HIJAIYAH CINTA

HIJAIYAH CINTA
Hari Wisuda


__ADS_3

" Baiklah sesuai permintaan kamu Zam, om akan bebaskan wanita itu, dengan catatan seperti yang dia katakan." ucap Dirga di kantor polisi, menemui Jimmy dan Azzam.


" Ikutlah bersamaku, atau kamu akan mendekam seumur hidupmu dipenjara, bersama anak tidak berdosa mu itu." tutur Jimmy kepada Linda.


Ekspresi Linda tak lagi bisa bersikap seenaknya, ia terlihat diam dan pasrah. Handoko sang papa pun juga dihadirkan disana sebagai saksi atas kejahatan yang dilakukan oleh sang putri.


" Benar apa yang dikatakan Jimmy, Linda. Setuju dan ikutlah bersamanya. Dia sangat mencintai kamu nak. Dan lagi sudah layaknya kalian menikah, kasihan anak yang ada dalam perutmu itu, jika harus lahir dipenjara tanpa seorang ayah." Handoko bersuara memberi nasehat kepada sang putri.


Linda menangis jadi hingga sesenggukan, mulai menyadari semua kesalahannya. Bahkan ancaman hukuman yang sudah ia dengarkan pun tak sanggup ia untuk membayangkan dan menjalaninya.


" Hiksss hiksss..... maaf kan Linda pa, semua terjadi karena obsesi Linda pada Azzam. Huuuuuu.... maafkan pa." ayah dan anak itu menangis sesenggukan hingga suasana di ruang pengunjung itu menjadi haru biru.


Semua yang hadir disana juga turut merasakan suasana haru biru tersebut.


" Aku dan Annisa sudah memaafkan semuanya Lin, aku harap setelah ini kamu dan Jimmy bisa hidup berbahagia. Jika kalian membutuhkan bantuan, jangan sungkan-sungkan untuk menghubungi kami." tukas Azzam menengahi Isak tangis yang terjadi.


****


Linda dinyatakan bebas tak bersalah dari jeratan hukum, wanita ini pun telah menyadari semua kekeliruannya selama ini. Sebelum ia memutuskan ikut dengan Jimmy keluar negeri, Linda meminta izin untuk bertemu dengan Annisa untuk meminta maaf.


" Iya Nisa sudah memaafkan semuanya bu Linda, semoga bu Linda dan pak Jimmy berbahagia selalu disana. Nisa juga minta maaf jika ada perbuatan dan khilaf yang Nisa lakukan tanpa sengaja, menyinggung Bu Linda." ucap Annisa, saat Linda menemuinya bersama Jimmy.


Dosen dan murid ini berpelukan letaknya sahabat karib, untuk pertama kalinya.


" Hatimu sungguh mulia Nisa, tidak salah Azzam telah jatuh cinta kepadamu." tukas Linda sembari menitikan air mata bahagia saat berpelukan dengan Annisa.


Azzam dan Jimmy yang menyaksikan peristiwa mengharukan tersebut, turut terharu dibuatnya.


Setelah bersalaman dan berpelukan, Linda dan Jimmy berpamit pulang.


******


Satu Minggu Kemudian....


Azzam dan Annisa pergi mengunjungi kediaman sang paman, alias om Dirga. Berkunjung untuk mengucapkan terimakasih, karena selama ini sudah banyak membantu atas masalah yang ia hadapi selama ini.


" Wah sebuah kehormatan bagi om, kalian sudi berkunjung." goda Dirga


Dirga beserta sang istri tengah duduk bersama sang tamu, Azzam dan Nisa.

__ADS_1


" Om bisa saja, mungkin jika tidak terjadi masalah yang beruntutan, silahturahmi kita akan jarang he he he." kekeh Azzam.


" Iya juga sih Zam, kita ambil hikmahnya saja semua kejadian yang menimpa kalian. Dengan begitu kalian bisa lebih saling memperkuat rasa kepercayaan dan meningkatkan hubungan kalian. Berterimakasih lah sama Allah, semua berakhir gembira." pungkas Dirga.


" Iya om Azzam mengerti, ini adalah ujian buat kita berdua. Alhamdulillah kita bisa melewatinya bersama-sama." imbuh Azzam.


" Oh ya kapan istri kamu wisuda Zam?" tanya istri Dirga.


" Insya Allah lusa Nisa wisuda Tante." jawab Nisa tersenyum kepada wanita yang usianya sebaya dengan sang mama.


" Wah selamat ya buat kalian, semoga semuanya baik-baik saja nantinya." tukas wanita itu kembali.


