
" Banyak tugas ya?" tanya Azzam saat melihat sang istri tengah sibuk menatap layar laptopnya.
" Iya mas banyak banget, harus dikumpulkan besok. Maaf ya mas, malam ini sepertinya aku nggak bisa masak makan malam." tukas Annisa mengalihkan pandangannya, menatap sang suami yang sedang duduk di ujung meja, dihadapan Annisa.
" Lanjutkan saja tugas kamu, biar aku masak untuk makan malam." balas Azzam, mengacak rambut Nisa.
Nisa pun membalas Azzam dengan senyum, "terimakasih mas." ucap Nisa.
Azzam lalu bergegas menuju dapur, memulai aksinya dengan memilih bahan yang ada di kulkas. Dan malam itu Azzam membuat bistik, seperti yang sering ia masak tatkala kuliah di Kairo.
Jarum jam kian bergeser, tangan Annisa masih berkutat dengan papan keyboard di laptop nya. Sedang cacing dalam perutnya terus berontak meminta jatah. Ditambah aroma masakan Azzam yang memenuhi hampir seruangan, tempat Nisa belajar. Menambah rasa lapar yang makin tak tertahan.
Dert.... dert.... dert.... bunyi ponsel Annisa
Di angkat ponsel yang tergeletak di meja dan ternyata nomor Sinta.
" Ya Assalamu'alaikum Sin, lu kemana kok nggak masuk tadi ?" tanya Annisa membuka percakapan.
" Maaf ya sayangku, aku pergi tengok abang aku ke luar kota. Kebetulan bang Harry nggak bisa pulang jadi gue yang susul kesana." sahut Sinta.
" Hah, cowo brengsek itu ternyata abang nya Sinta, astaghfirullah sebuah kebetulan macam apa ini. Pria brengsek yang hampir merenggut kehormatan ku, dia saudara dari sahabat aku sendiri." gumam Annisa
" Nis lu nggak papa kan ? Nisa masih disitu ?" suara Sinta sedikit teriak, karena tidak ada jawaban dari Annisa kala itu . Mendadak kebisuan Nisa membuat Sinta panik.
" Eh iya iya ada kok, sorry mendadak suara lu gak kedengaran Sin." ujar Annisa sedikit berbohong, tak mau sahabatnya itu tahu kebejatan kakaknya.
" Tadi menelfon ada apa sih gerangan?" timpal Sinta kembali.
" Ya khawatir aja dudul , masa nggak masuk kuliah ngilang gitu aja, no pesan no telfon."
balas Annisa.
" Iya iya maaf, besok aku masuk kembali kok." balas Sinta, dan keduanya pun berbicara panjang lebar sampai Azzam datang memanggil Nisa untuk makan malam.
" Sayang makan dulu yuk, pasti sudah lapar kan?" ujar Azzam menghampiri Nisa.
" Maaf ya Sin, gue tinggal dulu. babay sampai ketemu besok sayang." ucap Annisa mengakhiri panggilan telepon nya.
__ADS_1
" Maaf Sinta telfon barusan mas, tadi dia nggak masuk. Nisa pulang naik taksi." ujar Nisa bercerita seraya menatap wajah Azzam.
Azzam kembali mengacak rambut wanita dihadapannya. " Iya nggak papa kok, yuk makan nanti keburu dingin !!". seru Azzam.
" Ayo mas, perut Nisa sudah bunyi terus daritadi." sahut Nisa cengengesan.
Dan tak lama kemudian keduanya menikmati makan malam bersama.
" Hmmmm.... enak mas, kesat sekali. Ajari Nisa masak bistik ini dong mas." tukas Nisa di sela makan.
" Sayang, kalau makan itu nggak boleh bicara, ayo dimakan dulu, bicaranya nanti." sahut Azzam menatap kedua netra Annisa.
Dengan lahap Nisa menikmati masakan buatan suaminya. Begitu juga dengan Azzam, ia rela menyuapi Nisa hinga nambah, agar sang istri kenyang.
******
Pagi menjelang.....
Selepas sholat dhuha, Nisa segera ke dapur menyiapkan sarapan buat suaminya. Walau menu sarapan yang Nisa buat tiap pagi sangat sederhana, namun tak membuat Azzam kecewa. Ia bahkan seringkali memuji masakan Nisa yang terkadang keasinan, atau hambar sekalipun.
" Mas kalau Nisa ambil mobil dirumah papa gimana? soalnya terkadang Sinta halangan gak bisa masuk, kan enak kalau bawa mobil sendiri mas. ". tukas Annisa mengajukan pendapat.
