
Sore hari.....
" Tok tok tok...." suara ketukan pintu dari luar.
Azzam yang baru saja selesai membaca Al-Qur'an, berjalan membuka pintu.
" Ceklek..." pintu terbuka.
" Assalamu'alaikum, selamat sore mas, maaf mengganggu waktunya sebentar." ucap pak Mansyur yang berdiri di depan pintu.
" Iya pak ada apa?" balas Azzam.
" Anu mas, emmmm.... adik saya Toni sudah datang, dia menunggu mas Azzam di depan." ujar pak Mansyur.
" Oh bagus lah pak, mari kita kesana !!"
Keduanya berjalan menuju pos depan. Disana tampak berdiri seorang pria bertubuh tegap, yang usianya hanya terpaut beberapa tahun saja dengan pak Mansyur.
" Selamat sore pak Toni, perkenalkan saya Azzam." tukas Azzam, mengulurkan tangannya kepada adik pak Mansyur.
" Senang bisa bertemu langsung dengan mas Azzam, saya Toni mas adik pak Mansyur." balas Toni menerima uluran tangan Azzam.
" Semoga betah bekerja disini ya pak, sebentar saya permisi dulu kedalam." pamit Azzam berjalan masuk ke rumah.
Tak lama kemudian, Azzam kembali dengan membawa sebuah seragam yang masih baru, yang pernah dibelinya beberapa waktu lalu, saat mempunyai rencana memperkerjakan satpam.
" Terimakasih mas, saya akan bekerja dengan sungguh sungguh." timpal Toni, menerima seragam pemberian majikan barunya dengan wajah berbinar.
Azzam kembali masuk ke dalam, karena sebentar lagi adzan Maghrib berkumandang. Dan mulai saat itu, kakak beradik itu bertugas menjaga keamanan rumah Azzam.
******
Seusai melaksanakan sholat Maghrib, saat membaca Al-Qur'an, tiba-tiba perut Annisa berbunyi. " kruuuk...kruuuk."
Azzam yang ada disamping Nisa tersenyum, mendengar bunyi perut sang istri.
" Sayang lapar" tanya Azzam mengusap kepala sang istri. Nisa pun mengangguk malu-malu.
__ADS_1
" Sudah berhenti dulu ngajinya yang, mau pesan makanan atau mas masakin?" tanya Azzam kembali.
Wanita yang tengah berbadan dua itu menatap sang suami tercinta dengan tatapan manja.
" Mas nggak marah, akhir - akhir ini Nisa nggak pernah memasak ?" tanya Nisa.
Azzam tersenyum menatap istri tercintanya,
" Sayang, untuk apa mas harus marah. Sayang dan anak kita baik - baik saja itu sudah lebih dari cukup. Lagian soal memasak, mulai besok sudah ada bulek Rohimah yang akan menemani sayang dirumah. Beliau ibunya si Han." jawab Azzam
Azzam beranjak ke dapur, memasak sesuatu untuk Annisa. Sembari menunggu makanan yang mereka pesan datang.
" Sayang adanya mi instan saja, itu nggak bagus buat bumil. Minum susu dulu ya yang, sebentar lagi makanan juga datang." ucap Azzam.
Nisa mengangguk dan duduk dimeja makan, menunggu susu buatan suaminya dibuat.
Kehamilan Annisa berbeda dengan wanita hamil pada umumnya, sebab kebetulan sekali, semenjak awal kehamilan. Nisa tidak merasakan yang namanya morning sickness.
Yang dirasakan hanyalah rasa lapar terusan, bahkan berat badan Annisa mulai mengalami kenaikan.
Setelah susu buatan sang suami jadi, Nisa meminumnya tanpa bersisa.
Setelah dirasa sedikit terisi perutnya, keduanya kembali ke ruang tengah. Menonton televisi, sembari sesekali Azzam menggoda Annisa.
" Sayang mas boleh ngomong sesuatu nggak?" tanya Azzam ragu, takut membuat Nisa sedih.
Azzam berusaha mengambil hati Annisa dengan memijit kakinya.
" Ngomong saja mas !!" sahut Nisa, menikmati pijatan sang suami.
" Lusa mas ditugaskan untuk mewakili kampus, mengikuti seminar. Mungkin sekitar tiga harian yang." ucap Azzam.
