
Hari berganti hari, Hamzah tinggal bersama Azzam sudah tiga hari, dan kini tibalah pada hari yang membahagiakan bagi pasangan Delisa dan Farid Basalamah, putri sang Hakim Dirgantara.
Kyai Waffiq dan umi Fatimah mampir terlebih dahulu ke rumah sang putera, sebelum berangkat bersama-sama menuju acara pernikahan berlangsung.
" Assalamu'alaikum." ucap sang Kyai beserta istri, saat berdiri di depan pintu rumah Azzam.
" Wa'alaikumussalam." teriak sebuah suara dari dalam yang tak lain adalah bulek Rohimah.
" Mana anak-anak Him?" tanya Kyai Waffiq mengedarkan pandangan mencari sang putra dan menantu.
Keduanya pun masuk dan menuju ruang keluarga.
" Ada mas, lagi di dalam membantu si Hamzah berganti pakaian." ucap bulek Rohimah.
" Hamzah." ucap pasangan Kyai ini kaget, mendengar nama yang baru di dengarnya.
" Siapa itu Hamzah Him?" tanya sang Kyai kembali.
" Silahkan dudul dulu mas, mbak yu. Saya kira panjenengan sudah tahu mas tentang bocah itu, rupanya nak Zam belum bercerita." timpal Rohimah.
Kyai Waffiq dan umi Fatimah duduk di sofa, masih menunggu kelanjutan cerita dari bulek Rohimah.
" Tahu apa Him, cerita saja ! , Zam belum bercerita apapun kepadaku, mungkin dia sibuk." jawab sang Kyai.
Umi Fatimah menghela nafas panjang, juga turut penasaran dengan apa yang disampaikan adik iparnya tersebut.
Bulek Rohimah akhirnya bercerita tentang kejadian yang menimpa Aulia, dan alasan kenapa Azzam dan Nisa merawat Hamzah.
" Oh jadi gadis itu telah kembali, astaghfirullah sungguh kasihan nasibnya. Semoga dia segera sembuh." tandas sang Kyai setelah mendengar cerita sang adik.
" Iya benar kasihan sekali ya bi, meski pun kita tahu Azzam pernah kecewa akan sikap gadis itu, namun hati nuraninya tidak bisa untuk membalas dan menutup sebelah mata, untuk tidak menolong kesusahan yang dialami Lia." timpal umi Fatimah.
__ADS_1
Umi Fatimah lalu beranjak berdiri menuju kamar sang putra, dan kebetulan kamar tersebut sedang tidak di tutup pintunya.
" Assalamu'alaikum, Zam Nisa." ucap umi Fatimah, mengolok salam menyapa putra dan menantu.
" Wa'alaikumussalam, eh umi kapan datang?" Azzam bergegas menghampiri sang ibunda, mencium punggung tangan nya, begitupun dengan Nisa.
Pandangan umi Fatimah seketika tertuju kepada bocah laki-laki yang berusia lima tahun itu, yang saat itu tengah mengenakan tuxedo warna hitam. Tampak terlihat tampan sekali.
" Hai anak ganteng, assalamu'alaikum, siapa namanya sayang?" Umi Fatimah bertanya kepada Hamzah kecil.
" Wa'alaikumussalam, nama aku Hamzah, mama seling panggil aku Ham nenek." jawab Ham dengan suara cadelnya.
Umi Fatimah memeluk bocah dihadapannya dengan perasaan sedih, sementara Azzam dan Annisa tampak terlihat bingung, bagaimana umi Fatimah bisa langsung menghampiri bocah itu. Keduanya saling bertatap seolah saling bertanya.
" Bulek sudah cerita semuanya barusan, kalian ini sudah mulai ya menyembunyikan sesuatu dari kami." timpal sang umi, menasehati.
" Bukan begitu umi, Zam takut umi masih kesal dan menyimpan dendam sama Lia, makanya kami memutuskan untuk tidak memberi tahu kepada umi." sahut Azzam.
