
Setiba di rumah, Hamzah tampak tertidur pulas di jok belakang, Azzam menggendong nya masuk kedalam rumah. Sementara Nisa membawa barang belanjaan.
" Assalamu'alaikum." ucap Azzam dan Annisa bersamaan, saat memasuki rumah.
" Wa'alaikumussalam, eh eh anak siapa dia Zam? dan kenapa kalian perginya lama sekali?" tanya bulek Rohimah, kaget dengan bocah yang Azzam gendong.
Tak menjawab pertanyaan sang bulek, Azzam langsung meletakkan tubuh Hamzah di kamarnya. Dan Nisa yang menjawabnya.
" Itu anak dari korban kecelakaan yang tadi mas Zam tolong bulek." ujar Annisa.
Wanita paruh baya itu kaget saat mendengar ucapan Annisa.
" Apa ? kecelakaan ??"
" Iya bulek, untuk lebih jelasnya, bulek tanya langsung ke mas Azzam, sengaja kita membawa anak itu tinggal bersama kita disini, karena ibunya masih menjalani perawatan dirumah sakit." tandas Annisa kembali.
Dan tak lama kemudian Azzam keluar dari kamar, " yang mandilah dulu, sebentar lagi kita Maghriban." seru sang suami, dan Nisa pun mengangguk seraya berjalan menuju kamar.
Sementara Nisa mandi, Azzam duduk bersama sang bulek, di sofa. Ia mulai bercerita tentang kejadian tadi siang yang menimpa Aulia, mantan tunangannya.
" Apa?? Aulia ?, mantan tunangan kamu yang dulu kabur bersama pria lain itu?" tanya bulek Rohimah, diiringi anggukan oleh Azzam.
" Sepertinya suami Lia sudah meninggalkan dia bulek, kalau tidak mana mungkin dia jadi seperti ini." tukas Azzam.
" Ini namanya karma Zam, dia dulu ninggalin kamu bersama pria lain, dan sekarang malah kamu yang menolong dia dan anaknya. Lantas apa Nisa tahu siapa ibu dari anak itu?" suara bulek Rohimah terdengar antusias dan geregetan.
" Iya bulek, tadi Zam sudah cerita semua ke Nisa, dan Alhamdulillah dia tidak marah sama sekali, bahkan merawat anak itu dengan baik."
" Istri kamu kan memang orang baik Zam, makanya Allah jodohkan sama kamu, ya sudah lah, semoga wanita itu segera baikan dan bisa segera membawa anak itu pergi dari sini. Sebab bagaimanapun juga, yang namanya masa lalu itu harus tidak bagus kalau kembali lagi Zam, demi menjaga perasaan istri kamu, apalagi dia sedang mengandung anak kamu, jangan sampai kehadiran Aulia, menjadi prahara dalam rumah tangga kalian." tandas wanita paruh baya ini, menasehati.
__ADS_1
" Iya bulek, Zam faham sekali dan sadar bagaimana harus memposisikan diri Zam. Lebih dari apapun, Zam sangat tidak ingin membuat hati Annisa sedih dan terluka." balas Azzam.
Rohimah menepuk pundak Azzam, sang keponakan, " ya sudah sana buruan sholat, bulek juga mau sholat !" seru Rohimah beranjak meninggalkan sang keponakan. Azzam pun bergegas menyusul sang istri di dalam kamar.
*****
Rupanya setelah selesai sholat Maghrib, bocah lima tahun itu bangun dari tidurnya. Melihat bocah kecil itu terjaga, Annisa segera menghampiri dan memeluknya.
" Ham mau mandi sayang?" tanya Nisa penuh kelembutan, dan dibalas anggukan kepala oleh bocah berusia lima tahun tersebut.
" Ayo mandi sama Kaka !" ajak Nisa.
Hamzah dengan nurut, mengikuti langkah Annisa menuju kamar mandi. Dengan air hangat, Nisa memandikan bocah lima tahun itu.
