
Sepulang dari perusahaan, Hanafi membawa Karen ke pesantren. Han mengajak sang istri untuk berpamit kepada sang abi, yaitu Kyai Waffiq dan umi Fatimah, begitu juga dengan sang ibunda tercinta.
flashback on....
" Mas Han, aku boleh meminta sesuatu tidak?" tanya Karen, di sepanjang perjalanan pulang dari perusahaan dengan tatapan ragu.
Han yang sibuk mengendarai mobil pun, menoleh ke arah wanita yang tengah berbicara disampingnya.
" Iya tentu saja boleh lah, katakan saja jangan ragu begitu !" jawab Han santai.
" Mau kah mas Han tinggal bersama di rumah ku ?Jika perlu ajak juga ibu." tukas Karen masih menatap Hanafi.
" Baik lah jika itu kemauan kamu, sekali lagi aku tanya padamu. Apa kamu benar tidak malu dengan profesi aku, yang sama sekali tidak sepadan dengan mu?" tanya Han memastikan hatinya kembali.
Karen menatap lembut wajah Hanafi, dan menggenggam tangan pria disampingnya yang sedang mengemudi.
" Mas Han, bukan kah semalam sudah jelas kita katakan bersama, bahwa aku menikahi mas Han karena Allah, begitu pun juga dengan mas Han. Aku terima segala kekurangan dan kelebihan yang ada pada diri kamu mas, aku mohon jangan selalu merasa rendah, sebab kodratnya aku tetaplah seorang istri yang wajib berbakti kepada suami, meski aku adalah pemilik perusahaan saat ini. Harta itu hanya titipan mas." timpal Karen menyiratkan sebuah senyum tulus kepada Han.
Seketika Hanafi menepikan mobil ke jalanan yang lebih sepi, Han pun mendaratkan sebuah kecupan di kening Karen.
" Terimakasih Karen, sudah menerimaku apa adanya, mulai saat ini kita akan melewati setiap momen bersama-sama, baik susah maupun senang." ujar Hanafi saat memeluk tubuh Karen.
Dan keduanya pun melanjutkan perjalanan menuju pesantren.
__ADS_1
flashback off.....
Hanafi membuka pintu untuk Karen, karena pakaian yang di kenakan Karen sedikit membuatnya terganggu dalam berjalan, maka dengan lembut Hanafi menuntun Karen, berjalan memasuki kediaman sang Kyai.
Sisa - sisa kemeriahan acara ijab qobul yang tadi di gelar, masih ada. Beberapa santriwan yang tengah beberes membersihkan ruangan itu, menatap ke arah sang ustadz yang begitu romantis memperlakukan istrinya.
" Wahhhh.... ustadz Hanafi romantis juga ya." celetuk salah seorang santriwan.
Merasa di perhatikan oleh santriwan asuhannya, Han pun tersenyum ke arah mereka dan melambaikan tangan. Beberapa santriwan yang ada pun terkekeh bersama seraya bersiul.
" Disini semuanya ramah ya mas, sebenarnya aku ingin sekali merasakan tinggal di pesantren sejak dulu, namun papa tidak mengizinkan." tutur Karen bercerita seraya berjalan dalam gandeng Han.
" Alhamdulillah, orang disini ramah dan baik semua. Baiklah, suatu saat aku akan mengajak mu tinggal disini selama beberapa hari." sahut Han menimpali.
" Assalamu'alaikum." ucap Han dan Karen bersamaan saat berdiri di depan pintu kediaman sang Kyai.
Karen dan Han bersalaman, umi Fatimah keluar menyapa pasangan pengantin baru ini. Begitupun dengan Azzam dan Annisa, saat mendengar suara Han, mereka segera keluar, bulek Rohimah pun juga turut keluar menyambut kedatangan kembali sang putra dan menantu.
Satu persatu saling bersalaman silih berganti, Hanafi dan Karen duduk bersebelahan, semua keluarga pun berkumpul.
" Begini Abi, umi, ibu, sekarang kami sudah resmi menikah dimata agama, lusa kami akan menikah di depan kantor agama, maksud Han ingin berpamit meminta izin untuk tinggal bersama istri Han, dia meminta agar Han tinggal bersamanya. " ucap Hanafi dengan wajah serius.
" Iya nak Han, abi tidak pernah melarang kamu akan tinggal dimanapun, asalkan kalian berdua rukun dan bahagia itu saja sudah cukup bagi Abi dan juga ibu mu, iya kan Rohimah?" tutur Kyai Waffiq, berbalik menatap Rohimah.
__ADS_1
" Iya Han, nak Karen, apa pun yang menurut kalian terbaik, maka do'a kami selalu menyertai kalian. Lantas mengenai pesta pernikahan kalian berdua kapan dilaksanakan?" tanya Rohimah sang ibunda Han.
Karen dan Han saling bertatapan saat mendapat pertanyaan dari sang ibu.
" Maaf ibu, untuk saat ini papa Karen sedang terbaring di rumah sakit, jadi alangkah tidak etis nya jika kami menggelar acara pesta, dibalik musibah. Sudah resmi Dimata hukum dan agama itu sudah sangat berarti bagi kami, lagi pula acara akad nikah yang di gelar tadi pagi, sudah sangat meriah menurut kami, jadi terimakasih banyak atas semua yang sudah kalian persembahkan kepada kami, semoga Allah membalas kebaikan kalian semua." jawab Han dengan mata berkaca-kaca, seolah mewakili kebahagiaannya saat itu.
Bertemu dengan Karen sungguh membuka mata seorang Hanafi, bahwasannya penolakan yang dilakukan oleh tuan Himawan, ternyata tersimpan sebuah anugerah yang sungguh luar biasa. Ia menemukan sebongkah berlian yang jarang di temukan di zaman sekarang ini.
Tiba-tiba wanita paruh baya yang duduk disamping sang putra, bersuara kembali.
" Jika ibu boleh meminta, bersedia lah untuk menggelar pesta pernikahan kalian Han, sebab itu sudah menjadi amanah dari almarhum ayah kamu, bahkan sebelum ayah kamu meninggal, beliau sudah menitipkan tabungannya untuk kelak kamu menikah kepada abi Waffiq." imbuh Rohimah.
Karen menatap lekat, kedalam netra sang ibu mertua, terlihat terdapat sebuah pengharapan yang besar didalamnya. Karen mendekati Rohimah dan menggenggam kedua tangan wanita paruh baya disampingnya.
" Iya ibu, jika itu sudah menjadi wasiat dari almarhum ayah, maka ibu laksanakan saja, kami pasti bersedia dengan senang hati. Lagi pula jika papa bisa berbicara, beliau pun pasti akan memaksa kami untuk melakukannya." sahut Karen.
Rohimah memeluk gadis cantik yang kini merupakan menantunya itu sambil menangis bahagia.
" Terimakasih nak." ucap Rohimah mengusap pucuk kepala Karen seraya mengecup kening Karen.
Tak berapa lama kemudian, seluruh keluarga berunding membahas pelaksanaan pesta pernikahan Hanafi dan Karen.
Melihat istri sang sepupu dari suaminya yang masih mengenakan pakaian pengantin, maka Annisa pun membawa Karen masuk ke dalam, memberikan pakaian ganti untuk Karen. Sebuah gaun muslimah miliknya yang sengaja Nisa tinggalkan di rumah sang ibu mertua.
__ADS_1
******
BERSBUNG....