
Sepulang dari kediaman keluarga Himawan, dengan perasaan kecewa, Hanafi pergi ke sebuah taman.
" Hahahaha...., Han Han, harusnya kamu itu sadar, kamu itu bukan siapa-siapa. Mana mungkin mereka ngizinin kamu menikahi putri nya, pekerjaan kamu saja dianggap kurang layak, lantas kamu mau kasih makan apa itu anak orang ha haha." teriak Hanafi frustasi dengan tertawa hambar, sembari menitikan air mata.
Meski hatinya kecewa, Hanafi berusaha tegar dan bersikap biasa saja. Setelah mengeluarkan semua kekesalan hatinya, ia berjalan menyusuri taman kota, yang terlihat sepi. tak ada satu pun pengunjung disana, masih merasa kurang puas, pemuda ini berteriak sekencangnya.
" Woiiiiiiiiiiii terimakasih Allah...." teriak Han sekuat tenaga.
" Woii ini bukan hutan bro, dasar Tarzan." maki sebuah suara, dari balik pohon besar ia bersandar sembari menangis.
Keluarlah seorang gadis yang berpenampilan setelan pakaian kebaya namun simple dan sederhana dengan mata sembab.
Betapa kagetnya Hanafi melihat sosok wanita tersebut.
" Hahhhh.... ka ka kamu manusia kan?" tanya Hanafi melotot, lalu mengucek kedua matanya.
" Kamu pikir aku hantu hah? iya jelas lah aku manusia bambang." sahut gadis itu dengan mulut nyolot.
" Hehehe, maaf aku pikir tadinya sepi nggak ada orang, ya mana aku tahu masih ada yang hidup." balas Hanafi menyeringai.
" Kamu sudah mengganggu aku menangis tahu." balas gadis misterius itu.
" Iya maaf, mana aku tahu kalau kamu ada disini. Lagian ngapain seorang gadis malam-malam sendirian disini." timpal Hanafi penasaran melihat mata sembab gadis itu.
" Bukan urusan kamu, huuuuuaaaa." teriak gadis itu kembali meraung menangis, mengingat kesedihannya.
Gadis yang sedang meraung menangis itu bernama Karenina Nafisah. Seorang putri tunggal pengusaha sukses yang tengah divonis menderita kanker hati stadium akhir, dan kini sedang terbaring di rumah sakit tepatnya berada di ruang ICU.
Hanafi merasa bersalah melihat gadis didepannya itu menangis tersedu-sedu. Hatinya terasa trenyuh melihat tangisannya.
" Sudahlah jangan menangis lagi, aku minta maaf jika sudah mengganggu waktu sedih kamu." tukas Hanafi mendekati gadis itu.
__ADS_1
" Tertawalah, pasti kamu juga akan mentertawakan aku, sama seperti cowok brengsek yang sudah ninggalin aku hikssss huuuu." keluh Karen sembari menangis.
" Sepertinya masih ada yang lebih bersedih dibanding aku, astaghfirullah, maafkan hamba MU ini Yaa Allah." gumam Hanafi merasa bersalah kepada gadis ini.
" Nggak sepatutnya juga aku harus menertawakan kamu, apa hak ku untuk mentertawakan. Sementara aku juga baru saja mengalami kekecewaan, makanya pas aku lihat suasana lengang, aku berteriak kencang, tapi malah ada yang lebih sedih dari aku." jawan Hanafi dengan raut sedih.
Karen yang sedang membenamkan wajahnya dalam tumpuan kedua lututnya, mendongakkan wajah, beralih menatap pria yang kini duduk disampingnya, diatas rerumputan.
Di usapnya air mata yang menempel diwajah cantik gadis itu, balik menatap Hanafi.
" Tarzan seperti kamu bisa sedih juga?" tanya Karen terpaku.
Mendapat julukan baru untuknya, Hanafi tersenyum hambar, seraya membalas perkataan Karen.
" Tarzan juga manusia kali, memangnya kamu doang yang bisa sedih." sahut Hanafi.
Gadis yang masih basah matanya itu terkekeh, mendengar jawaban pemuda disampingnya.
Mendengar penuturan gadis disampingnya, Hanafi terdiam ambigu sejenak.
"Astaghfirullah, sungguh malang nasibnya." gumam Hanafi.
" Namaku Hanafi Abdillah, maaf ya aku tidak bermaksud untuk menambah kesedihanmu." timpal Hanafi.
