
" Wa'alaikumussalam Sayang maaf ya, sepulang dari kampus, aku mau menemui weeding organizer, mungkin pulang telat." isi dari pesan balasan yang Azzam kirimkan kepada sang istri.
" Iya sayang hati-hati." balas Annisa balik.
Annisa yang baru selesai melaksanakan sholat Dzuhur, segera meraih ponsel nya, saat terdengar notif pesan masuk.
Wanita yang berbadan dua ini mencari keberadaan sang bulek, ibunya si Han.
" Bulek, kata mas Azzam hari ini pulang telat, sebab masih menemui pihak WO." ucap Annisa kepada sang bulek, yang tengah duduk diatas kasur, menatap bingkai foto yang telah usang, termakan usia.
Rohimah yang sedang menatap foto almarhum sang suami, menoleh menatap ke arah Annisa yang berdiri di depan pintu.
" Bulek nangis?" gadis itu berjalan menghampiri sang bulek.
Rohimah pun mendongakkan wajahnya menatap gadis yang baru saja duduk disampingnya.
" Iya nduk, bulek kangen almarhum paklek kamu. Ingat pesan terakhir beliau, akhirnya hari itu tiba juga. Putra semata wayang kami, akhirnya berbahagia bertemu jodohnya." balas bulek Rohimah, mengusap kaca pada bingkai di tangannya.
Annisa memeluk wanita paruh baya disampingnya, "Alhamdulillah Nisa ikut senang mendengarnya bulek, kak Han akhirnya menemukan jodohnya dan menikah, semoga saja mereka bahagia selalu, seperti Nisa dan mas Zam." sahut gadis yang sedang memeluk ibu dari ustadz Hanafi.
Di tempat lain, Azzam tampak sedang berdiskusi dengan pemilik WO.
" tok tok tok...." Azzam mengetuk pintu ruangan pemilik WO.
" Masuk !!" sahut suara dari dalam.
" Ceklek, assalamu'alaikum selamat siang." Azzam mengucap salam.
Seseorang yang duduk membelakangi Azzam, segera memutar kursi kebesarannya, setelah mendengar suara seseorang yang mengolok salam.
" Wa'alaikumussalam, A.... Azzam bukan?" jawab seorang wanita yang baru saja beranjak berdiri dari duduknya, menatap pria dihadapannya kaget.
__ADS_1
" Va....Vanya bukan?" tebak Azzam menunjuk wanita cantik di depannya.
Gadis yang tengah berdiri di depan meja itu mengulas senyuman serta mengangguk, " iya benar, aku Vanya." jawab gadis tersebut, mengulurkan tangan kepada teman sewaktu kuliah, di salah satu universitas dikota M, sebelum Azzam melanjutkan S2 di Kairo.
Azzam segera menangkupkan kedua tangannya, saat tangan gadis itu terulur ke arahnya, dan Vanya pun menghargai itu.
" Oh maaf, aku lupa sedang berhadapan dengan pak ustadz, he he he." kekeh Vanya. Sementara Azzam hanya membalasnya dengan seutas senyum.
" Boleh aku duduk?" tanya pria yang sejak sekolah sudah di panggil ustadz oleh teman-temannya itu.
" Oh iya tentu saja boleh, maaf, silahkan Zam !!" jawab Vanya mempersilahkan teman kuliahnya itu untuk duduk. Azzam pun duduk.
" Wah mau menikah ya Zam, selamat ya. Aku kira cowo tertampan di kampus kita dulu, yang sering dijuluki ustadz kutub, tidak akan menikah, sebab anti banget terhadap wanita. Ternyata nikah juga he he he." kekeh Vanya kembali, menggoda sang sahabat lama.
" Maaf, aku sudah menikah Van, dan saat ini istriku sedang mengandung anak pertama kami, aku datang kemari ingin supaya kamu menghandle acara resepsi pernikahan sepupu aku, si Han." jawab Azzam menatap Vanya.
" Oh sepupu kamu, maaf aku kira kamu Zam. Boleh banget Zam, pasti team aku akan menangani segala persiapan hingga hari H dengan baik dan lancar." timpal Vanya kembali.
