
" Assalamu'alaikum, di rawat di mana Nisa ?"
tanya Azzam penuh kecemasan.
Sinta yang tengah menangis pun menjawab, " Nisa di ruang operasi pak, hikssss..... maaf kan Sinta pak, andai saya tidak mengejar dia, pasti kecelakaan ini tidak akan terjadi hikssss. Salah kan saja saya pak." suara Sinta hampir tidak terdengar karena tangisnya.
" Subhanallah, semoga dia baik baik saja. Berhentilah jangan menyalahkan dirimu sendiri. Semua sudah kehendak Allah." jawab Azzam berusaha tegar, walau dalam hati sebenarnya terasa rapuh saat itu.
Lampu yang ada di depan pintu ruang operasi itu terus berkedip, pertanda operasi masih berjalan.
Akibat hantaman keras dari motor yang berlawanan arah, mengakibatkan kandungan Nisa mengalami perdarahan dan harus segera dilakukan tindakan operasi, mengingat banyak darah yang terus keluar.
" Maaf pak kalau saya lancang, tadi dokter meminta persetujuan pihak keluarga pasien, karena bapak belum sempat saya kabari tadi, maka saya menyetujui tindakan operasi tersebut, sebab menurut dokter jika tidak dilakukan segera maka Nisa akan banyak kehilangan darah pak. Sekali lagi Sinta minta maaf pak hikssss hikssss....." ujar Sinta bercerita, disertai Isak tangis.
Azzam hanya mengangguk pasrah, menepuk pundak Sinta, " Terimakasih, berhentilah menyalahkan diri kamu sendiri. Sebaiknya do'a kan saja sahabatmu semoga segera bisa melewati masa kritis." tukas Azzam.
Azzam duduk di sebelah Sinta, dengan ekspresi wajah yang khawatir serta rasa takut kehilangan sang istri.
Setelah menunggu hampir dua jam, ruang operasi masih belum terbuka. Sinta terlihat sudah lebih tenang. Gadis ini pun terus berdo'a untuk kesembuhan sang sahabat.
" Sinta tidak tahu kenapa setelah Nisa melihat foto saya bersama bang Harry, dia terlihat marah dan kecewa juga sedih. Apa bapak tahu kenapa Nisa bisa bersikap seperti itu pak?" tanya Sinta penasaran, menatap Azzam lekat lekat.
" Maaf Sinta, seharusnya sahabat kamu sendiri yang harus mengatakan semuanya kepada kamu, tapi karena gara gara peristiwa itu telah membuat Nisa kalut seperti ini, maka saya sebagai suami Nisa, saya akan mengatakan kebenaran pahit yang sangat menghantui dia." ucap Azzam seraya menghela nafas dan membuangnya kasar.
" Tentunya Sinta tahu bukan tragedi apa yang pernah Nisa alami sebelum mengenal saya?" tanya Azzam menatap kedua netra muridnya.
Sinta tak menjawab pertanyaan Azzam, gadis ini hanya mengangguk.
__ADS_1
" Apa Sinta yakin ingin tahu kebenaran selanjutnya?" tanya Azzam meyakinkan.
Sekali lagi Sinta mengangguk seketika, saat Azzam bertanya.
" Maaf jika kenyataan ini akan melukai dan membuat kamu kecewa Sinta." ujar Azzam kembali.
" Pria yang hampir menodai sahabat kamu adalah kakak kamu sendiri." jawab Azzam dengan berat hati.
" Apaaaaaa?" teriak Sinta sembari mulutnya ternganga, dan menutupnya dengan telapak tangan kanan.
Sinta yang tengah duduk di kursi tunggu, seketika terperosok ke lantai. Tubuhnya terasa lemah kala itu. Dan tangisnya pun kembali pecah.
Sementara Sinta masih menangis dan meraung, Devi datang bersama Amir. Begitu juga dengan keluarga Kyai Waffiq, semua datang untuk melihat kondisi Annisa.
