
" Sialan, kenapa juga polisi harus memanggilku. Apa jangan jangan, mereka mulai curiga. Ah tidak tidak, mana mungkin. Ayo Han stop jangan paranoid gitu, orang itu kan sudah menghilang, jadi rahasia kamu aman." Gerutu Handoko sembari berlalu lalang, di ruangannya. Setelah menerima surat panggilan dari kepolisian.
" Seharusnya andalah yang harus mendekam dipenjara tuan, bukan pak Amir." gumam Jimmy sembari menatap Handoko.
" Sekarang katakan apa ide kamu Jim?" Handoko mulai panik.
" Tuan hadiri saja panggilan esok hari, mungkin dengan begitu tidak akan menimbulkan kecurigaan polisi." sahut Jimmy
Handoko pun semakin terlihat gusar malam itu, sebab ia memiliki firasat, jika semuanya akan terbongkar .
Pagi menjelang.....
Jam sepuluh pagi Handoko tengah bersiap menuju kantor polisi, dengan diantar oleh Jimmy.
" Tumben papa masih dirumah, papa nggak ke perusahaan?" tanya Linda yang hendak berangkat ke kampus.
" Iya sayang, kebetulan hari ini sedang tidak ada meeting, jadi bebas. " jawab Handoko.
Wanita yang tengah berbadan dua itu, hanya melirik Jimmy tanpa menyapanya. Sementara Jimmy terlihat begitu senang, bisa bertemu langsung dengan wanita pujaan hatinya, sekaligus ibu dari benihnya.
Tatapan yang di sorotkan oleh Jimmy adalah tatapan seorang pria yang merindukan kekasihnya, sedang Linda menatap sinis.
" Oh begitu, oke Linda berangkat dulu pa." pamit gadis bertubuh ramping itu, seraya mencium pipi sang papa.
Sesaat kemudian mobil sport warna merah pun, melesat secepat kilat, menuju kampus. Jimmy hanya bisa menatap kepergian sang kekasih.
" Aku harus segera membuat dosen brengsek itu untuk segera menikahi putriku, bagaimanapun dia harus mempertanggung jawabkan perbuatannya kepada Linda. Mau tidak mau, dosen itu harus menceraikan istrinya dan menikahi putriku." ucap Handoko kepada Jimmy.
Pria muda berwajah tampan, yang sedang duduk dihadapan Handoko itu kaget, bahkan pemuda ini tersedak dengan saliva nya sendiri.
" Uhukkk...uhukkk." suara batuk Jimmy yang tersedak Saliva.
" Ada apa dengan mu, kenapa kaget begitu?" tanya Handoko menyelidik.
__ADS_1
" Tidak tuan, hanya tersedak saja. Maaf kalau boleh tahu, yang tuan maksud itu siapa?" Jimmy balik bertanya.
" Menantu dari Amir, dia yang telah membuat putriku hamil, dan tidak sudi untuk menikahinya." jawab Handoko.
Jederrr.... bagai disambar petir Jimmy kala itu, Darah daging yang ada dalam rahim Linda, wanita yang sangat dicintainya, dikatakan sebagai anak pria lain. Ada sebuah kemarahan besar yang mulai timbul dalam hati Jimmy.
" Bisa bisanya kamu sejahat itu sayang, bahkan buah cinta kita saja, kau bilang anak pria yang kamu sukai." gumam Jimmy penuh amarah.
" Kenapa kamu bengong seperti itu Jim?? apa kamu kenal dengan yang namanya dosen Azzam itu?" lagi lagi, Handoko mengagetkan lamunan Jimmy.
" Ti tidak tuan, maaf saya baru pertama kali mendengar namanya." jawab Jimmy terbata.
Tak lama kemudian, Handoko berseru mengajak Jimmy untuk segera menyalakan mobil, dan berangkat.
****"
Di kantor polisi, Amir sudah terlihat rapi, pak Ahmad mengirim pakaian ganti kepadanya setiap hari.
