
" Tolong tangguhkan dulu untuk penahanan klien saya, saya ada sedikit bukti. Walau masih belum cukup kuat, namun setidaknya bisa memberikan bukti bahwa beliau belum bisa dinyatakan bersalah sepenuhnya." ujar Farid Basalamah kepada polisi yang bertugas menyelidik Amir.
Dan Farid pun memberikan bukti yang di kirim oleh Dirga, yang diperoleh dari tim investigasi. Polisi mendengar rekaman suara, percakapan antara Handoko dan dua orang penyamar.
" Benar, sepertinya orang ini juga patut dipanggil untuk dimintai kesaksian, sebab saat ini dia adalah penerus pengembangan Mega proyek Zenpi." ujar polisi, seusai mendengar rekaman suara.
Amir bisa sedikit lega bernafas, " Sedikit demi sedikit, kebenaran akan terungkap, terimakasih ya Allah." gumam Amir penuh harap.
Dan saat itu juga, polisi menurunkan surat panggilan kepada Handoko, yang di kirim melalui utusan.
Masih berada di kota Madinah.....
Saat ini jam sarapan pagi, Annisa dan Azzam bermaksud memberitahu kepada Devi, perihal kehamilan nya serta masalah yang sedang dihadapi sang papa. Agar Devi turut serta mendo'akan Amir.
" Ma, Nisa ada kabar baik buat mama." ucap Annisa, seusai sarapan bersama di restauran hotel.
" Kabar baik apa sayang?" tanya Devi menatap sang putri, penasaran.
Nisa balas menatap sang mama, seraya tangannya, mengusap perutnya yang masih rata.
Sejenak Devi memperhatikan rona kebahagiaan yang terpancar pada diri sang putri.
" Nisa hamil?" tanya Devi penasaran dan penuh antusiasme.
Annisa dan Azzam yang duduk bersebelahan, mengangguk bersamaan, disertai seulas senyum bahagia dari keduanya.
" Alhamdulillah, Allahuakbar, terimakasih Yaa Allah atas karunia mu." tukas Devi, berdo'a mengucap syukur.
Setelah Devi terlihat bahagia, memeluk Annisa. Maka istri Azzam itu, menggenggam erat tangan sang mama, yang kini duduk dihadapannya.
" Nisa ada satu kabar lagi buat mama." kali ini raut wajah Annisa, berubah sendu seketika. Begitu juga dengan Azzam.
__ADS_1
Devi menatap wajah kedua orang dihadapannya itu, silih berganti, seolah meminta jawaban, apa maksud dari ucapan Nisa barusan.
" Papa kalian kenapa?? apa yang kalian tutupi dari mama, cepat katakan Nis !!" ucap Devy, mulai panik, bahkan berubah sedih.
Entah mengapa, seketika saat Nisa dan Azzam terdiam, pikiran Devy langsung tertuju kepada sang suami, yang tengah di tinggal sendiri.
" Katakan Nisa !! papa kenapa?? " teriak Devy, kali ini suaranya mulai meninggi.
Tak kuasa berkata kata lagi, Annisa malah menangis sesenggukan, sebelum bercerita. Dan Azzam pun, memeluk tubuh sang istri yang terlihat sedih dan tertekan itu, kedalam pelukannya.
Devy juga turut menangis, walau kedua orang dihadapannya, belum mengatakan yang sebenarnya terjadi.
" Papa sedang pailit ma perusahaannya sekarang, tepatnya sebelum keberangkatan kita kesini. " tukas Azzam, mengawali cerita.
" Papa meminta Azzam untuk tidak bercerita kepada mama, tapi kami tidak sanggup, melihat papa disana berjuang sendirian, melawan musuh yang sedang mengintainya." cerita Azzam kembali.
" Sebenarnya, akar dari semua permasalahan yang papa hadapi saat ini, adalah Azzam ma. Jadi mama boleh marah kepada Zam, Zam akan terima." pungkas Azzam lagi.
Nisa memeluk tubuh sang mama, keduanya sama-sama menangis dan terisak.
Tak ada kata yang dapat Devy ucapkan saat itu, dari bibirnya. Semua terasa Kelu baginya. Terbayang bagaimana pria yang telah sekian tahun, mendampinginya itu bergelut dengan masalah seorang diri. Dan pagi itu, dikota Madinah. Suasana yang tadinya bahagia, berubah seketika menjadi sedih.
