
" Tok tok tok...." Suara pintu kediaman Kyai Waffiq yang di ketuk oleh salah satu santriwan, yang sedang berdiri bersama beberapa orang yang hendak bertamu.
" Assalamu'alaikum, yai." salah satu santriwan yang mendampingi tamu mengolok salam.
" Wa'alaikumussalam warahmatullaahi wabarakaatuh." sahut sebuah suara dari dalam, yang tak lain adalah sang Kyai.
Seorang pria bersyurban tengah berdiri di depan pintu dengan tatapan gembira saat melihat kehadiran beberapa tamunya.
" Eh Alhamdulillah rupanya kami kedatangan orang besar, mari masuk, silahkan !" seru Kyai Waffiq kepada rombongan keluarga Dirgantara, adik kandungnya.
" Apa kabar bang?" Dirga membalas sapaan sang kakak tercinta.
" Alhamdulillah baik Dirga." jawab Kyai Waffiq duduk di sofa bersama dengan rombongan keluarga Dirga.
Delisa dan Farid sang tunangan, bersalaman kepada Kyai Waffiq, begitu juga dengan istri Dirga, Siska, tak lama kemudian seorang wanita paruh baya yang mengenakan pakaian syar'i, masuk ke ruang tamu. Juga turut menyapa sang adik ipar beserta menantunya.
" Wah ada pak Hakim sekeluarga rupanya." sela umi Fatimah juga bersalaman.
Semua kembali duduk dan memulai percakapan. Sembari menunggu santriwati membawa minuman dan hidangan kecil, obrolan di awali oleh Dirga.
" Begini bang, maksud kedatangan saya kemari adalah untuk mengundang abang sekeluarga, hadir dalam pernikahan putri ku Delisa dan Farid. Acaranya Minggu ini bang. Dan aku mohon supaya abang yang menjadi penghulu nya bagi mereka nanti !" ucap Dirga menatap wajah sang kakak.
__ADS_1
" Wah pas di hari itu, sebenarnya ada jadwal tausiah Dir, tapi karena ini hajat putri mu, juga merupakan putriku juga, maka aku akan meminta jadwalnya digantikan." balas sang Kyai.
" Terimakasih bang." imbuh Dirga.
Tak lama berselang, santriwati datang membawa sebuah nampan berisi teh hangat, dan santriwati lainnya membawa nampan berisi makanan ringan.
Suasana di sore hari di pesantren saat itu, membuat Dirga teringat akan banyak kenangan masa kecil bersama sang Kaka.
Bahkan Dirga juga berpamit untuk melihat sekeliling kompleks area pesantren bersama sang menantu, yaitu pengacara Farid Basalamah.
" Disinilah papi di besarkan nak Farid, aku dan abang ku adalah dua bersaudara, sejak kecil kami di didik tentang ilmu agama dan bagaimana cara hidup bermasyarakat yang baik oleh Abi dan umi. Awalnya umi tidak setuju aku kuliah mengambil jalur hukum, namun berkat pengertian dan dorongan yang diberikan oleh bang Waffiq, maka umi pun akhirnya menyetujuinya." tutur sang Hakim bercerita kepada calon mantunya, dan keduanya terus menyusuri satu persatu kompleks asrama putra.
" Disini udaranya sejuk ya Pi, suasananya terasa adem dan tenang, jauh dari kata ramai dan kebisingan." sahut Farid seraya menatap beberapa gerombolan santriwan yang tengah belajar bersama, menghafal Al-Qur'an.
Keduanya berkeliling sambil terus bercerita masa lalu sang hakim. Setelah makan bersama di pesantren, rombongan keluarga Dirga kembali pulang.
*****
" Iya abi, Insya Allah kami pasti akan hadir, ke acara pernikahan Delisa." sahut Azzam dari balik benda pipih yang menempel di pipinya. Dan tak lama kemudian panggilan suara yang di lakukan oleh kyai Waffiq dan Azzam berakhir.
" Siapa mas?" tanya Annisa, yang baru keluar dari kamar, seusai mengaji, berjalan menuju kulkas.
__ADS_1
" Abi sayang, barusan abi bilang, om Dirga sekeluarga tadi datang ke pesantren, mengundang kita semua untuk hadir dalam pesta pernikahan Delisa dan pengacara Farid." balas Azzam berjalan mendekati sang istri yang duduk di sofa.
Terlihat Annisa sedang menikmati es krim yang baru saja diambilnya. Tampak nikmat sekali, seolah belum pernah menikmati es krim.
" Hemmm, dede nya doang yang di suapin, si abi enggak??" goda Azzam mendekatkan mulutnya ke sendok es krim.
" Mas mau?" tanya Annisa, menyodorkan es krim yang ada ditangannya, ke hadapan sang suami.
" Mau dong, sini aaaaaak." Azzam membuka mulut lebar-lebar.
Sebuah sendok berisi es krim mendarat di depan bibir ustadz kutub tersebut, hendak saja Azzam melahap es krim itu, tiba-tiba, Annisa memutar sendok nya ke mulut ia sendiri.
" Ha ha ha ha." gelak tawa Annisa se usai berhasil menggoda suaminya.
Merasa gemas dengan tingkah istrinya, Azzam pun merebut es krim yang di dekap Annisa.
" Ihhh mas jangan diambil semua lah, aku sama dede kan belum puas. Masih kurang." ucap Annisa cemberut, menggigit sendok kosong.
Azzam mencubit pipi Annisa yang kini terlihat makin tembem. " Sini sendoknya, biar mas suapin !" rebut Azzam, mengambil sendok yang di gigit oleh istrinya.
Dengan manja-manja Nisa pun menikmati setiap suapan es krim dari suaminya. Malam itu pasangan muda-mudi ini tengah asyik bercanda ria menikmati es krim berdua. Ups salah, maksudnya bertiga dengan debay yang ada di dalam perut 😊.
__ADS_1
********
BERSAMBUNG.....