HIJAIYAH CINTA

HIJAIYAH CINTA
Linda Mengintai


__ADS_3

"Aaaaaargh..... bedebah kalian, brengsek. Aku akan buat perhitungan kepada semuanya nanti. Papa huuuu.... Linda janji bakal balesin ke mereka apa yang sudah mereka lakuin ke papa hiksss." Rancau Linda bak orang kesurupan, membanting semua barang yang ada dikamar nya.


Jimmy sudah pindah kerja, dan saat ini ia merintis usaha sendiri dari nol, membuka usaha percetakan. Profesi yang lama ia impikan. Melupakan cintanya terhadap Linda, meski sesekali pria ini berkunjung dan melihat Linda dari kejauhan. Hanya untuk mengobati rasa kerinduannya terhadap ibu dari darah dagingnya.


Usia kehamilan Linda kini menginjak empat bulan. Namun wanita ini masih tetap mengajar walau banyak cemoohan dan cibiran yang ia tuai, dari para rekannya yang selama ini dekat dengannya, semata hanya demi uang.


****


" Sayang aku pergi dulu ya, ingat jangan buka pintu kalau bukan mama atau umi yang datang, jika ada tamu lihat saja dari layar yang ada dikamar, kalau itu orang yang tidak dikenal, sebaiknya segera telfon mas." ucap Azzam berpamit, seusai sarapan pagi.


" Iya mas, hati hati ya. Oh ya hari ini aku pingin makan di restauran yang waktu itu sama mas Azzam, boleh ya." pungkas Annisa bergelayut manja, merengek meminta makan diluar.


Azzam berjongkok dibawah Annisa, dan kini sejajar dengan perut rata yang masih belum terlihat tersebut.


" Anak abi yang manis, diam dirumah tunggu sampai abi pulang ya. Sabar sebentar, nanti Abi temani bunda, kita jalan jalan bersama." ucap Azzam sembari mengecup perut Annisa dan mengusapnya lembut.


" Abi mah gitu hiksss, bunda maunya sebentar lagi." rengek Annisa.


Azzam tersenyum, dan berdiri lalu merangkul sang istri yang tengah cemberut.


" Bunda sayang dede nggak?? lebih memilih makan disana sendirian tapi berbahaya atau nunggu abi sebentar." balas Azzam menghibur Annisa.


Nisa terdiam dan ngambek, karena keinginannya tidak bisa terlaksana. Namun sejenak ia berfikir ulang, ada benarnya juga ucapan suaminya itu. Selama ini mereka menanti kehadiran buah hati, apa iya akan mengorbankan keselamatan sang calon jabang bayi yang ada didalam perutnya untuk kesenangan yang masih bisa ditunda sementara waktu.


" Maafin mas ya sayang, ini semua aku lakukan demi keselamatan kalian. Apa sayang mau mas pakai jasa bodyguard om Dirga kah??" tanya Azzam berusaha menghibur hati Annisa yang sedang ngambek.


" Nggak usah."


" Idih kok ketus gitu sayang, ntar Dede yang ada didalam perut bunda nggak manis lagi loh." ledek Azzam, menoel pipi Annisa.

__ADS_1


" Biarin." jawab Nisa berlalu hendak duduk diteras depan rumah.


" Eh bunda nya Dede mau kemana?? niqabnya mana, masa mau keluar rumah begitu. Ntar wajah cantiknya dilihat orang gimana?" tukas Azzam, menghentikan langkah Annisa.


Azzam menggandeng lembut tangan Annisa, membawanya masuk kedalam kamar. mengenakan niqab, ke wajah cantik Annisa.


" Nah begini baru boleh keluar bunda sayang, emmmuach." hibur Azzam, mendaratkan ciuman di kening Annisa.


" Gendong..." rengek Annisa, kembali bermanja.


" Baik ibu negara, laksanakan he he he." tukas Azzam menggendong tubuh sang istri berjalan menuju teras.


Pagi itu, keromantisan kembali terjadi antara Azzam dan Annisa. Semenjak kehamilan Nisa, Azzam menjadi super super perhatian dan selalu meluangkan waktu lebih, untuk menjaga dan menemani sang istri.


