
Hari libur telah tiba, saat akhir pekan tiba, Azzam dan Nisa pergi ke pasar tradisional, seusai Jogging pagi hari.
Azzam menemani sang istri berkeliling pasar, membeli sayuran dan ikan untuk stok di kulkas. Tak jarang para pedagang yang sudah usia lanjut, memuji pasangan muda ini.
" Maaf neng, ibu lihat kalian selalu berdua saja selama ini saat berbelanja. Kalau boleh tahu dimana anaknya?" tanya salah seorang pedagang langganan sayur Annisa.
" Emmm...." belum selesai melanjutkan kalimatnya, Azzam telah memotong ucapan sang istri.
" He he he, Allah masih suruh kita buat mesra mesraan dulu ibu. Insya Allah jika waktunya sudah tiba ibu adalah orang pertama di pasar ini yang akan kami beri kabar baik itu, minta do'a nya saja agar segera Allah ijabah Bu." tukas Azzam menyela dengan sopan.
Wanita paruh baya penjual sayur itu sempat menitikan air mata untuk pasangan muda ini.
" Kalian jangan pernah berhenti untuk terus berdo'a dan ikhtiar ya nak. Sebab ibu dulu juga lama belum dikasih momongan sama Allah, namun ibu dan suami saling dukung dan percaya akan kebesaran Allah, hingga suatu ketika disaat kami hampir putus asa dan hendak mengadopsi anak, Allah kabulkan do'a kami. Dengan menitipkan sebuah makhluk suci di dalam rahim ibu. Namun sayang, saat kelahirannya ke dunia ini, dia harus kehilangan sosok ayah sebelum sempat ia lihat dan ia panggil ayah." ucap penjual sayur mulai terisak saat bercerita.
Azzam dan Nisa berjongkok mendekati ibu paruh baya tersebut, keduanya menggenggam tangan si ibu itu seraya berkata, " Terimakasih atas do'a tulusnya ibu, kami yakin bapak bahagia diatas sana. Dan juga beliau pasti selalu mendo'akan ibu dan putra ibu, agar senantiasa sehat dan bahagia dimanapun berada." tukas Azzam tersenyum memberi semangat.
Obrolan pagi itu memberi satu hikmah yang dapat mereka petik. Yakni berusahalah terus tanpa memikirkan hasil. Niscaya Allah akan kabulkan setiap do'a kita di waktu yang tepat menurut Allah.
Setelah mengobrol, keduanya pun pindah berbelanja ke beberapa pedagang lainnya. Hingga tanpa terasa hari sudah mulai terik. Dan pasangan ini bergegas kembali pulang ke rumah.
*******
" Mas Azzam." teriak Annisa dari dapur.
" Iya sayang, ada apa?" jawab Azzam bergegas mendekat.
" Mas tolong ambilkan hijab Nisa yang lebih pendek dong. Yang ini terlalu lebar, basah semua nih, kalau buat bersihin ikan kena cipratan anyir." ujar Nisa meminta tolong, sambil fokus membersihkan sisik ikan.
" Siap ibu negara." balas Azzam melangkah ke kamar mengambil hijab seperti yang Nisa minta.
__ADS_1
Azzam melepas hijab syar'i yang menempel di kepala Nisa, mengganti nya dengan hijab biasa yang lebih pendek.
" Terimakasih mas." ucap Nisa tersenyum, dan mengedipkan sebelah mata pada Azzam.
" Terimakasih doang nih. Kiss nya mana." ledek Azzam memanyunkan bibirnya.
" Ihhh mana ada kiss, mas mau nih bau anyir ikan ha ha ha." balas Annisa meledek sang suami.
" Yah kok tega gitu sih sayang, padahal kan pagi ini belum dapat jatah kiss." ucap Azzam, kembali merajuk bak anak kecil.
Nisa cengengesan melihat sang suami yang manyun bak bibir bebek tersebut. Tak tega melihat Azzam cemberut, Nisa mendekat dan mengangkat kedua tangannya ke atas yang bau anyir itu, lalu memonyongkan bibir nya dan mengecup bibir Azzam.
Seketika Azzam meraih pinggang Nisa dan menikmati ciuman kilat tersebut, tak perduli bau anyir yang menempel di tangan Nisa.
" Makasih sayang." balas Azzam, tersenyum penuh kemenangan.
******
Selama Nisa perang di dapur, Azzam membantunya dengan membereskan beberapa ruangan dengan menggunakan vacum cleaner. Juga mengepel semua ruangan.
Bagi pasangan muda ini, berbagi tugas rumah tangga sudah lah biasa, bukan merupakan kewajiban Nisa semata.
