
Aku menggeliat pelan masih memejamkan mata. Tiba-tiba Aku meringis kesakitan sambil memegang betisku.
"aduuh...aduuh..." ringisku membuat orang yang disebelah ku terbangun dari mimpinya. Ia menoleh pelan kearahku, "kenapa??" tanyanya masih dalam mode mengantuk.
Zayyan langsung terlonjak bangun dan menatapku meringis kesakitan. Ia pun langsung memegang kakiku.
Aku tambah kesakitan saat Zayyan memegang kakiku,dengan spontan aku memukul kepalanya.
"aaw,apa yang kau lakukan Dasha?!" kesalnya menatapku.
"sakiiit kak!!" teriakku lagi,Zayyan menghela napas pelan.
"coba kau luruskan kakimu,trus tekuk pelan-pelan." ucap Zayyan menyuruhku melakukan yang diperintahkannya.
"sakiiit kak!" ringisku lagi.
"ya makanya pelan-pelan woii!!" kesalnya gemas melihatku.
"ish,kau nih marah-marah ajaa,udah tau aku kesakitan gini."
"kau itu naik betis Dashaaa,makanya tidur tuh jangan lasak." gerutunya tetap memegang kakiku. Ia pun membantuku meluruskan kakiku dan sedikit menekukkannya.
Aku merasa tidak sakit lagi setelah mendengar bunyi kretek tulangku. Aku merasa lega karena tidak merasakan sakit itu lagi.
"fyuuh,ya ampun rasanya sakit sekali." gerutuku pelan.
"itu kau tidur salah posisi,makanya aliran darahnya nggak jalan." seru Zayyan pelan. Ia melirik jam tangannya sudah menunjukkan pukul lima pagi. Matahari juga masih belum menunjukkan dirinya,Zayyan merangkak keluar dari tenda.
Aku yang tidak mengantuk lagi,ikut menyusul Zayyan keluar. Aku melihat Zayyan tengah merenggangkan ototnya.
"ini masih malam kak,tapi aku nggak ngantuk lagi." ucapku menatap langit. Zayyan menarik tanganku untuk ikut dengan pria itu.
"ayoo ikut aku." ajaknya sambil menggenggam tanganku berjalan menyusuri perbukitan yang tak jauh dari tempat tenda kami berada.Tangannya yang satu lagi memegang senter untuk menerangi jalanan yang akan kami lewati didepan. Aku sedikit kesusahan menyeimbangi jalan pria itu. Tentu saja kaki pria itu panjang,ia sekali melangkah bagaikan dua langkah kaki kecilku ini.
__ADS_1
"kenapa kau lambat sekali Sha?" gerutunya membuatku mencubit lengannya gemas.
"ya kak,tolong dong liat-liat juga patnernya. Kakimu panjang kak,sedangkan kakiku pendek." kesal menatap tajam kearahnya.
Zayyan tertawa pelan,lalu menyamakan langkahnya denganku. Aku melirik samar-samar tangannya menggenggam erat tanganku, seolah-olah tidak ingin dilepas begitu mudah.
"kak,kenapa kau memperjuangan aku yang nggak ada apa-apa ini?" tanyaku pelan,bagaimanapun sepertinya ini adalah waktu yang tepat untuk membicarakan hal itu pada suamiku.
"kau nggak bisa apa-apa,aku nggak salah dengar tuh?" tanya Zayyan balik membuatku mendongak kearahnya dengan raut bingung.
" ya kan benar,aku tidak bisa apa-apa kak. Kau tau sendiri aku tidak bisa masak,menggosok,mencuci piring. Apalagi aku suka ceroboh dengan sesuatu hal." lirihku pelan.
"kau itu unik Sha." ucap Zayyan spontan membuatku menghentikan langkahku,Zayyan langsung menatapku dengan lekat. "kau bisa segalanya,karena kau punya hati yang mulia. Aku malah bangga pada diriku sendir berhasil menikahimu." ucap Zayyan pelan. Aku melirik menatap matanya,mata coklat pria itu tidak menunjukkan kebohongan disana. Pria itu mengatakannya dengan setulus hatinya.
Ya ampun,nikmat apa lagi yang sudah aku dustakan? Allah masih sayang padaku dan memberikan laki-laki yang baik sebagai jodohku. gumamku pelan terharu dengan perkataan suamiku. Dengan cepat aku mencium bibirnya sekilas lalu berlari kencang tanpa memperhatikan ekspresi terkejut yang ditunjukkan pria itu padaku.
Tanpa aku sadari,Zayyan berhasil menyusulku langsung menahan lenganku. Tanpa basa-basi ia pun langsung mencium bibirku dalam.