" Assalamu'alaikum, gimana Azzam kondisi Nisa ?" tanya Amir saat baru tiba bersama Devi.
" Wa'alaikumussalam warahmatullaahi wabarakaatuh, maaf pa Nisa masih di dalam." jawab Azzam mencium punggung tangan mertuanya.
Begitupun dengan Kyai Waffiq dan umi Fatimah keduanya memeluk Azzam, berusaha menenangkan dan memberi support agar tetap ikhlas dan tegar.
" Banyak lah berdo'a dan istighfar nak, semua ini ujian semata. Tetaplah ikhlas menerima ujian ini. Dibalik ini semua pasti Allah selipkan sebuah hikmah yang luar biasa kepada kalian." ujar Kyai Waffiq saat memeluk tubuh Azzam.
Sementara Devi terlihat begitu sedih tak hentinya terus menangis. Safa yang melihat Sinta sesenggukan, gadis ini memeluk tubuh Sinta. " Kakak yang sabar ya, pasti persahabatan kalian sangat dekat sekali. Kita sama-sama do'akan kak Nisa." ujar Safa.
Semua keluarga terlihat bersedih, tak lama berselang pintu ruang operasi pun terbuka, dan dokter yang tengah mengenakan seragam serba hijau itu menghampiri kerumunan keluarga Annisa.
" Dok bagaimana kondisi istri saya?" tanya Azzam menghampiri sang dokter.
__ADS_1
Dokter yang baru saja usai melakukan operasi terhadap Nisa angkat bicara.
" Alhamdulillah operasi nya berjalan lancar, maaf kalau operasi nya lumayan lama, karena pasien banyak kehilangan darah, namun sepertinya semangat juang si pasien patut di acungi jempol. Berkat do'a seluruh keluarga sepertinya pasien mau berjuang. Untuk saat ini pasien belum bisa dipindahkan ke ruang perawatan. Setelah sadar dan melewati masa kritis kami akan memindahkan beliau." tukas dokter bedah barusan.
" Terimakasih dokter. Pasti kami akan selalu berdo'a untuk pasien." balas Azzam.
Dan dokter pun pergi setelah memberikan kejelasan kondisi pasien saat itu. Semua terlihat diam membisu hanya berbicara sesekali.
Waktu terus bergulir, adzan Maghrib pun tiba, seluruh keluarga besar bergegas menuju masjid yang ada di rumah sakit. Semua tak lupa juga mendo'akan Nisa.
Sesekali Isak tangis dari Devi, umi Fatimah dan Safa, serta Sinta terdengar di selingan do'a mereka. Semua terlihat mendo'akan Annisa sepenuh hati.
Setelah sholat Maghrib, semu berpamit pulang, karena bagaimanapun juga Nisa masih belum bisa dijenguk, masih dalam pengawasan dokter secara insentif 24 jam.
" Azzam kami semua pamit ya, jangan lupa terus lah berdo'a, jaga kesehatan kamu juga." ujar sang Kyai sebelum masuk kedalam mobil.
" Iya bro jangan terlalu larut dalam kesedihan, kesehatan kamu juga harus dijaga. Agar Nisa nggak sedih." celetuk Hanafi menepuk punggung sepupunya.
" Terimakasih Han." balas Azzam.
Safa juga bergelayut memeluk sang kakak. " Kak Azzam yang kuat ya. Safa yakin kak Nisa adalah orang yang kuat. Semoga besok kak Nisa segera sadar."
Amir dan Devi juga berpamit kepada Azzam, sementara Sinta pulang dengan mobil Amir.
Sinta tak berani membuka mulut dihadapan kedua orang tua Annisa, perihal kebejatan sang kakak. Yang hampir saja merenggut kesucian sahabat karibnya.
Antara marah benci dan bersalah yang saat itu Sinta rasakan. Betapa malu ia harus menghadapi Nisa saat sadar nanti. Dalam hati gadis yang terus dirundung penyesalan dan rasa bersalah itu terus saja merutuki dirinya dalam hati.
__ADS_1
*******
BERSAMBUNG.....