" Puas puasin kalian tertawa. Sebentar lagi kebahagiaan dan tawa kalian akan berubah menjadi tangisan pilu yang akan selalu kalian ingat sepanjang waktu." gumam seseorang yang sedang mengamati pasangan romantis itu dari kejauhan.


" Itu mobil siapa, perasaan daritadi terus diam disitu. Seperti ada orang yang mengawasi rumahku." gumam Azzam, saat menghidupkan mesin mobilnya.


Azzam masih duduk sembari mengawasi orang tersebut. Diamati dengan seksama, dan sejurus, Azzam melihat jika orang itu tak lain adalah Linda. Saat kaca mobil Linda perlahan terbuka, sementara kaca mobil Azzam tertutup.


" Rupanya wanita itu benar benar sinting. Aku harus menghubungi om Dirga agar mengirimkan anak buahnya untuk berjaga disini." gumam Azzam Kembali.


Setelah dirasa hangat mesin mobilnya, Azzam kembali ke teras.


" Sayang sepertinya angin pagi ini terlalu dingin, ayo kita masuk, sebelum sayang nanti masuk angin." ucap Azzam sedikit berbohong, menuntun Annisa masuk ke dalam.


" Angin nya segar loh mas, buat ku tenang dan nyaman." jawab Nisa namun menuruti perintah Azzam masuk kedalam, namun menyisakan tanya.


" Sudah mas bilang masuk ya masuk sayang, oh ya duduklah disini, aku mau menghubungi teman sebentar." ucap Azzam, berlalu ke kamar mengambil ponsel di atas laci, dan meninggalkan Nisa di ruang tengah, berbaring di sofa.

__ADS_1


" Hallo, Assalamu'alaikum, selamat pagi om, maaf mengganggu waktu om sebentar." ucap Azzam mengawali percakapan di telepon, dengan Dirga.


" Wa'alaikumussalam, iya pagi juga Zam, ada apa Zam?" tanya Dirga.


" Om barusan Zam lihat ada mobil yang terusan terparkir tidak jauh dari rumah Zam, dan setelah saya amati ternyata wanita itu om. Kalau boleh apa bisa om kirim satu anak buah om untuk berjaga." ujar Azzam bercerita tentang apa yang dilihatnya barusan.


" Oh begitu, iya bisa Zam. Bentar om hubungi anak buah om, kamu tunggu disana ya !!" jawab Dirga lalu mengakhiri panggilan telepon Azzam.


" Ada apa mas? sepertinya mas Azzam khawatir gitu." tanya Annisa saat melihat sang suami mondar-mandir dan gelisah.


" Nggak papa yang, hari ini mas izin dulu nggak masuk ngajar. Sebentar lagi kita jalan jalan, katanya mau makan di restauran itu." jawab Azzam menutupi kekhawatirannya dari Annisa.


Wanita itupun bersorak gembira, saat mendengar sang suami tidak jadi mengajar.


" Benar kah mas, kita akan keluar berdua kan?" tanya Annisa kembali, sembari bermanja menuntun Azzam agar duduk di sofa juga.


" Benar dong, buat apa juga mas bohong, kan demi kebahagiaan si dede juga bunda." timpal Azzam bercanda.


Aura wajah bumil yang tadinya memasang wajah manyun terus itu, seketika berubah menjadi sumringah.


Azzam yang mengamati perubahan wajah sang istri, turut tersenyum melihatnya. Demi kebahagiaan wanita yang sebentar lagi akan melahirkan buah cinta nya, Azzam akan melakukan apa saja.


Tak lama beberapa saat kemudian, mobil Devi datang. Kali ini giliran dia berjaga menemani sang putri, saat menantunya pergi mengajar.


Kedatangan Devi juga semakin membuat kebahagiaan Annisa terasa lebih lengkap. Pagi itu Annisa benar benar terlihat bahagia.


******


BERSAMBUNG.....

__ADS_1


__ADS_2