ya !" ucap Nisa seperti biasanya dengan nada manja.


" Siap permaisuri, laksankan !" Azzam berlalu menuju dapur, mengambil makanan untuk sang istri.


Perlu diketahui bahwa, bulek Rohimah saat ini sudah tinggal bersama dengan sang putra dan menantu tercinta, sebab selepas kepergian papanya, Karen sempat merasa down, dan sakit.


Flashback on.....


Hanafi kini adalah pemimpin perusahaan papa Karen, yang mendampingi dan membantu sang suami mengurus perusahaan adalah Karen.


Saat menghadiri meeting dengan klien bersama sang suami tercinta. Sebuah kabar duka menghampiri nya.


" Hallo nona Karen, maaf sebaiknya nona segera pulang! , barusan pihak rumah sakit mengabarkan bahwa tuan baru saja meninggal dunia, saat ini saya yang mengurus jenazah beliau di rumah sakit." ucap pak Yazid, asisten Karen.

__ADS_1


" Apaaaaaa, papa meninggal. Pak Yazid tidak berbohong kan? semalam saya berkunjung dengan mas Han, kondisi papa sudah lebih baik, hiksss katakan ini tidak benar pak !" suara tangis Karen mulai pecah saat itu.


Klien yang sedang meeting bersama dengan dirinya pun terdiam dan turut berbelasungkawa, mengakhiri meeting tersebut.


" Maaf pak Hanafi, sebaiknya anda kembali ke rumah. Meeting bisa kita lanjut lain waktu. Turut berduka cita untuk tuan dan nyonya sekeluarga." ucap pak Krisna, utusan perwakilan dari PT. KARYA JAYA.


" Terimakasih pak atas pengertiannya. Kami permisi dulu." pamit Hanafi setengah membungkukkan badan, memberi hormat kepada klien, seraya memapah sang istri yang tampak lemah saat itu.


Setibanya di rumah, para pelayat dari sanak saudara, kerabat dan juga relasi serta kolega bisnis sang papa telah tampak hadir. Pak Yazid sendiri yang langsung menghandle semua acara pemakaman.


Tubuh Karen semakin lemas saat mobil ambulance membawa jenazah sang papa ke tempat pemakaman.


" Hiksss.... papa maafin Karen yang tidak bisa ada disisi papa di saat terakhir huuuu." suara Isak tangisan Karen yang terdengar pilu.


Kini istri dari ustadz Hanafi itu tinggal seorang diri, tanpa kedua orang tuanya. Sang papa telah berpulang, sementara sang ibu hingga kini tiada kabar beritanya.


" Papaaaa.... hiksss hikssss, jangan tinggalin Karen, hiksss." Karen terus saja meracau sedih dalam pelukan sang suami.


" Tenang sayang, tenangkan dirimu. Papa sudah bahagia disana. Jangan larut dalam kesedihan. Sekarang papa sudah tenang di Syurga, tidak merasakan sakit lagi. Kamu harus bisa mengikhlaskan papa ya." suara Hanafi berusaha menenangkan sang istri saat itu.


Saat jenazah dimasukkan ke dalam liang kubur, tangis Karen makin meraung histeris, bahkan gadis itu tampak sangat lemah saat itu, syok dan juga tak sadarkan diri seketika.


Di rumah sakit, Hanafi tampak khawatir dengan kondisi sang istri yang begitu syok.


" Bagaimana kondisi istri saya dokter?" tanya Hanafi kepada dokter yang memeriksa sang istri.


" Istri anda hanya mengalami syok mentalnya saat ini. Dukungan dan perhatian dari orang terdekat, akan sangat membantu proses pemulihan nya." ujar dokter yang baru selesai memeriksa Karen.


Dan setelah saat itu Rohimah, ibunda Hanafi ikut tinggal bersama putra dan menantunya.


flashback off....


" Makan yang banyak ya, supaya nanti pas lahiran, sayang tenaganya banyak dan kuat." rayu Azzam, menyuapkan nasi ke mulut Annisa.


" Mas juga mamam dong, sini aaaaaak !" Annisa berganti menyuapkan nasi ke mulut Azzam.

__ADS_1


Pasangan ini tampak selalu menikmati setiap moment dengan penuh kebahagiaan. Walau terbiasa hidup dengan kemewahan, namun keseharian mereka tidak luput dari kesederhanaan dan kebersahajaan.


*****


Sebuah taksi memasuki halaman pesantren, beberapa mata para santriwati yang melihat, penasaran siapa yang datang. Dan setelah melihat sosok gadis bercadar dengan menyeret koper dan tas, maka santriwati pun segera tahu bahwa yang baru saja datang itu tak lain adalah putri bungsu sang pemilik pondok pesantren, Safa.


" Assalamu'alaikum, abi, umi." ucap Safa mengolok salam, sembari nyelonong masuk kedalam. Rupanya sang abi dan umi tengah mengaji di dalam.


Mendengar suara yang tak asing lagi bagi beliau, maka pasangan Kyai ini segera mengakhiri, mengajinya.


" Sodaqallaahul 'adzim."


" Umiiii, abiiii." ucap Safa menghambur memeluk kedua orangtuanya serta memeluk beliau bersamaan.


" Wa'alaikumussalam warahmatullaahi wabarakaatuh." jawab umi Fatimah dan Kyai Waffiq.


" Kenapa tidak mengabari dulu, kan bisa suruh mas mu jemput nak." tegur umi Fatimah, mencium kening sang putri.


Kini Safa duduk di tengah, antara abi dan sang umi.


" Sengaja mau buat kejutan umi, kan sekarang bang Zam sibuk jaga kak Nisa, kak Han juga sibuk sama kak Karen. Safa harus mandiri dong umi, iya kan Abi?" ujar Safa menoleh mencium pipi sang ayahanda. Dibalas senyuman dan anggukan oleh sang Abi tercinta.


" Kan abi bisa suruh sopir nak, tapi ya sudahlah. Alhamdulillah kamu sudah tiba kembali ke rumah dengan selamat dan sehat wal'afiat. Semoga ilmu yang kamu dapat disana, barokah dan bermanfaat bagi banyak orang." ucap sang abi, menepuk pundak sang putri bungsu.


Safa pun bercerita banyak hal kepada kedua orang tuanya. Tentang bagaimana ia menghadapi ujian hingga berhasil wisuda, dan mendapat nilai yang bagus.


Dan semenjak saat itu, Safa mengajar di pesantren, yaitu mengajar para santriwati.


Berbeda dengan Rangga, sang papa merasa sangat bersyukur, saat melihat banyak hal serta perubahan yang terjadi kepada putra semata wayangnya, pria paruh baya itu memeluk bangga sang putra.


Berbeda ketimbang saat Rangga belum menimba ilmu ke Kairo dulu.


" Alhamdulillah, papa bangga sekali kepadamu nak. Sekarang sudah saatnya papa pensiun, dan meyerahkan tanggung jawab perusahaan sepenuhnya kepadamu nak." ujar papa Rangga.


Dan kali ini, Rangga pun sama sekali tidak menolak perkataan sang papa. Sepenuhnya ia berharap agar bisa membahagiakan sang papa, di sisa umur beliau.

__ADS_1


******


BERSAMBUNG....


__ADS_2