HIJAIYAH CINTA

HIJAIYAH CINTA
Pesta Pernikahan Yang Penuh Haru


__ADS_3

Hari berganti hari, tibalah hari bahagia yang dinantikan oleh pasangan Hanafi dan Karen. Setelah lusa yang lalu melangsungkan pernikahan nya di Kantor Urusan Agama, kini hari bahagia, perayaan pesta pernikahannya pun telah tiba.


" Sayang kok masih belum siap?" tanya Azzam kepada sang istri, yang tampak masih terdiam di kasur hanya memandangi pakaian yang baru saja diantar oleh pegawai butik.


" Bantuin !" ucap Annisa setengah manyun.


" Bantuin apa sayang? ih ganti baju masa mas yang gantikan, ganti sendiri ya sayang !!" ucap Azzam, mengusap rambut sang istri yang masih duduk di atas kasur.


" Mas Azzam sudah nggak sayang aku lagi, ini kan kemauan dede." balas Nisa, jari telunjuknya menuding perutnya yang sedikit membuncit.


Seolah kehabisan kata bagi Azzam, jika sudah dihadapkan pada kata dede, oleh sang istri. Tanpa banyak perdebatan lagi, pria ini segera meraih gaun yang masih terbungkus oleh paper bag, mulai membantu Annisa berganti pakaian.


"Nanti saat di pesta, dede nggak boleh berulah ya. Duduk manis menikmati pesta, disamping abi, oke." ucap Azzam seusai mengganti pakaian Annisa.


" Beneran kan mas sudah nggak sayang aku lagi. Pasti malu kan ke pesta bersama wanita yang gendut dan buncit kayak aku." tukas Annisa, kembali memasang wajah cemberut.


Azzam menghela nafas panjang, duduk disamping Annisa, mengusap perutnya.


" Sayang kok bicaranya begitu, mana mungkin mas malu pergi ke pesta bersama sayang. Mas sangat bahagia dan bersyukur sekali, sebab sudah Allah anugerah kan bidadari sebaik dan secantik sayangku. So jangan pernah berkata mas sudah nggak sayang lagi ya." dengan penuh kelembutan Azzam mengatakan hal tersebut.


Pria ini pun meraih sepatu sang istri, dan mengenakannya secara lembut, dikaki mulus Annisa. Sementara si pemilik kaki, hanya diam menerima perlakuan lembut nan istimewa dari suami tercinta, sambil senyum-senyum sendiri.


" Nah sekarang sudah cantik, sudah ready. Ayo sayang kita berangkat, kasihan yang lain sudah nungguin kita." ujar Azzam, menggamit lengan sang istri, berjalan layaknya raja dan ratu, menuruni anak tangga.

__ADS_1


" Astaghfirullah, lama banget Zam." tegur umi Fatimah.


" Maaf umi, biasa anak Azzam mulai lagi" jawab Azzam tak melanjutkan ucapannya, dan Nisa mencubit pinggang nya, dan memukul lengannya dengan tas.


Semua keluarga yang tengah berkumpul pun terkekeh, melihat keanehan akhir-akhir yang dilakukan pasangan ini.


Semua berjalan menuju mobil yang telah berjejer di halaman rumah Azzam. Kali ini mereka diantar oleh sopir, menuju tempat pesta diselenggarakan.


Tampak berdiri dengan gagah nya Hanafi dan Karen, diatas singgasana malam itu. Keduanya menyambut kehadiran tamu undangan, bersalaman dengan ramah, disertai ulasan tawa dan senyuman yang sesekali tercipta diantara keduanya. Tampak bahagia sekali.


Begitu pun dengan keluarga Azzam, mereka memberi ucapan selamat kepada Hanafi dan Karen, semua tamu undangan juga menikmati kemeriahan pesta pernikahan Hanafi malam itu.


Tanpa di duga, sesosok pria bertubuh atletis dan berwajah tampan, memasuki keramaian tamu undangan, menerobos masuk, dan langsung menuju pelaminan, tempat Han dan Karen berdiri.


Tak ada kata yang terucap dari bibir mempelai wanita, tangannya bergetar dan pandangannya seakan terlihat kaget dan syok, dengan kehadiran Leo yang tiba-tiba disana.


