
Zayyan dan aku sudah duduk dimobil lebih tepatnya duduk dikursi penumpang belakang,sedangkan Gazza supir didepan.
"anj**r kalian,aku bukan supir kalian,pindah salah satunya kedepan!" seru Gazza menatap kesal kearah kami.
"kak,pindah depan kak!" seruku menyuruh Zayyan duduk disamping Gazza. Zayyan menggeleng, "kau saja. Kau kan adiknya." tolak Zayyan.
ck,aku harus bisa membuat Zayyan duduk disamping bang Gazza. Biar aku bisa nguasain kursi belakang,hehehehe. gumamku pelan.
"aku tidak sebodoh yang kau kira ya." ucap Zayyan menselonjorkan kepalanya kepangkuanku.
"heiii."
"ck,cempreng kali suara kau Sha,lebih baik diam kalem." ucap Zayyan sambil memilin rambutku.
"eh,ini mulut kasar amat sih sama istri. Kepala kau berat kak." gerutuku kesal menatap suamiku yang asyik memainkan rambutku.
"tolong yaa pasutri dibelakang,jangan romantisme didepanku. Cih,kalian ini tidak tau tempat!" cerca Gazza menatap kesal kearah kami.
"jomblo diam aja,nggak usah berkoar-koar." ledek Zayyan langsung disambut kotak tisu kearahnya.
"kurang ajar." kesal Gazza setelah melempar kotak tisu itu.
"oi bang,kalau lempar-lempar yang benar dong. Ini kotak tisunya kenak aku bang." gerutu ku menatap kesal kearah Gazza.
"biarin." ketus Gazza,lalu ia kembali menoleh kebelakang. "Yan pindah kedepan!" ucapnya membuat alis Zayyan naik, "aku? Adeks ajaa." ucapnya lagi sambil menutup mata.
kening Gazza mengerut karena tidak mengetahui apa yang dibicarakan Zayyan, "adeks siapa tuh?"
"adek kau Za,Dasha. Aku memanggilnya adeks." ucap Zayyan lagi. Gazza menatap jijik kearah kami,
"elelele lebay kali panggilannya." ledek Gazza sambil menghidupkan mesin mobil.
"biarin,Za aku sumpahin kau menikah bulan depan!" ucap Zayyan yakin.
Gazza menatap datar kearah Zayyan,aku hanya menggeleng kepala melihat kelakuan mereka.
"percuma berdebat dengan kalian." ucap Gazza pasrah,ia pun langsung melajukan mobilnya keluar dari parkiran rumah sakit.
__ADS_1
Selama diperjalanan,kami tidak ada berbicara satu sama lain,hanya suara alunan musik yang menggema untuk memecahkan keheningan didalam mobil. Aku melirik Zayyan tertidur pulas sedangkan Gazza,ia fokus mengendarai mobilnya.
Aku melirik keluar sambil membuka kaca menikmati udara di luar. Aku masih terbayang saat berdebat dengan Vanya tadi,aku merasa kasihan sekaligus marah karena perbuatan tidak terpujinya itu.
"aku harus buat perhitungan dengan Farah,karena dia kambing hitam dibalik semua ini." gumamku pelan memandang kosong jalanan.
Tanpa terasa kami sudah sampai dirumah,Gazza langsung keluar dari mobil dan berjalan masuk kedalam rumah. Sedangkan aku masih duduk diam didalam mengamati Zayyan yang masih tertidur dalam mimpinya. Aku ingin sekali membangunkannya tetapi,tidak tega melihat dirinya begitu damai.
"sebentar lagi lah." ucapku pelan sambil mengelus rambut suamiku. Akhir-akhir ini aku suka sekali mengelus rambut tebal pria ini yang mungkin akan menjadi hobiku seterusnya.
Aku melirik ponselku dan banyak mendapatkan pesan dari Elisa. Aku mengerut keningku menatap puluhan pesan itu dan membukanya.
"astagfirullah aku lupa!" pekikku membuat Zayyan terganggu dan terbangun menatapku heran,Ia pun langsung bangkit dan duduk di sebelahku sambil mengucek matanya.
"kau kenapa??" tanyanya sedikit kesal. Mungkin Zayyan kesal karena tidurnya terganggu oleh suaraku.
"aku lupa ngerjain tugas!" seruku lagi membuat Zayyan mengerut keningnya, "biasanya kau selalu mengerjakan tugas diawal lah,kok tumben belum ngerjain?" tanya Zayyan.
"ini tugas membuat desain rumah,huft padahal tiga hari lagi deadlinenya,abislah aku." lirihku pelan langsung disambut tepukan pelan di bahuku.
"sabar yaa." ucapnya sok kasian,padahal dalam hatinya ia tersenyum meledek kearahku. Yap, sesuai dugaanku wajah iblisnya muncul membuatku tambah kesal melihatnya.
Hehehe,kenapa tidak kumanfaatkan saja suamiku untuk membantuku membuat tugas? Yap itu ide bagus Dasha. gumamku dalam hati,aku pun langsung memegang tangan Zayyan.
"kak," panggilku membuat Zayyan menatapku curiga apalagi ia sempat melirik tangannya yang dipegang olehku.
"bantu buatin yaa,please." ucapku sambil menunjukkan puppy eyes padanya. Zayyan menarik tangannya dan mulai mundur dariku.
