HIJAIYAH CINTA

HIJAIYAH CINTA
Keusilan dan Kemanjaan Annisa


__ADS_3

Setelah mengantar kedua orangtuanya kembali ke rumah, Azzam beserta Nisa langsung pamit kembali ke rumah. Sebab meskipun hari itu adalah hari Minggu, namun tugas kampus menanti keduanya.


Flashback on....


Selepas pasca insiden yang ia rencanakan dan hampir menimpa Annisa, Rangga telah banyak berubah menjadi pribadi yang lebih pendiam dan mulai mendekatkan dirinya pada Allah.


Dan malam itu sebuah keinginan besar yang tiap hari makin mengusiknya, Rangga dengan segenap keberanian mengutarakan maksudnya tersebut kepada sang papa saat makan malam.


" Pa boleh kah Rangga berhenti kuliah?" tanya Rangga menatap netra sang papa penuh harap.


" Jika berhenti kuliah lantas mau jadi apa kamu Rangga. Kuliah saja masih belum bener. Mau jadi pengangguran?" hardik Adijaya setengah geram.


" Bukan seperti itu maksud Rangga pa, Rangga ingin memperdalam agama lebih dalam. Rangga ingin pindah ke Kairo, melanjutkan S2 disana." ujar Rangga.


Sesaat pria paruh baya yang sudah lama menduda karena istrinya meninggal itu pun terdiam, berfikir mengenai keinginan sang putra semata wayang.


" Baik lah jika itu mau kamu, besok biar asisten papa yang mengatur semuanya. Jika ini sudah menjadi pilihan kamu, maka berseriuslah." ucap Adijaya penuh wibawa menegaskan pada sang putra.


Dan setelah membuat kesepakatan tersebut, maka Rangga pun bersungguh-sungguh untuk menimba ilmu di Kairo.


Flashback off...


" Mas bantuin dong ngerjain tugas kampus." rengek Annisa bergelayut manja dipangkuan Azzam yang sedang memeriksa laporan tugas dari muridnya.


" Sayang, mana boleh seperti itu. Ya kerjakan lah sendiri, mas kan dosen sayang, masa iya ngerjain tugas muridnya." timpal Azzam menolak.


Nisa memanyunkan bibir mungilnya menempelkan kepala ke pundak Azzam, " Mas ini kan di rumah bukan di kampus. Kalau di kampus iya mas Azzam dosen Nisa, lah kita kan lagi di rumah berarti kan sebagai suami Nisa dong." protes Nisa makin berlaku manja.


Membuat Azzam berkali-kali menarik nafas panjang, saat menghadapi sikap manja sang istri. Bisa membangunkan singa jantan yang sedang terlelap.

__ADS_1


Azzam pun meletakkan laptop yang tadinya ada di pangkuannya. Menatap dan membalas sikap manja Annisa, karena jika tidak ditanggapi bisa runyam. Alamat ngambek dan cemberut, bahkan dicuekin di atas ranjang, dan hal itu sungguh sangat tidak Azzam harapkan.


" Duh sayang, kenapa memasang mode on disaat seperti ini sih. Tugas mas banyak banget. Sayang juga lagi banyak tugas kan. Kerjakan ya, nanti mas temani." tukas Azzam berbisik, sembari mengalungkan kedua tangannya ke leher Annisa.


Sebuah kecupan dari Azzam pun mendarat di bibir Annisa. " Nisa pusing sama tugas dari dosen satu itu mas, menjengkelkan. Mas yang kerjain ya, mas Azzam sayang baik banget deh." rayu Annisa makin bermanja diatas pangkuan Azzam.


Azzam makin gelagapan dibuatnya, menghadapi tingkah manja sang istri yang seolah memberi signal tidak ada penolakan. Maka dengan rela Azzam pun meladeni sikap Annisa.


Siang itu Azzam menggendong tubuh Annisa menuju kamar mandi. Dari dalam sana Azzam memulai aktifitas olahraga siangnya.


Annisa pun diam pasrah menuruti sikap Azzam siang itu. Keduanya mandi bersama dan melakukan pemanasan di dalam sana. Setelah sama sama merasa hendak mencapai puncak kenikmatan, Azzam kembali membawa Nisa di atas ranjang.


