HIJAIYAH CINTA

HIJAIYAH CINTA
Pergi Menemui Om Dirgantara


__ADS_3

Semilir angin sepoi-sepoi dini hari mulai menyeruak ke dalam selimut. Sepasang sejoli yang tengah terlelap pun akhirnya perlahan membuka mata.


" Jam berapa mas, mas mau tahajjud kah?" tanya Annisa dengan suara serak, khas bangun tidur, sambil menatap sang suami yang telah bangun, dan duduk.


" Iya yang, mas mau tahajjud. Kalau sayang masih capek bobo saja ya." seru Azzam mengusap kepala Nisa.


" Nggak mau, Nisa mau sholat juga. Tapi gendong ke kamar mandinya ya mas." ucap Annisa dengan manja.


Tak banyak bicara lagi, Azzam menggendong tubuh sang istri menuju kamar mandi. Ia juga mengambilkan baju ganti sekaligus, untuk Annisa.


Setelah Annisa selesai, berganti Azzam yang masuk ke kamar mandi. Tak lama berselang, keduanya segera menghampar sajadah, menghadap kiblat. Menunaikan sholat malam.


Sholat yang sering dikerjakan oleh pasangan ini.


Dalam bermunajat memanjatkan do'a, Azzam terlihat menangis hingga sesenggukan. Membuat Annisa dalam hati bertanya. Ada apa gerangan masalah yang tengah dihadapi sang suami, hingga terlihat selemah itu.


" Mas Azzam baik baik saja?" tanya Nisa dengan wajah bingung seusai berdo'a.


Setelah menyeka sisa air mata yang menempel, Azzam membalikkan badan, duduk bersila menatap Annisa.


" Sayang mau berjanji tidak akan marah atau bersedih jika mas ceritakan semuanya?" tanya Azzam meyakinkan sang istri, seraya menatap lekat wajah ayu tersebut.


" Insya Allah Nisa janji mas." jawab Nisa.


Gadis ini pun menatap sang suami dengan mimik muka serius.


Azzam mulai bercerita tentang apa yang dialami oleh sang ayah mertua saat ini. Juga tentang rencana jahat Linda dan papa nya.


" Hiks....hiks.... kenapa papa merahasiakan dari Nisa mas, kasihan sekali papa." ucap Annisa saat Azzam selesai bercerita.


" Mau kemana sayang, duduk lah !! tolong hormati keputusan papa yang. Berpura pura lah tidak mengetahui semuanya. Dengan pura pura tidak tahu, itu akan membuat papa jauh lebih baik. Beliau tidak ingin sayang dan mama bersedih. Lusa saat keberangkatan Umroh kita. Saat itu papa ditahan, selama pengadilan berhasil membuktikan bahwa papa tidak bersalah." ujar Azzam menenangkan hati istrinya.


" Satu lagi jangan pernah tunjukkan kesedihan sayang di depan papa. Pagi ini diamlah disini, aku akan menemui pengacara terbaik di kota ini. Kalau perlu mas akan meminta tolong kepada Om Dirga, adik Abi yang kebetulan adalah seorang hakim. Meminta solusi beliau agar bisa memecahkan kasus ini." tukas Azzam antusias.


" Baiklah mas, Nisa janji akan selalu tersenyum saat didepan papa, demi kebahagiaan beliau. Mama jangan di kasih tahu ya mas." pinta Nisa memohon.


" Iya sayang, mas janji tidak akan menceritakan kepada mama. Semoga kita bisa menyelesaikan masalah ini secepatnya. Oh ya yang, apa pun yang akan terjadi ke depannya nanti. Mas mohon jangan pernah terpancing oleh amarah, sebab Linda tidak akan tinggal diam saat mas dengan terang terangan menolaknya nanti. Lebih bersabar ya sayang. Biar pun mereka menertawakan kita tidak apa, yang penting kita tetap bersatu menghadapi semuanya." tukas pria berwajah Arab ini.


Nisa mengangguk mengiyakan. Air mata yang sedari tadi ditahannya, kini mulai pecah. Azzam pun meredam kesedihan sang istri.

__ADS_1


" Cup cup... nggak boleh nangis dong yang, katanya janji mau tersenyum. Kasihan papa apa nggak nih." ucap Azzam menggoda agar sang istri berhenti menangis.


Nisa kembali mengambil wudhu untuk melanjutkan sholat subuh begitu juga dengan Azzam.


******


" Mau kemana nak Zam? kok pagi bener. Nggak nunggu sarapan dulu kah?" tanya Devi saat mengetahui sang menantu terlihat tergesa - gesa keluar.


" Maaf ma, semalam mendadak di telfon, ada acara seminar. Dan Zam harus mewakili kampus ma. Zam titip Nisa ya ma, biar dia istirahat disini." ujar Azzam berpamit dan mencium punggung tangan sang ibu mertua.


" Maafin Zam ma harus berbohong." gumam Azzam dan berlalu menuju garasi.


Pagi yang masih sepi, jalanan terlihat masih lengang. Hanya satu dua kendaraan yang melintas.


Mobil Alphard warna hitam itu menyusuri jalanan kota M, menuju rumah sang om Hakim.


Setelah menempuh perjalanan hampir dua jam, mobil Alphard itu akhirnya berhasil menemukan kediaman Dirgantara Al Syahab. Adik kandung Kyai Waffiq.


" Permisi pak, apa om Dirga ada?" Azzam keluar dari mobil dan bertanya kepada petugas penjaga pos rumah Dirga.


" Pagi mas, apa benar ini mas Azzam bukan. Maaf maksud saya ustadz Azzam. Keponakan pak Dirga." sapa sang Satpam kepada Azzam.


