
Aku mengambil setoples biskuit untuk ku bawa ke dalam kamar. Menikmati me timeku tanpa gangguan apapun. Berita tentang tanganku terkilir tersebar dengan cepat membuat heboh di kampus,entah siapa yang menyebarkan rumor itu. Banyak diantara mereka berbondong-bondong menjengukku kerumah. Padahal tanganku saja yang sakit,kenapa mereka sampai seheboh ini?
Aku membiarkan mereka melakukan apa yang mereka suka. Tapi,ada juga keuntungannya dari tanganku yang masih sakit ini. Mulai dari tugas pekerjaan rumah bagianku dialihkan semuanya pada abangku sampai tugas-tugas kuliahku ada yang sukarelawan mengerjakannya. Sungguh luar biasa. Aku tergelak melihat wajah masam yang ditunjukkan abangku padaku.
Aku harus berterimakasih pada mereka semua. ucapku dalam hati sambil memasukkan biskuit kedalam mulutku.
"wah enak yaa jadi anak emas." sindir Gazza saat masuk kedalam kamarku dan duduk di sebelahku. Tak lupa ia membawa dua gelas choco Boba buatannya sendiri.
"memang the best deh abangku yang tampan ini,thanks bang." ucapku sambil menyerobot gelas yang dipegang Abangku,Gazza hanya menghendus pelan.
"kita nonton apa bang?" tanyaku melihat Gazza sibuk utak-atik remote tv mencari siaran yang bagus.
"entah." jawabnya sekena. Aku langsung merampas remote itu dan mengambil flashdisk didalam laci meja belajarku,Aku langsung memasukkan flashdisk kedalam tv.
"kau mau nonton ini?" tanyanya nggak percayaelihat kearahku. Aku mengangguk semangat, "ini seru lhoo filmnya bang,kuylah." ajakku sambil menghidupkan film yang ku pilih.
"terserah kau saja." ucap Gazza pasrah,ia pun juga mengambil biskuit didalam toples.
"hmm bang,sejak kapan kak Zayyan jadi sahabatmu? kalau memang udah lama seharusnya aku udah lama tau kan?" tanyaku sedikit penasaran dengan sahabat abangku itu.
"aku dengannya udah lama sahabatan,cuman baru-baru ini aku ajak main kerumah." jelas Gazza.
"ooo." kataku sambil mengangguk lalu kembali fokus menonton film yang kami putar.
tok.tok. kami pun menoleh kearah pintu. Muncul Ayah dari sana.
"Gazza,ikut ayah." ajak Ayah pada abangku,Gazza pun langsung berjalan mengikuti ayahku. Tinggallah aku disini sendiri dan menatap film yang menurutku lama-lama membosankan. Aku pun langsung mematikan tv,lalu merebahkan diriku disofa.
"membosaaankaan." helaan napasku menatap dinding kamarku yang polos. Tak lama kemudian Ibu datang ke kamarku.
"ya Allah anak gadis,ckckck berantakan kali kamar kamu. Ini kamar atau kandang sih?" celoteh Ibu menatap kamar ku berserakan sampah dan remah makanan.
"nanti aku bereskan Bu." ucapku pelan,Ibu langsung berkacak pinggang melihatku.
"nggak,sekarang bersihkan kamarmu nak. Enggak malu kamu sejorok ini.ckckck kamu nih anak siapa sih?" gemas Ibu menatapku.
"ya aku kan anak Ibu." jawabku spontan.
"Anakku nggak pemalas kayak kamu."
__ADS_1
"lah? lalu aku anak siapa Bu?"
"anak ayah kamu."
Aku terkekeh pelan," sama saja Bu,pokoknya aku anak kalian juga pun." selorohku langsung dipukul pelan kepalaku.
"yalah,yalah kamu memang anak kami. Haduuuh cepat bersihkan sekarang juga!" titah Ibu lagi.
"nanti aja ya Bu,lagi beradaptasi. Lagian tanganku masih sakit." ucapku sambil memelas pada Ibu.
"beradaptasi apanya? kamu kan habitatnya memang disini sejak lahir. Jadi jangan banyak alasan. Tangan kamu kan dua tuh,nah yang satu lagi kan bisa pungut sampah-sampahnya." gerutu Ibu lagi.
"tapi Bu,ntar tanganku tambah terkilir lagi."
"makanya harus kuat,jangan lemah. Dilatih tangan tuh biar nggak kaku." ucap Ibu,lalu berjalan kearah keluar.
" oh ya,yang paperbag kemarin udah diantar ke kawan Ibu?" tanya Ibu mengingat Paperbagnya. Aku baru teringat dan menatap cengir kearah Ibu.