Keduanya saling bercumbu dan berpagutan, bahkan tak jarang kali ini Annisa lebih agresif dari sebelumnya. Azzam pun tersenyum melihat kelihaian sang istri yang semakin pandai memimpin pertarungan.


Di siang yang terik itu kedua insan ini tengah memadu kasih, cuaca yang terik di luar seolah menambah hasrat keduanya makin bergejolak. Walau semalam mereka telah melakukannya di kediaman orang tua Azzam, namun tak menyurutkan bagi pasangan ini untuk kembali bercinta penuh hasrat yang bergelora.


Keduanya mulai banjir oleh keringat yang semakin menambah gairah di siang itu. Saat pusaka Azzam tepat mengenai sasaran, maka erangan manja pun keluar dari bibir Nisa .


Dan keduanya pun terkulai lemas, bermandikan keringat. Olahraga siang saat itu seolah memberi warna tersendiri bagi pasangan ini. Memadu kasih untuk yang ke sekian kali.


*****


Kairo.....


Setelah menempuh perjalanan selama beberapa jam, pesawat jurusan Kairo akhirnya landing dengan sempurna. Satu persatu penumpang mulai menuruni anak tangga pesawat.


Safa tampak menyeret koper warna cokelat miliknya, sementara Rangga juga berjalan dibelakang Safa, sama sama menyeret koper.


Setelah sampai di pintu utama keluar, Safa memanggil taksi. " Maaf mbak, kalau boleh saya ikut menumpang bisa. Masalah ongkos taksinya biar saya saja yang bayar." tukas Rangga menghadang Safa.

__ADS_1


" Panggil saja Sa atau Safa kak, boleh kak silahkan. Kakak kan orang baru disini, pasti masih bingung dengan tempat tempat disini. Silahkan masuk kak !!" seru Safa mempersilahkan Rangga duduk di samping sopir taksi. Sementara Safa duduk di jok belakang.


Tak ada obrolan lagi kali ini, keduanya sama sama terdiam melihat jalanan yang mereka lalui. Sebuah kota tempat menimba ilmu para ulama besar yang tersohor. Serta para tokoh mubaligh ternama.


Wajah bahagia terpancar dari dalam diri Rangga, Bukan karena ia bisa satu mobil bersama Safa, tapi karena akhirnya ia bisa menginjakkan kaki menggapai mimpi yang baru saja hendak diraihnya.


Perjalanan dari bandara menuju asrama Safa harus menempuh jarak tempuh sekitar dua jam lebih. Maka saat taksi yang mereka tumpangi tiba di asrama Safa, Rangga sedikit bingung hendak kemana.


" Kenapa diam kak Rangga?" tanya Safa memperhatikan wajah bingung lelaki yang ada dihadapannya.


" Iya Sa, ehmmm... kira kira asrama yang hendak aku tempati jauh nggak Sa?" tanya Rangga ragu.


" Ha ha ha.... kak Rangga jalan aja terus masuk kedalam kira kira dua kilometer, nah nanti disana ada petugas keamanan yang berjaga, yang akan menanyai kakak, kak Rangga jawab saja mahasiswa baru. Tunjukkan paspor juga visa kakak juga surat rekom yang kakak bawa."


jawab Nisa.


Rangga pun mengangguk, " terimakasih ya Sa. Oh ya ini ongkos taksinya." ucap Rangga menyodorkan uang pada Safa.


" Nggak usah kak, Sa ada kok. Lagian kita kan satu arah. Kakak simpan saja soalnya keperluan disini banyak sekali." tolak Safa seraya menangkupkan kedua tangannya.


Dan Rangga pun menghormati sikap Safa. Maka ia pun memasukkan kembali uang yang ada ditangannya kedalam saku celana.


Saat itu hari mulai gelap, setelah melakukan aktivasi perizinan masuk asrama. Maka Rangga pun dengan ditemani kakak senior, menuju asrama putra. Dengan kamar yang sesuai dan yang tertulis di lembar pengantar dari kepala keamanan asrama.


Ada perasaan gembira yang tak bisa di lukiskan dari dalam diri Rangga saat memasuki ruang kamar miliknya. Pria yang dulunya penuh kesombongan dan keangkuhan, kini ia terlihat lebih sopan dan sangat santun. Lebih menghormati pada orang sekitarnya. Bahkan terlihat lebih kalem dalam berbicara kepada lawan bicaranya.


******


BERSAMBUNG.....

__ADS_1


__ADS_2