Gadis ini tengah merapikan kerah kemeja yang dikenakan Azzam, " boleh ya mas?"
Pria berpawakan kearaban tersebut, memegang kedua pundak Annisa yang berdiri tepat didepannya.
" Boleh sayang, atau kalau mau besok sepulang dari kampus kita ke showroom, kamu pilih mobil apa yang kamu suka." jawab Azzam.
" Untuk apa beli baru mas, membuang duit saja. Kan mobil Nisa dirumah papa nggak terpakai juga, sayang kan kalau nggak dipakai." jawab Nisa .
" Ya sudah kalau keputusan kamu seperti itu, mas hanya berusaha ingin memberikan yang terbaik untuk teman hidup mas."
Dan keduanya pun berangkat menuju kampus. Menyusuri jalanan kota M yang mulai memadat seperti biasanya.
*****
Setibanya di area parkir kampus, secara kebetulan Linda juga baru saja memarkirkan mobilnya. Tepat disamping mobil Azzam.
__ADS_1
" Hai pengantin baru selamat pagi." sapa Linda yang baru saja keluar dari mobil.
" Assalamu'alaikum pagi juga Bu Linda." balas Nisa dengan sopan.
" Zam makasih ya atas tumpangannya kemarin?" tiba tiba Linda membual dihadapan Annisa.
" Maaf ya Lin, sebelumnya aku ucapkan terimakasih juga. Tapi aku sama sekali tidak merasa pernah memberimu tumpangan. Mungkin kamu salah orang. Ayo sayang kita pergi dari sini !!" celetuk Azzam mulai kesal dan segera menggandeng tangan Annisa, meninggalkan Linda.
Tak banyak suara yang terucap dari bibir Nisa. Otaknya mulai bertanya tanya, apa benar yang diucapkan oleh Linda. Namun saat melihat reaksi kemarahan Azzam, sepertinya ucapan suaminya itu adalah yang benar.
Dan Annisa pun lebih memilih diam sembari dalam hati, ingin mencari tahu kebenaran dari perkataan Linda barusan.
" Mas boleh aku bertanya?" ucap Nisa saat berhenti di depan kantor dosen. Dan Azzam membalas mengangguk.
"Apa benar yang dikatakan Bu Linda baru saja? terus kenapa mas nggak cerita ke Nisa kalau mas ngasih tumpangan ke dia." tanya Annisa mulai terbakar cemburu.
" Mau kasih tahu apa sayang, mas nggak merasa memberi dia tumpangan sama sekali. Kemarin memang dia memintaku mengantarnya ke bengkel, dia bilang mobilnya ada di bengkel. Tapi mas tolak dan mas bilang ada hati yang harus mas jaga yaitu kamu sayang." ujar Azzam berusaha menjelaskan kepada Annisa.
Namun sepertinya Annisa tidak mempercayai begitu saja. Ditambah Linda malah memperkeruh suasana dengan bersikeras mengatakan semua ucapannya adalah benar. Dan Azzam takut pada Nisa.
" Alah suami kamu itu takut sama kamu, makanya nggak cerita. Udah ngaku aja Zam kalau kemarin kita barengan berduaan." celetuk Linda memprovokasi Azzam dan Annisa.
" Tolong tutup mulut kamu Lin, aku masih bersabar karena menghormati persahabatan kita. Sayang percayalah jangan dengarkan dia." ucap Azzam memegangi tangan Annisa.
Namun saat melihat wajah Linda yang menyeringai licik, Nisa terlihat sangat kesal. Dan wanita ini pun berlari meninggalkan Azzam, berlari menuju kelasnya.
Azzam hanya bisa diam tidak mengejar Nisa, karena tidak ingin memperkeruh suasana hati sang istri. Dan pria ini terus masuk ke kantor tanpa menghiraukan Linda yang mematung dihadapannya.
Linda tersenyum sinis merasa sudah berhasil membuat hubungan Nisa dan Azzam terpecah.
" Ini baru permulaan Zam, lihat saja nanti aku bakal membuat kalian bercerai." gumam Linda seraya tersenyum jahat.
Pagi yang tadinya indah dan romantis berubah seketika saat Linda berulah. Azzam hanya bisa berharap semoga kelas segera berakhir dan membawa pulang istrinya. Untuk berbicara dari hati ke hati.
*******
BERSAMBUNG.....
__ADS_1