Seketika aura wajah Annisa yang tadinya ceria berubah sedih.
" Hikssss.... kalau mas nggak ada Nisa bobo sama siapa? terus yang mijitin siapa? kalau pingin peluk atau disuapin ke siapa huuuuuuaaaa....." suara wanita yang tengah rebahan ini berubah sensitif, dan memasang wajah cemberut.
Azzam menggaruk kepalanya, merasa bingung jika sudah dihadapkan dengan situasi seperti ini.
__ADS_1
" Cup cup cup..... sayang jangan nangis dong. Kan perginya cuma sebentar, kan sayang bisa pilih tinggal di pesantren, atau sama mama. Mas janji akan telfon setiap waktu deh." bujuk Azzam, merayu sang istri yang sudah memasang mode juteknya.
" Nggak ma u. Aku maunya sama mas saja. Nggak mau yang lain ti tik." sahut Nisa, masih memanyunkan bibirnya.
" Apa sayang mau ikut?? bukannya mas nggak mau sayang untuk ikut, kondisi kehamilan sayang kan masih sangat rentan, apalagi disana mas bakal seharian seminarnya, nggak tega juga kan ninggalin sendirian." masih membujuk.
Yang dirayu memalingkan wajahnya tak bergeming, seraya mulai terisak. Hati Azzam semakin tidak tega untuk meninggalkan Annisa dalam keadaan seperti ini. Andai bukan rektor langsung yang menugaskannya, mungkin Azzam akan menolak tugas ini.
" Ya Allah kok begini amat ya wanita jika sedang hamil, perasaannya sangat sensitif. Ampuni hamba yang telah membuat istri hamba menangis ya Allah." gumam Azzam penuh penyesalan.
Hal yang paling ditakuti bagi Azzam sepanjang hidupnya adalah, membuat hati wanita terluka apalagi sampai menangis. Bahkan ini menyangkut orang yang dia sayangi. Hatinya benar benar bimbang saat itu. Tidak tega melihat Annisa bersedih.
Tak lama berselang, Annisa masih ngambek. Pak Mansyur mengetuk pintu dan menyerahkan pesanan makanan yang baru saja diantar oleh delivery.
" Yang dua untuk pak Mansyur dan pak Toni." ujar Azzam, mengambil bungkusan kresek dari pak Mansyur.
" Terimakasih mas Azzam." jawab pak Mansyur, lalu meninggalkan Azzam.
" Sayang makan dulu yuk, kasihan dede sudah lapar daritadi. Biar sayang nggak sakit. Makan ya yang." Azzam memohon kepada Annisa sembari duduk berjongkok, mengusap kepala Nisa dengan penuh kasih sayang.
" Berhenti nangis yang, mas nggak tega lihat sayang nangis. Makan dulu yuk." bujuk Azzam kekeh.
Dipeluknya tubuh Nisa yang membelakangi Azzam tersebut, dari belakang. Berusaha merayu dan meminta maaf.
Merasa tidak tega melihat usaha sang suami yang begitu memohon dengan penuh harap. Akhirnya Annisa pun membalikkan tubuhnya. Membalas memeluk Azzam, menangis sesenggukan dalam pelukan pria yang sedang berjongkok di hadapannya.
Azzam mengusap punggung Nisa dengan penuh kasih sayang, lalu dirangkupnya wajah Nisa dengan kedua tangannya. Diusap air mata yang masih basah itu. Kecupan kecil pun mendarat di kening serta bibir Nisa.
" Maafin mas ya sayang. Besok mas akan berusaha menemui rektor, dan meminta untuk diganti." ucap Azzam lembut.
Nisa menggeleng kan kepalanya, " nggak usah mas, mas berangkat saja. Tapi besok Nisa mau mas menemani Nisa seharian dirumah." rengek Nisa dengan nada manjanya.
Mendengar ucapan istrinya, Azzam merasa lega dan bahagia.
" Baik sayang, besok mas janji akan menemani dan menuruti apapun keinginan sayang, tapi bukan hal yang membuat sayang capek tentunya." tutur Azzam, tersenyum bahagia.
Keduanya sama-sama tertawa kecil, lalu beranjak ke meja makan. Malam itu mereka makan malam berdua. Azzam menyuapi Nisa hingga habis, dengan lahapnya.
__ADS_1
******
BERSAMBUNG.....