
" Tok...tok...tok...." seorang pemuda berwajah kearaban tengah berdiri dibalik pintu, rumah Sinta. Berpakaian rapi dengan membawa setangkai bunga mawar ditangannya.
" Siapa ya tumben ada tamu dimalam hari." ujar ibunya Sinta, bergegas membuka pintu.
" Mungkin tamu penting ma." balas papa Sinta.
Wanita paruh baya itu membuka pintu, " ceklek."
" Assalamu'alaikum, selamat malam tante, om ada?" tanya pemuda tersebut yang tak lain adalah Hanafi Abdillah.
" Wa'alaikumussalam, iya ada. Anda siapa ya?" jawab ibunya Sinta sekaligus balik bertanya.
" Oh maaf Tante, perkenalkan nama saya Hanafi Abdillah, saya datang kesini karena ada keperluan dengan om dan tante." sahut pemuda tersebut dengan sopan.
" Mari mari masuk !!" Hanafi pun masuk kedalam.
Seorang pria paruh baya yang sedang mengenakan setelan celana santai, menghampiri tamunya.
Hanafi berdiri dan mengulurkan tangannya, pria paruh baya didepannya pun membalasnya.
" Assalamu'alaikum, saya Hanafi Abdillah om."
" Wa'alaikumussalam, kalau boleh tahu maksud kedatangan anak muda kemari apa ya??, dan Anda siapa?" tanya Himawan, nama ayah Sinta.
" Boleh saya duduk om?" tanya Han kembali.
" Oh maaf sampai lupa, iya silahkan duduk anak muda !!" Himawan mempersilahkan.
Rania istri Himawan pun pergi ke dapur, membuat minuman untuk tamunya. Sedangkan Sinta yang kebetulan sedang mengambil air minum di dapur, bertanya kepada sang mama.
" Ada tamu kah ma, kok bikin teh" tanya Sinta.
" Iya nak ada tamu, nggak tahu sp sih mama juga baru bertemu dia sekarang, katanya ada perlu dengan mama sama papa, kalau nggak salah tadi dia bilang namanya Hanafi siapa ya lupa." jawab Rania.
" Uhukkk." Sinta yang sedang menenggak air tiba-tiba memuncratkannya keluar. Membuat basah disekitar.
" Siapa ma Hanafi?" tanya Sinta melototkan pandangannya, kaget.
__ADS_1
" Iya, kamu kenapa sih kaget begitu. Memangnya kamu kenal dia?" tanya Rania mengaduk teh buatannya.
Tak menjawab pertanyaan sang mama, Sinta bergegas masuk ke kamar. Mengganti pakaian yang lebih rapi.
" Astaga, aku kira si Han hanya bercanda, apa benar dia kesini untuk melamar ku?" gumam Sinta penasaran.
Rania menggeleng melihat sang putri berlalu begitu saja tanpa menjawab pertanyaan darinya.
" Silahkan diminum nak !!" ucap Rania, meletakkan secangkir teh dihadapan Hanafi, satunya lagi dihadapan sang suami.
" Terimakasih." sahut Han.
" Emmm, sebelumnya saya minta maaf jika kedatangan saya kemari, mungkin mengagetkan om dan Tante. Sinta nya ada ?" tanya Han memberanikan diri.
" Iya ada, sebentar tante panggilkan." jawab Rania berlalu menuju kamar sang putri.
Mendapati kamar sang putri yang terbuka dan tampak berdandan rapi, Rania tersenyum melihatnya.
" Wah wah wah, ada yang sedang di apeli nih." goda Rania kepada sang putri, suaranya mengagetkan Sinta.
" Tuh ada yang cari." tutur Rania.
Anak dan ibu itu pun berjalan menuju ruang tamu.
" Selamat malam, Sin." ucap Han menyodorkan seikat buket bunga mawar dihadapan Himawan dan Rania.
" Terimakasih kak Han." sahut Sinta tersipu malu, kemudian duduk ditengah kedua orang tuanya.
Hanafi menghirup nafas dalam-dalam untuk memulai pembicaraan selanjutnya yang membuat jantungnya dag dig dug.
" Begini om, tante, maksud kedatangan saya kemari adalah untuk melamar putri om, Sinta." ucap Han sedikit gugup.
Tersungging senyuman dari bibir Himawan, sang papa Sinta.