"hehehehe lupa."
"haduuuh nih anak,nanti setelah kamu bereskan kamarmu. Antar paperbag itu sama kawan Ibu ya."
"kamu udah tau kan rumahnya dimana?" tanya Ibu menatapku. Aku menggeleng.
Ibu menepuk jidatnya pelan, "huft,nanti ibu sharelock ke kamu." ucap Ibu langsung menutup pintu kamarku.
Aku menggaruk tengkukku sambil berdecak pelan, "malas sekali rasanya." gerutuku menatap kamarku seperti kapal pecah.
Demi tidak diceramahi oleh Ibu,aku pun dengan cepat membersihkan kamarku. Setelah itu aku langsung bersiap-siap untuk mengantarkan paparbag milik temannya Ibu.
"sabar,hitung-hitung aku juga mau menemuinya untuk berterimakasih karena memberikanku headset yang comel ini." ucapku sambil memenangkan hatiku yang bergejolak tidak ingin pergi keluar.
Setelah mendapat sharelock dari Ibu,aku pun berjalan kaki menuju rumah teman Ibu yang tak jauh dari rumahku. Mungkin ada sekitar 200 M dari rumahku.
Terik matahari yang menerpaku,membuatku menggerutu ingin segera pulang. Aku pun mempercepat langkahku menuju rumah teman ibuku itu.
"ini ya rumahnya?" gumamku memastikan diriku tidak salah alamat. Setelah yakin alamat rumah itu benar,aku menghela napas pelan sebelum memencet bel rumah itu.
"Assalammualaikum,permisi." ucapku sedikit teriak sambil memencet bel rumah itu. Tak lama kemudian keluarlah seorang wanita paruh baya yang seumuran dengan Ibuku langsung menatapku.
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam,siapa ya?" tanyanya.
"saya Dasha anak Ibu Thalia,apa Ibu Rauna ada?" tanyaku menatap wanita itu. Wanita itupun langsung melihat wajahku dan tersenyum sumringah.
"wah Dasha rupanya,ayo masuk dulu." ajaknya padaku,aku langsung masuk kedalam rumahnya.
"benar-benar sederhana." gumamku menatap interior desain rumah itu.
"kamu mau minum apa?" tanyanya menatapku.
"tidak usah repot-repot Tante,saya cuman ingin mengantar paperbag ini." ucapku langsung memberikan paperbag pada wanita itu.
"oh,sampaikan terimakasihku sama Ibumu ya." ucapnya senang.
"baik Tante,hmm apa boleh Dasha bertanya sesuatu?" tanyaku meminta izin.
"apa itu nak?" tanyanya penasaran.
"hmm apa benar Tante yang memberikan hadiah ini padaku?" tanyaku sambil menunjukkan headset yang kubawa.
Wanita itu mengangguk, "iya,apa kamu suka?"
"Dasha sangat suka Tante,terimakasih hadiahnya." ucapku dengan tulus.
"sama-sama sayang." jawabnya lagi. Tak lama berbincang seputar kuliahku,aku pun langsung menyudahi dan pamit kepada beliau.
Aku pun langsung bergegas pulang ke rumah dengan semangat menantikan kamarku yang dingin dan nyaman itu. Saat ditengah perjalanan,aku melihat seseorang tergeletak digang sempit yang sepi. Tidak ada satupun orang yang melintasi gang tersebut.
Aku sebenarnya takut menolongnya,takut itu hanya jebakan untuk menculikku. Namun hati nuraniku mengatakan aku harus menolongnya.
Dengan susah payah berdebat antara ingin menolong atau membiarkannya saja. Akhirnya aku pun memutuskan untuk menolong orang itu. Dengan perlahan-lahan aku menghampirinya dan melirik kiri-kanan.
"hai,bangun." ucapku sambil menggerakkan badan pria itu. Tak kunjung bangun juga,akhirnya aku pun membalikkan badannya,agar wajah pria itu terlihat olehku.
"eh kak Zayyan?!" pekikku terkejut saat mengetahui orang itu adalah Zayyan. Yang membuatku lebih panik lagi,ada darah segar mengalir dari hidungnya.
Aku langsung menghubungi Gazza untuk cepat datang kemari. Sambil menunggu Gazza aku pun langsung melepaskan jaketku dan menyelimuti Zayyan. Entah apa yang terjadi dengan pria ini yang membuatnya pingsan ditempat sepi seperti ini.
"apa yang membuatnya sampai seperti ini?,bang Gazza ku mohon cepatlah datang." lirihku berharap abangku segera sampai di tempatku berada saat ini.
__ADS_1