
" Pastilah kak Nisa orang yang luar biasa, mampu menakluk kan hati kak Azzam. Makin nggak sabar nih buat ketemu kakak ipar besok."
gumam Safa.
Malam hari di kediaman Kyai Waffiq, saat makan malam terlihat ramai sekali. Celoteh dan canda tawa Safa, membuat suasana seketika menjadi riuh.
Bahkan Nur dan kawan kawan, saat mendengar kabar kedatangan Safa langsung mengunjungi kediaman sang Kyai.
" Assalamu'alaikum..... " ucap Nur dan kawan kawan.
" Wa'alaikumussalam warahmatullaahi wabarakaatuh, kalian ngapain kesini malam malam?" sahut Azzam dari ruang bacanya.
" Eh Ustadz Azzam, maaf kami datang kesini, sengaja mau mencari neng Safa mas. Kami dengar neng Safa baru datang, makanya kita langsung keisni." ujar Nur menimpali.
Mendengar suara ramai diluar rumah, Safa pun keluar. Penasaran apa yang sedang terjadi.
" Nur.... eh kalian semua ada disini. Aku kangen banget." Safa langsung memeluk tubuh embul si Nur, sahabat masa kecilnya.
" Kami baru dengar neng Safa pulang, makanya kami segera kemari. Kami juga sangat rindu." sahut Nur mewakili kawan kawan nya.
Semua Santriwati yang tengah berdiri di teras rumah pun dipersilakan masuk dan duduk oleh Safa.
Semua bercerita satu persatu, semakin membuat suasana menjadi riuh, ramai akan canda tawa. Tak jarang bahkan saling ejek dan membully. Mereka bercerita hingga tanpa terasa sampai larut malam.
*******
Sinar kemilau cahaya di pagi hari memancarkan keindahan tersendiri, di temani suara kicau burung dan lantunan sholawat pagi santriwan santriwati saat menyambut datangnya pagi yang indah.
Di sebuah pesantren yang selalu dipenuhi canda tawa dan ke ramah tamahan itu, sekarang pria muda yang baru saja menunaikan sholat Dhuha, baru saja keluar dari dalam kamarnya.
Pria tersebut adalah Azzam, ya pagi itu Azzam sudah terlihat rapi dengan pakaian cassual. Terlihat lebih santai dari biasanya. Bahkan aroma parfum khas milik Azzam, menyeruak di seluruh ruang keluarga.
" Hemmm harum banget, rapi pula. Tumben tumbenan nih anak umi rapi dan seganteng ini pagi pagi." celetuk umi Fatimah meledek putra sulung nya.
" Ih umi apa apaan sih, kenapa jadi ketularan si Han." sahut Azzam manyun.
__ADS_1
" Safa mana mi, pasti masih dandan." tanya Azzam kepada sang ibu.
Umi Fatimah duduk disebelah Azzam,seraya memanggil putri bungsunya.
" Safa cepetan nak, kakak kamu sudah tidak sabar lagi nih." ledek umi Fatimah.
" Ya Allah mi, yang enggak sabar itu siapa coba. Ihhh umi makin lama makin ketularan si Han nih. Sepertinya Zam perlu kirim si Han ke kampung halaman nya nih, biar berhenti bawa pengaruh buruk disini." ujar Azzam datar, sedikit kesal tanpa ekspresi apa pun diwajahnya.
Hanafi yang hendak sarapan bersama di rumah Kyai Waffiq, langsung menjawab perkataan Azzam, sepupunya.
" Ada apa nih Zam, pagi pagi sudah ngeabsen anak orang. Kenapa ?? nggak suka ya aku lebih dekat sama umi juga Safa??" cerocos Hanafi.
Pria muda ini pun menyahut seolah ketus.
" Iya aku mau kirim kamu ke kampung halaman mu. Biar enggak bawa pengaruh buruk buat umi dan juga Safa. " Azzam masih gak mau kalah berdebat.
" Kamu Han, sini duduk lah. Sudah Han ngalah saja, Jangan buat calon pengantin pria emosi terus, biar enggak tegang pas hari H Han." ujar umi Fatimah berseloroh, menertawakan putra sulungnya.