Dan seusai beberes semua selesai lalu keduanya bergantian mandi. Lanjut menikmati makan, yang lebih tepatnya adalah makan siang, karena jam sudah menunjukkan pukul sebelas siang waktu setempat.
******
Di Kairo, tepatnya di Universitas Al Azhar, kedekatan Safa dan Rangga makin terlihat jelas. Bahkan Rangga lebih sering menunjukkan perhatiannya pada gadis bercadar yang tak lain, kini mulai merebut perhatiannya.
Keduanya sering bertukar pendapat saat mengerjakan makalah dari kampus. Meski Rangga terbilang lebih awam disana. Namun dalam waktu singkat, pria bertubuh atletis ini mampu berinteraksi dengan baik dengan lingkungan dan teman sekitarnya.
__ADS_1
Ditambah lagi, Rangga kini mendedikasikan dirinya sebagai aktifis di kampus barunya. Sikap ramah dan terbukanya ke setiap orang, menjadikan Rangga banyak disukai oleh mahasiswa lainnya.
******
Di tempat lain, Linda mulai merasa panik. Pasalnya kegilaannya pada Azzam bukan berkurang, namun malah semakin parah saja. Hari hari yang dilaluinya kini hanya fokus untuk menyusun rencana, menghancurkan rumah tangga Azzam dan Annisa.
" Ayo lah Linda sayang plis, hentikan semua obsesi kamu pada pria kutub itu. Kurang apa sih aku ini. Bahkan jika boleh di bilang, aku lebih macho ketimbang dosen kutub itu. Buktinya, aku bisa membuat kamu hamil hanya dengan beberapa kali saja. Nah sementara dia, sudah dua tahun. Masih belum punya anak." cibir Jimmy, kekasih Linda.
" Plakkkk." sebuah tamparan mendarat di pipi Jimmy.
" Hentikan omong kosong kamu itu. Jangan kamu fikir dengan berhasil membuat aku hamil, aku akan menerima kamu begitu saja. Jangan mimpi." tukas Linda ketus.
" Sesuai kesepakatan, aku mau denganmu, hanya agar aku bisa hamil. Selebihnya itu bukan urusan kamu sama sekali. Cam kan itu !!" seru Linda dengan suara ketus.
Jimmy yang notabene nya memang sangat mencintai Linda. Bahkan rela melakukan apa saja agar demi bisa mendapatkan hati Linda. Hanya diam tak membalas tamparan Linda.
" Aku tulus mencintai kamu Lin. Aku bahkan rela tidak mendapatkan ruang di hati kamu. Namun jangan kamu jadikan anak yang ada dalam perut kamu itu, sebagai senjata untuk berbuat kejahatan sayang. Kasihan bayi tidak berdosa itu. " ucap Jimmy sedikit memohon pada Linda, dengan menggenggam kedua tangan Linda dan menatapnya lekat, penuh perhatian dan kehangatan.
" Stop.... mengenai bayi yang ada dalam kandunganku, tenang saja. Aku tidak akan memaksa kamu untuk bertanggung jawab. Biar ini menjadi urusan aku." timpal wanita berhati licik ini.
" Tolong Lin, renungkan semua perkataan ku. Aku akan menunggu kamu dan anak kita sampai kamu benar benar siap menghabiskan dan menjalani sisa hidup mu denganku." ucap Jimmy memohon dan bersimpuh memegangi perut Linda yang masih rata.
Jimmy akhirnya pulang ke apartemen dengan tangan kosong. Setiap kali ia berkunjung ke rumah Linda. Harapan terbesarnya adalah, agar wanita yang ia cintai itu mau membuka hatinya walau sedikit untuk dia. Ditambah kabar kehamilan Linda, semakin membuat Jimmy terus berupaya untuk mendapatkan kesempatan menjadi suami Linda.
Pria yang berprofesi sebagai Asisten pribadi sang papa itu, sudah lama menaruh hati pada Linda, putri sang majikan. Sikap keras kepala dan angkuh Linda yang ia kenal selama ini, membuat jiwa kelelakian Jimmy, tergugah untuk bisa merubah wanita yang ia cintai menjadi lebih baik lagi. Karenanya meski Linda bersikap dingin dan acuh, bahkan hanya menganggapnya sebagai pion dalam obsesi percintaannya pada Azzam. Jimmy tetap menerimanya dengan sabar. Pria yang berusia dua tahun lebih muda dari Linda itu terus berusaha membuat Linda untuk jatuh cinta kepadanya.
*******
BERSAMBUNG.....
__ADS_1