I Know Your Secret

I Know Your Secret
Jangan Takut


__ADS_3

Pria itu tampak diam lalu terkekeh pelan, "kau tidak paham bahasa yaa?? tidak perlu kau mengetahui alasanku menikah dengan Elisa. Kau cukup membujuknya, oh ya satu hal lagi,jangan sampai semua orang tau akan hal ini." ucap pria itu langsung mematikan ponselnya.


"astagfirullah,kasian Elisa. Sial pria itu!!!" gerutuku kesal,aku langsung beranjak dari tempat dan mencabut flashdisk itu dan melemparnya keluar.


"menjauhlah flashdisk sialan!!!" umpatku kesal. Aku menghela napas kasar langsung membantingkan tubuhku ke kasur.


"ya ampun apa yang harus aku lakukan? Elisa katakan padaku?" lirihku pelan sebelum mataku mulai menutup.


***


Aku mendengar samar-samar suara decakan kesal dari seseorang membuatku terbangun dari mimpiku yang panjang.


"ya ampun anak gadis bangunnya kesiangan!!" geram Elisa sambil menyibak gordenku dan cahaya matahari masuk menembus kamarku.


"silau El." gerutuku sambil mengucek mataku. Aku melirik kearah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul sembilan pagi.


Astaga,sangat langka sekali aku bangun jam segini,biasanya aku bangun subuh. decakku pelan dalam hati.


"aku sudah membuatkan sarapan untuk kita,setelah itu kita ke kampus." jelas gadis itu layaknya seorang ibu tengah mengurusi anaknya. Ia pun membersihkan meja belajarku yang tampak berantakan itu. Oh,melihat meja belajar itu aku malah teringat dengan kejadian tadi malam.


Huft,sudah kuputuskan. Elisa tidak boleh tau masalah ini! dan aku tidak akan membiarkan dia menikah dengan pria iblis itu!!. gumamku pelan.


"Hei Dasha!! apa yang sedang kau lamunkan?" seru Elisa membuatku tersentak. Aku hanya tersenyum sekilas kearahnya.


"tidak adaa,hanya saja aku teringat mimpi. Oh iya gimana? enak nggak tidur dikamar bang Gazza?" tanyaku mengalihkan pembicaraan.


Elisa langsung sumringah menatapku, "sumpah nyaman kali...baru kali ini aku senyaman itu tidur, apalagi ada aroma Gazza yang membekas dikasur. Sumpah yaa,aku jadi pengen tinggal disini aja deh Sha." celoteh Gadis itu semangat.


"cih,kalau urusan itu kau paling semangat yaa,aduh aku malas kali ke kampus." gerutuku kembali membaringkan diri dikasur.


"hei jangan gitu dong anak teladan. Kita harus segera bersiap-siap,kau tau tidak kita masuk kelas dosen siapa?" seru Elisa menungguku menebak ucapannya.


"entah,rasanya ingin bolos ajaa." gumamku lagi.


"kau akan menyesal setelah mengatakan hal itu Sha." ucap Elisa tersenyum miring padaku,aku memberengut langsung menatap wajahnya. Seketika teringat jadwal kuliah hari ini membuatku terperanjat bangun.


"huwaa dosen killer!!!" seruku langsung menyambar handuk,hilang sudah kantuk yang kurasakan saat ini dan berlari kecil kearah kamar mandi. Sedangkan Elisa tertawa terpingkal-pingkal melihat kelakuanku.

__ADS_1


"cih,udah puas??" tanyaku jengah menatap Elisa yang masih tertawa kecil. Aku yang mengemudikan mobil hanya bisa menghela napas pasrah.


"Dashaa!!" sentaknya membuatku terkejut dan langsung mengerem mendadak.


Ciiit.


Jantungku rasanya mau lepas dari tempatnya saat terkejut melihat truk melintas laju melewati kami,aku menghela napas pelan lalu melirik Elisa yang terdiam sejenak. Dapat kulihat raut ketakutan yang muncul dari wajahnya.


Apa mungkin??. tebakku dalam hati,aku pun dengan perlahan memukul pundaknya pelan.


"maaaf kakak!!!" teriak Elisa membuatku terdiam,ia pun menyadari juga ikut terdiam.


"maksudku,maaf Dasha. A-aku tidak sengaja teriak tadi." kilahnya sedikit gelagapan. Aku dapat menebak raut wajahnya yang tidak baik-baik saja.


"El,kau tidak apa-apa? wajahmu terlihat pucat." ucapku pelan.


"a-aku tidak apa-apa kok,mungkin tadi syok aja." ucapnya memalingkan wajahnya dariku.


"baiklah,gimana kalau kita beli minum dulu." ajakku langsung melajukan mobil menuju mini market didekat kampus.


