
Di pesta pernikahan Delisa, Annisa dan Azzam tampak bahagia sekali, keduanya turut memberi ucapan selamat kepada kedua mempelai, begitu juga dengan pasangan Hanafi dan Karen, yang juga hadir dalam pesta tersebut.
Dari pintu utama ruang pesta, sepasang pemuda-pemudi yang baru turun dari mobil, tengah memasuki ruangan pesta. Meski keduanya terlihat tidak akur sekali. Berjalan terpisah, dimana Sinta memasang wajah cemberut, sedangkan Leo yang berjalan di belakang Sinta, tampak seperti kerbau yang dicocok hidungnya, cengar-cengir berusaha mencari perhatian Sinta.
" Hai gadis, bisa nggak sih jalannya pelan sedikit. Pelan dikit napa ? kita datang kesini itu sebagai pasangan bukan musuh." gerutu Leo, berbisik menggamit paksa lengan Sinta.
Yang di gamit lengan bukan nya senang, malah terlihat cuek tak menghiraukan apa yang diucapkan pria disampingnya. Berusaha menepis tangan Leo, namun gagal, antusiasme pria itu begitu tinggi, hingga terlihat enggan melepas Sinta malam itu.
Nisa yang tengah duduk di sebuah kursi, sedang bercanda dengan Hamzah, tanpa sengaja melihat kedatangan sahabat karibnya. Mata bumil itu seketika terbelalak kaget, ditambah saat ia juga melihat kehadiran sosok pria, bagian dari masa lalunya.
" Apa? Sinta dengan Leo ? Apa pria yang om Himawan jodohkan itu dia?" gumam Annisa tercengang.
Azzam yang sedang berbincang dengan Han dan beberapa kerabat lainnya juga sempat melihat sahabat dari istri nya tengah bergabung dalam pesta. Tak kalah dengan sang istri, sang dosen pun hafal betul siapa sosok pria yang menggamit lengan gadis tersebut.
" Sinta, Leo." sebut Azzam tercengang.
Ucapan Azzam mengagetkan Hanafi dan Karen yang tengah berdiri di sampingnya. Dan membuat pasangan pengantin baru itu juga melihat ke arah yang Azzam pandang.
Tampak Sinta masih saja memasang muka masam, bahkan Leo berkali-kali berusaha mengambil hati nya.
" Maaf kalau sikap aku tadi ketus sama kamu, tapi tolong jangan cemberut gitu dong. Entar yang ada sama orang dikira aku jahat." goda Leo, merayu Sinta.
" Hei bung, ingat ya kita kesini karena kemauan orang tua. Jadi lepas tangan kamu jangan berharap lebih dariku." dengus Sinta kesal, menepis tangan Leo paksa.
Beberapa pasang mata tamu undangan sempat melihat ke arah pasangan muda-mudi tersebut.
Karen dan Hanafi juga menyaksikan langsung drama yang terjadi disana. Tersungging seulas senyum dari bibir Karen, saat melihat Sinta bersikap kasar terhadap Leo.
" Sayang kenapa senyum sendiri melihat mereka berantem ?" tanya Han kepada sang istri.
__ADS_1
" Lucu aja sih mas lihat nya, seorang Leo cowok yang dulu sangat aku cintai, ternyata hanya seorang buaya. Mas lihat saja bagaimana dia merayu gadis itu, sungguh kasihan." ujar Karen dengan sinis.
" Hei.... sejak kapan istri aku yang cantik ini berubah jadi pendendam. Kamu cemburu lihat mereka berdua?" timpal Han
Karen melotot seraya menggeleng, " mas pikir aku masih ada rasa sama dia, dengar ya mas !! , sejak mas hadir dalam kehidupan aku, nama dan semua kenangan tentang dia sudah aku buang jauh-jauh. Pria seperti dia tidak pantas mendapatkan ketulusan cinta ku." tandas Karen.
Han tersenyum mencubit pipi Karen yang kini terlihat lebih chubby dari biasanya.
" Nah begitu dong, itu baru namanya istri ustadz Hanafi." goda Han mengerlingkan sebelah matanya tanda gas kepada sang istri.
Azzam yang beralih duduk disamping sang istri, turut tersenyum mendengar percakapan sepupunya itu.
" Lucu mereka ya mas." ujar Annisa menoleh ke arah Azzam.
" Iya sayang, Alhamdulillah bundanya si dede enggak manja aneh-aneh, he he he." kelakar Azzam menggoda sang istri.
