
Seperti biasanya di sepertiga malam, Azzam terjaga menunaikan Qiyamullail, dan malam itu kebetulan Safa juga turut terbangun.
" Sudah jam tiga ya kak?" tanya Safa saat baru terjaga.
" Iya Sa, Kaka ambil wudhu dulu ya." balas Azzam, berlalu ke kamar mandi.
Beberapa menit kemudian Azzam berdiri diatas sajadah menghadap kiblat, dengan khusyuk menunaikan tahajjud.
Saat suara merdu Azzam melantunan ayat-ayat suci Al-Quran, dan Safa juga terlihat khusyu' memutar tasbih kecil yang ada ditangan kanannya.
" Tiiittt... tiiittt....tiiiiiittt....". suara monitor yang ada disamping brankar Annisa berbunyi.
Safa yang posisinya lebih dekat dengan brankar, merasa kaget saat mendengar bunyi tersebut. Gadis ini pun beranjak berdiri melihat ke atas.
" Kak, kak Azzzam lihat kak Nisa kak, kakak." teriak Safa panik saat garis kurva di layar monitor terlihat naik turun dengan cepat.
" Shadaqallaahul adzim." ucap Azzam mengakhiri membaca Al-Qur'an, dan bergegas melihat kondisi sang istri.
" Cepat tekan tombol di atas itu Sa, panggil perawat dan dokter jaga !" teriak Azzam mulai panik.
Safa pun memencet tombol yang ada diatas bed Annisa. Tak lama kemudian perawat beserta dokter jaga datang, untuk melihat kondisi Annisa.
Di lihat nya bagian dada melalui stetoskop, mata pun di lihat dengan lampu senter kecil, tak lupa juga denyut nadi dipergelangan tangan Annisa.
Azzam terus ber komat kamit mengucap segala kalimat dzikir, begitu juga dengan Safa yang mulai terlihat menitikan air mata, saat melihat kondisi sang kakak ipar.
Lama memeriksa beberapa bagian tubuh Annisa, tiba-tiba telunjuk Annisa mulai bergerak. Dokter yang beberapa saat barusan terlihat panik, saat itu berubah menghela nafas lega.
__ADS_1
" Alhamdulillah nampaknya pasien, telah sadar." ucap dokter yang baru saja memeriksa Annisa.
" Benar kah dok?" tanya Azzam mulai terlihat gembira, saat dokter mengatakan kabar baik tentang Annisa. Di hampiri tubuh yang masih terbaring tersebut, dan tanpa segan, Azzam mencium kening Annisa.
" Selamat tuan, sepertinya do'a kalian di ijabah, meski sebetulnya beberapa waktu barusan saya sempat panik, karena semua nya drop dan menurun, namun begitu dahsyat Kuasa Allah SWT, dalam waktu bersamaan membuat pasien tersadar." ucap sang dokter kepada Azzam.
" Beberapa saat lagi mungkin pasien akan membuka mata. Permisi saya kembali lagi, oh ya jika ada sesuatu segeralah hubungi perawat !" seru dokter sebelum pergi. Dan perawat pun ikut pergi bersama sang dokter.
Sambil menunggu sadarnya Annisa, Azzam bersholawat lirih di dekat kuping sang istri, sembari membelai wajah ayu tersebut.
Safa yang beberapa saat menangis sedih, kini tangisan itu berubah menjadi tangis gembira. Bahkan Safa segera menghubungi keluarga Annisa dan kedua orangtuanya.
Hampir satu jam Azzam bersholawat, maka adzan subuh pun terdengar. Keduanya melanjutkan sholat subuh, selepas Azzam mengambil wudhu kembali.
Saat suara salam terakhir terdengar, bersamaan itu pula Annisa yang selama beberapa hari terbaring, mulai membuka mata.
" Assalamu'alaikum." ucap Annisa sedikit tertatih suaranya dengan lirih, menyapa kedua orang yang baru saja selesai menunaikan sholat subuh.
" Wa'alaikumussalam warahmatullaahi wabarakaatuh, kak Nisa. Sayang." ucap kedua orang ini bersamaan.