" Iya Zam pasti akan kami buat sesuai permintaan kamu, silahkan tuliskan nama kedua mempelai beserta nama orang tua mereka, dan satu lagi, daftar nama tamu tolong segera kirim, agar aku bisa secepatnya mengerjakan tugas pertama kami, yaitu menyebar undangan. Team kami akan membantu memudahkan kamu sekeluarga mengenai pengiriman undangan." Vanya berkata sembari menyodorkan berbagai foto hasil jepretan dari kinerjanya.
" Aku percaya kok sama kamu Van, pasti kamu akan melakukan yang terbaik untuk kesuksesan acara ku. Sekali lagi aku ucapkan banyak terimakasih sama kamu. Mengenai pembayaran kirim saja ke tagihan aku, ini kartu namaku !!" Azzam menyodorkan kartu nama kepada sahabat lamanya tersebut.
Keduanya pun bersepakat tentang planning acara resepsi Hanafi, yang akan digelar akhir pekan ini, seperti permintaan bulek Rohimah.
******
Mobil yang dikendarai Azzam memasuki pelataran halaman rumah nya, sang satpam pun menunduk hormat kepada dirinya, dibalas hormat dan senyuman oleh Azzam.
Pria berwajah kearaban ini keluar dari mobil, dengan membawa beberapa makanan kesukaan sang istri.
" Assalamu'alaikum, sayang aku pulang." ucap Azzam saat masuk kedalam rumah, dengan pintu yang terbuka.
__ADS_1
" Wa'alaikumussalam, bagaimana Zam, bisa kan acara si Han Minggu ini?" tanya bulek Rohimah meyakinkan dirinya.
" Alhamdulillah iya bulek bisa, Zam baru saja datang dari sana. Mudah-mudahan saja, semoga semuanya nanti di beri kelancaran bulek." jawab Azzam masih berdiri dengan bungkusan kresek warna putih ditangannya, sementara kedua bola matanya, mencari keberadaan sang istri.
" Zam cari cah ayu kah? kok celingukan begitu. Dia baru bangun, terus mandi dan sekarang sedang sholat ashar, coba saja lihat dikamar kalian !!" seru wanita paruh baya, ibunya Han.
Azzam pun bergegas menuju kamar, tak sabar untuk segera berjumpa dan melepas kerinduan, berpisah setengah hari dari wanita yang selalu dirindukannya, seolah membuatnya kehilangan semangat.
Saat membuka pintu kamar, didapatinya Annisa yang tengah berdo'a, seusai melaksanakan sholat ashar.
Azzam masih berdiri dibelakang sang istri dengan tertib, menunggu Annisa selesai berdo'a.
Setelah selesai berdo'a, Nisa menoleh ke belakang, dilihatnya sang suami yang sedang berdiri dengan bungkusan plastik ditangannya.
Azzam segera memeluk tubuh Annisa yang masih mengenakan mukenah, menumpahkan rasa kangen terhadap wanita yang tengah dipeluknya erat.
" Apa kabar bunda hari ini? si dede rewel nggak?? dia nggak nyusahin bundanya kan?" bisik Azzam bertanya, seraya mencium kedua pipi Annisa bergantian.
Dengan manja, Annisa menyambut kedatangan suaminya dengan mengalungkan kedua tangannya ke leher Azzam, dan pria itu pun langsung mengerti apa maksud dari kemauan si bumil saat itu.
Azzam menggendong tubuh Annisa, dan mendudukkan tubuhnya di sofa.
" Wah apa ini mas, banyak sekali mas belinya." Wanita yang tengah hamil itu, merasa senang saat melihat bungkusan yang dibawa sang suami, ternyata adalah beberapa makanan kesukaan dirinya.
" Sayang suka?" Annisa langsung mengangguk, mengiyakan seraya memasukkan sebuah kue kedalam mulutnya. Azzam yang melihatnya jadi tersenyum sendiri. Pucuk kepala sang istri pun diusap dan di hadiahi sebuah ciuman kecil oleh Azzam.
Annisa sangat menikmati makanan yang dibawa oleh Azzam, bahkan juga menyuapkan kue kedalam mulut Azzam, yang masih duduk didepannya. Keduanya bercanda ria menikmati kue hasil pembelian Azzam.
*****
BERSAMBUNG.....
__ADS_1