"ckckckck cih mata suciku ternodai karena kelakuan kalian." kesal seseorang membuat kami berdua terlonjak kaget. Aku langsung menjauhi Zayyan dan menutup wajahku karena malu. Zayyan berdecak kesal dengan kedatangan seseorang yang menganggu kami.
"Dashaaa!!!" teriaknya kearahku,aku kebingungan tanpa sadar memundurkan langkah kakiku. Kakiku langsung tergelincir dan jatuh berguling kebawah.
Aku terbentur pelan dengan batu sebelum akhirnya tanganku memegang kayu yang tersangkut disana,kini aku diambang Kematian bergelantungan ditepi jurang yang tampaknya begitu dalam.
"ka-kak tolong!!" lirihku ketakutan memegang kuat kayu itu sedangkan tanganku yang satu lagi terkilir.
Zayyan terkejut dengan cepat ia berlari kearahku. Tanganku mulai mati rasa seperti tidak sanggup menahan beban badanku,seketika aku mulai pasrah jika memang hidupku akan berakhir disini. Setidaknya aku tersenyum memiliki suami yang tampan,baik hati,walaupun kadang menyebalkan tetapi ia selalu ada untukku. Begitu juga dengan keluargaku yang selalu mendukungku kapanpun. Mungkin memang sudah saatnya,diriku pergi. Tanganku mulai menggigil dan tidak sanggup menahan beban ku akhirnya peganganku terlepas.
Hup
Aku terkejut langsung menoleh keatas,melihat suamiku berhasil menangkap tanganku,dapat aku lihat raut khawatirnya memegang tanganku erat.
"jangan mati konyol kau Dashaa!!!" teriaknya,aku menggerutu kesal bisa-bisa disaat ambang kematian ku,Zayyan membuatku kesal.
__ADS_1
"haiiss bisa tidak kau bertenaga sedikit sajaaa,kau ini biasanya kuat masa cuman ini kau tidak bisa naik keatas!!!" gerutunya lagi sambil berusaha menarik tanganku keatas, Zayyan juga tampaknya kehilangan keseimbangan memegang tanganku, sekarang posisi pria itu telungkup. Tangannya yang kanan memegang batang kayu yang ada disana,dan tangan kirinya memegang erat tanganku.
"jangan dilepas Dashaaa!!!"
Aku memegang erat tangannya,tetapi tidaklah cukup untuk menahan beban ku. Apalagi tanganku yang satu lagi sedikit sakit digerakkan. Tangan Zayyan mulai melonggar membuat harapan hidup semakin menipis. Namun tidak kusangka dengan nekat Zayyan memegang tanganku dengan kedua tangannya.
"Zayyaan!!!" teriak Gazza dari belakang,beruntung Gazza berhasil memegang kaki Zayyan agar tidak ikut terjatuh bersamaku. Dengan sekuat tenaga Gazza menahan kedua kaki Zayyan.
"jangan lepaskan Dashaa Zayyan, atau kau tidak pernah kumaafkan!!!" teriaknya.
"tanpa kau ancamku,aku tidak akan membiarkan istriku mati dengan mudah Za!!!" teriaknya lagi.
"Dashaaa!! pegang yang kuat bodoh!!" seru Zayyan lagi.
"aku udah memegang tanganmu kuaat kak!!!" teriakku lagi.
"ulurkan tanganmu yang satu lagi Dashaaa!!!" teriaknya.
"tidak bisa kak,tanganku terkilir!!!" teriakku lagi.
"tahan sebentar!!! minta tanganmu satu lagi Dashaaa!!!"
"tidak mau,sakit kak!!!"
"kau mau diselamatin atau nggak???!!" sarkasnya lagi,tetapi pria itu sedikit menarik tanganku keatas.
"Zayyaan!!! cepat tarik diaa,aku tidak kuat menahan kakimu bodoh!!!" seru Gazza dari belakang.
"aku sedang berusaha!!!" teriak Zayyan lagi. Aku menguatkan tanganku yang terkilir itu mengulur kearah Zayyan. Zayyan dengan cepat menangkap tanganku yang satu lagi.
"aaakhh sakit kaak!!!" ringisku saat Zayyan menarik tanganku dengan tidak berperasaan. Tetapi,dengan begitu aku berhasil naik keatas.
Zayyan langsung memelukku erat, tangisan pria itu pecah didalam pelukanku.
__ADS_1
"jangan tinggalkan aku." lirihnya pelan. Aku langsung ikut menangis sambil membalas pelukannya dengan erat, tidak menyangka jika diriku bisa selamat dari maut. Gazza langsung ikut memeluk kami berdua, sesekali aku mendengar isakan dari abangku itu.
"syurkurlah." ucap Gazza lega memeluk kami dari belakang.