" Oh iya benar saya Azzam pak, om Dirga nya ada kan pak?" tanya Azzam kembali.


Mobil Alphard milik Azzam pun memasuki pelataran halaman rumah Hakim Dirgantara.


Sinar mentari pagi mulai menunjukkan kemilau indahnya saat itu. Seluruh penghuni kediaman Dirgantara rupanya sibuk dengan aktivitas masing-masing.


" Teeeet....teeeeet...." bunyi bel rumah Dirga.


Seorang pria berwajah kearaban tengah berdiri di depan pintu.


" Siapa Pi , tumben ada tamu pagi begini ?" tanya Siska istri Dirgantara.


" Kalau bisa lolos masuk, itu berarti salah satu kerabat kita atau teman papi yang sering kemari mom." jawab Dirga yang tengah menonton acara tausiyah di televisi.


" Iya juga sih Pi, tapi tumben loh pagi pagi sekali. Baiklah biar mommy yang buka." balas Siska berjalan ke arah pintu.


" Ceklek." pintu pun terbuka. Siska sungguh kaget saat melihat siapa yang datang.

__ADS_1


" Azzam. Sendirian saja kah?" tanya Siska, matanya celingukan melihat keluar mencari siapa yang datang bersama Azzam.


" Assalamu'alaikum tante, maaf kalau Azzam mengganggu atau ngagetin. Om Dirga nya ada kan Tan?" tanya Azzam.


Azzam menangkupkan tangannya kepada Siska, dibalas hal yang sama oleh istri hakim tersebut.


" Wa'alaikumussalam, ada kok Zam. Mari silahkan masuk !!" seru Siska mempersilahkan.


Dengan sopan Azzam memasuki kediaman sang Om.


" Pi ada keponakan papi." tukas Siska menghampiri Dirga yang asyik menonton televisi.


" Iya kah? tumben sekali dia datang. Istrinya ikut juga kan mom?" ucap Dirga seraya berjalan menuju ruang tamu.


" Heiii.... assalamu'alaikum, tumben tumbenan nih pak dosen singgah kemari. Mana istri kamu Zam?" sapa Dirga dan bertanya.


" wa'alaikumussalam, iya om maaf sebelumnya kalau kedatangan Zam ngagetin om dan tante. Nisa lagi kurang enak badan om jadi nggak bisa ikut." jawab dosen kutub itu.


" Emmm sebenarnya kedatangan Zam kesini itu, ada sesuatu yang penting dan butuh saran dari om Dirga." tukas Azzam mengawali percakapan.


" Ada apa Zam? sepertinya serius sekali. Apa kamu ada masalah ka?" tanya Dirga penasaran.


" Begini om, sebenarnya bukan masalah Zam secara langsung, namun masalah ini timbul karena obsesi gadis itu terhadapku om." jawab Azzam mengawali cerita kejadian sebenarnya.


Azzam bercerita secara detail tentang kasus yang dihadapi oleh papa mertuanya tanpa ada yang terlewatkan. Dan Hakim yang sangat disegani dan ditakuti di kota M itu menyimak dengan seksama cerita sang keponakan.


Dirga adalah satu-satunya hakim paling tegas dan adil. Tidak pandang bulu dalam memutuskan sebuah kasus. Jika memang terbukti bersalah, meskipun itu anak atau kerabatnya, maka ia akan dengan tegas memutuskan vonis hukuman yang sesuai.


" Begini Zam, om tidak bisa turun tangan langsung untuk membantu mertua kamu. Biar anak buah om yang turun tangan menyelidiki kasus ini. Biar mereka berhasil mendapatkan semua bukti bahwa proyek yang sedang dikerjakan oleh mertua kamu itu memang benar-benar di sabotase. Untuk sementara saran om, suruh papa kamu mengikuti proses hukum , sembari menunggu kita mendapatkan bukti. Dengan mematuhi hukum, itu akan membuat lawan lengah, dan mengira kita sudah kalah. Dengan begitu akan lebih mudah buat kita untuk mendapatkan bukti." ujar Dirga menjelaskan panjang lebar langkah yang harus dilakukan oleh Amir.


Setelah mendengar penuturan sang om Hakim, Azzam akhirnya bisa bernafas dengan lega. Setidaknya meski belum terselesaikan, namun secercah harapan untuk bisa membuktikan ketidak bersalahan sang papa mertua sudah terlihat.


" Jika kamu butuh pengacara hubungilah Farid, tunangan Delisa sepupu kamu. Masih ingat Delisa kan?" ledek Dirga mencairkan suasana.


Siska yang sedari tadi juga ikut menyimak cerita Azzam, merasa geram dengan tingkah Linda.


" Benar Zam kata om kamu itu, sepertinya Delisa dan Farid harus turun tangan langsung, untuk mendekati gadis picik itu. Secara gadis itu terobsesi kepadamu karena ketampanan kamu. Nah mungkin jika Farid mendekati dia bisa jadi gadis itu akan jatuh hati, dan kita bisa mencari bukti dari dia. Orang culas harus dihadapi dengan taktik dan keculasan pula Zam, jangan dengan emosi. Saran tante berhenti jangan buat dia marah. Bersikap biasalah agar dia merasa menang." tukas Siska.


Azzam mengangguk mengisyaratkan benar apa yang diucapkan oleh pasangan keluarga penegak hukum itu. Dan tak lama kemudian Azzam pun ikut sarapan bersama keluarga Dirgantara.

__ADS_1


******


NERSAMBUNG......


__ADS_2