HIJAIYAH CINTA

HIJAIYAH CINTA
Persiapan Pernikahan Ustad Hanafi


__ADS_3

Sampai di pesantren, jam menunjukkan pukul setengah empat pagi. Hanafi masih diam didalam mobil. Meraih ponsel dan menekan nomor saudara sepupunya yaitu Azzam.


" dert dert dert...." bunyi getar ponsel Azzam yang tergeletak diatas laci.


Azzam yang baru saja selesai melaksanakan Qiyamullail, berdiri mengambil ponsel tersebut. Sementara Annisa terlihat lelap dalam tidurnya.


" Han." gumam Azzam


" Assalamu'alaikum iya Han hallo." sapa Azzam mengawali pembicaraan.


" Wa'alaikumussalam, maaf ganggu istirahat kamu bro. Bisa minta waktunya sebentar nggak?? ada hal penting yang mau aku bicarakan sama kamu dan abi, aku sambungin dengan Abi juga ya." ucap Han terdengar serius.


" Oke oke, Han kamu nggak sedang ada masalah kan?? kamu dimana?" tanya Azzam khawatir.


" Nggak enggak, aku baik-baik saja bro, cuma ada hal serius yang harus aku bicarakan sekarang juga, waktuku sedikit." timpal Han, suaranya semakin membuat Azzam khawatir.


Hanafi lalu mulai bercerita, bahkan panggilan suara mereka disambungkan juga ke Kyai Waffiq.


Sang Kyai yang sudah selesai sholat malam, juga mendengarkan cerita sang keponakan tercinta.


" Subhanallah nak..... abi turut senang mendengarnya Han. Percayalah nak, tidak ada hal sekecil apapun terjadi atas izin Allah. Begitupun dengan perjumpaan dan peristiwa yang kalian alami, bukan merupakan sebuah kebetulan saja. Itu semua adalah campur tangan Allah melalui skenario yang sudah dibuat, untuk mempertemukan kalian. Insya Allah kalian itu berjodoh." ucap Kyai Waffiq menasehati.


Tak ada kata yang keluar dari mulut Azzam, pemikirannya seolah sudah terwakilkan oleh apa yang telah disampaikan semua oleh sang abi.


" Aku pasti dukung semua keputusan kamu bro. Percayalah kami tidak akan meninggalkan kamu sendirian. Abi, umi, bulek dan juga aku, akan membuat pesta pernikahan yang meriah untuk kalian. Do'a kami semoga kalian nanti bahagia selalu, sama seperti ku." tukas Azzam menguatkan keputusan Hanafi.


" Terimakasih abi, Zam." ucap Han membalas.


Tak lama kemudian adzan subuh pun terdengar, yang dikumandangkan oleh santriwan.


Seusai sholat subuh, Kyai Waffiq membicarakan nya kepada umi Fatimah tentang kabar baik yang datang dari Hanafi.


Bahkan beberapa santriwan yang tanpa sengaja mendengar obrolan sang Kyai dan umi Fatimah, segera menyebar luaskan kabar bahagia tersebut kepada santriwan lainnya. Dalam sekejap berita pernikahan Ustadz Hanafi telah menyebar ke asrama putra.


Kediaman Azzam....

__ADS_1


" Yang, hari ini si Han akan menikah." tutur Azzam kepada sang istri.


Annisa yang baru selesai membaca Al-Qur'an pun tersedak dengan saliva nya.


" uhukkk..."


Azzam segera mengambil minum untuk Annisa, dan Nisa pun meminumnya.


" Alhamdulillah, kenapa Sinta nggak kasih kabar ke Nisa ya mas. Main sembunyi-sembunyi he he he." tukas Annisa terkekeh.


Azzam terdiam saat sang istri mengira wanita yang akan dinikahi sepupunya adalah sahabatnya.


"Papa Sinta menolak lamaran si Han, dan gadis yang akan dinikahi Han bernama Karen. Hari ini mereka akan melangsungkan pernikahan secara sederhana. Nanti pesta pernikahannya setelah semua berkas Han dan Karen dikirim ke kantor KUA." ujar Azzam bercerita.