" Mama yang sabar ya?? mama yang kuat !! Nisa sama mas Azzam yakin, mama pasti bisa melewati semua ujian ini. Mulai saat ini, kita semua do'akan papa. Agar papa sehat sehat selalu disana, dan diberi kesabaran seluas samudra, agar senantiasa bisa menghadapi semua ujian dengan lapang dada." pungkas Annisa, berusaha meyakinkan dan mensupport sang mama, saat itu.
" Mama jangan terlalu larut dalam kesedihan, karena papa ingin mama, selalu bahagia. Karenanya, papa sengaja mengirim mama kesini, karena papa tidak ingin, melihat mama bersedih, saat melihat kondisi papa saat ini ." ucap Azzam juga berusaha menghibur sang ibu mertua.
Ketiganya saling menangis dan bersedih, namun semua itu tak berlangsung lama, sebab ketua tim rombongan jama'ah telah menelfon, untuk segera berkumpul, karena sebentar lagi akan melaksanakan Ihram dari Miqat.
******
" Pak saya dengar, beberapa waktu lalu terjadi kecelakaan ya disini. Dan korban yang meninggal, serta korban luka luka, terbilang lumayan banyak." tanya penyamar ketiga.
__ADS_1
" Iya benar mas, sebaiknya kita lebih hati hati saja. Kalau kemarin sewaktu proyek dipegang pak Amir, safety para pekerja di kedepankan. Namun sayang naas, masih saja kecolongan, dan timbul banyak korban. Jika dibanding pemimpin proyek yang saat ini, loyalitasnya kepada para pekerja, sangat berbeda jauh mas.
Tapi ya mau bagaimana lagi, kita hanyalah kuli, suara dan permintaan kami, tentu tidak akan didengar." tukas pekerja yang sudah bekerja cukup lama di proyek Zenpi tersebut.
" Lantas jika beliau orangnya baik, apa ada kemungkinan untuk sengaja melakukan kesalahan, dengan memakai material berkualitas rendah ?" tanya penyamar satunya yang juga ada disana.
" Itu lah mas yang sulit buat kami untuk buka suara. Jika kami mengatakan yang sebenarnya, kira kira, apa suara kami ada yang sudi mendengarnya?" ucap salah satu bapak pekerja kuli bangunan.
Kedua orang penyamar ini terpaku, saat mendengar ucapan kuli tersebut. Tentunya, alat perekam pun sudah bekerja sedari tadi, saat mereka berbicara.
" Maksud bapak, apa ada kejanggalan atau kesalahan yang disengaja oleh seseorang kah pak? untuk menjatuhkan bapak pemegang proyek terdahulu, siapa tadi namanya pak?" ucap penyamar ketiga, berpura-pura lupa siapa nama pemegang proyek sebelumnya.
" Beliau namanya pak Amir. Jujur saya tidak tega saat mendengar beliau dinyatakan sebagai terdakwa, atas insiden robohnya atap lantai tiga belas kemarin. Beliau orang baik, pasrah menerima tuduhan yang sama sekali tidak pernah dilakukannya dengan sengaja." ujar pekerja bangunan bercerita.
" Apa bapak tahu sesuatu?? jika bapak kasihan, harusnya bapak memberikan kesaksian bahwa beliau tidak bersalah, dan mengatakan yang sebenarnya pak." desak penyamar ke empat.
" Maaf saya tidak berani mas, pasalnya orang yang melakukan penukaran bahan material itu sudah pergi jauh ke luar kota entah kemana, sesuai perintah pak Handoko." ucapnya mulai terbuka.
" Baiklah pak, terimakasih sudah mau bercerita kepada kami. Kami janji tidak akan menyebut, atau membocorkan nama bapak kepada pihak yang berwajib. Sampai jumpa." ucap penyamar ke empat menepuk pundak bapak pekerja bangunan itu.
" Oh ya pak, apa bapak tahu, siapa nama pekerja yang kabur itu?" tanya penyamar lima, yang tiba-tiba muncul, setelah mendapati signal dari kedua temannya.
" Maaf saya tidak tahu persis siapa nama lengkapnya mas, yang saya tahu, dia adalah kepala proyek disini. Namanya Ridwan." pungkas bapak kuli bangunan lagi.
Ketiga penyamar itu, lalu segera bergegas pergi meninggalkan area proyek tersebut, karena jam istirahat, sebentar lagi telah usai. Dan seluruh pekerja, tentunya akan kembali melakukan aktivitas masing-masing.
Satu kebenaran dan satu bukti, berhasil mereka dapatkan lagi. Dan semua bukti bukti tersebut, mereka kirim kepada hakim Dirgantara.
*******
BERSAMBUNG.....
__ADS_1