
"Assalamu'alaikum, abii, umi, papa." sapa Annisa dan Azzam bersamaan saat tiba di bandara.
" Wa'alaikumussalam sayang." ucap umi Fatimah, seraya merentangkan kedua tangannya, menyambut ***** menantu dan sang putra. Nisa dan Azzam pun berlari memeluk umi Fatimah.
Begitupun dengan Devi, wanita paruh baya ini memeluk Amir sang suami, saat melihat kehadiran sosok orang yang sangat di rindukan dan dipikirkannya selama beberapa hari di tanah suci.
" Alhamdulillah papa, huuuuuuu. Akhirnya Allah mendengar do'a do'a kita. Kita bisa berkumpul bedsama kembali hiksss." ucap Devi penuh haru dalam tangisannya.
Amir pun turut menitikan air mata haru bercampur bahagia. Setelah bersalaman dan melepas kangen dengan keluarga Azzam, kini pasangan muda itu berganti bersalaman kepada sang ayahanda yang telah berhari hari kabar dan keadaannya selalu dinantikan.
" Papaaaaa..... maafin Nisa huuuuu, Nisa kangen sekali huuuuu." Isak tangis Annisa kian pecah, saat berpelukan dengan sang papa.
" Enggak sayang, ini bukan salah Nisa. Allah yang telah mengatur semuanya, dan menjadikan ini sebagai ujian. Apakah kita sabar dan ikhlas dalam menghadapinya, atau tidak. Dan ternyata Alhamdulillah, Allahhuakbar.... begitu indah hadiah yang Allah berikan. Kehadiran calon cucu ku yang di titipkan lewat rahim Nisa, adalah sebuah anugerah terindah yang Allah hadiahkan untuk kita sekeluarga." tukas Amir seraya mengelus punggung putri tercinta nya.
Semua pasang mata yang hadir disitu, turut menangis haru. Betapa ikhlas Amir, tanpa memendam sedikitpun dendam atau amarah kepada Handoko.
Kyai Waffiq juga berpelukan kepada Amir, begitupun sebaliknya. Umi Fatimah memeluk Devi penuh kehangatan. Sejak saat itu, umi Fatimah lebih menjaga kondisi Annisa dan terlihat lebih menyayanginya.
" Maafin umi ya sayang, umi pernah buat hati nak Nisa terluka, karena ucapan umi. Jaga baik-baik amanah yang Allah titipkan kepada kalian." ucap umi Fatimah memeluk Nisa erat, dan menghujaninya dengan ciuman.
*****
Seluruh penjemput menuju kediaman Azzam. Dimana beberapa Santriwati yang diutus oleh umi Fatimah, telah tiba beberapa waktu yang lalu, sembari menyiapkan hidangan untuk acara penyambutan kedatangan Azzam dan Annisa dari tanah suci.
Iringan Hadrah dan rebbana berbunyi merdu, saat rombongan Azzam dan Annisa memasuki halaman rumah.
Acara penyambutan kedatangan ibadah umroh itu juga dihadiri oleh Dirgantara sekeluarga. Termasuk Delisa dan Farid.
" Selamat datang ya Zam, om ucapkan selamat atas kado terindahnya buat kalian berdua." ucap Dirgantara, memeluk tubuh Azzam, dibalas pelukan hangat pula oleh sang keponakan.
__ADS_1
" Iya om terimakasih kembali, berkat usaha dan kerja keras om Dirga serta Farid. Akhirnya semua kebenaran terkuak. Papa dibebaskan dengan terhormat." pungkas Azzam.
Suasana kedatangan Azzam dan Annisa saat itu benar-benar penuh haru dan kebahagiaan.
" Selamat ya bro, akhirnya sebentar lagi aku bakal dipanggil paman, ha ha ha ha." tukas Hanafi, memeluk sepupunya dengan erat, dan dibalas pelukan erat nan penuh kehangatan oleh Azzam.
" He he he he..... terimakasih ya paman, semoga segera nyusul paman, semangat." ledek Azzam ketika berpelukan dengan Han sang sepupu.