Keduanya berlari kecil menuju brankar Nisa. Azzam mencium tangan dan kening Annisa kembali, " Alhamdulillah, akhirnya sayang sadar. Selamat datang kembali sayang." bisik Azzam sembari mencium pipi Nisa.
" Ehemmm.... Safa juga mau peluk kak Nisa lah kak Zam. Mentang mentang yang lagi kangen sama kak Nisa, adiknya nggak dikasih kesempatan, aku kan juga kangen sekali sama kak Nisa." celetuk Safa protes, memasang wajah cemberut.
Nisa pun tersenyum melihat tingkah sang suami dan adik iparnya secara bergantian. Azzam melepas pelukannya pada Annisa, berganti Safa yang memeluk tubuh wanita yang baru sadar tersebut.
" Uuuuuhh.... kangen kakak banget aku. Kak Nisa jangan sakit sakit lagi ya. Safa sebentar lagi mau balik ke Kairo, masa iya kakak nggak anterin Safa ke bandara huaaaa...." ucap Safa pura pura merengek menangis.
__ADS_1
Suara canda tawa pun akhirnya terdengar di ruangan yang selama beberapa hari tersebut, dirundung suara Isak tangis dan kesedihan.
" Terimakasih banyak mas, juga Safa yang sudah merawat dan menjaga kakak." ujar Annisa menatap wajah Azzam dan Safa silih berganti.
" Sayang nggak perlu berterima kasih, semua kami lakukan karena kita sayang sekali sama sayang." jawab Azzam mengusap pucuk kepala Annisa yang mengenakan hijab.
Selama dirawat, Azzam tetap mengenakan hijab di kepala Annisa, walau hijab tersebut bukan lah hijab lebar seperti yang biasa Nisa kenakan sehari hari.
Mentari pagi mulai memancarkan sinarnya dari ufuk timur, suara nyanyian kicau burung yang bersahutan di belakang ruang kamar Annisa pun terdengar, seolah turut menyapa dan menyambut kehadiran seorang Annisa kembali.
Pasangan suami istri Amir Syah Alam beserta sang istri tampak sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit, begitu juga dengan Kyai Waffiq dan umi Fatimah, semua turut gembira mendengar kabar sadarnya kembali Annisa, sehingga bergegas segera menuju rumah sakit, di pagi yang mana jalanan masih lengang.
" Yang cepat Han, abi sudah tidak sabar lagi ingin bertemu nak Nisa." ujar Kyai Waffiq yang tengah duduk di kursi samping Hanafi.
" Iya abi, sabar sedikit ya. Ini Han juga sudah ngebut. Alhamdulillah jalanan masih sepi, sebentar lagi kita sampai kok bi." jawab Hanafi, sembari fokus pada kemudi setirnya.
" Iya bi benar kata Han, sabar sedikit kenapa? nggak biasanya abi seperti ini." protes umi Fatimah yang duduk di jok belakang.
" Bukannya begitu umi, abi senang sekali merasa bersyukur, akhirnya anak kita bisa kembali tersenyum. Apa umi nggak lihat perubahan Azzam akhir akhir ini. Badannya makin kurus, jambang nya pun nggak terawat sama sekali, itu bukan lah Azzam yang kita kenal selalu rapi dan bersih, iya kan?" ujar Kyai Waffiq.
" Iya umi juga perhatikan kok bi, tapi semua itu kan Zam lakukan demi merawat istrinya. Umi juga sama sekali tidak menyangka jika dia akan se sayang ini terhadap nak Nisa akhirnya. Umi bahagia sekali melihat mereka akur dan rukun seperti ini. Semoga Allah segera hadirkan seorang bayi mungil kepada mereka, agar semakin lengkap kebahagiaan mereka." timpal umi Fatimah, netranya menatap ke depan.
" Aamiin Allahhumma Aamiin." jawab Kyai Waffiq dan Hanafi bersamaan.
Tak lama kemudian, mobil Avanza warna putih itu tiba di parkiran rumah sakit. Dengan langkah cepat Kyai Waffiq berjalan menuju ruang tempat Nisa dirawat. Dimana Amir dan Devi juga baru saja tiba disana.
******
__ADS_1
BERSAMBUNG.....