HIJAIYAH CINTA

HIJAIYAH CINTA
Hari Indah Hanafi dan Karen


__ADS_3

Selepas keberangkatan Azzam, Nisa segera mencuci tangan dan masuk ke kamar. Menuju laci, meminum susu buatan suami tercinta, beserta vitamin yang sudah disiapkan setiap pagi dan malam, tiap harinya.


Merasa bosan, wanita yang semenjak kehamilan jadi semakin aktif ini segera meraih ponsel yang ada di atas laci kamar.


Di usap layar ponsel, dan menggeser daftar kontak, dicarinya nomor sang sahabat tercinta, yaitu Sinta.


" Hallo assalamu'alaikum sayang, pa kabar ?" sapa Annisa dari balik benda pipih yang ada di dekat telinganya.


Sinta yang masih tampak murung, setelah peristiwa penolakan yang dilakukan sang papa kepada Hanafi, menjawab panggilan suara sahabatnya dengan ogah-ogahan.


" Wa'alaikumussalam, iya baik." sahutnya dengan singkat.


Annisa mengernyitkan dahi, memutar otak, mencari bahan pembicaraan, Karena sudah tentu Sinta sedang marah kepada papanya.


" Kamu menghilang terus sih sayang, emangnya nggak kangen ya sama aku." Annisa mulai menggoda sahabat nya yang besikap jutek.


" Maaf nggak bisa keluar kemana-mana, sekarang harus lapor ke satpam dulu, sebelum pergi." suara Sinta terdengar kesal.


Seketika mulut Annisa terkunci, " berarti benar apa yang dikatakan kak Han, om Himawan benar benar tidak mengizinkan Sinta dengan kak Han, sungguh kasihan sekali kamu Sin, semoga saja pria yang om Han siapkan buat kamu, adalah yang terbaik untuk hidup mu." gumam Annisa dari balik ponsel.


" Iya sabar ya sayang, mungkin pilihan papa kamu adalah yang terbaik." imbuh Annisa. Tak lama setelah berbincang sambungan telepon pun terputus.


Annisa diam terpaku, merenungkan apa yang dialami sahabat nya kini. " Pasti sangat sulit buat kamu ya Sin, sebentar lagi kak Han juga akan menyelenggarakan acara resepsi, pastinya sakit buat kamu."


" Nduk cah ayu, tolong bilang ke mas mu ya !! bulek mau acara resepsi si Han akhir pekan ini dilangsungkan." sebuah suara tiba-tiba terdengar dari bulek Rohimah yang baru keluar dari kamar.


" Astaghfirullah bulek, ngagetin saja. Iya bulek sebentar ya, Nisa kirim pesan saja ke mas Azzam, takutnya masih di kelas." sahut Annisa, jemari tangannya mulai mengetik layar ponsel, mengirim pesan kepada suami tercinta.


" Kenapa semalem cah ayu minta menginap di rumah nak Karen?" tanya bulek Rohimah, mendudukkan tubuhnya di sofa, samping Annisa.


" He he he he, maaf bulek Nisa nggak pamit dulu. Enggak tahu reflek saja sih bulek, kepingin banget ketemu Karen, jadinya semalam mereka nggak tidur bareng, aku tidur satu kamar dengan menantu bulek, mas Azzam dengan kak Han he he." jawab gadis yang tengah berbadan dua itu cengengesan.

__ADS_1


" Ya Allah nduk, ada-ada saja bayimu itu, pasti nantinya dia hebat seperti kakek dan abinya." balas bulek Rohimah mengusap perut rata sang keponakan.


" Aamiin, Insya Allah bulek." balas Annisa tersenyum kepada wanita paruh baya disampingnya.


Rohimah beranjak berdiri menuju dapur, menyiapkan buah untuk istri keponakannya. Annisa menikmati buah yang dikupas oleh sang bulek, sambil menonton televisi bersama wanita paruh baya tersebut.


******


Di sebuah restoran di kota, tempat Karen melaksanakan meeting dengan klien yang akan menjadi investor. Tampak Han sedang duduk di sebuah meja seorang diri, sementara wanita yang baru dinikahinya tengah berdiskusi meyakinkan klien. Tampak serius dalam berbincang.