" Papaku sedang terbaring di rumah sakit, menderita kanker hati stadium akhir. Beliau ingin aku segera menikah , sebelum meninggal. Tapi sayang hahaha sungguh malang nasibku, kekasih yang sangat aku cintai, bahkan telah berjanji akan menikahi ku, dia meninggalkan aku sendirian di pelaminan. Sungguh ironis bukan." ujar Karen dengan rona wajah frustasi nan sendu.
" Kemana aku harus mencarinya hah, sedangkan aku harus memenuhi permintaan terakhir papaku. Tak ada satupun pria yang akan Sudi menikahi gadis yang ditinggal oleh calon mempelai nya di pelaminan huuuuu...." imbuh Karen semakin frustasi.
Jederrr.... seakan kilatan petir menyambar Hanafi malam itu, mendengar kisah pilu hadis disampingnya. Hatinya semakin terenyuh membayangkan betapa hancurnya hati gadis itu.
Lama saling ambigu, keduanya terdiam hanya suara isak tangis Karen yang terdengar disana. Sementara malam kian bergulir, hawa dingin makin menyeruak ke tulang.
__ADS_1
" Yaa Allah, apakah ini jawaban dari kekecewaan yang aku dapat tadi, bahwasannya dia adalah jodoh yang telah Engkau persiapkan untuk menunggu kehadiran hamba." gumam Hanafi tanpa terasa juga menitikan air mata.
" Tapi apakah dia juga akan mau menerimaku sebagai suaminya, jika tahu apa pekerjaanku." gumam Hanafi lagi, namun tampak ragu-ragu.
Pemuda malang yang tengah kecewa ini, menghirup nafas dalam-dalam, mengutarakan keinginannya kepada gadis disamping nya.
" Aku hanyalah pemuda biasa, yang mengajar disebuah pesantren milik pamanku. Ayahku sudah meninggal dunia, tinggal lah ibuku saja. Karenanya barusan, saat aku melamar seorang gadis, ayahnya menolak ku. Karena latar belakang serta status sosialku yang tidak sepadan dengan mereka. Jika aku mengajukan diri dan bersedia menikahi mu. Apakah kamu akan menerima kekurangan aku?" ucap Hanafi dengan tatapan serius.
Karen menatap pemuda disampingnya, seraya mulutnya ternganga. Tidak percaya dengan apa yang telinganya dengar baru saja.
" Maaf, apa bisa kamu ulangi?? kamu ingin menikahi ku?? kamu bercanda kan?" tanya Karen meyakinkan diri.
Hanafi menggeleng serta mengulum senyuman, " aku serius, untuk apa aku bercanda dengan apa yang sudah Allah persiapkan untuk ku. Beberapa saat barusan, setelah mendengar semua cerita kamu, dan kembali merenungi apa yang terjadi padaku. Aku berfikir, Allah menggerakkan kaki ku kesini, tentunya bukan tanpa alasan, namun engkaulah yang menjadi alasan itu. Maukah kamu menikah dengan pemuda biasa ini?" kali ini Hanafi yang balik bertanya.
Gadis cantik yang tengah mengenakan kebaya dan rambut yang disanggul itu, menangis sambil tertawa bersamaan.
" Hahaha jangan bercanda kamu." timpal Karen.
" Aku serius, aku ingin menikahi mu karena Allah Karen, bersediakah kamu menikah denganku?" kali ini wajah Hanafi benar-benar terlihat serius, tanpa ada gurauan didalamnya.
Gadis malang itu menatap lekat kepada pria disampingnya.
" Subhanallah, apakah benar yang dia ucapkan itu Tuhan. Engkau jauhkan dia dari diriku, namun disaat bersamaan Engkau gantikan dengan pemuda pilihan MU." gumam Karen tak hentinya terisak. Dan gadis malang ini pun mengangguk kan kepalanya, pertanda setuju dengan lamaran pemuda yang di kirim Tuhan untuknya.
Hanafi tersenyum saat melihat jawaban Karen.
" Aku bersedia menikah denganmu karena Allah." balas Karen, dan keduanya sama-sama menangis sambil terkekeh tertawa.
**Note : "Mungkin saat Allah hadirkan kekecewaan dalam hidup kita, itu semua bukan tanpa sebab. Namun Allah lebih tahu apa yang terbaik untuk hambaNya, yang terbaik menurut kita belum tentu terbaik menurut Allah. Sebaliknya, yang terbaik dari Allah, sudah tentu baik untuk kehidupan dunia akhirat kita."
BERSAMBUNG**......
__ADS_1