Seusai Kyai Waffiq membaca do'a untuk Azzam, Annisa dan Devi, maka seluruh keluarga segera masuk kedalam.
Aneka masakan telah tertata rapi, disiapkan oleh para santriwati pilihan yang jago memasak.
Semua tamu pun tampak menikmati hidangan tersebut.
Terlihat wajah bahagia yang terpancar dari raut Azzam beserta Annisa kala itu. Annisa pun duduk tak jauh dari sang papa. Seolah masih ingin melepas kangen dan bercerita tentang perjalanan umrohnya, sambil bermanja. Sebab semenjak menikah dengan Azzam, Annisa jarang sekali bermanja kepada sang papa tersayang.
" Insya Allah Del, tapi kira kira kapan nih tanggal pernikahannya." tanya Azzam.
" Do'akan saja secepatnya Zam, sebab saat ini kita masih sangat repot dengan pekerjaan masing-masing." jawab Delisa.
" Oh ya padahal aku sama Farid tadinya sudah menyusun rencana buat mempermalukan itu si Linda loh Del, eh tahunya kedok mereka kebongkar lebih cepat. Jadinya nggak pinjam tunangan kamu, aku balikin saja dia, takut di udak tuh cewek sinting." seloroh Azzam sembari terkekeh.
" Iya ya Zam, sayang sekali. Padahal aku semangat banget loh buat ngerjain itu cewek, mumpung dapet lampu hijau nih dari ibu negara ha ha ha." balas Farid tak kalah keki saat terkekeh.
Delisa melotot ke arah Farid, seraya mencubit pinggang sang tunangan.
" Awas saja kalau berani aneh aneh." tukas Delisa memasang wajah seram, namun sayang jadinya malah terlihat lucu. Dan semua orang yang ada disana pun tertawa terkekeh bersama.
" Alhamdulillah juga istriku sudah selesai ujian Del, dan kini lagi hamil. Biar semua tugas selanjutnya dikerjakan dirumah saja, demi keselamatan mereka berdua. Yang jelas si Linda nggak bakal diam begitu saja, apalagi menyerah kalah." pungkas Azzam.
__ADS_1
" Pasang CCTV Zam cari amannya saja. Buat jaga jaga." celetuk Farid.
" Nah benar tuh apa yg dikatakan mas Farid, buat jaga jaga Zam, cewe itu sinting karena obsesinya belum bisa mendapatkan kamu. Ditambah papanya sekarang dipenjara, pastinya makin dendam tuh." sahut Delisa.
" Iya benar itu bro, nanti pas kamu ngajar biar umi sama Bu Devi yang bergantian menjaga Nisa." sahut Hanafi.
" Iya benar apa yang dikatakan nak Han, nanti mama bakal kesini setiap hari temani Nisa." jawab Devi.
Setelah bercengkerama dan bercerita, Dirga beserta sang istri, Delisa dan Farid, berpamit pulang.
" Terimakasih atas kunjungannya om, tante, ini sekedar oleh oleh dari kami buat om sekeluarga." ucap Azzam mencium punggung tangan Dirga, seraya memberikan sebuah bungkusan oleh oleh buat Dirga.
" Iya sama sama Zam, terimakasih juga oleh olehnya. Jangan lupa kalau ada apa apa hubungin om." pamit Dirga beserta sang istri.
Satu persatu para santriwati dan kerabat yang hadir, mulai berpamit pulang.
Kini tinggal Kyai Waffiq beserta umi Fatimah, Hanafi juga Amir dan Devi.
" Abi kembali dulu ya Zam, besok pagi harus berangkat tausiyah." pamit Kyai Waffiq.
" Iya abi, hati hati. Han jangan ngebut ngebut besok !!" seru Azzam.
" Assiap boss." sahut Hanafi. Sesaat kemudian, mereka bersalaman dan pamit pulang.
Yang masih tersisa hanyalah Amir beserta sang istri. Mereka masih ingin bercerita banyak dan melepas rindu.
*****
BERSAMBUNG....
__ADS_1