Han terpaku melihat performa sang istri yang terlihat lihai dan terampil dalam bercakap. Perlahan kharisma yang dimiliki seorang Karen, mampu menarik perhatian Hanafi, kisah cintanya bersama Sinta bak sirna tutup bab baru begitu saja.


Sesekali Karen juga tersenyum simpul saat tatapan keduanya tanpa sengaja bertemu.


" Terimakasih nona Karen atas kerjasamanya, semoga saling menguntungkan kedua belah pihak. Senang bekerja sama dengan anda." ujar pria berpawakan tinggi besar itu yang sedang duduk dihadapan Karen, keduanya pun bersalaman.


Selepas kepergian investor tersebut, Karen berjalan menuju meja sang suami. Tampak Han malu-malu menatap kehadiran Karen di depannya.


" Terserah saja, kamu yang pilih." jawab Han balas dengan senyuman.


Karen melambaikan tangan ke arah waiters,


" mbak pesan ini ya dua, minumannya juga dua." ucap Karen kepada waiters.


" Gimana sudah selesai meeting nya?" Han menatap intens wajah wanita yang tengah duduk di depannya.


" Iya Alhamdulillah sudah selesai mas. Kebetulan beliau pernah bekerja sama dengan papa sebelumnya, karena mendengar kabar papa sakit, maka beliau terketuk untuk melanjutkan kembali kerja sama ini." jawab Karen mengulas senyuman menatap balik pria dihadapannya.


Sesaat kemudian waiters datang dengan membawa makanan yang dipesan oleh Karen. Pasangan pengantin baru ini menyantap dengan lahap dan nikmat.


" Mau langsung pulang, atau masih ke suatu tempat?" tanya Han, seusai makan siang.

__ADS_1


" Bagaimana kalau kita pergi ke suatu tempat di dekat sini mas, mas Han mau?" wanita itu menatap lekat pasangannya. Dibalas anggukan serta senyuman oleh si Han.


Keduanya berjalan menuju kasir, lalu kembali ke parkiran. Siang itu mobil yang dikendarai si Han, membelah jalanan kota menuju ke tempat yang di maksudkan oleh sang istri.


" Belok belok mas !" seru Karen, diikuti so Han yang membelokkan mobil ke arah yang dimaksud.


Dari kejauhan, tampak hamparan laut lepas berwarna biru. Terik matahari yang menyengat siang itu, tak menghalangi kedua insan ini untuk segera turun dari mobil.


Setelah sampai, Han membuka pintu untuk Karen, "terimakasih mas." ucap Karen dan segera menarik tangan pria disampingnya, berlari kecil menuju pasir yang berwarna putih tersebut.


Karen membuka sepatu serta menenteng nya, begitu juga dengan Hanafi, ia menaikkan celana yang dikenakannya se lutut, agar tidak terkena air. Keduanya berlarian berkejaran saling berteriak memanggil nama pasangan satu sama lainnya.


" Selamat tinggal Leoooooo." teriak Karen menghadap ke laut.


" Mas Haaaaan, terimakasih. Aku menyayangimuuuu." teriak gadis tersebut kembali.


Han tertawa kecil dan terlihat bahagia saat mendengar apa yang sang istri ucapkan.


" Selamat tinggal Sintaaaaa. Kareeeeen ana uhibbuki fillaaaaaaaah." balas Hanafi mengejar langkah Karen.


Setelah berhasil mengejar Karen, Han memeluk dan menggendong tubuh wanita yang kini menjadi istri nya itu, berputar-putar, sesekali deburan ombak membasahi kaki keduanya.


Canda tawa bahagia terpancar dari wajah pasangan ini.


" Terimakasih Tuhan." gumam keduanya yang tanpa sengaja bersamaan mengucapkannya dalam hati.


Lama terdiam dan saling berpandangan satu sama lain, kemudian Han mendaratkan sebuah ciuman kecil di bibir Karen. Siang itu, deburan ombak dan terik mentari, menjadi saksi kisah percintaan Hanafi dan Karen dimulai.


********


BERSAMBUNG.....

__ADS_1


__ADS_2