" Tuan Amir, untuk hari ini anda dipersilahkan meninggalkan ruangan ini. Jika ada pertanyaan lagi, kami akan segera memanggil anda, silahkan tuan beristirahat di ruangan anda." seru petugas penyidik.
Amir menyapa Handoko dengan sopan, bahkan mengulurkan tangan dan menyapanya. Namun tidak dijawab malah diabaikan oleh Handoko, dengan ketus.
Jimmy yang menyaksikan hal itu, semakin kesal dibuatnya. Bagaimana mungkin majikannya bisa sejahat itu. Gumamnya.
Satu persatu pertanyaan Mulai dilontarkan oleh tim penyelidik kepada Handoko.
Pria satu anak itu terlihat sedikit gugup dalam menjawab pertanyaan pertanyaan dari tim penyelidik.
" Kenapa saya harus dipanggil, dan dilibatkan dengan kasus tuan Amir?" tanya Handoko yang mulai terpancing emosi.
" Tenang tuan, kami hanya butuh beberapa kesaksian dari anda. Sebab anda adalah penerus pengembang proyek Zenpi sekarang. Jadi perlu keterangan serta jawaban tuan." ujar petugas penyelidik meyakinkan.
Keringat dingin mulai menyapa kening Handoko. Bahkan sapu tangan yang kering itu seketika berubah basah oleh keringat.
__ADS_1
Farid yang sedang mengamati tingkah Handoko, tersenyum sinis.
" Ini baru permulaan, ayo mengakulah sebelum aku mendapatkan bukti yang memberatkan mu lebih banyak lagi." gumam Farid
" Menurut informasi yang kami peroleh, saya dengar ada yang sengaja melakukan penukaran material dalam proyek Zenpi sebelumnya. Berarti proyek yang dikerjakan tuan Amir saat itu, memang benar ada seseorang yang telah mensabotase." ujar sang penyelidik.
Betapa kaget Handoko mendengar ucapan sang petugas penyelidik tersebut, seketika pandangannya terasa kabur dan buram.
" Darimana anda tahu?? saya kan penerus proyeknya pak, bukan pemegang sebelumnya. Dan kecelakaan terjadi, sewaktu beliau yang menangani proyek Zenpi sebelum saya." pungkas Handoko membela diri.
" Iya saya tahu, kami hanya bertanya, bukan menuduh atau menyudutkan tuan. Tolong anda jawab saja. Tidak usah takut." sahut tim penyelidik.
Pertanyaan yang dilontarkan petugas penyelidik, semakin membuat Handoko kelabakan.
Jimmy yang duduk tak jauh dari sang majikan itu, hanya bisa diam menunggu jalannya penyelidikan berlangsung.
" Tuan Handoko, saya ulangi sekali lagi. Apakah anda terlibat dalam sabotase proyek Zenpi?" tanya petugas.
" Ti tidak bu bukan saya." jawaban yang terlontar dari mulut Handoko mulai terbata- bata.
" Apa anda mengetahui sabotase yang dilakukan orang itu ?? dan atas dasar apa motif mereka dengan tuan Amir. " suara petugas penyelidik, mulai terdengar seram. Bahkan meja dihadapan Handoko pun berkali kali di dobrak petugas.
" Ti tidak sa saya ti tidak tahu menahu sama sekali.." jawab Handoko.
Pertanyaan pun terus bertubi-tubi di lontarkan. Jawabannya tetap sama, Kalimat tidak yang selalu terbata.
Hal itu semakin membuat pihak tim penyelidik semakin curiga, atas keterlibatan Handoko dengan kasus yang menimpa Amir Syah Alam.
Beberapa saat , diwaktu bersamaan. Handoko dan Amir dipersatukan, dalam menjawab proses penyelidikan. Agar polisi bisa dengan mudah melihat reaksi dari keduanya itu.
*****
BERSAMBUNG
__ADS_1