HIJAIYAH CINTA

HIJAIYAH CINTA
Hari Pertama Annisa Ujian


__ADS_3

" Sayang buruan nanti kejebak macet loh." teriak Azzam di luar pintu, menunggu sang istri bersiap ke kampus.


Pagi ini adalah waktunya Annisa menghadapi ujian semester akhir. Sejak beberapa hari sebelumnya Azzam terus memberikan seluruh waktunya penuh untuk menjadi guru khusus selama di dalam rumah.


Azzam ingin Nisa lulus dengan nilai terbaik kali ini, seperti sebelumnya.


" Maaf ya mas Nisa nggak sempat buat sarapan." ucap Nisa bergelayut manja di pundak sang suami.


Sebuah kecupan hangat pagi itu mendarat di kening Annisa yang tengah mengenakan busana Syar'i warna navy.


" Mau buat mas kenyang nggak??" tanya Azzam menggoda.


Wanita yang tengah bergelayut manja itu menyipitkan sebelah mata indahnya. Dan mengangguk spontan.


Azzam menempelkan jari telunjuk ke pipi kanan nya. Mengerti apa yang di inginkan sang suami, Nisa segera mendaratkan sebuah ciuman kecil ke pipi Azzam.


Keduanya pun tertawa kecil, bergandengan menuju garasi. Meski belum dikaruniai seorang anak. Namun tak menyurutkan keromantisan bagi pasangan muda ini.


Azzam pergi ke kampus bersama Nisa pagi itu. Sebuah senyum penyemangat dari Azzam buat Nisa, terukir indah disertai do'a tulus untuk wanita yang sangat ia cintai.


" Terimakasih ya mas, selalu dukung Nisa. Dan mas tidak pernah menuntut apa pun dari Nisa." ujar Nisa menggenggam tangan kiri Azzam. Sedangkan Azzam fokus pada kemudi setir.


" Untuk apa berterimakasih sayang. Kita kan partner. Harus saling bantu, juga melengkapi. Aku ada disini atas izin Allah, mendampingi mu hingga ke Jannah." tukas Azzam membalas tatapan sang istri dengan senyum khas miliknya.


Pagi yang penuh semangat, membuat Nisa semakin optimis untuk menghadapi ujian pagi itu. Setelah menembus kemacetan di jalanan, mobil Alphard warna hitam milik Azzam kini terparkir di area khusus dosen.


Azzam khusus mengantar Nisa sampai depan pintu kelas. Semua mata teman sekelas Nisa menatap pemandangan indah nan romantis pagi itu. Mana kala sebelum Azzam pergi, Nisa mencium punggung tangan suaminya. Dibalas kecupan di kening Nisa oleh Azzam.


Tepuk tangan sorak Sorai pagi itu terdengar sampai ke kelas sebelah, dimana Linda sedang mengajar disana. Linda sempat keluar kelas dan melihat apa yang terjadi di sebelah. Rupanya ada pemandangan yang membuat matanya panas.


" Bisa diam tidak, suara tawa kalian sangat berisik dan mengganggu kelas saya." teriak Linda tepat di pinggir Azzam.


Seluruh mahasiswa seketika terdiam sambil cekikikan menahan tawa, melihat kekesalan yang terlihat diwajah Linda.


" Cemburu yeeeeee." ucap seluruh mahasiswa serentak saat Linda pergi.

__ADS_1


Azzam hanya bisa tersenyum melihat tingkah Linda pagi itu. Begitu juga dengan Nisa.


" Semangat pak Azzam, kami akan menjaga ibu Nisa disini dari Mak lampir itu ha ha ha." celetuk salah satu mahasiswa yang duduk di sebelah Nisa.


" Terimakasih untuk kalian semua. Saya titip istri saya, tolong jaga baik baik." sahut Azzam dan berlalu.


Tak lama kemudian ujian pun berlangsung. Dengan hati hati dan teliti Nisa mengerjakannya. Tak lupa wanita berhijab navy ini juga berdo'a terlebih dulu sebelum mulai mengerjakan.


******


Azzam yang tengah menunggu Nisa di perpustakaan kampus, hatinya ikutan dag dig dug. Serasa dia sendiri yang tengah menghadapi ujian.