" Anak muda, sebelumnya om minta maaf, kalau boleh tahu apa pekerjaan kamu, dan darimana asal mu? siapa orang tua kamu?" sahut Himawan mencecar Hanafi dengan berbagai pertanyaan, yang semakin menambah kegugupan dalam dirinya.
" Astaghfirullah, aku pikir akan semulus dan lancar seperti si kutub itu, ternyata salah dugaan ku." Keringat dingin mulai menyapa Hanafi seraya menggumam dalam hati.
__ADS_1
" Saya hanya seorang pengajar di pesantren om, saya juga hanya lulusan Universitas biasa, di Kairo. Ayah saya sudah meninggal hanya ibu yang masih ada." jawab Hanafi merasa rendah diri saat ditanya tentang asl usulnya.
" Oh lumayan juga ya, lulusan luar negeri. Lantas kenapa tidak mencoba melamar ditempat yang lebih baik lagi ketimbang hanya di sebuah pesantren kecil." Umuh Himawan bertanya kembali.
" Mungkin bagi beberapa orang, pekerjaan saya tidak terlalu menghasilkan banyak uang om, namun bagi saya ini adalah sebuah pekerjaan yang sungguh luar biasa dan sangat saya syukuri. Saya dapat berbagi ilmu pengetahuan yang saya miliki serta meraih berkah dari pekerjaan saya. Mohon maaf jika mungkin jawaban saya kurang berkenan dihati om dan tante." timpal Hanafi dengan lantang.
Walau sebenarnya saat itu Hanafi sedikit kecewa dengan pertanyaan papa Sinta, namun ia tetap berusaha sabar menjawab pertanyaan pria paruh baya dihadapannya dengan sopan.
" Tapi pa, kak Han ini juga sering membawakan acara di setiap Tausiah dan acara tertentu. Namanya cukup terkenal juga pa." timpal Sinta membela pria pujaannya.
" Saya hargai keberanian kamu anak muda, tapi maaf, biarkan Sinta meniti karirnya dulu." tolak Himawan halus.
Ada rona kekecewaan dalam hati Han malam itu, senyum nya pun terlihat hambar.
" Terimakasih om atas jawabannya, saya pamit undur diri. Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakaatuh." pungkas Hanafi berdiri dan undur diri.
Melihat pria yang dicintainya pergi dengan kekecewaan, Sinta pun menangis melihatnya.
" Papa jahat hikssss." ucap Sinta seraya berlari ke kamar menumpahkan tangisnya. Rania yang sedang melihat semua itu di depan matanya. Hanya bisa terdiam. Meski dalam hati ia juga menyukai pemuda barusan. Namun tak berani berdebat dengan sang suami.
Rania beranjak berdiri hendak pergi ke kamar sang putri, namun Himawan menghentikan langkahnya.
" Papa tahu mama kecewa dengan keputusan ku. Tapi papa melakukan semua ini demi kebaikan Sinta. Aku sudah menerima pinangan pak Hendrik, beberapa bulan yang lalu. Dia ingin agar aku menikahkan Sinta dengan putranya yang bernama Leo." tutur Himawan.
" Kenapa papa baru mengatakannya, harusnya katakan sebel anak gadis kita mencintai orang lain. Papa tidak melihat bagaimana ekspresi Sinta saat mama mengatakan nama pemuda yang mencarinya. Dia bahagia sekali pa, sekarang lihatlah, dia berubah sedih." jawab Rania berlalu meninggalkan sang suami dengan wajah kecewa.
Di usapnya kepala sang putri yang tengah membenamkan wajahnya dibalik bantal. Menasehatinya pelan-pelan, agar mengerti maksud Himawan.
" Sinta sabar ya sayang, mungkin terlalu mendadak buat papa, beri papa waktu untuk berfikir. Jika kalian memang berjodoh, pasti akan dipertemukan kembali." nasehati Rania kepada putrinya.
Sinta hanya terus terisak dan tak menjawab perkataan Rania, ia merasa kasihan terhadap Hanafi. Yang jelas-jelas terlihat kecewa dari raut wajahnya.
******
**Note : "Jangan pernah menilai seseorang dari penampilan, kekayaan dan status sosialnya, sebab itu bukanlah tolok ukur dalam menilai dan menjadikan patokan. Rezeki, jodoh, maut semua sudah ditulis oleh Allah Azzawajala di lauh Mahfudz. Jika Allah sudah berkehendak tidak ada yang tidak mungkin."
BERSAMBUNG**......
__ADS_1