" Terus saja mi, kalian senang kan lihat Zam kesal. Ya sudah Zam masuk kamar saja, enggak jadi ke rumah Nisa." balas Zam memasang wajah cemberut dan kesalnya.
" Gitu saja kok ngambek Zam, umi sama Han kan cuma bercanda saja. " timpal umi Fatimah.
Dalam hati wanita paruh baya ini ingin tertawa kencang, melihat ekspresi putra sulungnya. Namun ditahan, nggak mau sang putra sulung semakin kesal dan marah.
Tak lama kemudian Safa pun keluar dari kamarnya, dengan busana Syar'i warna hitam, plus niqab nya.
" Iya umi Safa sudah siap, yuk kak Zam kita berangkat." seru Safa yang berdiri di depan umi Fatimah.
" Lama banget sih." ucap Azzam sembari berjalan keluar. Namun sebelumnya ia bersalaman, pamit pada Fatimah. Disusul oleh Safa.
Sementara itu Hanafi mencoba menghentikan langkah mereka. " Kok langsung jalan, daritadi aku nungguin kalian buat sarapan bareng loh. Malah ngeloyor langsung jalan aja." tukas Hanafi.
" Iya betul kata si Han, apa enggak sebaiknya nunggu sarapan dulu, ayo kita sarapan sebentar saja!!" seru umi Fatimah.
Azzam pun membalikkan tubuhnya menuju meja makan disusul lain nya. Hanafi, Safa, umi Fatimah dan Kyai Waffiq yang baru turun dari sholat Dhuha.
__ADS_1
" Kalian ini kenapa sih, tiap berkumpul kerjaan nya ribut terus. Dan kamu Zam, jangan seperti itu, sebentar lagi kamu itu menjadi seorang imam dari seorang istri. Jadi bersikap lah lemah lembut, jangan seperti saat ini, buang wajah datar dan sikap dingin kamu itu. Perlakukan nak Nisa dengan baik, Abi sama umi nggak mau sampai menantu abi nanti mengeluh tentang sifat dingin kamu, berubah lah !!"
Sela Kyai Waffiq sebelum memulai sarapan pagi.
Azzam mengangguk menanggapi perintah Abi nya. Dan semuanya pagi itu menikmati sarapan pagi bersama.
******
" Kak Azzam beneran jatuh cinta ya sama kak Nisa ?" tanya Safa yang tengah duduk di samping sang kakak, yang fokus mengendarai mobil.
" Iya." jawab Azzam datar dan singkat.
" Masya Allah kak, singkat amat jawaban kakak. Bukannya bercerita kek, bagaimana proses kalian awal mula bertemu hingga mau nikah."
keluh Safa menepuk jidatnya sendiri.
" Enggak ada yang seru, biasa saja. Lagian sejak kapan Safa jadi kepo urusan orang. Mulai ketularan si Han semua nih." sahut Azzam cuek.
" Ya sudah lah kak kalau kak Zam nggak mau bercerita. Nanti Safa juga bakalan dapat cerita dari kak Nisa." balas Safa memanyunkan bibirnya pertanda cemberut dan lagi kesal.
Azzam melirik sekilas wajah adiknya yang tertutup oleh niqab tersebut. Wajah ayu dan penuh kelembutan.
Puas melihat sang adik yang sudah mengoceh panjang lebar dan akhirnya berujung cemberut karena kesal oleh sikap datar Azzam.
Mobil warna hitam milik Azzam, telah tiba di halaman rumah Annisa. Dan disana tampak seorang gadis yang postur tubuhnya sebelas dua belas dengan sang adik, tengah menyiram bunga di taman depan rumah Amir.
******
**BERSAMBUNG......
JANGAN LUPA KLIK VOTE RATE LIKE DAN GIFT YA KAKA READERS SEMUA AGAR AUTHOR SEMAKIN SEMANGAT BERKARYA
JANGAN LUPA PULA TINGGAL KAN JEJAK KOMENTAR KAKA READERS SEMUA DI KOLOM KOMENTAR YANG ADA
JAZZAQUMULLAAH KHAIRAN KATSIR 🙏😘😘😘😘**
__ADS_1