Malam itu Hamzah tidur bersama di tengah, antara Annisa dan Azzam. Layaknya sebuah keluarga kecil.
*****
" Wa'alaikumussalam, pagi Kaka cantik." jawab Hamzah, berlari kecil menghambur memeluk tubuh Nisa.
Azzam yang juga baru saja keluar dari kamar, tersenyum melihat keakraban yang ditunjukkan oleh Hamzah kepada Annisa, layaknya ibu dan anak.
" Kamu memang wanita yang baik sayang, tidak salah jika setiap hari aku semakin jatuh cinta kepadamu." gumam sang dosen.
Setelah memeluk Hamzah, Nisa menoleh ke arah sang suami yang rupanya dari tadi memperhatikan dirinya.
" Mas mau ke kampus hari ini?? terus ke rumah sakitnya kapan?" Nisa menghampiri Azzam, membetulkan dasi yang sedikit kurang rapi.
Kecupan kecil mendarat di kening Annisa,
__ADS_1
" terimakasih sayang, sudah mau mengurus Hamzah dengan baik, sepulang dari kampus saja kita mengunjungi Aulia. Barusan aku sudah menelepon perawat, katanya Aulia baik-baik saja, bahkan semalam tidurnya juga nyenyak katanya." ucap Azzam bercerita.
Seperti biasa, dengan manja Nisa bergelayut dipundak Azzam, berjalan menuju ruang makan, dimana Hamzah terus saja melihat keromantisan pasangan ini.
Annisa juga mendudukkan Hamzah ke kursi di sebelahnya. " Sayang kenapa kok jadi sedih gitu?" tanya Annisa saat melihat bocah disampingnya tiba-tiba sedih.
Hamzah hanya menggeleng tanpa berucap apapun, dan tanpa sadar anak kecil itu menitikan air mata, seketika beralih mendekati Azzam dan memeluknya.
" Hikss.... hiksss, om ganteng Ham lindu sama papa, Ham kangen sekali." Isak bocah kecil itu.
Annisa dan Azzam saling bertatap bergantian, merasa iba dengan bocah tersebut. Azzam membalas pelukan anak kecil itu begitupun juga Nisa.
" Papa anak ganteng kemana?" tanya Annisa menepuk pundak Hamzah bertanya dengan suara lembutnya.
Masih terisak dalam pelukan Azzam, Hamzah menjawab, " papa sudah pelgi ke syulga Kaka, hiksss...."
" Innalilahi wa innailaihi roji'un." ucap Azzam dan Annisa lirih bersamaan.
" Deg..." seketika Nisa terlihat sedih, mendengar jawaban bocah kecil itu. Begitu juga dengan Azzam. Air mata pun tak bisa di bendung oleh bumil itu.
Bulek Rohimah yang mendengar sesaat, ikutan bersedih, teringat akan sang putra yang dulu juga pernah mengalami seperti yang dialami bocah tersebut.
Suasana pagi itu berubah sedih penuh keharuan, setelah puas memeluk tubuh Azzam, bocah itu pun kembali duduk, namun kali ini ia duduk tepat di sebelah Azzam. Azzam sengaja menyuapi anak itu, berharap kerinduannya kepada sang papa dapat terobati.
Seusai sarapan, Azzam berpamit kepada Hamzah, " anak sholeh nya om ganteng, baik-baik dirumah bersama kakak cantik ya. Om mau bekerja dulu, nanti sepulang kerja kita pergi menjenguk mama kamu."
" Iya om ganteng, hati-hati." sahut Hamzah melambaikan tangan kepada Azzam. Begitu juga Nisa, ia ikut melambaikan tangan mengikuti gerakan bocah tersebut.
Keduanya kembali masuk kedalam setelah mobil Azzam tak lagi terlihat dari pandangan mereka.
__ADS_1
*******
BERSAMBUNG.....