HIJAIYAH CINTA

HIJAIYAH CINTA
Makan Siang Keluaraga Besar


__ADS_3

Malam panjang merenda mimpi cerita hidup tiap insan telah berakhir. Awan gelap berbintang telah berganti kemilau senja kemerahan semburat keemasan. Sang Surya pun dengan gagah selaksa, menebarkan sinar kehangatan ke muka bumi, bagi jiwa jiwa yang damai.


Dua sejoli yang baru saja menyelesaikan sholat subuh itu, menjalankan rutinitas pagi mereka. Annisa dan Azzam telah sepakat untuk mengundang kedua orang tua masing masing, makan malam di rumah baru mereka.


" " Assalamu'alaikum, abi, umi, apa kabar?" sapa Azzam mengawali percakapan Videocall dengan sang Abi.


" Wa'alaikumussalam warahmatullaahi wabarakaatuh, iya Zam pagi juga. Eh kalian sudah balik ke rumah ya. Ada apa Zam?" tanya sang kyai pada putra sulungnya.


" Iya abi kita pulang lebih awal, lusa kemarin. Begini bi, kami mengundang abi bersama umi, Safa dan Han, makan siang bersama sekalian berkumpul disini." ujar Azzam kepada kyai Waffiq.


" Ya baguslah Zam kalau begitu, Insya Alalh kami pasti datang, pak Amir juga datang kan?" tanya sang Kyai dari layar benda pipih ditangannya.


" Iya abi, kita sudah menelfon mama sama papa, mungkin papa sedikit terlambat, karena masih menghadiri meeting dengan klien diluar. Mungkin mama berangkat duluan." jawab Azzam.


" Oh begitu, baiklah. Apa kalian mau bicara dengan umi?" tanya Kyai kembali, mengalihkan ponsel pada umi Fatimah.


" Assalamu'alaikum umi." sapa Azzam.


" Wa'alaikumussalam warahmatullaahi wabarakaatuh, iya Zam umi sudah dengar semua kok, Insya Allah nanti siang kita semua hadir kok, gimana kabar anak gadis umi si Nisa?" tanya Fatimah mencari keberadaan sang mantu.


" Ada kok umi, dia lagi beberes, bentar lagi Azzam juga bantuin dia kok." sahut Azzam.


" Alhamdulillah kalau begitu, ya sudah cepat sana bantu istrimu, kasihan dia jangan sampai kecapekan." timpal umi Fatimah, mengakhiri percakapan Videocall dengan putra sulungnya.


*****


Waktu berjalan dan terus bergulir, seusai membantu merapikan beberapa ruangan, kini Azzam membantu Nisa yang sedang sibuk di dapur.


" Mau masak apa sayang ?" tanya Azzam, tiba tiba suaranya mengagetkan Nisa yang tengah mengupas sayuran.


" Nggak tahu mas mau bikin capcay lagi takut gosong seperti kemarin. Apa sebaiknya kita buat sop aja ya mas, di kulkas kan ada daging, kita campur saja." jawab Nisa masih fokus mengupas wortel dan teman temannya.


" Boleh juga, ide bagus tuh. Baik lah aku masak lauknya ya, sayang buat sayurnya." timpal Azzam tiba tiba mendaratkan sebuah kecupan di pipi kanan Annisa.


Sontak Annisa kembali kaget akan sikap mesra suaminya yang selalu membuatnya terkejut, dan wajah merona itu pun kian semu memerah tersipu malu.


Tak berani menatap wajah sang suami, Annisa hanya bisa tersenyum tersipu malu.


" Lama lama bisa jantungan gue dibuatnya. Enggak nyangka cowok yang berlabel kutub di luaran sana, ternyata pas lagi berdua bisa meleleh dan romantis juga." gumam Annisa menahan tawa.

__ADS_1


Setelah berhasil mengecup pipi Annisa, Azzam pun menuju kulkas mengambil daging dan ikan yang akan diolahnya.


Tak hanya berhenti sampai disitu, Azzam selalu berusaha mencari kesempatan agar bisa menciptakan moments romantis selagi berdua dengan istrinya. Berharap agar Annisa terbiasa, tidak canggung dan mulai membuka hatinya.


Karena dalam lubuk hati Azzam, kini ia mulai jatuh cinta pada wanita yang baru dinikahinya beberapa hari lalu.


" Aku yakin suatu saat kamu akan jatuh cinta kepadaku Nisa, dan saat hari itu tiba, aku akan membahagiakan mu seutuhnya. Aku berjanji akan membuatmu jatuh cinta setiap hari kepadaku." gumam Azzam mengulum senyuman dibibir nya.


******


Semua menu makanan sudah tertata rapi diatas meja, seluruh ruangan pun telah rapi dan harum, wangi aroma terapi yang bertebaran.


" Sa ayo buruan kasihan kakak kamu sudah menunggu lama." teriak umi Fatimah di teras depan rumah.


" Iya umiiii, ini juga baru selesai. Siap otewe." sahut Safa berlari menghampiri mobil yang telah berisi, sang abi, umi dan Hanafi sepupunya.