" Iya tante terimakasih." timpal Nisa.


Hari mulai malam, selepas makan malam dikediaman om Dirga, Azzam dan Annisa berpamit pulang.


" Assalamu'alaikum, om, tante." ucap Nisa dan Azzam bersamaan. Dan melangkah masuk kedalam mobil.


" Wa'alaikumussalam, hati hati ." ucap Dirga dan sang istri melambaikan tangan kepada sang keponakan.


Mobil Azzam melaju meninggalkan halaman rumah Dirga. Membelah jalanan kota dimalam hari.


" Mas stop berhenti !!" suara Annisa tiba-tiba mengagetkan Azzam yang tengah fokus mengemudi.


" Ada apa yang, kok ngagetin gitu." sahut Azzam, menghentikan mobilnya tepat dipinggir jalan.


" Mauuu, mau itu !" ucap Annisa dengan logat manjanya, menunjuk ke arah penjual yang tengah di kerumuni para pembeli, yaitu penjual martabak manis.


Azzam tersenyum saat melihat ekspresi manja sang istri, menggelengkan kepala menatap Annisa.


" Yang, yang, nggak harus ngagetin juga sayang. Kan jauh sebelumnya bisa ngomong, berhenti didepan penjual martabak. Bukan ngagetin gitu." tutur Azzam.


" Kan dede pinginnya juga mendadak mas." sahut Annisa memasang wajah cemberut.


" Iya iya, dede mah suka gitu." balas Azzam menggoda.


" Baiklah, sayang tunggu disini ya !! biar mas turun dan mengantri." timpal Azzam berlalu turun dari dalam mobil turun menuju penjual martabak yang yang tampak ramai sekali.


Demi memenuhi keinginan bumil, Azzam rela berdiri mengantri bahkan ia berdiri selama kurang lebih satu jam disana.

__ADS_1


" Ini sayang martabaknya, dimakan ya, dihabisin, biar dede nya kenyang." ucap Azzam, meletakkan bungkusan plastik diatas dasboard depan Annisa, lalu menutup pintu dan kembali melajukan mobilnya menuju jalan pulang.


" Makasih abi." balas Annisa, mencubit pipi sang suami.


" Makasihnya disimpan dulu, buat nanti yang. Sekarang habiskan itu martabak mumpung masih hangat. Biar seterong ha ha ha ha." goda Azzam melirik wanita disampingnya yang tengah menikmati martabak manis dengan lahapnya.


Setelah melewati banyak cobaan dalam rumah tangga mereka, hari hari yang dijalani mereka kini terlihat bahagia.


*****


Dua hari Kemudian....


Hari wisuda yang dinanti oleh seluruh mahasiswa dan mahasiswi telah tiba, begitu juga dengan Sinta dan Annisa.


Pagi itu Annisa mengenakan kebaya warna pink, perut nya yang tak lagi rata, mulai sedikit terlihat menonjol ke depan. Dengan gagahnya Azzam mendampingi sang istri menuntunnya masuk kedalam kampus.


Amir dan Juga Devi, beserta Kyai Waffiq dan umi Fatimah juga turut hadir dalam acara wisuda sang putri.


" Wah bumil makin cantik ya?" goda Sinta sahabat Annisa.


Kedua sahabat karib ini pun berpelukan erat, melepas kangen. Semenjak kehamilannya, Nisa sudah tidak lagi pergi ke kampus.


" Kamu bisa saja Sin, oh ya gimana kabar kemajuannya tentang ustadz Han, ha ha ha?" goda Annisa mencubit hidung sahabatnya.


Tampak raut wajah malu-malu dari dalam diri Sinta, saat Annisa menyebut nama Han.


" Wah wah wah, diam diam aku ketinggalan berita nih. Hayooo jangan bohong." ledek Annisa kembali.


Azam yang tengah berdiri disamping Annisa juga turut menggoda Sinta, memberi ucapan selamat.


" Wah, adik ipar nih. Semoga segera menyusul Sin." tukas Azzam memberi selamat.


Sinta makin malu dibuatnya, wajahnya makin merah menyala bak kepiting rebus.


Canda tawa pun tercipta saat itu, semua kemudian berkumpul menuju gedung, tempat acara wisuda dilaksanakan.


Akhirnya Annisa dan Sinta lulus S2 dan setelah itu akan meninggalkan kampus tercinta dengan berat hati, sebab ada banyak kenangan yang telah terukir disana.


******

__ADS_1


BERSAMBUNG.....


__ADS_2