HIJAIYAH CINTA

HIJAIYAH CINTA
Kecelakaan Aulia


__ADS_3

" Sayang kita cari kado buat Delisa yuk !!" ajak Azzam memeluk tubuh sang istri dari belakang, yang tengah menyiram bunga di taman belakang, yang sengaja dibuat atas permintaan Annisa.


" Nggak usah kado yang aneh-aneh mas, bagaimana kalau kita berikan mereka tiket bulan madu, bagaimana pun juga mereka sangat berjasa, telah banyak membantu papa waktu itu." ucap Annisa masih fokus dengan selang air ditangan.


Tangan Azzam mengambil alih selang dari tangan sang istri, sementara tangan satunya menggamit pinggul Nisa. Seolah tak mau jauh dari wanita yang tengah berbadan dua tersebut.


" Mas Azzam semenjak Nisa hamil makin kayak lem sama perangko ya, nempel terus he he he." kekeh Annisa menggoda.


" Kan lem nya rekat banget yang, makanya perangkonya ketarik kayak magnet." celetuk dosen kutub yang masih menyiram tanaman.


Keduanya berjalan beriringan melihat bunga di sekeliling taman yang sudah mulai bermekaran. Nisa pun gembira dan berniat memetiknya, hendak saja meraih tangkai bunga, tiba-tiba kakinya terpeleset, melihat sang istri hendak terjatuh, Azzam dengan sigap meloncat dan menangkap tubuh wanita yang tengah hamil dihadapannya itu.


Sejenak Azzam merasa seperti senam jantung, tatkala melihat sang istri hampir terjatuh, bayangannya pun sudah menerawang ke hal yang buruk, saking tidak inginnya ia terjadi suatu hal buruk kepada istrinya.


Bulek Rohimah yang melihat dari jendela dapur, juga turut berteriak, saat Nisa hampir jatuh, dan wanita paruh baya ini pun segera menghampirinya, dengan membawa segelas air putih ditangannya.


" Ini minum dulu cah ayu !" bulek Rohimah menyodorkan gelas berisi air putih kepada Annisa, dan Nisa pun segera menenggaknya, karena ia juga sempat kaget.


" Cah ayu kalau jalan itu hati-hati, untung ada Zam yang sigap, coba kalau nggak ada orang bagaimana coba." suara bulek Rohimah menasehati sambil menuntun Nisa duduk.


" Iya bulek, Nisa kurang hati-hati, terimakasih ya mas." ujar Nisa tersenyum menatap sang suami.


Azzam berjalan memetik bunga yang diinginkan oleh sang istri, dan setangkai mawar putih yang baru dipetiknya diberikan kepada Annisa dengan berjongkok dan mengusap perut buncit Nisa.


" Lain kali hati-hati ya sayang, demi kamu dan anak kita, jika bisa minta tolong kepada orang di sekitar sayang, mintalah bantuan mereka, jangan sampai membahayakan diri sendiri, faham !!" suara Azzam menasehati diiringi anggukan kepala oleh Nisa.


*****


Seusai menunaikan sholat Dhuha, Azzam dan Nisa berganti pakaian. Hendak menemui sang papa tercinta yang sudah lama tidak bersua.


" Sayang yakin nggak mau beli baju atau sesuatu untuk dipakai saat acara Delisa nanti?" tanya Azzam yang sudah berganti Hem lengan pendek, dipadukan dengan celana jeans.


" Males ah mas, lagian baju Nisa kan banyak yang masih baru, mubadzir." sahut Nisa, seraya memasang niqabnya.


" Memang masih muat yang?" imbuh Azzam.


Nisa terdiam sejenak sembari berfikir dan membatin, " iya juga ya, secara tubuh aku sekarang kan makin Endut."


Tangannya pun beralih membuka lemari dan melihat satu persatu koleksi pakaian Syar'i yang dimilikinya. Ia pun mulai mencoba nya.


" Mas, nggak muat." ucap Nisa saat mencoba pakaian tersebut. Azzam yang melihatnya pun terkekeh dibuatnya.

__ADS_1


" Sudah kuduga ha ha ha." goda Azzam.


" Ihhh iya tahu badanku makin melebar, makin bengkak, kenapa ketawa?? lucu ya??" gerutu Nisa, memanyunkan bibirnya.


Azzam mendekati dan merayu sang istri yang tengah merajuk. Mengusap pucuk kepala istrinya.


" Sayang dengar ya, mau sayang semakin gendut kek, dan gemuk seperti apapun, mas tetap akan sayang. Bukankah kamu seperti ini karena mengandung buah cinta kita, jadi enggak perlu cemberut, entar makin cantik loh." rayu Azzam.


Bibir yang tadinya manyun pun berubah menjadi senyuman, seraya memeluk tubuh pria dihadapannya.


" Benar mas ?, mas tetap sayang kan sama aku, meski nanti Nisa bakalan lebih endut dari sekarang?" Azzam pun mengangguk dan mengecup kening Annisa.