" Kamu tuh ya dandan apa sih Sa lama banget, kasihan si Han tuh yang sudah daritadi nungguin." ujar Fatimah sedikit menegur Safa putri bungsunya.


" Nggak papa umi, biasalah cewe. Kaum hawa kalau nggak lama mana afdhol mi, iya kan Sa?"


ledek Hanafi.


" Sudah sudah Bissmillahirohmaanirrohiim, ayo Han jalan !!" seru Kyai Waffiq yang tengah duduk disamping Hanafi.


" Baik bi." balas Hanafi, lalu menghidupkan mesin mobil Avanza warna putih tersebut. Berjalan menyusuri pinggiran jalanan kota M.


Di kediaman Amir, siang itu seusai sholat Dzuhur, Devi segera berangkat menuju rumah sang putri tercinta.


Sedangkan Amir masih berkutat dengan meeting yang dipimpinnya di sebuah hotel, dengan perusahaan ternama. Untung saja kemarin Amir sudah berpamit akan datang terlambat kepada Azzam dan Annisa.


" Assalamu'alaikum." ucap Devi yang baru tiba mengolok salam, saat tiba didepan pintu rumah Annisa yang terbuka.


" Wa'alaikumussalam warahmatullaahi wabarakaatuh, eh mama sendirian ma? papa masih belum selesai meetingnya?" sahut Annisa sembari bertanya sang papa.


Annisa membungkuk mencium punggung tangan Devi, disusul oleh Azzam.


" Mari masuk ma!" seru Azzam.


" Iya papa masih belum selesai meetingnya, mungkin akan terlambat sebentar." timpal Devi, berjalan masuk merangkul pundak sang putri.

__ADS_1


Tak lama berselang setelah Devi duduk, rombongan keluarga Kyai Waffiq pun tiba. Mobil Avanza warna putih tersebut memasuki halaman rumah Azzam, berjejer dengan mobil Devi.


" Brugggh..... " Hanafi menutup pintu mobil setelah Kyai Waffiq turun, disusul umi Fatimah dan Safa juga menuruni mobil.


" Assalamu'alaikum kak Nisa kak Azzam." teriak Safa dari kejauhan dengan suara petirnya.


" Huss, nih anak gadis kok mengolok salam dari kejauhan. Nggak sopan Sa." tegur umi Fatimah pada Safa. Sementara Safa hanya cengengesan sembari mengudarakan jari telunjuk dan jari tengahnya kepada sang ibunda.


" Wa'alaikumussalam warahmatullaahi wabarakaatuh. " sahut Azzam dan Annisa bersamaan.


Keduanya bersalaman dan Annisa berpelukan dengan ibu mertuanya serta Safa adik iparnya.


" Wah pengantin baru auranya beda ya, bahagia selalu dan murah senyum ha ha ha." ledek Hanafi meninju pelan lengan Azzam.


Semua telah masuk dan duduk bersama, sementara semua sedang bercengkrama dan berbincang, Safa masuk ke dalam membantu Annisa membuat teh dan kopi.


Begitupun dengan Hanafi, pria yang usianya setara dengan Azzam itu juga turut masuk kedalam, meninggalkan obrolan para sesepuh.


" Eh kak Nisa gimana malam pertamanya lancar, seru enggak?? cerita dong." celetuk Safa menggoda Annisa yang tengah menyeduh teh.


Azzam dengan spontan menjewer telinga Safa, " anak kecil dilarang kepo, jangan mau menjawabnya sayang." sahut Azzam mewakili Annisa yang ambigu.


" Wah wah wah udah sayang sayangan nih yee bahasanya. Roman - roman nya sebentar lagi Han bakal gendong keponakan nih, pantesan nggak betah tinggal di hotel berlama lama, ternyata kalian melakukan misinya dirumah ya, he gw he he." timpal Hanafi sok polos seraya menggaruk tengkuknya.


Azzam dan Nisa kaget, begitu juga dengan Safa, " maksud kak Han apa?? kak Azzam dan kak Nisa baru pulang kemarin kan dari hotel?" jawab Safa kebingungan.


Azzam meninju balik lengan Hanafi, " kamu memata matai kami ya ? "


" Sorry ya bro jiwa kepo ku nggak se gedhe adik kamu noh. Kemarin pas anter Safa nonton, kebetulan aku melihat mobil kamu sudah terparkir di depan pas kami lewat. Aku pikir kalian sedang perang dunia, makanya pulang cepet, setelah melihat kalian sayang sayangan begini ya fikiran ku salah." jawab Hanafi.


Azzam memberikan kopi kepada Hanafi, sementara Annisa menyuguhkan teh hangat dan kopi ke ruang tengah, dimana seluruh keluarga masih sibuk berbincang.


" Silahkan diminum, pa, ma, abi, umi !!" seru Annisa mempersilahkan, seraya menaruh minuman ke meja.


Setelah menaruh minuman di meja, semua berkumpul dan bercerita serta bercanda tawa ria. Dan di tengah keseriusan bercerita, Amir datang. Seluruh keluarga besar kini lengkap dan segera melaksanakan makan siang bersama.


******


BERSAMBUNG.....

__ADS_1


__ADS_2