HIJAIYAH CINTA

HIJAIYAH CINTA
Hanafi Grogi


__ADS_3

Karen dan Hanafi tiba dirumah, saat hari sudah larut malam. Keseruan berdua di pantai, membuat keduanya lupa waktu, alhasil mereka kembali selepas sholat Isya'.


Mobil yang dikendarai Han, berhenti di depan rumah Karen, seorang satpam datang tergopoh disela kantuknya, untuk membuka pintu pagar.


Satpam itu menyapa menantu baru sang majikannya dan dibalas anggukan hormat serta senyuman oleh si Han, sementara Karen tampak terlelap, setelah seharian melakukan perjalanan bisnis.


" Selamat malam pak, terimakasih." ucap Hanafi kepada satpam rumah istrinya.


" Selamat malam juga mas." sang Satpam kembali menutup pintu, setelah mobil memasuki garasi.


Han mematikan mesin mobil, menatap kearah wanita disampingnya yang terlelap, sekali. Tak tega untuk membangunkannya, perlahan sang ustadz membuka sabuk pengaman yang menempel di dada dan perut samping gadis itu.


Hal itu membuat nafas Han naik turun, jantungnya mulai berdegup kencang, bahkan saat hendak membuka seat belt, tangan Han gemetaran. Sedang yang didepannya tampak sangat pulas sekali.


Perlahan-lahan seat belt berhasil dibuka, Han segera turun dan membuka pintu samping Karen. Dengan hati-hati Hanafi menggendong tubuh Karen ala bridal style, untuk pertama kalinya, memasuki rumah dan menuju kamar mereka.


Di setiap langkah kaki menuju kamar, saat menggendong tubuh Karen, kaki dan tangan Han, terus gemetar dan jantung pun turut berirama layaknya alunan musik hip-hop yang ngebit.


Han membaringkan Karen di atas kasur, membuka sepatu, hijab yang menempel, bahkan Han memanggil sang pelayan untuk membantunya membuka pakaian Karen, dan menggantinya dengan baju tidur, namun yang tertidur masih tetap pulas tanpa perlawanan sedikitpun.


Han segera menyelimuti tubuh Karen, yang telah berganti daster midi. Membuat sebagian tubuh polos Karen terlihat dengan nyata oleh kedua mata si Han. Berkali-kali, pria itu menelan saliva nya.


Tak ingin dianggap sebagai pria kurang ajar, yang mengambil kesempatan dalam kesempitan, maka Han juga segera mengambil wudhu, dan tidur disamping sang istri hingga keduanya, sama-sama pulas sampai pagi menjelang.


*****


" Sayang kenapa nggak sarapan?" tanya Azzam di meja makan, saat mendapati istrinya tidak menyentuh makanan yang sudah dibuat oleh bulek Rohimah.

__ADS_1


Annisa masih tetap tidak bergeming, hanya mengaduk-aduk makanan diatas piring tersebut, dengan tatapan kosong.


" Subhanallah, pasti anak ku mulai beraksi lagi ulah anehnya." gumam Azzam mendekatkan kursinya, kesamping kursi Annisa.


Azzam mengusap pucuk kepala wanita yang tampak cemberut disampingnya dengan lembut, tangannya juga mengusap perut Annisa.


" Dede sayang kita sarapan bareng yuk, kasihan kan bundanya kalau nggak mau mamam, kita bujukin bunda ya, supaya mau mamam." Azzam bermonolog di depan perut sang istri yang masih cemberut.


Azzam menyendok makanan di piring dan memasukkannya ke bibir Annisa, namun wanita itu menepis perlahan tangan sang suami, dan tiba-tiba.


" Huuuuuuu, Aku nggak mau makan." ucap Annisa penuh manja.


" Aku juga nggak mau disuapin." ucapnya lagi, dengan wajah cemberut yang semakin memanyunkan bibirnya.


" Kalau nggak sarapan, kasihan si dede kan yang, dia pasti lapar, sayang mau si dedek nangis didalam perut." Azzam terus merayu wanita berbadan dua itu.


" Aku mau sarapan, asal mas janji mau beliin aku balon, dan membawaku pergi ke taman kota." ucapnya lagi.


" Janji !" ucap Nisa masih terpancar wajah cemberut.


" Iya Insya Allah sayang, mas janji." timpal Azzam yang masih memegang sendok berisi nasi.


Setelah berhasil membuat negoisasi dengan wanita disampingnya, Azzam segera menyuapi sang istri, bergantian dengannya. Lalu segera bergegas mencari penjual balon.


" Nisa maunya balon yg banyak, dan bukan yang dijual di toko, tapi yang jual di taman." imbuhnya lagi.


" Iya sayang, mas pasti akan mencari penjual balon itu, sekarang sayang istirahat ya, biar mas saja yang belikan." bujuk Azzam.

__ADS_1


" Nggak mau, aku mau ikut kesana sama mas ." sahut nya dengan nada manyun sekali.


" Ya sudah buruan ganti baju dulu yang, aku tunggu disini !" perintah Azzam, Nisa pun segera ke kamar berganti pakaian.


Demi menyenangkan hati, wanita yang tengah mengandung darah dagingnya, Azzam rela melakukan apa saja, asal wanita itu bahagia dan selalu tersenyum saat bersamanya.


*****


"Horeeeeee itu mas balonnya !" ucap Annisa, menunjuk ke arah pedagang balon, yang masih memejamkan mata.


Azzam menggandeng Annisa menuju penjual balon, yang terlelap.


Nisa bukannya memilih satu balon, bahkan satu persatu balon tersebut telah ada di genggamannya.


Azzam membangunkan si penjual balon, dan membayarnya, setelah sang penjual terjaga dari tidurnya.


Tampak girang dan sumringah seketika dari dalam diri Annisa, saat melihat balon warna warni yang ada dalam genggamannya.


Wanita ini pun melepas balon-balon yang di genggam, melepasnya ke udara, dalam sekejap balon itu melayang ke atas dan semakin terbang meninggi, mengikuti arah mata angin yang membawanya.


Layaknya seorang anak kecil yang sudah terpenuhi semua keinginan nya, maka mereka masih duduk-duduk di bangku taman kota yang asri kala pagi itu.


Semilir angin yang sepoi, dan balutan hangat kilauan emas sinar mentari, pagi itu. Menjadi kenangan buat Annisa.


Annisa duduk disamping Azzam, menatap ke atas, dimana balon yang tersisa hanya tinggal beberapa saja, di awan nan cerah pagi itu. Keduanya sangat menikmati kebersamaan yang Allah suguhkan kepada mereka. Dan Annisa kini berganti tawa kecil yang bersahutan dengan sang suami tercinta, keduanya saling tertawa lepas.


" Terimakasih Allah, atas kembalinya senyuman wanitaku." gumam Azzam penuh rasa syukur melingkarkan tangannya di lengan sang istri.

__ADS_1


******


BERSBUNG.....


__ADS_2