"tidak." tolaknya tegas membuatku kesal,tetapi aku tidak menyerah dan terus membujuknya agar mau membantuku membuat tugas itu.
Aku menggeser mendekati Zayyan membuat Zayyan terpojok. Aku terkekeh pelan melihat wajahnya yang memalingkan wajahnya dariku, "ayo kak, please." bujukku lagi.
"cih,aku tidak paham dengan desain,nanti hasilnya jelek kau salahkan aku." tolaknya lagi.
"tapi,aku kan ada. Nanti aku arahkan kau cara membuatnya kak." ucapku lagi.
"bayar." ucapnya membuatku menghela napas kasar, "ikhlas dikit Napa sih kak,ayolah."
__ADS_1
"eh udah minta tolong maksa minta gratis lagi
Di dunia ini nggak ada yang gratis Dasha. Kau harus membayar,baru aku bantu." ucap Zayyan.
"aiiih ayolah masa sama istri sendiri perhitungan sih."
"oh kau baru anggap aku suami disaat darurat seperti ini," ketusnya membuatku kehabisan ide.
Ini anak kok susah kali sih diajak kerjasama,oh ayolah Dasha pikirkan lagi. gumamku sambil berputar otak mencari cara agar Zayyan mau membantuku tanpa imbalan. Tentu saja aku tidak ingin rugi disini,masa disaat krisis keuangan aku harus melayangkan uangku agar Zayyan mau membantu,ini tidak sepadan.
"kenapa diam? sudah menyerah?" ledek Zayyan membuatku menatap tajam kearahnya,
"kak ayolah, please ini urgent banget kak. Kau tau kan dosenku yang ini galaknya masyaAllah sekali. Apa kau tega membiarkan istrimu ini dimarahin habis-habisan sama dosen killer itu?" lirihku menatap sedih kearah Zayyan.
Zayyan menoyor keningku, "nggak usah dramatis,baguslah dosen itu marahin kau. Biar kau sadar dan nggak malasan lagi." ucap Zayyan santai membuatku tidak bisa berkata-kata lagi.
"aku ini nggak malas lho kak,kapan pula aku malas?" protesku tidak terima dikatakan malas.
Zayyan menghela napas melihatku,
"banyak gaya,ibu selalu memarahi kau karena suka memberantakan rumah,malas gerak,kau suka kali menyuruhku melakukan ini itu,teriak nggak jelas,tidur pun lasaknya minta ampun kayak jarum jam,kadang kau mandi cuman sekali sehari. ckckckck dasar pemalas." ucap Zayyan menohok.
Oh ternyata citraku sudah rusak didepan mata dia, ckckck Dasha kau itu memalukan sekali. sesalku dalam hati.
"hehehe." cengirku pelan sambil menggaruk tengkukku tidak gatal menahan malu.
Rasanya aku ingin menguburkan diriku sedalam-dalamnya,sumpah malu kali. sesalku lagi memalingkan wajah dari Zayyan.
Memang sih cepat atau lambat pria ini bakalan tau semua sifatku. Tetapi,aku membiarkan saja dia tau. Akan lebih baik jika dia tahu sifatku yang sebenarnya dan tidak membuatku merasa canggung bersamanya lagi. Ada satu hal yang aku cemaskan apakah dia ilfeel melihatku?
Zayyan menangkup wajahku pelan dan menatap intens mataku. Aku membelalak mataku saat bibirnya menyentuh bibirku dan ciuman itu semakin dalam membuatku tidak bisa bernapas. Aku langsung menjambak rambutnya saat oksigenku mulai menipis.
"aaw sakit Dasha,tenagamu itu kuat kali." gerutu Zayyan sambil memegang kepalanya. Sedangkan aku jangan ditanya lagi seperti apa raut wajahku sekarang. Jantungku berdegup kencang,rasanya aku ingin membenturkan kepalaku berkali-kali ke jendela mobil agar menghilangkan rasa malu yang membekas dikepalaku.
Tangan Zayyan menghalang kepalaku agar tidak membentur jendela mobil,ia pun terkekeh pelan melihat wajahku yang sudah memerah seperti kepiting rebus.
"dengar Dasha,aku selalu mencintaimu. Tidak peduli mau kau itu pemalas,bodoh,ceroboh,sering mengumpatlah. Yang penting bagiku,kau adalah istriku Sha. Tidak mudah mendapatkanmu seperti pencapit boneka,butuh perjuangan untuk mendapatkan mu." jelas Zayyan membuatku tertegun sekaligus terharu.
__ADS_1
Mungkin ini pertama kalinya ada orang yang tulus selain keluargaku mencintaiku tanpa embel-embel maksud dan tujuan tertentu. Benar kata orang, perempuan akan menjadi ratu jika bersama laki-laki yang tepat. Dulu kata-kata itu hanyalah omong kosong yang selalu kudengar, tetapi sekarang kata-kata itu terbukti jelas dengan apa yang kurasakan saat ini. Walaupun Zayyan terlihat menyebalkan tetapi pria itu selalu membuatku nyaman.
"Aku mencintaimu kak Zay." ucapku pelan sambil tersenyum lebar kearahnya. Pernyataan ku membuat dirinya terkejut mendongak kearahku.