"aku baik-baik saja kok Sha,kita langsung aja ke kampus." ucapnya seolah-olah aku masih mengkhawatirkannya.


"sudah lebih tenang bukan?" tanyaku menatap Elisa menikmati teh cup hangat.


Elisa mengangguk pelan, "iyaa,thanks Sha." ucapnya lalu menatap kearahku.


"Sha,aku ingin ngomong sesuatu." ucap Elisa pelan.


Nah ini dia yang aku tunggu. Ayo El katakan padaku,apa sebenarnya yang terjadi padamu? gunamku menyimak Elisa.


"Sha aku..."


tok...tok...tok,Hampir saja aku ingin mengumpat saat melirik kearah kaca jendela mobilku. Aku menurunkan kaca dan menyerngit bingung menatap Vanya yang sudah tidak lama kulihat,kini tengah tersenyum kearahku.


"ternyata benar,ini mobilmu Sha." ucapnya senang lalu ia tersenyum juga dengan Elisa. Elisa mendadak tersenyum kaku menatap Vanya yang tidak biasanya itu.


"kau sendiri? dimana suamimu?" tanyaku celingak-celinguk mencari keberadaan Afran,suami Vanya. Yap,beberapa Minggu yang lalu mereka menikah karena kesalahan fatal yang mereka lakukan sendiri. Aku hanya bisa mendoakan dan memaafkan kesalahan mereka dimasa lalu,setidaknya mereka sudah menerima takdirnya masing-masing.

__ADS_1


"Afran dia udah duluan ke kampus. Kalian kenapa masih disini? bukannya kalian harus masuk ya?" tanya Vanya melirik jam tangannya. Aku menepuk jidatku pelan saat menyadari jika waktu telah menunjukkan pukul 10.45. Itu artinya lima belas menit lagi dosen killer itu masuk.


"astaga,bagaimana aku bisa lupa! El kita harus cepat ke kelas. Makasih yaa udah ngingatin Van." seruku buru-buru mematikan mesin mobil.


"mobilmu kau parkir sini aja Sha?" tanya Elisa menatapku buru-buru mengambil tasku dibelakang.


"iyaa,kalau kita cari parkir kedalam takutnya nggak sempat lagi." jawabku langsung diangguk Elisa lagi.


Vanya pun menyetujui usulanku.


"Van, kau nggak ada kelas?" tanyaku menatap Vanya yang tengah menyeruput minuman bobanya.


"nggak,aku lagi nemanin Afran aja,abis tuh kami mau jalan-jalan. Si dedek minta jalan." serunya sambil mengelus perutnya yang sedikit buncit itu.


"ya ampun,ini mah bukan si dedeknya yang minta. ibunya nih yang mau." cerocos Elisa membuat Vanya tergelak.


"hahahaha benar,kau tau ajaa." seru Vanya lagi.


Aku tersenyum lega,setidaknya Vanya dan Afran sudah saling mencintai satu sama lain,ditambah kehadiran sang buah hati mereka membuat keduanya tampak harmonis.


Tiba-tiba aku teringat suamiku yang masih meleset di tempat terpencil. Rasa rinduku mulai muncul mengingat pria menyebalkan itu.


"jangan bilang kau merindukan suamimu kan Sha?" tebak Elisa membuatku tersipu malu. Vanya tertawa pelan, "ya ampun sudah-sudah. Kalian cepatlah bergegas,atau kalian bisa terlambat lho." ucapnya mengingatkan waktu terus berjalan. Aku dan Elisa langsung tergopoh-gopoh berlari kencang menuju kelas kami.


"hosh...hosh...hosh..." akhirnya kami sampai didepan kelas kami tepat semenit sebelum dosen killer itu datang,aku langsung menarik tangan Elisa masuk dan duduk sedikit belakang, mengingat kami datangnya nyaris terlambat.


"selamat pagi semua." ucap dosen itu menyapa kami.


"fyuuh selamat." bisik Elisa pelan sambil mengatur napasnya akibat lari tadi.


"El." panggilku pelan sesekali melirik kearah dosen yang tengah menulis didepan.


"yaa?"


"jangan Takut untuk menceritakan semuanya yang kau rasakan ya." ucapku sedikit gamblang,sedangakan Elisa sedikit terkejut menatapku.


"aku disini,jika sesak menangislah. Jangan dipendam,aku ada disini sebagai sahabatmu. Hari ini kita akan mengungkapkan rahasia yang kita pendam selama ini." ucapku sambil berbisik-bisik pada Elisa.

__ADS_1


Elisa sedikit merasa terharu,setidaknya aku sebagai sahabatnya mengerti tentang sahabatku sendiri.


__ADS_2