" Terimakasih atas kehadirannya, terimakasih juga selama ini sudah menjaga dia untuk saya. Sekarang biar saya yang melanjutkan tugas kamu, membahagiakan dia." sela Hanafi saat melihat sang istri diam tertegun menatap Leo. Dan ucapan Hanafi pun membuyarkan lamunan Karen.


" Iya benar kata suami ku, terimakasih atas kehadirannya. Insya Allah pasti kami akan bahagia selalu. Mas Han adalah suami terbaik yang dikirim Tuhan buat ku." sahut Karen dengan nada sinis.


Leo hanya bisa mengangguk dan tersenyum kelu, mendengar penuturan Karen. Ia pun segera pergi meninggalkan area pesta, dengan luka hati yang mendalam.


Tak hanya berhenti sampai disitu, saat Leo meninggalkan keramaian pesta, tanpa sengaja berpapasan dengan seorang wanita cantik, yang juga baru datang untuk memberi selamat kepada mempelai.

__ADS_1


Gadis tersebut tak lain adalah Sinta, mantan kekasih Hanafi. Sinta mengetahui kabar perayaan pesta pernikahan si Han dari sang papa, yang sengaja memberikan undangan yang Han kirim untuk mereka. Karena Han ingin menunjukkan kepada keluarga Himawan, bahwasannya selepas penolakan yang mereka lakukan, ia masih baik-baik saja dan berhasil melanjutkan hidup serta menemukan kebahagiaan.


Dari kejauhan, saat melihat kegembiraan yang terpancar dari kedua mempelai, mata Sinta terasa panas dibuatnya. Ditambah saat Hanafi dan Karen sesekali mengulas tawa dan senyum yang merekah dari bibir keduanya.


Meski langkah kakinya terasa berat untuk berjalan menuju pelaminan, tempat Han dan Karen berdiri, namun gadis ini tetap berusaha tegar, menghampiri kedua mempelai, memberi ucapan selamat.


Kali ini Han yang dibuat kaget, akan kehadiran Sinta, Karen dapat menangkap hal itu dari sorot mata yang ditunjukkan oleh pria disampingnya serta gadis yang berdiri di depannya, dengan wajah sedih.


" Selamat mas Han atas pernikahannya, hiksss.... Sinta do'akan semoga kalian bahagia." ucap Sinta seraya mulai terisak, menahan tangis yang sedari tadi sudah hendak tumpah.


Han mengulas senyum bahagia di hadapan Sinta, " iya aku juga berterimakasih kamu sudah datang, memberikan do'a restu untuk kami. Semoga kamu segera menyusul seperti kami juga." tukas Han membalas ucapan selamat dari Sinta.


Gadis itu hanya mengangguk dan tersenyum, pura-pura turut bahagia atas pernikahan mantan kekasihnya itu.


Saat Sinta menjabat tangan Karen, dan disertai tatapan sedih. Karen memeluk tubuh Sinta dan mengusap punggungnya, seraya berbisik, " terimakasih sudah sudi hadir di pernikahan kami, aku do'akan semoga Allah juga memberikan kamu jodoh yang terbaik seperti ku. Aku akan melanjutkan tugasmu menjaga dan membahagiakan mas Han. Semoga kamu kelak juga menemukan kebahagiaan sepertiku."


Seusai berpelukan, Karen meminta Sinta untuk berfoto dengan dirinya dan Hanafi, sebagai kenangan. Sinta pun menerima permintaan Karen. Meski bibirnya kelu untuk mengulas senyum saat berfoto, namun ia berusaha tampil cantik di depan mantannya.


Pesta pernikahan yang begitu meriah, menambah kebahagiaan tersendiri bagi pasangan Hanafi dan Karen malam itu, dengan kehadiran para mantan, seolah memberi mereka do'a tersendiri untuk kebahagiaan mereka.


Semua tamu undangan beserta seluruh keluarga besar terlihat bahagia, karena telah berhasil menyelenggarakan pesta yang meriah, seperti permintaan almarhum ayah Hanafi. Tangis bahagia pun keluar dari wanita paruh baya yang bernama Rohimah. " Tugasku untuk memenuhi wasiat kamu sudah selesai mas, semoga kamu bantu aku dari sana, mendo'akan kebahagiaan putra kita." begitulah gumam dari bulek Rohimah.


*****

__ADS_1


BERSAMBUNG....


__ADS_2