" Apa?? om Himawan menolak kak Han?" suara Annisa kaget.


Azzam mengangguk mengiyakan tanya Annisa.


" Kasihan mereka ya mas, harus berpisah karena kehendak orang tua, padahal mereka saling mencintai." tukas Annisa terlihat bersedih.


" Apa bulek sudah tahu mas?" tanya Nisa


" Ayo kita kasih tahu bulek kabar bahagia ini. Nanti selebihnya biar si Han sendiri yang bercerita sama bulek." sahut Azzam kembali.


Pasangan suami istri ini segera menemui bulek Rohimah yang sedang memasak di dapur dan benar saja kehadiran mereka mengagetkan ibunda Hanafi.


" Eh pagi-pagi ada apa kok ke dapur barengan. Kepingin apa cah ayu, biar bulek buatin." celetuk bulek Rohimah.


" Tidak bulek, kita kesini cuma mau menyampaikan kabar baik buat bulek." jawab Azzam.


Wanita paruh baya yang tengah memotong sayuran itu pun berhenti, dan beralih duduk disebelah Azzam.


" Ada apa sih Zam?" tanya bulek Rohimah penasaran.


" Begini bulek, sebelumnya Azzam minta maaf mewakili Han. Dia tidak sempat kesini, tapi pasti sebentar lagi dia menuju kemari ." jawab Azzam balas menatap lekat wajah tua sang bulek.

__ADS_1


" Han kenapa Zam, dia ada masalah kah?" bulek Rohimah kembali bertanya.


" Tidak bulek Han baik-baik saja. Hari ini dia akan menikah, mohon restu bulek buat dia." ucap Azzam dengan serius.


" Masya Allah Han.... Alhamdulillah Yaa Allah, akhirnya anakku bertemu dengan jodohnya. Hiksss hikss." sahut bulek Rohimah dengan diselingi Isak tangisan.


" Iya bulek Alhamdulillah, semoga ini yang terbaik buat Han." timpal Azzam kembali.


Annisa memeluk ibunda ustadz Hanafi dan turut menangis haru bahagia.


Dan benar adanya, seusai sarapan pagi di kediaman Azzam, Hanafi pun datang berkunjung, menemui sang ibu.


Kedatangan Hanafi kali ini disambut bahagia oleh Azzam dan Annisa.


" Selamat ya bro, akhirnya paman nyusul kita juga ha ha ha." Goda Azzam meninju lengan sepupunya itu.


Hanafi pun segera memeluk sang ibu, keduanya sama-sama saling menumpahkan tangisnya. Pagi itu suasana rumah Azzam dan Annisa berubah haru bercampur tangis bahagia.


Hanafi bercerita tentang kejadian semalam yang ia alami, hingga sampai takdir yang membawanya bertemu dengan jodoh pilihan Allah.


Bulek Rohimah, wanita paruh baya yang sedang duduk disebelah sang putra itu, mengusap kepala Hanafi seraya mengucapkan do'a dan restunya.


" Do'a dan restu ibu selalu menyertaimu nak, semoga Allah persatu kan kalian dalam mahligai pernikahan yang sakinah mawadah warahmah." ucap sang ibunda ustadz Hanafi.


Hari mulai menjelang siang, Azzam menelfon kepala toko yang menjaga butiknya, untuk mengirimkan setelan Kurta warna keemasan secepatnya.


Bahkan Masjid di pesantren pagi itu tampak dihias oleh para santriwan menjadi sebuah tempat istimewa untuk acara ijab qobul Hanafi dan Karen.


Sementara di rumah Karen, gadis itu hanya ditemani oleh istri mang Udin yang menunggunya dirias oleh perias pengantin.


Secara khusus, Azzam juga mengirimkan pakaian pengantin untuk Karen, yang mendadak ia pesan dari teman nya.


Seluruh anggota keluarga Kyai Waffiq benar-benar memeriahkan persiapan acara prosesi akad nikah ustadz Hanafi.dan gadis yang bernama Karenina Nafisah. Semua dipersiapkan secara dadakan namun sama sekali tak mengurangi kemeriahannya.


******

__ADS_1


BERSAMBUNG.....


__ADS_2