Dan keduanya keluar dari kamar, berpamit kepada bulek Rohimah.


" Bulek mau ikut enggak, cari baju untuk pestanya Delisa akhir pekan ini?" pasangan suami istri ini bertanya kepada Rohimah.


" Nggak usah Zam, kata Han dan istrinya, sebentar lagi juga akan datang kemari, katanya sih mengantarkan baju buat bulek." jawab Rohimah.


" Ya sudah kami pamit ya bulek, Assalamu'alaikum." ucap Azzam dan Nisa bersamaan.


" Wa'alaikumussalam." jawab sang bulek, mengantar keponakan dan istrinya sampai ke depan pintu.


*****


Dengan penuh kasih sayang, Azzam membuka pintu mobil untuk istri tercinta, menuntunnya penuh kehati-hatian berjalan memasuki butik.


Seorang pegawai butik menyambut kedatangan Azzam dan Nisa dengan sopan.


" Pagi kak, ada yang bisa saya bantu?" tanya pegawai butik.


Nisa memilih pakaian yang di gantung disana, sementara Azzam juga ikut membantu sang istri memilih pakaian.


Keduanya tampak asyik memilih beberapa baju, sementara di luar terdengar bunyi benturan yang keras, dan suara teriakan pun terdengar. Seketika semua orang yang ada disekitar pun berkerumun mendekat.


Rupanya baru saja terjadi korban tabrak lari, antara sebuah mobil dan pengendara motor, seorang wanita yang sedang membawa anak kecil di jok depan.


" Suara apa itu mas, kenapa mereka berkerumun disana?" tanya Nisa menatap ke arah luar kaca butik.


" Entah lah yang, palingan juga kecelakaan, sayang pilih saja ya bajunya, biar aku lihat sebentar si korban. Soalnya kenapa hanya jadi tontonan, bukannya di tolongin." keluh Azzam juga menatap ke arah luar. Di iyakan oleh Annisa.


Azzam mendekati kerumunan warga yang melihat korban kecelakaan tersebut. Betapa kaget mata Azzam, saat mengetahui siapa korban kecelakaan itu. Dan anak kecil yang menangis di dekat si korban yang tergeletak.

__ADS_1


" Aulia." teriak Azzam.


Semua warga pun menoleh ke arah Azzam yang berdiri diantara para kerumunan.


" Kenapa kalian diam saja, ini bukan tontonan, cepat panggilan ambulance !!" teriak Azzam lagi.


Mendengar suara sang suami yang melengking, Nisa pun menghampiri nya.


" Mas kenapa?" tanya Nisa khawatir.


" Sayang, cepat bawa anak kecil ini masuk kedalam butik, aku akan bawa Aulia ke rumah sakit, tunggu disana, atau pulang naik taksi ya, maaf aku ke rumah sakit dulu !" pamit Azzam, membopong tubuh Aulia kedalam mobil miliknya.


Annisa mengangguk dan melihat kepergian sang suami dengan korban kecelakaan yang bersimbah darah. Beberapa warga yang berkerumun pun mulai pergi. Hanya tersisa bocah kecil laki-laki yang berusia lima tahun, menangis sesenggukan.


Nisa mendekap bocah tersebut kedalam pelukannya.


" Diam ya sayang, ayo ikutan kakak masuk kedalam sana !" ajak Nisa dengan suara lembutnya, mengusap air mata bocah tersebut.


Sang bocah pun mengangguk dan masih terisak, beranjak bangun ikut Nisa ke dalam butik.


" Mama ku man" tanya bocah lucu itu dengan suara cadelnya.


" Om sedang bawa mama kamu ke rumah sakit, agar segera dirawat dan cepat sembuh, kamu disini sama kakak ya?" Nisa mengusap kepala bocah kecil itu.


Pegawai butik pun memberikan minuman dan tisu kepada Nisa. Di dekat Annisa bocah itu pun terdiam dari menangis. Dan meminum minuman yang dibawakan oleh pegawai butik.


" Mbak maaf, bajunya yang tadi dulu ya, bungkus itu saja, Insya Allah kapan kapan mampir lagi." timpal Nisa kepada pegawai butik.


" Baik kak ." pegawai itu pun segera mengemas baju yang di pilih oleh Nisa dan Azzam beberapa waktu lalu.


" Sayang namanya siapa?" tanya Nisa kepada bocah malang didepannya itu.


" Panggilanku Ham, kata mama namaku Hamzah." jawab bocah lucu yang berpipi embul itu.


Nisa tersenyum mengangguk, " oh namanya kaka Hamzah ya, kenalin nama Kaka Annisa."


keduanya saling balas tersenyum dan menatap, Nisa mengusap acak rambut Hamzah. Dan setelah pakaian selesai di bungkus serta dibayar, sebuah taksi yang di pesannya pun datang. Nisa membawa Hamzah pergi ke rumah kedua orang tuanya.


******


BERSAMBUNG.....

__ADS_1


__ADS_2