Baru saja Azzam berkata demikian, tiba-tiba si bumil mulai bersikap aneh lagi.
Azzam melongo dengar tingkah si bumil yang baru saja ia puji. Namun bukan Azzam namanya kalau ia akan menolak permintaan wanita tercintanya. Dengan cekatan sang dosen kutub berdiri, mengambil kue yang Nisa tunjuk, bahkan mengambil beberapa macam sekaligus, berharap agar si bumil puas dan juga Hamzah.
" Suapin !!" rengek bumil kembali dengan sikap manjanya seperti biasa. Membuat dosen kutub itu tak mampu menolak, segera saja menyuapkan kue dengan sendok ke mulut Annisa, berganti juga dengan Hamzah.
" Kaka cantik kue nya enak, telimakasih om ganteng, emmmuach." bocah kecil itu tiba-tiba menghadiahi Azzam sebuah kecupan di pipi, dari bibir mungil nya yang penuh dengan coklat dan butter krim.
Membuat pipi sang dosen tersebut terdapat bekas butter krim dan coklat, Nisa yang melihatnya jadi cekikikan mentertawakan sang suami.
" Hamzah pintar deh, lihat tuh om gantengnya jadi makin ganteng, ha ha ha." suara tawa Annisa yang spontan keluar begitu saja, saat melihat wajah lucu sang suami. Bahkan dengan sigap, Nisa mengabadikan wajah lucu suaminya dengan kamera dari ponselnya.
Bocah kecil itu juga turut tertawa cekikikan, mereka terlihat akrab layaknya sebuah keluarga kecil.
__ADS_1
" Mereka seperti ayah dan anak ya." ucap Han kepada Karen.
" Iya mas, mereka benar-benar manusia berhati malaikat. Meski pernah di kecewakan oleh ibu dari anak itu, namun masih tetap mau merawat nya." balas Karen, menimpali seraya menatap ke arah Azzam dan Annisa, begitu juga dengan Han.
Di sudut ruang pesta, Sinta yang tengah duduk bersama Leo masih terlihat belum akur. Dan tiba-tiba dari dalam perut Sinta, berbunyi " kruk... krukkk."
Leo terkekeh dengar bunyi suara perut gadis disebelahnya.
" Kalau lapar jangan ditahan mbak, nanti pingsan lagi. Mau aku gendong pulang ke rumah ?" goda Leo
Bukannya menjawab, gadis itu malah melotot tajam ke arah Leo.
" Widiiih makin cantik kali itu." ledek Leo kembali. Seraya beranjak bangun dari duduknya, mengambil makanan dan minuman untuk Sinta.
" Ini makan lah !! , nggak usah gengsi, anggap saja aku makhluk Alien. Nggak bisa lihat kamu makan." tukas Leo menyuruh Sinta makan.
Awalnya gadis ini masih memasang gengsi dan harga dirinya, menolak makanan yang sudah dibawakan oleh Leo, namun karena makhluk dalam perutnya semakin memberontak meminta haknya, maka Sinta pun dengan angkuh menyantap makanan beserta minuman tersebut sampai habis tak bersisa.
Leo hanya bisa tersenyum menggeleng kepala.
" Wah orang emosi dan angkuh, juga butuh tenaga ya." goda Leo seusai Sinta makan.
Gadis ini tetap tak bergeming, berpura-pura tak melihat keberadaan makhluk astral dihadapan nya, bersikap masa bodoh. Sikap angkuh Sinta rupanya, meruntuhkan benteng pertahanan cinta yang Leo miliki terhadap Karen sebelumnya. Bahkan pria ini mulai merasa tertarik dengan Sinta.
Pesta pernikahan Delisa dan Farid Basalamah malam itu berlangsung sangat meriah, semua tamu undangan tampak hadir memenuhi hall hotel tersebut.
Waktu terus bergulir, pasangan pengantin yang berdiri bak raja dan ratu diatas singgasana malam itu terlihat cukup lelah. Satu persatu tamu undangan yang hadir mulai pergi silih berganti. Begitupun dengan rombongan keluarga Kyai Waffiq.
" Terimakasih bang atas kehadirannya beserta seluruh keluarga, terimakasih juga mbak Him sudah berkenan menghadiri dan memberi do'a restu kepada putra-putri kami. Terimakasih ya Zam, Han, Nisa dan juga Karen, hati-hati di jalan. Selamat malam." ucap sang Hakim penuh rasa syukur atas kehadiran seluruh keluarga besarnya dalam pernikahan putri semata wayangnya.
__ADS_1
*****
BERSAMBUNG.....