Hingga waktu yang dinanti tiba, Azzam pergi ke kelas untuk menjemput sang istri. Hari itu Azzam sengaja cuti, demi menemani wanita yang dicintainya menjalani detik detik genting menuju kelulusan.


" Assalamu'alaikum sayang, gimana ujian kali ini bisa kan?" tanya Azzam antusias saat menunggu Nisa di depan kelas.


" Wa'alaikumussalam, eh mas nunggu Nisa beneran? " jawab Nisa kaget.


" Alhamdulillah, Insya Allah Nisa bisa mengerjakan semuanya tadi mas." timpal Nisa kembali.


Azzam membawa Nisa pergi ke sebuah restoran ternama di kota M. Namun tempatnya sangat private. Hanya orang tertentu saja yang menjadi pengunjung disana.


" Mau makan apa sayang?" tanya Azzam yang duduk di depan Nisa.


" Mas pilih saja, tapi Nisa haus mas. Pingin minum yang seger. Kalau ada pesan kan satu jus jeruk mas !!" seru Nisa menutup buku menu yang di sodorkan Azzam. Dan Nisa berpamit ke toilet.


Azzam memesan makanan kesukaan Nisa juga segelas jus jeruk sesuai permintaan sang istri.


Tak lama setelah waiters menyajikan makanan, Nisa kembali dari toilet menuju meja.


" Wah sudah datang ya mas pesanannya. Hemmm.... sepertinya enak banget ini." ujar Nisa menatap makanan yang tertata rapi dimeja.


Nisa duduk dan menyesap perlahan jus jeruk yang ia pesan. Rasa haus yang sedari tadi menghampiri seketika hilang.


Makanan yang dipesan oleh Azzam pun saat itu habis. Keduanya menikmati makan siang berdua dengan lahapnya.

__ADS_1


Setelah makan siang mereka segera kembali pulang ke rumah. Namun sebelumnya berhenti di sebuah masjid di pinggir jalan. Menunaikan sholat Dzuhur.


******


Di waktu yang sama, Sinta sepulang dari kampus mampir ke sebuah toko buku. Ia mencari buku yang pernah ia baca sekilas dari internet.


Saat Sinta asyik sibuk memilih buku tanpa melihat kanan kiri, tiba tiba saat ia bergeser, Sinta menginjak kaki seseorang. Dan buku yang tertata diatas rak pun terjatuh beberapa tersenggol oleh tangan pria tersebut.


" Maaf maaf saya nggak sengaja." ucap Sinta kepada sosok pria yang kena injak kakinya barusan.


Pria yang tengah memungut buku dibawah itu, menengadah melihat ke atas.


" Loh dik Sinta ya." sapa pria tersebut tak lain adalah Hanafi.


" Maaf kakak ini siapa ya? sepertinya saya pernah melihat kakak dimana gitu, tapi lupa." sahut Sinta.


" Mungkin saat tasyakuran kepulangan Annisa dari rumah sakit waktu itu." jawab Hanafi.


" Oh iya benar. Hemmm kalau nggak salah namanya kak Han kan?" tanya Sinta kembali mulai terlihat lebih akrab.


Keduanya pun mengobrol sejenak, dan bercerita serta berkenalan dan bertukar nomor WhatsApp.


Han membantu Sinta mencari buku yang dimaksud gadis tersebut.


" Subhanallah kok jantung aku dag dig dug der gini ya. Dan kenapa tangan ku dingin banget." gumam Hanafi, pria yang wajahnya mirip orang arab tersebut.


Sinta sesekali melirik ke arah Han yang sedang memilih kitab yang dicarinya. Ada senyum yang tanpa sadar tersungging dari sudut bibirnya untuk Hanafi.


Ada perasaan kagum dalam diri Sinta, melihat kesopanan Hanafi saat berbicara dengan dirinya.


Sepertinya pertemuan tanpa sengaja antara Hanafi dan Sinta, memberikan kesan tersendiri bagi keduanya. Dan mereka pun berpisah kembali ke rumah masing-masing.


********


BERSAMBUNG.....

__ADS_1


__ADS_2