Setelah menasehati sang putra sulung, umi Fatimah menggandeng Hamzah menuruni anak tangga, keluar dari kamar. Disusul Azzam dan Annisa.
Keduanya langsung bersalaman kepada sang Kyai, dan setelah semua siap mereka segera menuju tempat prosesi akad nikah Delisa di langsungkan.
*****
Hanafi beserta Karen juga hadir dalam acara sakral tersebut, mengingat banyaknya undangan yang telah disebar, maka seusai akad acara resepsi pun langsung digelar.
Semua keluarga besar dan kerabat dekat, tampak hadir dalam proses akad nikah Delisa dan Farid. Seperti permintaan sang adik bungsu, yaitu Hakim Dirga. Siang itu kyai Waffiq lah yang secara langsung memimpin acara akad nikah tersebut.
Di tempat lain, di kediaman keluarga Leo, tampak sang ayah tengah memberinya mandat untuk menggantikan dirinya menghadiri acara pesta pernikahan putri Hakim ternama di kota M.
" Papa ingin kamu gantikan papa menghadiri pesta pernikahan, kamu bisa datang nanti malam, jangan lupa jemput calon tunangan kamu, Sinta. Papa sudah mengabari dia kemarin sore." tandas sang papa.
__ADS_1
" Pa, Leo bisa datang ke acara itu sendiri tanpa harus bareng gadis itu. Papa tahu kan, Leo nggak mencintai dia sama sekali." tolak Leo protes kepada sang papa.
" Tidak ada bantahan, kamu harus jemput dia, awas jika kamu melanggar, secepatnya akan papa atur pernikahan kalian tanpa pertunangan." ancam pria paruh baya itu.
Dengan kesal Leo pergi meninggalkan ruang kerja sang papa, sembari membanting pintu dengan kerasnya. Pergi menuju kamar.
" Aaah, papa nyebelin, kenapa sih harus sama gadis itu." gerutu Leo kesal, membuang bantal dan guling yang ada di atas kasur.
*****
Malam pun tiba, seperti mandat yang sudah diwacanakan oleh sang papa, walau dengan hati kesal, malam itu Leo pergi ke rumah Sinta, untuk menjemputnya.
Begitupun juga dengan Sinta, sebenarnya ia sendiri merasa enggan untuk menghadiri acara pesta pernikahan yang di perintahkan oleh calon ayah mertuanya.
Malam itu Sinta mengenakan gaun warna soft mint, dipadukan dengan heels warna hitam, dan tas warna hijau, yang senada dengan gaun yang ia kenakan.
Seorang gadis keluar dari pintu rumah, dan tengah berdiri di depan pintu mobil, mengetuk kaca jendela mobil. Leo yang sedang mengutak-atik layar ponselnya, menoleh seketika saat mendengar suara ketukan tersebut.
Seketika Leo tertegun menatap sosok gadis cantik dihadapannya. Moodnya yang tadinya kesal, berubah ambigu tanpa kata, seolah mulutnya terkunci rapat. Pandangan pemuda ini masih fokus tertuju ke sosok Sinta yang berdiri di luar mobil.
" Bukan kah dia gadis yang sering bersama dengan istrinya pak Azzam saat kuliah. Astaga, cantik sekali ternyata dia kalau berdandan." gumam Leo terpaku.
Merasa kesal karena Leo hanya terdiam di dalam sana, Sinta pun berulang ulang menggedor kaca mobil Leo. Hingga membuyarkan lamunan pemuda tersebut. Seketika Leo pun bergegas membuka pintu dan keluar, membuka pintu mobil untuk Sinta.
" Lama banget sih bukanya ." gerutu Sinta membanting pintu mobil. Memasang wajah kesal.
Sementara Leo bukannya marah balik, malah senyum cengar-cengir melihat ekspresi gadis i hadapannya barusan.
Tanpa banyak kata lagi, Leo segera melajukan mobil menuju tempat acara pesta pernikahan Delisa di langsungkan.
*****
__ADS_1
BERSAMBUNG.....